THREE
Jooheon memasuki kelasnya dengan lesu. Menjadi seorang ketua ekskul futsal memang merupakan hal yang melelahkan. Apalagi dengan adanya peserta didik baru, ia disibukkan dengan berbagai kegiatan perekrutan anggota baru dari kelas satu.
"Ada apa dengan wajahmu Jooheon-ah? Kau terlihat lelah," tanya Hyungwon, teman sebangku Jooheon.
Jooheon hanya menjawab Hyungwon dengan desahan pelan. Dari ekspresi sahabatnya Hyungwon tak perlu bertanya dua kali untuk menjelaskan kondisi sahabatnya itu.
Jooheon memandang keluar jendela. Dilihatnya sosok yang sudah tak asing lagi dalam hidupnya sedang berdiri di tepi lapangan olahraga, sosok itu terlihat bahagia meskipun hanya menjadi penonton para temannya yang bermain basket.
'Menyebalkan,' pikirnya.
"Kau sedang melihat apa?" Hyungwon ikut medongakkan kepalanya keluar jendela.
"Omo! Jooheon-ah! Bukankah dia ... mmph," Jooheon membungkam mulut Hyungwon sebelum ia melanjutkan ucapannya.
Jooheon memandang sekeliling kelas. Suasana kelasnya cukup ramai karena baru saja ada tugas kelompok. Beruntung ia membungkam Hyungwon sebelum mengungkapkan kata yang dibencinya.
Hyungwon menepis tangan Jooheon dengan kesal.
"Ya! Aku sampai tak bisa bernafas," dengkusnya kesal.
Jooheon terkekeh pelan. "Mianhae."
"Dan kenapa kau tidak memberitahuku kalau dongsaeng mu bersekolah di sini?" kali ini Hyungwon memelankan suaranya hingga hanya mereka berdua saja yang dapat mendengarnya.
Jooheon berdecih gusar. "Huh! Untuk apa? Menyebalkan!"
Sebenarnya Hyungwon sangat paham dengan seluk beluk keluarga Lee. Bukan karena apa. Tapi ia sudah menjadi sahabat Jooheon sejak kecil. Ia tahu jika Jooheon amat membenci adiknya(?). Alasannya? Hyungwon juga sangat tahu.
"Kau tahu? Adikmu itu memang buta, tapi selain itu dia sempurna. Aku heran mengapa kau tetap membencinya." Hyungwon memasang wajah berpikirnya.
Jooheon memalingkan wajahnya malas. Ia meletakkan kepalanya di meja dan menjadikan kedua tangannya menjadi tumpuan, pura-pura tidur. Sungguh, ia kesal dengan pertanyaan yang sama selalu keluar dari mulut sahabatnya itu.
Merasa tidak mendapat respon dari kawannya. Hyungwon memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela. Pemandangan di luar masih sama, siswa kelas Changkyun masih berolahraga.
Ohh ... lihatlah namja itu. Terlihat begitu bahagia, hanya berdiri di sisi lapangan sedangkan kawan-kawannya yang saling lempar bola dengan yang lain. Ia bahkan tak merasa kecil hati meskipun berbeda. Hanya mendengar tawa mereka saja sudah membuat hati damai.
Hyungwon membuang nafas dengan berat. Dipandangnya namja yang tengah menelungkupkan wajah di meja, hanya berpura-pura tidur. Kenapa namja ini sangat membencinya? Dia bahkan terlalu baik untuk ukuran orang yang pantas dibenci. Menyebalkan? Oh ... ayolah, bukankah yang menyebalkan itu dirimu! pikir Hyungwon.
Hyungwon kembali memperhatikan Changkyun.
'Hei! Apa yang terjadi?'
Hyungwon menajamkan penglihatannya. Permainan di lapangan sudah berhenti dan digantikan dengan sebuah keributan kecil.
"Changkyun-ah! Bagaimana permainanku?" Doyoung menghampiri Changkyun yang berdiri tidak jauh dari lapangan.
Changkyun tersenyum cerah.
"Kau hebat," sahut Changkyun tulus.
"Jinjja?"
Changkyun menganggukkan kepalanya masih dengan senyum yang mengembang.
Doyoung tertawa senang.
"Tentu saja, aku Kim Dongyoung. Aku memang berbakat," ucapnya sombong.
Changkyun hanya tersenyum menanggapi ucapan kawannya tersebut. Doyoung memang pribadi yang selalu percaya diri dan positif. Sudah tau Changkyun tak bisa melihat, tapi tetap meminta pendapat padanya.
