Chapter 8

Bagi Selena tidak mudah untuk melewati beberapa hari bahkan minggu tanpa Nicolas. Tapi kini ia sudah hampir terbiasa. Selena menurunkan matanya dan mengelus perutnya yang rata lalu tersenyum.

Bagaimana tidak, disela-sela jerit tangisnya, Tuhan juga mengabulkan sesuatu yang sangat diinginkannya. Pertemuan terakhir dengan Nicolas membuat sebagian diri Nic berkembang dengan sempurna didalam tubuhnya.

Awalnya Selena merasa tidak akan bisa melewati ini semua, tapi dengan adanya ini—Selena menunjuk perutnya—ia yakin bahwa ia bisa menjalaninya demi janin yang berada didalam perutnya. Semua ini memang tidak mudah, Selena harus keluar dari kampus dan tidak dapat melanjutkan kuliahnya tapi ia bahagia.

Selama ini Selena selalu bertanya-tanya kapankah keajaiban akan terjadi pada dirinya. Dan saat ia mendapatkan mukjizat itu, hanya air mata kebahagiaan yang ada. Tak ada hentinya Selena bersyukur walaupun ini artinya ia sudah melakukan sex diluar nikah, Selena tidak perduli. Ia merasa luar biasa.

Pada awalnya ia bahkan tidak mempercayainya. Selena menganggap mual-mual yang dideritanya karena Stress dan Jet lag yang dialaminya, namun karena itu semua terjadi terus menerus selama 1 bulan, Selena memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.

Selena hampir saja menangis karena mensyukuri janin yang berada didalam perutnya, tidak ada lagi yang diinginkannya selain bayi ini. Jika memang ia tidak dapat memiliki Nicolas, maka setidaknya ia masih memiliki bayi ini..

"Congratulation, Mrs. Janin anda berkembang dengan sangat sempurna. Tapi tolong lebih diperbanyak memakan makanan bergizi dan istirahat yang cukup, jangan terlalu lelah ataupun memikirkan sesuatu yang berlebihan yang bisa mengakibatkan stress, karena itu akan mempengaruhi janin anda.." jelas Dr. Scott salah satu ahli ginekologi terkenal  dan termasuk the most wanted doctor.

Selena menganggukkan kepalanya, "Baik, dok.. Thanks"

"Please come back again next month.." ucap Dr. Scott dan memberikan beberapa resep vitamin yang harus diminum Selena kepada suster yang membantunya, "Nurse, please help her.." lanjut Dr. Scott sambilmemberikan resep itu.

Suster dengan name tag 'Elena' mengangguk dan mempersilakan Selena untuk mengikutinya. Selena mengikuti suster itu dengan senang hati. Apapun akan dilakukannya demi bayi ini, walaupun disela hatinya yang paling dalam ia masih menginginkan Nicolas berada disampingnya dan membantunya dalam proses kehamilan ini..

Selena menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah, "No, Selena.. Please don't think like that..."gumamnya pelan

"do you say something, Mrs..?" Tanya suster tersebut yang kini tersenyum menatapnya. Selena menggeleng-geleng kepalanya kuat.

"no-nothing.."

**

Setelah memakirkan mobilnya didepan rumah kakaknya, Nicolas masuk kerumah dengan tergesa-gesa. "Loh, Nic? Ada apa?"

"Apa Kak Edward ada dirumah?" Tanya Nicolas saat bertemu dengan Tasya—kakak iparnya.

"Tentu, dia ada diruang tamu..."

Tanpa menjawab apapun, Nicolas bergegas menuju ruang tamu. Dan Nicolas memang menemui kakaknya yang tengah menonton televisi diruang tamu. Kakaknya menatapnya dengan tegas namun ramah, tatapan yang seakan mampu membaca pikiran Nicolas.

"Hey, Nic. Bagaimana kabarmu?"

Nicolas berjalan memeluk kakaknya sekilas, sebelum berkata, "..Ada yang harus aku bicarakan, kak"

"About Selena?"

Nicolas terperangah mendengar ucapan kakaknya itu, ia hanya bisa menatap kakaknya yang kini hanya tersenyum, "Ba..Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mau membicarakan Selena?"

"Memangnya kau pikir aku sudah berapa lama menjadi kakakmu?Ayo kita bicara diruang kerjaku" Kakaknya berjalan dengan santai menuju ruang keluarga diikuti oleh Nic dan istrinya.

Sesampainya diruang kerja kakaknya menyuruh Nicolas menutup pintu agar lebih leluasa untuk berbicara, sedangkan Kakaknya bersandar dimeja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni berwarna coklat gelap. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan mengenai Selena?"

Nicolas menelan ludah. Ucapannya terpotong saat Tasya bertanya kepada suaminya dengan terkejut karena suaminya membawa nama anak gadis semata wayangnya, "Tenanglah Tasya, tidak terjadi apapun pada Selena. Maukah kau menunggu kami diluar? Kami membutuhkan waktu untuk berbicara"

"tapi..."

