BBB [27]

Sorry for typo
~Happy reading~

Mungkin otak Arusha tertinggal di Cilacap kemarin, sehingga sekarang dia lebih sering berbicara sepenggal kata saja padaku. Membuatku jadi gemas sekali.

Belum lagi tindakannya yang mengikutiku masuk ke asrama Ayah sambil menggenggam tanganku!

Tidak sadarkah bahwa tindakannya itu membuat banyak ibu persit lainnya melirik pada kami? Ah, aku lupa. Dia kadang bisa menjadi titisan pria yang tak peduli dengan keadaan sekitar.

Lalu sepertinya ada yang salah dengan tubuhku, hanya karena genggamannya. Perutku seolah merasakan mual, dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.

Aku pun kesulitan untuk menyamakan langkahku dengannya karena tungkaiku yang terasa lemas.  Sehingga aku berjalan terseok-seok mengikutinya.

"Arusha, ngapain kamu ke sini?" Bukannya tak suka, hanya saja sedikit tidak mengerti dengan tindakannya.

Pertanyaanku hanya tersapu oleh angin saja, karena Arusha terus berjalan hingga kami pun sampai di depan asrama Ayah.

Dari depan teras, aku melihat sepertinya Ayah sedang kedatangan tamu. Aku menggeram frustasi dalam hati.

Segitu cepat kah, Ibu ke sini?!!

Aku pun memaksakan tubuhku yang terasa lunglai ini untuk masuk.

Di sana, pada ambang pintu. Aku dan Arusha dibuat membatu bersama. Bahkan lewat gengaman tangannya, aku tahu bahwa tangannya berkeringat dingin. Hingga akhirnya gengaman kami pun terlepas.

"Saya di sini bermaksud untuk meminang putri Bapak ...." Hanya sepenggal kalimat itu yang masih aku ingat. Sisanya hanyalah dengungan tidak jelas seperti lebah-lebah.

Aku merasakan tatapan berbeda dari Arusha pada laki-laki yang kini sedang berhadapan dengan Ayah. Tatapannya menyiratkan sebuah luka, dingin dan juga tajam menusuk.

"Sepertinya kamu sudah tidak perlu bantuan saya lagi. Ada yang sudah lebih dulu melakukannya, saya permisi."

Meskipun ucapannya terdengar sopan, tapi aku tahu bahwa jarak itu, kini mulai terlihat di antara kami.

Aku hanya melihat punggung Arusha yang kian menjauh, enggan untuk mengejar karena aku tahu bahwa itu akan berakhir sia-sia. Kalimat terakhirnya memperkuat asumsiku tentang maksud kedatangannya.

Tapi itu percuma saja, dia sudah pergi. Aku masuk dengan membawa tubuh yang semakin lemas. Aku menghiraukan keberadaan pria itu dan langsung menyalimi Ayah.

"Yah, Naura pamit dulu. Ada yang tertinggal di perum," kilahku.

Sebelum mendengar jawaban dari Ayah, aku langsung pergi tanpa membawa barang-barang apapun dari asrama Ayah. Hanya baju-baju yang kemarin aku bawa ke Pusdiklatpassus saja yang kini aku bawa menuju taksi online yang baru aku pesan.

Tidak masalah, lagian masih banyak barang-barang berharga dan berguna di perum daripada barang-barangku di asrama Ayah. Aku sempat mendengar seruan Ayah yang kerap memanggilku berulang kali. Tapi aku mendiamkannya.

Aku kira, Ayah tidak akan mengurus permasalahan ini. Tidak akan ikut campur tentang urusan rumit seperti ini. Karena Ayah juga yang aku percayai, bahwa beliau lebih paham tentang diriku dibandingkan dengan Ibu ataupun aku sendiri.

"Kenapa harus ikut campur segala sih!" makiku dalam sebuah taksi yang akan menghantarkanku ke perum Graha Kencana.

Bayangan mengenai wajah Arusha yang tampak tidak bersahabat itu membuatku semakin merasa tidak tentu. Entahlah, aku pun bingung untuk mendeskripsikan perasaanku saat ini. Semuanya terasa mendadak.

Aku sengaja mematikan ponselku karena aku yakin, baik Ibu ataupun Ayah pasti akan menerorku dengan banyak pertanyaan seperti, "Kenapa?" Tanpa mau tahu, bahwa aku yang seperti ini pun karena ulah mereka sendiri.

Aku butuh ruang untukku sendiri dan untungnya aku sangat berterimakasih pada perumku yang satu ini.

•ווו

Aku memilih untuk membersihkan diri dulu, lantas setelahnya baru aku akan terlelap. Tapi sebuah email yang masuk dari Hani membuatku dengan terpaksa harus mengaktifkan kembali ponselku.

From : Haniadeevamyesha@gmail.com
To : Aghnauravalerie@gmail.com

Subjek : PENTING!!

Cek ponsel Mbak! Pentinggg!

Maka dengan setengah hati sekaligus jengkel, aku meraih ponselku di atas nakas, lalu mengaktifkannya.

Seperti dugaanku. Ponsel itu ramai oleh berbagai macam notifikasi. Ada beberapa panggilan dari Ibu, a, bahkan dari nomor orang yang tak aku dikenal.