"Hei! Awas!" teriak salah seorang siswa ke arah mereka.
"Akhh!" Tubuh Changkyun terjatuh ke tanah begitu saja setelah sebuah bola telak menghantam dadanya.
"Changkyun-ah!" Doyoung berteriak panik melihat Changkyun terduduk sambil memegang dadanya terlihat kesakitan.
"Kau tidak apa?" Doyoung mendekati Changkyun dan memeriksa keadaan kawannya itu.
Changkyun hanya menggelengkan kepalanya lemah dan mengatur nafasnya yang sesak.
"Yakk! Siapa yang melakukannya?!" teriak Doyoung murka.
Sementara teman-temannya hanya diam dan menonton kejadian tersebut tanpa berani buka suara.
"Oh.. maaf aku tak sengaja," ujar seseorang yang ternyata adalah Soonyoung.
"Ya, Jinwoo-ya. Kenapa kau tadi tak mengoper dengan benar?"
Jinwoo yang mendengar itu malah tertawa ringan.
"Mian. Tapi Soonyoung-ah, ini tidak sepenuhnya salahku, aku sudah memperingatkannya. Mungkin dia saja yang tak melihatnya," sahut Jinwoo yang disambut dengan kekehan Soonyoung.
Doyoung melangkahkan kakinya mendekati Soonyoung dan menarik kerah baju namja tersebut dengan kasar.
"Ya! Sialan kau! Kau mau melukai Changkyun? Hah?!" Doyoung berteriak tepat di depan wajah Soonyoung dan membuat telinga namja tersebut berdenging.
Soonyoung menepis tangan Doyoung dengan paksa.
"Yak! Aku kan bilang tidak sengaja, dan Jinwoo juga sudah memperingatkannya. Kenapa kau menyalahkan kami?" sahut Soonyoung sama kerasnya.
Priiiiittttt!!!
Nam Ssaem meniup peluit andalannya dan mendekati dua siswanya dengan wajah memerah.
"Hentikan!"
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa malah bertengkar? Cepat ganti seragam kalian dan kembali ke kelas. Dan kau Doyoung, antarkan Changkyun ke ruang kesehatan." Nam Ssaem berujar dengan amarah tertahan.
"Tapi Ssaem, dia sudah melukai Changkyun," ujar Doyoung bersikeras.
"Yak! Bukankah sudah kubilang kami tak sengaja?!" Kali ini Jinwoo ikut berkata sengit.
"Cih! Tak sengaja? Bahkan kau menendang bolanya bukan menggunakan tangan untuk men-drible." Doyoung menatap keduanya tajam.
"Kubilang hentikan dan pergi ke kelasmu!" bentak Nam Ssaem kemudian berlalu begitu saja.
Soonyoung dan Jinwoo saling bertukar pandang lalu tersenyum miring.
"Doyoung-ah, sudahlah. Aku baik-baik saja." Changkyun sudah berdiri di samping Doyoung dan memegang bahunya. Wajahnya cukup pucat untuk dibilang baik-baik saja.
"Tapi ...."
"Gwaenchanha, ku mohon," ujar Changkyun sebelum Doyoung menyelesaikan ucapannya.
Doyoung mengusap keringat di dahinya dengan kasar kemudian melayangkan pandangan pada dua iblis yang sudah melenggang pergi begitu saja. Kesal benar benar kesal.
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan," Doyoung akhirnya memilih mengalah.
"Tidak usah, aku baik-baik saja." Changkyun tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sakit di dadanya.
"Jangan bertingkah sok kuat, ikut saja dan istirahatlah di ruang kesehatan." Dengan sedikit paksaan Doyoung menarik lengan Changkyun dan mengajaknya ke ruang kesehatan. Changkyun pasrah.
Sungguh. Doyoung tak tahu apa isi pikiran dari kawan barunya ini. Berlagak kuat padahal ia sangat lemah.
"Jooheon-ah! Lihatlah adikmu, dia di-bully." Hyungwon menepuk-nepuk bahu Jooheon pelan serta masih berbisik.
Jooheon yang hampir saja terlelap menegakkan tubuhnya dan menatap Hyungwon dengan kesal.
"Diamlah Chae Hyungwon! Kau menganggu tidurku," ujarnya dengan wajah memerah.
Hyungwon hanya meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bahkan dia mati pun aku tak peduli," lanjut Jooheon dan kembali ke posisi semula, mleanjukan mimpinya yang tertunda.
