TWO
Changkyun melangkahkan kakinya ke dalam kelas yang mana akan menjadi tempatnya menimba ilmu satu tahun ke depan.
Telinganya mulai menyesuaikan dengan suasana kelas yang terkesan ramai. Bisa dipastikan, kebanyakan dari mereka dulu adalah teman waktu SMP. Ditilik dari keakraban yang sudah terjalin di setiap gerombolan, padahal ini baru hari pertama masuk sekolah.
"Hmmm ... Changkyun-ah, kira-kira dimana kita akan duduk?" Doyoung merangkul Changkyun tanpa ragu.
Changkyun mencoba melepaskan tangan Doyoung dari bahunya. "Terserah kau saja, aku belum tau seluk beluk kelas ini."
Doyoung tersenyum senang, kemudian menarik lengan Changkyun begitu saja dan mengajaknya berjalan ke salah satu bangku yang masih kosong.
Changkyun mendapat bangku nomor dua dari belakang, karena bangku paling belakang sudah ada yang menghuninya. Sementara Doyoung bertempat di samping Changkyun. Nampaknya anak itu tak mau jauh dari Changkyun.
"Ya! Sekarang ceritakan lah tentang dirimu."
Doyoung memutar badan beserta kursinya sekaligus dan menghadap Changkyun.
"Ceritakan apa?" Changkyun malah balik bertanya dengan wajah herannya.
Doyoung memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Yaaa ... ceritakan tentang siapa dirimu, asalmu, keluargamu dan lainnya," lanjut Doyoung tidak sabar.
Changkyun seketika terdiam, tidak menjawab maupun merespon apa pun. Hanya diam. Apa yang harus dikatakannya pada teman barunya ini?
Tuk tuk tuk
Doyoung mengetuk meja Changkyun pelan. Ia merasa diacuhkan.
"Ya ya ya! Kenapa kau diam saja, kau mengacuhkanku, eoh?" ucap Doyoung kesal.
"Ah ... yee?" Changkyun terbangun dari lamunannya.
"Huh! Kau melamun? Sedang memikirkan sesuatu?"
Changkyun tersenyum, "Aniya. Aku tidak memikirkan apa pun," sahut Changkyun semeyakinkan mungkin.
Doyoung mengangguk dan membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'.
"Jadi Changkyun-ah, kau tidak mau menceritakan tentang dirimu padaku?"
"Eumm ... aniya aniya. Bukan begitu, aku hanya ...." Changkyun kembali terdiam.
Doyoung dengan cepat paham dengan maksud Changkyun. Changkyun memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya.
"Oh ... ya sudah oke oke, dari ekspresimu, aku paham kau tak mau membahas hal itu. Tenang kawan aku akan diam, lihat aku akan mengunci mulutku." Doyoung melakukan gerakan seperti menutup resleting ke mulutnya sebagai tanda ia tak akan bertanya macam-macam lagi.
Changkyun tertawa mendengar ucapan lucu kawan barunya ini. Pada akhirnya, mereka terhanyut dengan percakapan ringan tentang hobi masing-masing.
"Changkyun-ah, mungkin suatu saat kau boleh melihatku tampil di pertandingan futsal dan pastikan kau mendukungku," ujar Doyoung penuh semangat menceritakan kegemarannya dalam berolahraga.
Changkyun tersenyum. "Arra arra, suatu saat aku akan menyaksikan pertandinganmu dan menjadi pendukung setiamu."
Mereka mulai akrab dengan cepat, tak jarang mereka saling tertawa karena topik yang lucu.
"Yak! Kalian bisa diam tidak?"
Salah satu siswa yang duduk tepat di belakang bangku Changkyun menendang kaki kursi yang diduduki Changkyun. Siswa itu tidak sendiri, ia juga bersama satu temannya yang juga menatap kesal ke arah mereka meski tidak berucap.
Changkyun menoleh ke arah sumber suara.
"Ah ... maaf jika kami mengganggu kalian," sahut Changkyun terlihat menyesal.
"Dasar menyebalkan," umpatnya pelan yang tentu saja dapat terdengar oleh telinga Changkyun.
Siswa tersebut menatap Changkyun dengan raut wajah tak sukanya dan terkesan merendahkan.
