Chapter 11

Rasanya sangat aneh saat kau membuka matamu dan mendapati ranjang disebelahmu kosong, terasa sangat dingin. Tidak, inilah kenyataan sebenarnya.

Berapa bulan ini sudah menjadi keseharian Selena mengecek ranjang disebelahnya kosong dan tidak ada tanda-tanda siapapun yang berada disana. Tapi kali ini.. Saat ia mengulurkan tangannya, ia bisa merasakan sisi ranjang itu hangat. Entah kenapa itu malah memberikan dampak yang berbeda baginya.

Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan. Selena bahkan tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia begitu mudah mengalirkan air mata semenjak Nicolas kembali masuk kedalam kehidupannya, ia merasa lengkap dan ia takut. Selena takut kebahagiaan ini tidak akan selamanya.

Tidak ada yang lebih ia takuti dari perasaannya sendiri.

"Tuhan, berikan aku waktu.." gumamnya berulang kali. Matanya tertutup dengan kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri. Ia begitu takut bangun. Bukan karena ia takut tidak bisa bangun lagi, tapi Selena takut saat ia membuka mata ia harus menghadapi kenyataan bahwa perasaannya menghancurkannya lagi..

Beberapa lama saat ia masih larut dalam pemikirannya, suara pintu terbuka dan ia menatap suara pintu yang terbuka itu.

Nicolas berada di sisi pintu itu dengan kemeja putih melekat pada tubuh pria itu, rambut acak-acakan yang sepertinya hanya disisir dengan tangan namun sesuatu yang berubah dari diri pria itu adalah senyumannya. Nicolas tersenyum padanya seakan-akan itu adalah sesuatu yang biasa dilakukannya.

"kau sudah bangun?" Nicolas tersenyum menatap Selena yang masih berbaring miring. "aku membawakan pudding kesukaanmu. Mango Pudding seperti biasanya..Ayo bangun kau gadis pemalas, atau aku akan menghabiskan puddingmu" goda Nicolas sambil meletakkan pudding tersebut diatas nakas dan naik keatas kasur, membuat kasur besar itu melesak karena bobot tubuh pria itu

Nicolas menyadari Selena telah bangun dan habis menangis, ia mematung saat menyadari adanya jejak bekas air mata di wajah gadis itu,"kenapa kau menangis?"

"a,aku tidak menangis" Selena menghapus air matanya dan menyadari Nicolas sedang memancingnya.

Dengan tangan terjulur kearahnya, Nicolas mencium ringan bibirnya. Ciuman yang lembut dan menenangkan. Seharusnya ciuman ini menenangkannya, tapi tidak.. Air matanya kembali mengalir dan spontan ia memeluk Nicolas dengan erat, memeluk leher pria itu seakan itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya

"ada apa?"

Selena menggeleng lembut, menyurukkan kepalanya kedalam bahu pria itu dan menahan isakan tangisnya,"mungkin karena hormonku. Aku jadi mudah menangis.."

"ada yang membuatmu khawatir, Selena?"

"tidak, hanya saja.." Selena menghentikan ucapannya karena lehernya sepertinya tercekat. Ia tidak bisa mengatakan ini semua karena ia takut dengan perasaannya sendiri.

Selena telah menolak Nicolas semalam dan demi apapun ia tidak bisa menarik kembali ucapannya. Tapi apakah bodoh bila ia ingin menggantungkan harapannya pada pria ini?

Nicolas balas memeluk Selena dan mengelus kepalanya dengan lembut, "aku tidak akan kemana-mana..." Selena mematung saat mendengar pria itu mengatakan hal seperti itu, seakan-akan pria itu tahu apa yang menjadi kecemasannya selama ini.

Bukan hanya tahu, Nicolas bisa merasakan bagaimana tegangnya Selena. Ia tidak bisa melepaskan gadis ini walaupun Selena-lah yang telah menolaknya semalam.

Apapun.. cara apapun akan dilakukannya demi mendapatkan gadis ini kembali. Nicolas memeluk Selena dengan erat, mengabaikan perut Selena yang bulat berada diantara mereka berdua, dengan enggan Nicolas melepaskan pelukannya dan terkekeh kecil, "ada yang lucu?" Tanya Selena

"aku hanya berpikir, kalau semalam kita sangat liar sedangkan kau memuaskanku dengan perutmu yang hampir pecah, Sel..."

"perutku tidak akan pecah hanya karena itu, Nic. Kau memperlakukanku dengan begitu lembut semalam.." jawab Selena dan kemudian wajahnya memerah karena mengingat semalam ia baru saja bercinta dengan pria ini. Ingatan semalam membuat darahnya berdesir dan bulu kuduknya merinding.