"Please?" Kalau Edward sudah berkata seperti itu dengan wajah memohon namun tegas, Tasya tidak bisa berkata apapun selain mengangguk menyetujuinya. Kemudian ia berjalan keluar dari ruangan untuk memberikan waktu kepada Nicolas dan Edward.

Setelah Tasya keluar dari ruang kerja Edward, kakaknya itu berdiri didepannya dengan santai, "Jadi? Bagaimana?"

"..Kak, aku memang berhutang budi padamu. Selama beberapa tahun ini hanya kau yang merawat dan menjagaku..." Nic menarik nafasnya dan melihat kakaknya yang masih berdiri didepannya dengan santai, ia bahkan tidak menyadari bahwa sekarang tatapannya sudah berubah menjadi sedih dan kosong, "..Berikanlah Selena kepadaku, kak. I can't live without her anymore. She've been inside me so easily, even I know she's my nephew dan aku tahu kau pasti sangat membenciku karena itu"

Edward masih diam dan mengangkat alisnya seakan menunggu Nicolas menyelesaikan ucapannya.

"I just..Please, Please give her to me. I'll never bother you again.." kali ini Nicolas menyelesaikan ucapannya dengan setengah badan membungkuk didepan kakaknya.

Matanya terasa panas dan berair, menunggu jawaban dari kakaknya hampir membuat seluruh jantungnya berdebar dengan kencang.

Seluruh tubuhnya berdebar, Nicolas menunggu makian serta pukulan dari kakaknya yang sebelumnya mungkin tidak pernah dirasakannya. Namun berapa lamapun ia menunggu, kakaknya sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

Akhirnya Nicolas memutuskan untuk mengangkat wajahnya dan disananya kakaknya berdiri dengan bibir yang tersungging menyerupai senyuman.

Ini tidak seperti yang dipikirkannya, selama perjalanannya dari kantor menuju rumah kakaknya, Nicolas sudah berpikir keras untuk mengantisipasi adanya perkelahian, pemukulan,pemutusan hubungan namun disanalah kakaknya berdiri. Kakaknya malah tersenyum.. bahagia?

"Akhirnya kau menyadari perasaanmu?"

"hah?"

Edward berjalan kedepan Nicolas dan menepuk bahunya yang tegang, "Kau pikir berapa tahun yang kulalui hanya untuk menunggumu mengatakan perasaan bodohmu itu?" kemudian melanjutkan dengan tatapan serius, "apa kau tahu berapa banyak air mata yang dikeluarkan oleh anak itu?"

Tidak.. Ia tidak tahu, Nicolas tidak tahu..

"Apa kau tahu bahwa hampir setiap malam anak itu menangis setelah kau memutuskan untuk bersama Sophie?"

Tidak..

"Apa kau juga tahu berapa banyak rasa sakit yang ditahan anak itu ketika kau memutuskan untuk menikah, berbulan madu dan bersikap dingin padanya?"

Tidak. Nicolas juga tidak tahu mengenai hal itu..

Edward menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat anak gadisnya menangis diam-diam setiap malam. "..anak itu menangis setiap malam dan tersenyum dipagi harinya. Semua itu karena kau Nic, dia juga tidak mau kau mengetahui perasaannya karena takut kau akan membencinya.."

Nicolas terdiam, hatinya terasa sesak untuk kesekian kalinya. Kali ini nafasnya seakan terambil dari paru-parunya. "..Aku pikir ini semua untuk kebaikannya.." gumam Nicolas lemah dan menyadari bahwa selama ini ia telah salah mengambil keputusan.

"Itulah masalahmu dari kau masih kecil. Kau terlalu banyak berpikir, tak heran perangaimu menjadi lebih keras daripada yang seharusnya!Do it or nothing, aku selalu mengajarimu itu bukan? Bagaimana mungkin kau melupakan ajaranku itu?"

"..."

"sekarang apa yang ada dibenakmu? Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Edward pelan dan berusaha mengerti adiknya yang bodoh ini.

Nicolas menggeleng lemah, kepalanya masih tertunduk lemas, "aku tidak tahu.. Aku sangat membutuhkan dia hanya itu yang aku tahu kak.."

"kalau begitu ini untukmu.."

Edward memberikan sebuah amplop berwana coklat yang sudah lusuh akibat dilipat. Matanya terpaku pada amplop lusuh itu tanpa mampu mengalihkan pandangannya, "apa itu?"

"Bukalah, aku akan meninggalkanmu disini untuk membacanya" Kemudian tanpa mendengar jawaban dari Nicolas, Edward sudah beranjak dari tempatnya berdiri dan meninggalkan Nicolas sendirian di ruangan itu.

.

.

"Bagaimana?" Tasya bertanya kepada suaminya saat Edward sudah keluar dari ruang kerjanya. Namun Edward hanya tersenyum santai dan mengecup dahi istrinya dengan lembut serta mengelus lengan istrinya untuk menenangkannya.