"Ya! Kenapa kau menatap Changkyun seperti itu? Apa maksudmu, hah?"
Doyoung yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Ia berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang.
"Wae? Wae? Apa salahku?" Siswa tersebut membalas ucapan Doyoung sama sengitnya.
Doyoung mengarahkan jari telunjuknya ke wajah siswa tersebut.
Brak!
Siswa tersebut menggebrak mejanya keras. Hal tersebut tentu saja membuat seisi kelas terkejut dan menatap mereka heran.
"Ya! Ya! Jangan menunjukkan tangan hinamu itu padaku, sialan!" umpatnya dengan wajah memerah.
"Mwo? Hina? Apa maksudmu, hah?" Doyoung berdiri dari duduknya, tangannya terkepal erat. Bersiap menghajar siswa menyebalkan tersebut.
"Andwae Doyoung-ah, kumohon jangan bertengkar hanya karenaku." Changkyun menahan lengan Doyoung agar tak melangkah menghampiri siswa tersebut.
"Tapi dia secara tidak langsung sudah merendahkanmu, apa aku akan diam saja saat melihat temanku di hina?" tanyanya dengan emosi yang tertahan.
"Nan gwaenchanha, tidak apa. Tak perlu dipikirkan," sahut Changkyun tersenyum hangat.
Doyoung berdecih kesal dan kembali duduk ke kursinya, mendiamkan Changkyun. Dan tentu saja siswa tadi tersenyum penuh kemenangan.
"Doyoung-ah, jangan salah paham dulu. Aku hanya tidak ingin hari pertama kita sekolah menjadi buruk," lirih Changkyun yang masih dapat didengar oleh lawan bicaranya.
"Dwaesso, aku minta maaf, aku seharusnya tidak dengan mudah terbawa emosi tadi," sahut Doyoung beberapa saat kemudian.
Tok tok tok
Papan tulis diketuk oleh seorang yang berdiri tidak jauh dari papan tersebut.
"Baiklah, sebelumnya saya minta maaf karena terlambat datang, perkenalkan saya Park Seo Joon. Saya akan menjadi wali kelas kalian dalam satu tahun ke depan, ada yang ingin ditanyakan?" jelasnya panjang lebar.
Semua diam.
"Baiklah, kalau tidak ada. Hari ini adalah hari pertama kalian di SMA Kyunggi, jadi saya minta kalian perkenalkan diri kalian masing-masing."
Seperti yang diperintahkan Park Ssaem, seisi kelas pun maju satu persatu untuk memperkenalkan diri.
Tiba pada giliran Changkyun. Doyoung mengulurkan tangannya dan menyentuh lengan Changkyun, berniat membantu Changkyun.
"Gomawo, aku bisa sendiri." Changkyun berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan kelas dengan mantap.
"Perkenalkan aku Im Changkyun, senang bertemu kalian dan semoga kita dapat menjadi teman yang baik nanti." Changkyun mengakhiri perkenalan dirinya dengan senyum khasnya.
"Changkyun-ssi, apa kau seorang tunanetra?" tanya salah satu teman kelasnya tiba-tiba.
Semua menoleh ke arah siswa tersebut dan menatapnya dengan aneh.
Siswa tersebut bingung dengan tatapan yang ia dapat dari teman lainnya.
"Wae? Aku hanya bertanya, apa aku salah?" tanyanya bingung.
Lagi-lagi Changkyun tersenyum.
"Tidak, kau tidak salah apa pun dan kau benar aku tunanetra."
"Ohhh ... lalu kenapa kau tidak memakai tongkat?"
"Aku memakainya." Changkyun mengeluarkan sesuatu dari belakang bajunya. Sebuah tongkat yang biasa digunakan oleh para tunanetra.
"Baiklah ku rasa cukup bertanya tentang hal itu, Changkyun-ah. Kau boleh kembali duduk ke kursimu."
Park Ssaem segera menghentikan keingintahuan para siswanya yang mungkin saja bisa membuat Changkyun tidak nyaman.
"Nee Ssaem, kamsahamnida." Changkyun membungkuk tanda hormat, kemudian kembali ke tempat semula ia duduk.