Nicolas tersenyum seakan mengetahui pikiran Selena dan mengecup keningnya lembut, "berpakaianlah dan segera ke dapur. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Kalau kau terus menggodaku seperti itu, kita tidak akan sarapan dan itu tidak baik untuk kesehatanmu.."

Pernyataan Nicolas membuat Selena menatap tubuhnya yang ternyata telanjang. Selena berteriak dengan kencang dan dengan cepat masuk kedalam selimut, sedangkan Nicolas tertawa dengan keras lalu beranjak turun dari kasur tidak lupa ia mengambil bungkusan pudding yang berada dinakas dan segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Selena menggeram kesal dan kemudian tersenyum. Sudah berapa lama ia tidak melihat wajah Nicolas yang tertawa dengan lepas? 1 bulan? 2 bulan? 1 tahun? Entahlah.. selena bahkan sudah berhenti menghitung sejak ia memutuskan untuk meninggalkan pria itu

Dan selena tidak bermaksud untuk menerima Nicolas kembali. Tubuhnya kembali menegang saat mengingat keputusannya kemarin. Ya, Selena tidak berniat mengikat Nicolas, pria itu berhak mendapatkan gadis yang lebih baik darinya. Ia sudah cukup puas dengan bayi yang dikandungnya, anak pria itu..

Selena tidak akan meminta apapun lagi selain bayi ini..Ia sudah berjanji tidak akan meminta apapun asalkan ia memiliki bayi yang ada diperutnya. Tubuhnya gemetar, tidak.. sebenarnya ia menginginkan pria itu. Selena ingin Nicolas selalu memeluknya dan menciumnya seperti yang semalam dilakukan pria itu. Apakah begitu egois menginginkan pria itu?

Ia tahu sangat egois meminta sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukannya.

Selena menarik selimut sampai ke bahunya dan menutupi mulutnya agar tangisannya tidak terdengar.

Tuhan, apakah aku boleh membiarkan waktu berhenti untuk sementara? Hanya untuk beberapa saat...apa aku dapat meminta waktu untuk bersamanya walau hanya sebentar? Walaupun aku tahu kebahagiaan ini tidak akan berlangsung selamanya..

**

Setelah selesai menyiapkan sarapan, Nicolas membuka ponselnya dan menelepon seseorang yang dikenalnya. "Killian? Aku ingin meminta bantuanmu.."

Percakapan yang dilakukan oleh Nicolas di balkon apartemen hampir dilakukannya 20 menit sampai akhirnya Selena keluar dari kamarnya dan masuk kedalam dapur. Nicolas menyadari gadis itu masuk kedalam dapur dan segera mengakhiri pembicaraan dengan orang yang berada disebrang telepon, "aku ingin segalanya berakhir dengan baik, Kil. Aku menginginkannya apapun itu dan pastinya kau akan membantuku bukan?"

"membantu rencana busukmu, menyeret gadis itu ke dalam pernikahan? Kenapa selalu aku yang terkena musibah karena mendapat teman seperti kalian?"

"sayangnya kau tidak bisa memilih sahabat seperti kami bukan?" Nicolas tersenyum saat temannya mengeluh

"baiklah, aku akan membantumu. Bawa saja gadis itu ke rumah sakitku, aku akan memberikannya beberapa petuah yang panjang untuknya..."

Nicolas mengangguk dan menyadari temannya tidak bisa melihatnya, "baiklah, aku akan mencari cara agar dia mau datang ke tempatmu..." jawabnya dan segera mematikan hubungan teleponnya saat Selena membuka sekat balkon

"apa kau sedang sibuk?"

"tidak, apa kau sudah siap untuk sarapan?"

"aku bahkan sudah menghabiskan satu porsi puddingku. Dan aku bosan menunggumu, Nic.." Keluh Selena dan menarik Nicolas masuk kedalam dapur.

Nicolas tersenyum dan mengikuti gadis itu kedalam dapur, menyadari sepertinya ia sudah terlalu lama berbincang dengan Killian dan mengabaikan Selena sehingga gadis itu telah menghabiskan satu porsi pudding kesukaannya.

Nicolas tersenyum dan duduk disamping gadis itu, menaruh beberapa bacon dan telur dadar diatas piring Selena. "ayo, kau harus makan protein yang banyak.."

"dan aku akan berubah menjadi seekor babi yang siap dipotong, Nic..."

"aku tidak akan memotongmu kalau kau takut akan hal itu" goda Nic dan tetap meletakkan beberapa sayur segar diatas piring selena dan memberikan garpu dan sendok.

Selena mengeluh karena Nicolas terus menerus menyuruhnya makan walaupun ia telah makan.

Walaupun senang dengan perhatian pria itu, tetap saja Selena takut akan berat badannya yang terus bertambah dengan kehadiran Nicolas disampingnya. Pria itu bahkan melarang Selena untuk melakukan diet sehat, apapun jenis diet itu.

