#8
Afika menggenggam erat ujung dress warna biru lautnya. Dia duduk di sofa ruang tamu hanya berdua dengan Mamahnya.
"Mah,"
"Yep?" Mamahnya mendongak dari majalah yang ia baca.
"Mamah masih belom mau kasih tau Fika soal Wisnu ya?"
Sinta Anggraini merasa napasnya tercekat. 'Kenapa Afika harus tanya soal ini?' pikirnya.
"Kenapa tiba-tiba nanyain dia, Fik?" Ia balik mengajukan pertanyaan pada putrinya.
"Fika ngerasa kalo udah semestinya Fika tau. Karena, kenapa enggak? Wisnu keluarga Fika. Fika pengen ketemu Wisnu, Fika pengen curhat juga. Banyak yang pengen Fika omongin."
Mamahnya tertawa sumbang. "Kamu ngawur ya,"
"Dari mana ngawurnya sih, Mah?"
"Lagian kalian gak bisa sedeket itu, tau gak?"
"Tapi aku sama Wisnu punya satu ayah yang sama. Susah banget ya Mamah ngasih waktu untuk aku ketemu mereka?"
-16 tahun yang lalu-
"Aku masih belum kepikiran nama anak ini deh, mbak." Sang istri kedua mengelus perutnya yang buncit. Kedua istri yang sedang mengandung bersamaan itu duduk berdua di sofa ruang tengah.
"Kalau cowok itu....Wisnu. Wisnu bagus kan?"
"Aaah," Ia mengangguk pelan mendengar usulan Sinta.
Entah siapa Wisnu itu sekarang. Wisnu adalah nama yang Fika tahu dari Mamahnya.
--
Raka yang sedang sibuk dengan tugas Biologi merasa tertanggu saat telinganya mendengar lagu Paramore yang berisik itu. Ia mengambil ponselnya cepat dan langsung mematikannya. Alarm pada pukul 04.00 pagi itu tidak berguna karena Raka sudah bangun lebih dulu untuk mengerjakan PR nya.
"Alhamdulillah! Tidur lagi ah bentar," Raka pun merapikan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.
Baru saja merebahkan dirinya di kasur, Ia terbangun lagi dan bergumam pelan, "Pipis dulu dah, entar ngompol lagi."
Setelah buang air kecil, Raka pun melihat dirinya di cermin. Kemudian ia membasuh mukanya. 'Kayaknya tanggung nih kalo tidur lagi.' Pikirnya.
--
"Fauzi Akbar?"
"Sakit, Pak!" Jawab Raka dan Ridho bersamaan.
Pak Nasrudin menurunkan kacamatanya dan melirik kedua murid itu. "Ada surat izin nya?"
"Ada, Pak." Kata Liska yang kemudian memberikan surat izin tersebut.
"Kamu pacarnya?" Tanya Pak Nas intens.
"Bu-bukanlah, Pak."
"Jangan bohong kamu sama saya. Saya indigo lho."
"Yakali dah, Pak."
"Udah sana, duduk. Bau ketek kamu."
"Astagfirullah, Bapak mah. Orang saya pake parfum banyak banget juga." Liska meringis sambil menyiumi aroma badannya sendiri.
"Nah! Ngaku juga kan kamu akhirnya. Emang siapa yang izinin seorang murid pake parfum yang wanginya sampe nyengat kayak kamu gini?" Pak Nas melotot.
"Iya Pak, maaf."
Fika tertawa geli saat melihat teman sebangkunya kembali ke tempat duduk.
"Jangan ketawa deh."
"Lagian. Makannya jangan batu kalo gue kasih tau. Lo tuh pake parfumnya kebanyakan!"
Liska hanya meringis sendiri.
"Lo abis jalan sama Kiki ya?" Tanya Liska tiba-tiba.
"Tau dari Sofi ya?" Fika menoleh dan tertarik pada topik tentang dirinya.
"Uhm, dari Ido. Tapi kayaknya tadi dia gak sengaja keceplosan gitu. Eh jadilah satu dua orang tau, jadi panjang lebar deh pada ngomongin lo."
"Yah." Desah Fika.
"Kok yah?"
"Gapapa sih. Cuma pasti cepet nyebar ke semua anak deh. Lo tau sendiri mulut anak kelasan."
Liska mengibaskan tangannya di udara, "Masih gak nyantai aja. Udah biasa lah itu,"
Bukan, bukan itu yang jadi masalah untuk Fika. Bagaimana kalau Raka tahu? Ah! Terus kenapa kalau Raka tahu? Kalau Raka tahu juga tidak ada masalahnya.
'Ah, kenapa sih Ka. Kenapa lo di pikiran gue terus? Kenapa juga hal kayak gini mesti gue pikirin?'
Tanpa sadar, Fika menoleh ke arah belakang. Ia mencari Raka Agraha. Ia sangat ingin melihatnya. Entah kenapa Fika takut apabila suatu saat Raka akan pergi jauh meninggalkan rasa yang selama ini Fika rasakan sendiri. Fika membalikkan badannya setelah melihat sosok yang ia cari. Tanpa sadar lagi, ia menghentakkan kakinya.
"Lo kenapa Fik?" Tanya Liska.
"Pegel kaki gue."
'Salah siapa kalo gue ngerasain ini?' Desah Fika dalam hati. Hatinya terasa terikat. Tidak sakit, hanya sesak, sedikit. Entah apapun rasa itu yang selalu ia rasakan pada Raka.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top