"Si buta dari gua hantu," bisik siswa di belakang Changkyun pada teman sebangkunya yang terkekeh mendengar ocehan kawannya. Ia Kwon Soonyoung dan Park Jinwoo.
Changkyun dengar itu. Sakit? Ya, memang sakit. Tapi begitulah adanya. Ini mungkin salah satu resiko yang harus ditanggungnya jika bersekolah di sekolah normal.
#BLIND#
Doyoung kini menjadi orang pertama yang sangat peduli pada Changkyun atau bisa dibilang sahabat? Entahlah, Changkyun sendiri masih belum faham makna kata sahabat itu sendiri.
Baru dua hari mereka berteman, tapi hubungan yang terjalin sudah seperti kenal bertahun-tahun lamanya.
Namun jujur, Changkyun sangat bersyukur memiliki teman sebaik Doyoung.
Dan, jangan terlalu berharap dengan adanya Doyoung, kehidupan Changkyun di sekolah akan menjadi indah. Bukankah selalu ada sosok antagonis di antara protagonis?
Seperti ....
Brakk!
Changkyun tersungkur tepat saat hendak masuk ke dalam kelas. Ia merasakan ada seseorang yang sengaja mendorongnya dari belakang.
"Hahaha ... lihatlah kawan buta kita ini, menyedihkan." Tawa Soonyoung terdengar puas.
"Sangat menyedihkan," sahut Jinwoo mengejek.
Tangan Changkyun meraba lantai kelas.
"Tongkatku," gumamnya dengan tangan sibuk mencari letak tongkat miliknya.
"Changkyun-ah!"
Doyoung melesat dari tempat duduknya saat melihat Changkyun dipermainkan oleh dua evil boy di kelasnya.
"Ya! Apa maksudmu, kau mau melukai Changkyun?"
Keduanya hanya tersenyum dan melenggang ke dalam kelas begitu saja.
Doyoung megambil tongkat Changkyun dan membantunya berdiri.
"Neo gwaenchanha?" tanyanya memeriksa tubuh Changkyun dari atas sampai bawah.
Changkyun tersenyum dengan sikap temannya yang terlalu mudah khawatir itu. Kadang ia berfikir bisakah ia mendapatkan hal serupa dari kedua hyungnya?
Senyumnya meredup bersamaan dengan datangnya rasa perih di hatinya setiap mengingat hal tersebut.
"Changkyun-ah? Gwaenchanha?" Doyoung mengulang kembali pertanyaannya.
"Eoh? Nee, aku baik-baik saja," Changkyun kembali mengembangkan senyumnya.
"Baiklah, kalau begitu. Ayo kita masuk," ujarnya tak mau menghujani temannya dengan pertanyaan yang akan membuatnya tak nyaman.
#BLIND#
Alunan tuts piano yang indah membawa langkah kaki Changkyun hingga masuk ke dalam ruangan tersebut atau lebih tepatnya berdiri di depan pintu.
Namja yang sedari tadi asik memainkan jarinya di antara tuts hitam dan putih tersebut menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa hanya berdiri di situ saja? Masuklah," ujar namja tersebut yang menyadari kehadiran Changkyun.
Changkyun tersentak, ia tidak tahu bahwa orang tersebut menyadari kehadirannya.
"M-maaf Sunbae, aku tidak bermaksud menganggumu," sahut Changkyun tegang.
Namja tersebut tersenyum dan berdiri menghampiri Changkyun yang masih berdiri kaku di depan pintu.
"Aniya, kau tidak menganggu, masuklah." Namja tersebut menarik lengan Changkyun pelan dan menyuruhnya masuk.
Changkyun menurut begitu saja. Toh, namja tersebut sudah ramah padanya.
Remaja tersebut menyuruh Changkyun duduk di sampingnya. Tangan mungilnya kembali beraksi di atas tuts piano.
Changkyun terdiam dan terlarut dalam alunan indah piano di tangan namja tersebut.
"Indah."
Mulut Changkyun spontan berucap. Namja tersebut menghentikan permainannya.
"Nee?"
"M-maksudku, permainan piano Sunbae indah," sahut Changkyun takut-takut.
"Oh ... terimakasih."
"Dan tak usah takut seperti itu padaku, apa aku terlihat seperti orang jahat?" tanyanya kemudian.