Akhirnya selena menyerah dan menghabiskan makanan yang disiapkan oleh Nicolas. Entah bagaimana, ia merasa sangat senang walaupun badannya bertambah besar, ada suatu kepuasan saat melihat pria yang kau sayangi begitu memperhatikan kesehatanmu..

**

Nicolas memeluk Selena dari belakang dan membiarkan kepalanya terkulai dibahu gadis itu. "Nic, berat..."

"kau mengantuk?" Nicolas bertanya saat melihat Selena mengerjap-kerjapkan matanya. Mata sayunya terlihat begitu memukau, dengan santai Nicolas melepaskan pelukannya dan membopong Selena masuk kedalam kamar.

Sangat berbeda dengan sebelumnya, selena terlihat menikmati dan larut dalam buaian Nicolas.

Bagaimana mungkin ia menolak sesuatu yang memang sangat diinginkannya sejak dulu? Ini hanya terjadi disetiap mimpi liar Selena, dan sekarang Nicolas berada tepat didepannya dan melakukan hal yang serupa..

Air matanya tiba-tiba menetes, jemari Nicolas menghapus air mata yang terlihat berkilauan itu, "kenapa kau menangis?"

"tidak ada.. hanya.. mungkin karena hormonku" Selena berusaha menenangkan Nicolas yang sudah memperlihatkan wajah seakan-akan panik, sejak kapan Nicolas panik hanya karena Selena menangis? Tidak pernah..

Nicolas menarik Selena kedalam pelukannya dan mengelus lembut puncak kepalanya, "aku benci melihatmu menangis..."

"dulu sepertinya kau tidak keberatan.."

"apa kita selalu akan membawa kata dulu? Dulu aku tidak menyukai kenyataan kau menangis dan sekarang aku membenci air matamu... aku tidak ingin melihat kau bersedih Selena." Nicolas mengetatkan pelukannya dan mengecup pelipis Selena dengan lembut, memang bodoh tapi Selena bisa merasakan cinta yang terpancar dari kecupan ringan pria itu

Apakah Sophie selalu merasakan cinta seperti ini? Tidak hanya sekali ia bermimpi Nicolas akan memperlakukannya dengan lembut, ia telah bermimpi ribuan kali dan ia membenci kenyataan saat ia terbangun.

Tapi sekarang ia tidak ingin tertidur.. bagaimana kalau ia tertidur dan ketika bangun semuanya telah musnah?

"apa kau akan berada disisiku saat aku bangun nanti, Nic?" gumam Selena pelan dengan rasa kantuk yang luar biasa

Nicolas tersenyum lembut dan mengecup pelipis, hidung dan bibir Selena sebelum menjawabnya, "saat kau bangun aku akan tepat berada disisimu dan menempel padamu seperti lem..." jawaban singkat Nicolas membuat senyuman tersungging di sudut bibir gadis itu

"baguslah..."Nicolas bisa mendengar gadis itu menjawabnya sebelum akhirnya jatuh tidur dengan nyenyaknya.

Selena

Kata-kata yang aku ucapkan waktu itu, bahwa aku hanya akan menikmatinya sebentar lagi saja itu semua bohong. Bagaimana aku bisa memikirkan hidup tanpa Nic? Bagaimana aku bisa hidup tanpa senyumannya dan keberadaannya?

Bohong, selalu hanya kebohongan. Aku tidak bisa lagi kehilangannya. Dulu aku kehilangannya, seharusnya aku belajar dari pengalaman bahwa aku pasti akan kehilangan dia lagi. Tapi kenapa perasaanku tidak sejalan dengan pikiranku?

Aku menatap ruangan apartemen, dulu tempat ini sangat hening dan feminism. Hanya 1 bulan, Nic mengubah segalanya menjadi maskulin. Aku bahkan bisa merasakan aromanya disetiap ruangan, setiap jengkal keberadaan dirinya di tempatku sendiri. Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku malah menerimanya lagi dan membuat segalanya menjadi lebih buruk?

Masih dalam pemikiranku yang bodoh, mendadak aku merasakan nyeri di perutku. Ya Tuhan, ini belum waktu baginya untuk melahirkan. Usia kandungannya baru 3.5 bulan dan kenapa ia merasakan nyeri yang tidak tertahankan? Aku menatap selangkanganku yang mengalir darah segar, nafasku tercekat saat melihat darah itu terus menerus mengalir. Dan aku hanya bisa berteriak sebelum akhirnya aku memanggil Nicolas, "Nic..! Nic..!!"

Nicolas yang sedang berada di kamar mendadak keluar ke ruang tamu dimana aku sedang berdiri, jemarinya sedang mengancing kemejanya dengan tergesa-gesa, "what happened, Sel?" aku bisa merasakan nafas Nic tercekat saat melihat kedua kakinya yang memperlihatkan darah segar

"Nic, I'm scared!" teriakku dengan panik. Aku bahkan tidak bisa memikirkan hal lain selain ketakutan.

