#9
Afika menyandarkan bahunya di dinding koridor sekolah. Hari ini ia hanya mendapatkan angka tujuh untuk nilai harian fisika. Ini pasti karena ia tidak fokus saat tadi mengerjakan setiap soal. Karena bayangan Raka menguasai benaknya.
"Raka lagi, Raka lagi, Raka lagi. Aish!" Gumam Fika pelan dengan penuh kekesalan.
Fika tahu, Raka hanya sekedar melintas di pikirannya. Seharusnya itu bukan masalah yang harus dibesar-besarkan.
"Fik?" Suara yang Fika kenal membuatnya menoleh cepat.
"Eh, Ki."
Kiki pun ikut duduk di kursi kayu panjang itu. "Ngapain?"
"Nungguin Anggi," Fika tersenyum.
"Nanti mau pulang bareng gak?"
"Emang gapapa?"
"Gapapa laah, kan gue tawarin." Kata Kiki dengan senyum cerahnya.
Fika pun membalasnya dengan senyum cerah yang ia punya, "Ya udah, iya."
Tak lama kemudian, Anggi menunjukkan batang hidungnya dan menemukan mereka berdua di luar.
"Ayo, Fik." Ajak Anggi yang sekilas melirik Kiki.
"Ya udah gue duluan ya, Ki." Fika menepuk bahu Kiki pelan.
"Mm-hm. Entar lo tungguin di pos satpam aja ya, biar gak panas."
"Iya, iyaa." Jawab Fika sambil tersenyum kecil.
Fika dan Anggi pun berjalan beriringan untuk kembali ke kelas.
"Fix banget nih kayaknya?" celetuk Anggi yang tidak mendapat respon dari Fika.
--
Sepulang sekolah, Raka langsung mengambil air dingin di kulkas dan meneguknya tanpa gelas.
"Mah, minggu depan bagi rapot." Gumam Raka.
"Emang udah ujian?" Tanya Ayahnya yang sedang duduk membaca koran.
"Ujiannya besok."
Raka pun kemudian bergegas masuk ke kamarnya dan menyalakan pendingin ruangan.
Hari yang 'sudah, cukup' untuk Raka.
Raka mengusap wajahnya kasar dan sesekali mengacak rambutnya.
Fika, Fika, dan Fika.
Sepertinya hari itu nama Fika benar-benar menguasai benaknya.
"Afika mantep, asli. Bisa dapetin Kiki."
"Anjir, gila. Siapa yang gak mau sama Kiki, sih?"
"Mereka deket dari kapan emang?"
"Tajir, siapa yang gak mau."
"Dia orangnya modal, bos."
"Cocok lah yaaa."
"Pada ngomongin Fika Kiki mulu lo pada."
"Mereka jadian? Serius?"
Dan saat itu, Raka memutuskan untuk merubah perasaannya pada Fika. Entah bagaimana caranya. Perasaan itu sudah seharusnya pergi. Ya, sudah seharusnya pergi.
--
Afika menyambungkan panggilan ke nomor Papah kandungnya, Sofyan. Ia mendapatkan nomor dari kontak di ponsel Mamahnya.
"Halo?" Terdengar suara berat nan lembut di ujung sana. Hati Afika bergetar mendengar suara itu. Suara yang ia tunggu-tunggu.
"Halo?" Suara Sofyan terdengar lagi menunggu jawaban.
"Halo." Jawab Fika.
"Iya, halo. Dengan siapa sebelumnya?"
"Pah,"
"...."
"Pap-papah-bisa denger suara Afika kan? Ini Afika, Pah." Fika bersusah payah mengontrol dirinya menahan tangis. Ia menggigit bibirnya yang bergetar.
"Afika," Sofyan bergumam lirih sebelum melanjutkan, "Afika. Afika, anak Papah?"
Fika mengangguk. Matanya terpejam mengeluarkan bulir-bulir air mata yang berjatuhan. Terakhir kali ia bertemu dengan Papahnya adalah sekitar sepuluh tahun yang lalu. Bukan waktu yang sedikit.
Sofyan Adiputra, seseorang yang dulunya memiliki istri lebih dari satu. Dan Sinta-istri pertama-memutuskan untuk bercerai saat Sofyan ingin menikahi wanita ke tiga di kala kedua istrinya sedang mengandung. Sofyan berhasil menikahi wanita ketiga itu namun kandas di tahun-tahun pertama. Dan sekarang ia memilih untuk mencintai istri-yang dulunya kedua-sekarang menjadi satu-satunya.
Sofyan meringis membayangkan masa lalu kelam itu. Ia mengatur napasnya dengan baik. Karena ia tak ingin anaknya mengetahui betapa dalam penyesalan dan rasa sakit yang ia milikki.
"Afi,"-"Papah denger-denger, kamu lolos olimpiade lagi ya?" Suara berat, tenang, dan pelan itu tidak hilang.
"Kenapa Papah bisa tau?" Fika melirik ponsel yang menempel di telinganya. Ia bingung bagaimana bisa Papahnya tahu soal ia selama ini.
"Karena Papah gak bakal berhenti cari tau soal anak Papah. Afi, kamu tau? Ruang hati Papah ini terbentuk untuk kedua anak Papah. Belahan jiwa Papah, yaitu kalian."
"...."
"Afi rindu Papah?" Tanya Sofyan lembut.
Alih-alih menjawab, Fika terisak dan tangisannya hampir saja pecah kalau tidak ia tahan.
"Afi kangen, Pah. Afi kemarin main ke timezone, tapi bukan sama Papah. Afi pengen banget ketemu Papah,"
Air mata menggenang di pelupuk mata Sofyan. Tak kuasa dirinya mendengar suara anak yang selama ini ia rindukan. Sofyan menarik napas panjang.
"Kamu harus ketemu Kakakmu juga. Dia dua bulan lebih tua dari kamu, Fi."
Perkataan Papahnya membuat senyum mengembang di wajah Fika.
"Beneran?"
"Iyaa. Kamu waktu itu belom sempet ketemu dia kan? Dia pinter lho Fi, sama kayak kamu."
Fika merasa tidak ada penyesalan sama sekali menghubungi Papah kandungnya itu. Kebahagiaan muncul di hatinya.
"Ketemuan di kafe Papah aja ya? Nanti Papah kirimin alamat lengkapnya."
"Iya, Pah. Afi mau mandi sama belajar dulu, ya. Soalnya besok ujian akhir semester."
"Semangat, Papah sayang Afi."
"Papah cinta Afi?"
"Papah cinta banget sama Afi."
"Afi juga cinta banget, sayang banget sama Papah."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top