"A-ani, ani. Bukan begitu Sunbae," Changkyun semakin geragapan.
'Menggemaskan,' pikir namja tersebut.
"Hahaha ... tak apa, maafkan aku sudah membuatmu tak nyaman." Namja tersebut menepuk bahu Changkyun pelan.
"Aku Yoo Kihyun, kelas 3-1. Kau?" tanya Kihyun mencoba membuat suasana agar lebih rileks.
"Aku Im Changkyun, kelas 1-1."
"Baiklah, Changkyun-ah. Karena kau sekarang sudah tahu siapa aku, mulai sekarang jangan panggil aku Sunbae panggil saja aku Hyung," ujar Kihyun lembut.
"Nee, K-kihyun Hyung," sahut Changkyun malu-malu.
Kihyun memperhatikan Changkyun. Seperti ada yang janggal, tapi apa? Mungkinkah? Pikirnya.
"Jangan melihatku seperti itu Hyung, aku memang buta," ucap Changkyun merasa diperhatikan.
"Ah ... maaf, aku tidak bermaksud."
"Tak apa, itu sudah biasa terjadi, tak usah minta maaf Hyung." Changkyun memotong ucapan Kihyun cepat.
Kihyun menggaruk tengkuknya kikuk. Ia lupa bahwa sudah bukan hal aneh lagi jika di SMA Kyunggi terdapat beberapa siswa berkebutuhan khusus seperti Changkyun.
"Permainan pianomu sangat indah Hyung," Changkyun kembali mengagumi kelihaian Kihyun dalan bermain piano.
"Jinjja? Apakah sebagus itu?"
"Sungguh, kau sangat hebat, aku tak bohong," sahut Changkyun dengan ekpresi yakinnya.
Kihyun tertawa dan tangannya mengacak surai hitam Changkyun gemas.
'Benar-benar bocah menggemaskan,' batinnya.
"Apa kau menyukainya?"
Changkyun mengerutkan dahinya. Tak paham maksud Kihyun.
"Maksudku, piano. Apa kau menyukai permainanku?"
Tanpa berfikir dua kali, Changkyu menganggukan kepalanya mantap.
"Jeongmal jeohayo," sahutnya mantap.
"Kalau begitu bermainlah dengan jarimu sendiri."
Mendengar ucapan Kihyun yang tak pernah disangkanya, Changkyun menundukkan kepalanya.
"Wae? Kenapa kau diam?" Kihyun menyadari perubahan ekpresi Changkyun.
"Apa aku bisa?" Lirihnya.
Kihyun tersenyum, ia paham maksud Changkyun. Tangannya menepuk bahu Changkyun pelan.
"Kenapa tidak? Bukankah dimana ada kemauan di situ ada jalan?"
Changkyun memalingkan wajahnya menghadap Kihyun.
"Jika kau mau, akulah yang akan menuntunmu menuju jalan itu," lanjut Kihyun yang berhasil membuat Changkyun berfikir beberapa saat.
"Hyung," panggilnya pada Kihyun yang sudah kembali asik memainkan piano.
"Nee?"
"Aku ingin bisa sepertimu," lanjutnya kemudian yang sukses membuat Kihyun tersenyum lebar.
"Jika kau ingin bisa hebat bermain piano, jangan menjadi sepertiku."
"Lalu aku harus seperti siapa?" Changkyun kembali tak paham dengan ucapan Kihyun.
"Kau tak perlu menjadi seperti siapa pun untuk menjadi hebat, karena kau hanya perlu jadi diri sendiri."
Kwon Soonyoung

Park Jinwoo

Yoo Kihyun

#BLIND#
Fyuh....
Akhirnya apdet juga,
Gimana? Gimana?
Baguskah?
Jelekkah?
B ajah kah?
Feelnya gimana?
Kena nggak??
Hhmmm...
itu terserah kalian lah ya..
Nanti castnya nyusul di setiap part aja yaa..
Biar rada surprise gitu :D
Aku sebagai author, cuma berusaha untuk menyajikan karya terbaikku buat readers :)
Jangan lupa VOTE and COMMENT juseyo
O iya kalo mau tanya-tanya juga gpp kok, kalo aku tau pasti aku jawab deh ^^
Salam
VhaVictory
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top