Feeling-ku mengatakan bahwa nomor asing yang memenuhi notifikasi adalah berasal dari Alvin—pria yang meminangku lewat Ayah.

Iya, jadi pria yang meminangku lewat Ayah bukanlah Raka seperti yang aku pikirkan, melainkan Alvin. Pria yang waktu itu bercerita padaku tentang menundaab pangkatnya.

Tapi satu hal yang menarik perhatianku adalah sebuah notifikasi dari Hani.

Aku segera membukanya. Sebuah pesan suara? Dahiku mengernyit karena tidak paham maksud dari Hani yang mengirimkanku pesan bersuara ini. Seharusnya aku paham bahwa definisi penting menurut Hani pastilah berbeda denganku. Untuk itu, aku mengabaikan pesannya.

Aku sempat menunggu cukup lama, masih berharap—setidaknya ada—sebuah pesan dari Arusha, mengingat caranya yang pergi dengan tatapan yang sangat menusuk bagiku. Namun setelah waktu yang aku tentukan, Arusha tidak menunjukkan tanda-tanda kemunculannya melalui sosial medianya. Aku pun beranjak tidur dan sejenak melupakan segala permasalahan.

•ווו

Sudah beberapa bulan ini, aku habiskan untuk mendiamkan semua orang, baik keluargaku ataupun teman-temanku. Tak ada niat baik dariku untuk membaur lagi. Semuanya terasa sepi dan hilang.

Aku segera menepis pemikiran itu dengan semakin menyibukkan diri dengan pekerjaaaku. Hingga sebuah pop-up pesan dari Hani membuatku mengambil ponsel yang sudah lama aku diamkan beberapa bulan ini.

‘Mbak, udah didengerin belum?’

‘Belum, males.’

‘Cepetan, Mbak dengering aja. Aku aja sampai syok pas tahu.’

‘Emang apaan sih, Han?’

‘Mbak dengerin aja dulu, Hani gak mau Mbak jadi sangka Hani pembohong.’

Pesan singkat itu berakhir dengan cepat karena aku juga penasaran dengan voice note yang dikirimkan oleh Hani padaku tempo lalu.

Aku mendengar voice note itu. Suara itu sangat aku kenali. Karena aku pernah dekat dengannya selama tiga tahun lebih sebelum kejadian yang amat menyakitkan itu terjadi. Ternyata dugaanku benar, bahwa dia belum pernah berubah sejak kejadian tersebut.

Dari rekaman suara itu, aku dapat mengetahui bahwa dua orang itu—Santi dan Raka—memang dua orang yang cocok jika disandingkan bersama.

Mereka sama-sama memiliki hasrat yang sama besar akan seks bebas. Itu membuatku semakin yakin bahwa orang yang waktu itu aku pergoki adalah Santi dan Raka.

Menjijikkan sekali!

Tidakkah Ibu tahu kelakukan menjijikkan dari putri tirinya itu? Bahkan aku sangsi jika papa mengetahui kelakukan busuk putrinya itu.

Aku kembali membuka room chat percakapanku dengan Hani dan mengetikan balasan padanya.

‘Dari mana kamu mendapatkan ini, Han?’

‘Kemarin aku kebetulan sedang menguping percakapan mereka di kamar tam. Di rumahku, kebetulan sedang tidak ada siapa-siapa.

‘Orang tuaku masih ada di Eropa dan bilang akan pulang  lusa nanti.

‘Mbak, apa yang aku lakukan di sini? Aku takut.

Membayangkan wajah Hani yang ketakutan membuatku merasakan perasaan yang sama dengannya. Aku bertukar pesan dengannya sambil menahan rasa mual pada bagian perut dan rasa pening yang terus menghantam kepala bagian belakangku.

Aku berusaha untuk menahan rasa sakit itu dan kembali mengirimkan pesan pada Hani. Setidaknya dia pasti lebih syok daripada aku yang sudah dewasa seperti ini.

‘Kamu sekarang di mana? Shareloc, cepat!

‘Hani memberikan alamat lokasinya.

‘Mbak, maaf merepotkan. Tapi aku mohon cepatlah, aku sungguh ketakutan, Mbak.’

‘Jangan kemana-mana! Tunggu di sana dan pastikan bahwa mereka tidak menyadari keberadaanmu.’

Dengan sisa tenagaku, aku meraih kunci mobil yang menggantung di dekat pintu kamar. Lalu berjalan menuju mobil BMW berwarna hitam—mobil Ayah yang aku pinjam sementara saat berada di Bandung— dan dengan kecepatan yang tinggi aku berusaha untuk sampai secepatnya pada lokasi yang diberikan oleh Hani.

Pikiranku kalut dan dalam hati, aku terus meminta pada Yang Maha Kuasa agar bisa menyelamatkan Hani dari dua orang berkelakuan keji itu. Mereka yang aku kenal, tidak akan segan untuk menyingkirkan orang yang telah berani-beraninya mengusik mereka. Tua ataupun muda. Mereka pasti akan menyingkirkannya, apalagi jika menghambat tujuan mereka.

“Aku mohon bertahan sebentar Hani...”

~tbc~
Revisi: 29/10/20

Terima kasih telah membaca
Bye-bye, black!💚
.
.
.
Jangan lupa klik 🌟 tinggalkan komentar dan share cerita ini ya 🤗
.
.
Salam literasi,
Fe

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top