Mendadak Nicolas membopongku dengan lembut dan segera berjalan cepat ke luar menuju mobilnya yang diletakkan di parkiran utara.

"ssh.. you will be okay. Just try to breathe honey..bernafas dan buang lakukan berulang-ulang. Jangan biarkan dirimu tegang karena itu akan memperburuk keadaanmu.." Nicolas mencoba mengatakannya dengan nada biasa, namun ia sudah tidak dapat menutupi rasa khawatirnya yang semakin membuncah.

Aku mencoba melakukan apa yang Nic katakan, namun sama sekali tidak berhasil dengan baik. Jantungku berdebar-debar.

Bagaimana kalau aku kehilangan bayiku? Bagaimana kalau aku kehilangan segalanya? Kehilangan bayiku sama saja dengan kehilangan dua orang yang sangat aku cintai. Kalau aku kehilangan bayiku, otomatis aku akan kehilangan Nicolas..

Bagaimana aku dapat hidup setelah kehilangan mereka nantinya? Jantungku berdebar dengan kencang. Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk, tapi.. bagaimana kalau itu benar terjadi? Air mataku mengalir dan aku hanya bisa memohon agar Tuhan tidak memberikanku kemungkinan terburuk yang bisa aku pikirkan..

**

Bohong kalau Nicolas bilang ia sama sekali tidak takut, ia sangat gemetar sekarang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Selena? Bagaimana kalau ia sampai kehilangan gadis itu? Nafas Nicolas memburu, ia tidak bisa kehilangan gadis itu sekarang. Tidak.. Nicolas tidak akan pernah siap kehilangan gadis itu. Tidak dulu dan tidak sekarang..

Selena telah menjadi bagian dari hidupnya dari dulu dan dengan bodohnya ia baru menyadarinya sekarang. Ia membenci pikiran bahwa ia akan kehilangan gadis yang sangat dicintainya. Ia terlalu tolol untuk mengakui bahwa ini semua adalah kesalahannya..

Nicolas membopong Selena keluar saat sampai di depan rumah sakit, dengan panik ia berteriak pada seluruh staff rumah sakit. Sehingga para staff yang sedang tidak melayani pasien segera datang dengan brankar dan infus.

Dengan cekatan suster membantu Nic meletakkan Selena diatas brankar dan segera membawanya ke dalam ruang UGD. Tentu saja Nicolas mengikuti para suster itu hingga didepan ruang UGD

Perawatan itu tidak terlihat lama sebenarnya, namun bagi Nicolas itu semua terasa seperti berjam-jam. Ia bahkan sudah menatap jam-nya selama 15x dalam 15 menit. "demi Tuhan, apa yang dilakukan mereka didalam hingga begitu lama" Geram Nicolas dan mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi yang tidak bisa ditutupinya.

Nicolas bahkan menonjok tembok untuk menghilangkan rasa frustrasinya. Ia benci kenyataan bahwa ia tidak bisa melakukan apapun untuk gadis yang dicintainya itu. Baru kali ini ia merasa begitu lemah seperti ini..!

Ia bahkan mondar mandir seperti orang gila kalau saja ia tidak melihat Lisa yang datang terpogoh-pogoh, "Nicolas!"

"Lisa?"

"bagaimana keadaannya? Apa dia sudah keluar dari UGD?" Lisa terlihat panik dan menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali. Nicolas menggeleng kepalanya untuk menjawab pertanyaan Lisa yang menggebu-gebu. Bagaimana ia bisa tahu kalau tak satupun staff rumah sakit yang keluar untuk memberitahukan keadaan Selena kepadanya?

Rasa frustrasi Nicolas memuncak dan ia hampir saja masuk ke ruang UGD kalau saja pintu itu tidak mendadak terbuka dan keluarlah seorang pria dengan jubah putih dan maskernya. Dokter itu melepaskan maskernya dan mendesah, "siapa diantara kalian yang memiliki hubungan dengan pasien?"

"aku!" Nicolas segera menjawab, "bagaimana keadaannya?!"

Dokter itu menatap Nicolas sekilas dan menghela nafasnya, "ikut ke ruanganku, Sir.." ucap dokter itu dan segera mengantarkan Nicolas ke ruangannya yang tidak jauh dari ruangan UGD itu.

Nicolas mengikutinya dengan berat hati karena sejujurnya ia sama sekali tidak ingin meninggalkan Selena yang jelas-jelas masih berada di dalam ruangan UGD.

"tolong jaga dia untukku, Lisa" pinta Nicolas sebelum mengikuti dokter itu ke ruangannya. Nicolas bahkan harus menunggu Lisa menganggukkan kepalanya sebanyak 2 kali sebelum ia memutuskan untuk pergi.

**

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top