#BLIND#
Waktu pulang sekolah sudah usai beberapa waktu yang lalu. Changkyun baru saja pulang karena ia masih mengikuti kelas musik, dan alhasil ia baru pulang saat waktu menunjukkan pukul 08.30 KST. Ia sedang berdiri di halte saat seseorang berdiri di sampingnya. Aroma ini?
"Joo-jooheon Hyung?"
Jooheon hanya diam saat seseorang di sampingnya menyebut namanya. Ia memang tak peduli.
"Hyung, hari ini kau pulang naik bus?"
"...."
"Kalau begitu kita pulang bersama saja, aku ingin bersamamu Hyung," ajaknya takut-takut.
"Sudah satu bulan aku sekolah di sini, dan kita belum pernah berangkat maupun pulang bersama," ujar Changkyun penuh harap.
"Diam kau! Jangan berbicara denganku seakan kau mengenalku," sahut Jooheon dingin.
"Wae? Aku kan memang mengenalmu?"
Changkyun sedikit bingung namun tak perlu waktu lama untuk tahu maksud di balik ucapan kakaknya. Changkyun menundukkan kepalanya. Selalu merasa sakit, padahal sering terluka.
"Apa kau malu karena aku bu—"
"Ya, karena kau buta! Maka diamlah dan jangan pernah berbicara padaku saat berada di sekolah. Memalukan!" sahut Jooheon dengan sedikit membentak, sebelum Changkyun selesai mengucapkan kalimatnya.
Wajah Jooheon sedikit memerah karena menahan rasa kesal dan marahnya. Ia tak ingin sampai memukul Changkyun di tempat umum.
Changkyun bungkam seketika mendengar kalimat kasar dan sarkas dari mulut Jooheon. Ia menundukkan kepalanya dan merasakan cairan hangat menggenangi pelupuk matanya. Ia buru-buru mengusap matanya guna mencegah agar cairan itu tidak jatuh.
Jooheon tentu saja menyaksikan hal itu, tapi ia memilih diam dan tak mau peduli. Ia tahu hati Changkyun terluka karena ucapannya, tapi itu belum seberapa dengan luka miliknya. Jadi tak masalah bukan?
Tak berselang lama bus tiba. Jooheon melangkahkan kakinya memasuki bus, begitu juga Changkyun yang masih setia dalam diamnya.
Isi bus cukup penuh, tapi masih menyisakan dua buah kursi yang saling berjajar. Jooheon memutuskan untuk duduk ddengan poisi di dekat jendela sambil menikmati indahnya suasana malam di kota Seoul.
"Hei Nak, kenapa kau berdiri? Duduklah di sebelah siswa sipit itu -Jooheon- kursinya masih kosong," ujar sang sopir yang melihat Changkyun berdiri, tangannya menunjuk kursi di samping Jooheon masih kosong.
"Bolehkah Hyung?" lirihnya pada Jooheon yang masih tetap memandang keluar.
"Hmmmm," sahut Jooheon tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
Mendengar jawaban sang kakak, Changkyun tahu jika Jooheon sebenarnya enggan duduk dengannya tapi juga tak bisa menolak. Tapi meskipun begitu Changkyun senang, bisa duduk di samping Jooheon. Bukankah itu suatu hal yang langka baginya karena bisa duduk dengan orang yang disayanginya? Bagi seorang Changkyun, hal seperti ini mungkin adalah hal yang langka. Mengapa? Karena besok belum tentu ia akan berdampingan dengan Jooheon, kakak berhati batu.
Lee Jooheon😘

Chae Hyungwon

#BLIND#
Akhirnya aku update lagi😊
Siapa yang nunggu ayem sama juju hayooo ngaku... 😄😄
Nggak kok becanda, mana ada yang mau nunggu cerita jelek kek gini apdet 😥😓
Sebenernya aku mau gk apdet sih, soalnya akhir2 ini sibuk plus capek. Jadi otaknnya nggak mau mikir dan mata nggak bisa diajak lembur 😢
Tapi nggak papa.. akhirnya apdet juga 😁
Selamat membaca dan maaf kalo chap ini terlalu pendek dan nggak ngena feelnya 🙏
Dan jangan lupa VOTE and COMMENT juseyooo..
Dan satu lagi 😁
Uri MonstaX Comeback (bentar lagi maksudnya) jadi jangan lupa kita sambut mereka dan kasih dukungan buat mereka
Vote juga.. biar Uri MonstaX jadi nomor satu lagi ya gengs 😘
Maaf kalo author banyak bacot😂😂 maafkeun ya maafkeun??
Salam
VhaVictory
(20-10-2018)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top