Prolog
“Jangan sentuh aku!”
Dengan ujung jarinya, Lucian memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membawa wanita yang berdiri—tentu dengan tangan terikat—agar mendekat. Salah satu pria berjas hitam suruhanya, segera meraih lengan dan memaksa wanita berambut merah untuk memenuhi keinginan bosnya.
“Bajingan! Lepaskan aku!”
Meski tahu pemberontakkannya tak berarti apa pun untuk melepaskan diri. Setidaknya dia ingin pria itu tahu, bahwa dia bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk dan diperlakukan seperti hewan oleh orang yang sama sekali tak dikenalnya.
“Duduk!” perintah pria berjas tersebut.
“Aku tak sudi!”
Plak!
Wanita itu merasakan panas menjalari pipi kirinya dengan sudut bibir yang juga terasa perih, membuatnya semakin memberontak seraya meluncurkan makian.
Lucian yang duduk di kursi kebesarannya mengangkat alis, melihat perlawanan dari sang wanita. Dia tak menyangka, jika wanita yang dipilihnya sanggup memberikan perlawanan. Meski tak berarti sama sekali.
Sangat berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya.
Menarik.
Lucian menyeringai kejam dan mencoba mendekat, dia mencengkeram pipi si wanita yang masih melemparkan tatapan tajam penuh kebencian.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, hingga Lucian bisa merasakan napas hangat sang dara sekaligus aroma kayu manis dan bergamot yang mengguar, membuat atensinya sedikit teralihkan pada ujung bibirnya yang sedikit robek akibat tamparan anak buahnya tadi.
"Apa kau terbiasa sekasar ini, Eowyn?" Lucian mengusap pelan ujung bibir Eowyn, seraya tertawa pelan, meremehkan, namun dengan tatapan dingin yang tak lepas dari wanita di depannya ini.
"Bedebah sialan!"
SURABAYA, 1 November 2024
-Dean Akhmad-
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top