Bab 1
Bab 1
Suara lembut deburan ombak di kejauhan, menambah suasana magis di Sisilia menjelang petang. Cahaya matahari yang mulai meredup, memantul samar di wajah Eowyn bak pualam yang bersinar. Sangat kontras dengan rambut merah miliknya.
Dulu ayahnya menginginkan Eowyn mengecat rambutnya menjadi pirang keemasan yang pucat—sangat mengambarkan sosok Eowyn di cerita fiksi milik J.R.R Tolkien—yang tak mau diturutinya begitu saja. Dia tak mau dianggap sedang cosplay memerankan Eowyn Elfsheen Putri Rohan.
Ck! Cukup semasa sekolah menengah dia selalu menjadi bahan olokan teman-temannya, karena memiliki nama Eowyn. Padahal kata ayahnya nama Eowyn justru berasal dari Inggris Kuno dan Anglo-Saxon, yang berati jiwa yang tak pernah takut.
"Buon Appetito, Signorina," ucap waitress seraya meletakkan pasta con le sarde di atas meja Eowyn. (Selamat menikmati, Nona.)
"Grazie," balasnya dengan mengangkat gelas wine, sebagai tanda dia menikmati hidangan sebelumnya. (Terima kasih)
Udara sore khas Mediterania yang hangat begitu dirasakan Eowyn, perpaduan segar dan kehangatan unik dengan udara laut yang terasa menyegarkan dan sedikit asin.
Dari tempatnya duduk, dia bisa merasakan angin lembut dari ombak yang berkilauan. Ada wangi laut yang terbungkus oleh sentuhan tanah kering dan tumbuhan local seperti; rosemary dan lavender liar, serta bercampur dengan wangi masakan dari kafe dan restoran sekitar yang mulai rame.
Menjelang malam, pohon zaitun dan palem semakin panjang dengan latar belakang gemuruh halus ombak dikejauhan, menambah romantis dan tenang di Sisilia.
"Harusnya aku ke sini dengan Arthur," guman Eowyn dalam hatinya.
Seminggu di Sisilia, Dia berharap jika kekasihnya itu bisa ikut berlibur dengannya. Namun, kesibukannya sebagai dokter bedah yang mempunyai jadwal padat, memupuskan impiannya untuk berlibur bersama.
Padahal liburan ke Italia adalah reward yang diperolehnya dari Arthur karena lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan.
Pada akhirnya Eowyn hanya bisa menuruti kemauan Arthur, meski dengan sejuta syarat yang diberikan sang Ayah agar bisa berlibur sendirian ke Negara orang.
Menyelesaikan makanannya, Eowyn memilih menikmati suasana petang Kota Tua Sisilia dengan berjalan kaki. Dia ingin menyusuri jalan berbatu cobblestone atau batu kapur yang telah terkikis oleh waktu. Jalanan sempit yang diapit dengan bangunan arsitektur Barok atau Renaissance berdiri sejajar, dengan fasad yang dihiasi balokn-balkon besi tempa dan jendela berpelitur.
Beberapa bagian ada tanaman hias yang menjuntai dari pot-pot yang mengantung di dinding, seakan memberi kesan alami yang indah. Kafe dan toko lokal berjejer dengan meja-meja kecil di luar, tempat warga dan turis menikmati kopi atau makanan ringan.
Lampu jalanan yang terbuat dari besi antic memberikan penerangan hangat saat malam, menciptakan atmosfer romantic dan misterius yang khas Kota Tua.
Jalanan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk membuat Eowyn sedikit gentar karena berjalanan sendirian.
Jantung Eowyn mencelus, mendapati sosok pria yang terkapar dengan luka tembak tepat di kepala. Matanya terbuka, menyiratkan kengerian yang tersisa.
Eowyn mencengkeram tas slempangnya, dan berniat untuk melarikan diri. Namun, sialnya. Dia justru menendang kaleng bir kosong yang tergeletak di tanah.
Mata biru Eowyn bisa melihat jelas ada banyak [asang mata yang menatapnya dengan nyalang. Perlahan tapi pasti, Eowyn berbalik arah dan melarikan diri.
Dia berlari ke sembarang arah, untuk menghindari kejaran para lelaki misterius tersebut. Bahkan Eowyn tak segan-segan melompati pagar, yang untungnya masih bisa dipanjat.
"Akh!" pekiknya menyadari kakinya kesakitan saat mendarat dengan posisi yang kurang tepat.
Sedikit terseok, Eowyn memakasakan diri untuk cepat menyingkir. Namun, sayangnya itu tak berlaku lama.
Buk!
Ewyn terjungkal ke belakang, dengan kepala yang membentur keras, belum lagi separuh wajahnya juga merasakan perih dan pening sekaligus.
Belum juga dia terbebas dari rasa sakit di kepala, Eowyn mendapatkan pukulan kembali ke wajahnya. Yang membuatnya pingsan seketika.
Eowyn tak sadarkan diri.
Surabaya, 4 November 2024
-Dean Akhmad-
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top