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja.."

"Apa Nic sudah menyadarinya?"

Edward menjawab pertanyaan istrinya sambil melihat keruangan yang kosong, "pria itu akan. Anak itu sudah terlalu lama berpikir dan berpura-pura tidak mengetahuinya. Ia tidak terlalu peka untuk urusan seperti ini, namun saat ini sepertinya hatinya sudah mengambil alih tubuhnya sayang..."

Tasya mengangguk dan menatap pintu yang masih tertutup itu. Bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan adik ipar-nya itu.

Insting keibuannya menolak untuk meninggalkan anak itu sendiri namun suaminya membujuknya untuk memberikan Nicolas waktu. Karena yang dibutuhkan Nicolas bukanlah dukungan namun waktu untuk menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya dan memberikan kesempatan sekali lagi untuk dirinya sendiri

.

.

Nicolas membuka amplop yang ditulis oleh Selena, lalu membukanya dengan hati-hati. Amplop tersebut ternyata berisi sepucuk surat yang ditulis oleh Selena.

"Hey Nic. Kalau kau memegang surat ini berarti kau sudah tahu dari ayahku ya kalau aku sudah tidak ada di London? Aku tidak memberitahumu bukan karena marah denganmu. Terlalu banyak perasaan yang ada dihatiku. Baik marah, kesal, cemburu semua campur aduk. I'm go because I must go, Nic.

Nic, apa kau tahu bagaimana perasaanku ketika kau memberikan kabar bahwa kau akan menikah? I feel died for a moment. Deep Down, I crying enough to hold that feeling, but I know I couldn't. Aku terlalu mencintaimu dan itu menyakitiku.

Terakhir kali kita berpisah adalah saat-saat dimana aku hampir menjadi gila karena perasaanku padamu. Aku sulit bernafas, aku ingin menjerit dan aku juga ingin memaksamu melihatku, Nic. Bukankah itu bodoh?

Tapi sekeras apapun usahaku, kau tidak akan pernah melihatku. Aku tahu itu dan baru menyadarinya sekarang. Karena itulah, inilah pilihanku Nic. To letting you go..

Aku berharap kau akan bahagia, sungguh, aku benar-benar mengharapkan hal itu, I love you. Semoga saat kita bertemu lagi, aku sudah dapat melihat senyumanmu seperti biasanya..

--Selena—

Nicolas membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dan semakin ia membacanya, ia semakin memahami betapa dalam rasa sakit yang telah ia torehkan dihati gadis itu. Dan itu membuat Nicolas menitikkan air mata.

Ia ingin menjerit, berteriak, menangis dan melakukan apapun untuk meredakan sakit yang dirasakannya, tapi apapun yang dilakukannya Selena tidak lagi berada disampingnya.

Ternyata Selena telah memutuskan untuk meninggalkannya, melupakan apa yang terjadi diantara mereka. Sekarang apa yang dapat dilakukannya? Nicolas tidak dapat melakukan apapun dan itulah yang membuatnya sakitnya semakin dalam.

Air matanya tidak dapat dibendungnya lagi, tidak dapat ditahannya. Bukankah ini memalukan? Nicolaslah yang sudah mendorong Selena pergi, menorehkan begitu banyak luka di hati gadis itu dan sekarang apa yang dilakukannya? Menangis dan menjerit seperti orang gila. Ini membuatnya gila...

Kertas yang kini dipegangnya telah basah dan lusuh karena pegangannya dikertas itu. Namun itu semua tidak dapat membuatnya semakin lega..

Kata-kata Selena selalu berada dibenaknya, Nicolas bahkan bisa merasakan kata-kata itu berada tepat di kepalanya dan itu membuatnya tidak sanggup melakukan apapun, Sejak kapan keberadaan dan perasaan Selena akan sepenting itu bagi kehidupannya? Mengapa selama ini ia sama sekali tidak menyadari begitu berharganya Selena untuknya?

Tasya dan Edward dapat mendengar jeritan, tangisan dan beberapa suara seperti barang patah yang terdengar dari ruang kerja. Suara yang didengarnya membuat mereka ikut merasa sedih.

Suaminya bahkan menutup matanya sejenak, memijit pelipisnya dan berpikir apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu anak dan adik kesayangannya.

"..sayang.." Tasya memeluk Edward dengan sedih. Ia selalu bisa melihat Nicolas yang dingin, tapi ia tidak pernah melihat Nicolas yang kehilangan kendali emosinya dan ini adalah pengalaman baru untuknya

Edward memeluk Tasya dan mengelus puncak kepala istrinya, ia tidak mengatakan apapun karena ia tahu apapun yang dikatakannya tidak akan merubah apapun.

Mereka berdua telah terlalu lama diam dalam masalah yang dialami Selena dan Nicolas, walaupun Edward sempat berpikir bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk lebih dewasa lagi. Tapi rasanya keputusan mereka berdua salah..

**

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top