chapitre treize

Serra duduk di ruang tamu dengan kedua tangan mengepal di atas paha. Sorot dan senyumnya tampak sehangat matahari pagi, berbanding terbalik dengan isi hati.

Harumi di hadapannya, duduk dengan ketegangan yang sama di dalam hati. Mata karamel mengerjap beberapa kali. Menunggu tamunya berbicara selain ucapan terima kasih setelah ia memberikan minum segelas jus jeruk. Merasa canggung sebab sudah hampir dua menit mereka terdiam tanpa kata. Saling menyelami pikiran masing-masing tanpa ada keberanian lebih untuk memulai pembicaraan.

Pada menit ke tiga, si tamu tersenyum paksa. Matanya teralihkan dari sosok wanita berambut cokelat, menatap karpet merah tua di bawah kaki. Ia meremas pelan lengan yang terbalut blazer berwarna putih gading. Kecanggungan ini benar-benar membuat Serra tak nyaman dan harus segera diakhiri.

"Rumahmu bagus," puji Serra. Hanya itu yang bisa ia lontarkan untuk membunuh rasa canggung.

"Tidak sebagus rumahmu, tapi terima kasih."

"Sama-sama."

Lalu mereka kembali terdiam.

Serra tahu tujuan datang kemari merupakan cara terakhirnya untuk menyelesaikan semua problema yang ada. Ia telah memantapkan hati dengan sungguh-sungguh selama beberapa hari dan merasa yakin jika bisa melakukannya. Tetapi ketika tiba waktu untuk berhadapan dengan Harumi, kenapa jadi sesulit ini?

Ada sesuatu di dalam hati; seolah melarang keras hingga mengecam pemikiran penyelesaian masalah. Tetapi di sisi lain, otak mendukung penuh tindakan yang akan dilakukannya saat ini.

Maka mau tidak mau Serra buka mulut dan harus segera bersuara. Lagipula masalah itu tidak akan selesai jika dia hanya berdiam diri.

"Kau tidak perlu mempedulikan aku."

Serra yang baru saja hendak mengucapkan sesuatu langsung kembali menutup mulutnya.

"Aku tahu apa maksudmu datang kemari," kata Harumi. Ia berucap pelan-pelan sambil terus mentap lawan bicaranya. "Kau dan Levi tidak perlu berpisah karena anak ini."

Wanita ini masih enggan balas menatap. "Tapi Ayahmu—"

"Itu akan menjadi urusanku dengan Ayah. Untuk anak ini, mungkin ada baiknya jika dia tidak ikut merasakan pahitnya dunia, dan langsung pergi ke surga. Kita ... kembali mengurusi urusan masing-masing saja seperti sebelum semua ini terjadi, ya?" pintanya.

Mana mungkin bisa seperti itu? Serra merenggut. Ia tidak bisa menyalahkan janin yang tidak bersalah.

Harumi menghela napas. "Sebenarnya aku sudah sejak lama ingin mengatakan semua ini padamu. Tapi tidak pernah ada keberanian untuk melakukannya. Aku benar-benar pengecut."

Seharusnya yang merasa hina dan penuh penyesalan adalah Harumi. Tetapi entah kenapa, Serralah yang justru semakin menundukkan kepala.

"Kau benar-benar ibu yang baik, Serra. Sangat baik. Tidak seperti aku yang bahkan pernah berencana untuk menggugurkan kandungan."

Barulah kali ini Serra mengangkat kepalanya. "Pernah?"

"Beberapa hari yang lalu aku tidak jujur pada Levi. Dia hanya tahu aku masuk rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi, tapi tidak tahu—bahkan mungkin tidak berniat mencari tahu apa penyebabnya. Karena pemikiran Levi sudah terpusat padamu juga Selina yang sedang sakit." Jeda sebentar, Harumi tampak mengulum senyumnya. "Aku berencana melukai diriku beserta anak ini, tanpa dicurigai siapapun. Berharap semua orang menyakini kebohonganku tentang kecelakaan itu."

Kelopak mata Serra melebar, tampak terkejut bukan main. "Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa. Maaf."

"Bukan kau yang seharusnya meminta maaf," koreksi Harumi. "Ini kesalahanku. Kesalahan aku dan Levi. Maka dari itu aku minta maaf."

Serra tidak pernah mengerti siapa yang salah dan siapa yang seharusnya meminta maaf. Hanya ada rasa kesal, marah, kecewa hingga lupa bahwa bukan hanya ia saja yang menjadi penjahat di sini. Jika anak yang dikandung Harumi tumbuh dewasa kelak, mungkin ia akan beranggapan jika Serralah penjahatnya.

Baik bisa jadi jahat, dan yang jahat dapat menjadi tampak suci berhati malaikat. Semua tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya.

"Aku bukan lagi anak remaja yang mengutamakan diri sendiri. Tidak peduli bahwa ada banyak orang yang akan terluka karenanya. Aku juga tidak ingin lagi menjadi orang yang terus menghakimi suamiku tanpa tahu kebenarannya." Serra menegakkan tubuh, mulai bicara serius. "Kalau kau tanya apakah aku sakit hati, jawabannya sudah jelas: hatiku mungkin hampir mati rasa karena sangat terluka, dan sudah tak terhitung berapa banyak air mata yang aku keluarkan. Lalu saat ini merasa marah, kecewa, sedih, hingga aku sudah tidak tahu lagi cara untuk mengekspresikannya. Semuanya terasa hampa."

Harumi masih terus menatap Serra. Tetapi jemari yang terus dimainkan menunjukkan bahwa ia benar-benar merasa tak nyaman.

"Kau tahu, Harumi? Permasalahan kita saling berhubungan, tapi aku dan kau mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Sudah bisa kupastikan kalian akan semakin dekat, sementara aku dan Levi bahkan tidur di kamar yang berbeda sejak hari dimana kau dan ayahmu datang ke rumah hingga aku tahu semuanya." Helaan kencang. Serra hampir saja menumpahkan kekesalannya kepada Harumi. Aku tidak boleh emosi. Tetapi— "Aku merindukan suamiku. Semua yang kami lalui bertiga sebelum masalah ini datang, lalu sekarang ...," suaranya tercekat, bergetar, "... Kenapa? Kenapa ini semua harus terjadi padaku—pada kita semua?"

"Maafkan aku."

Serra memejamkan kedua mata. Ini sulit, tetapi tidak ada cara terbaik selain melakukan ini. Ia menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Lalu setelahnya bertanya begitu pelan, "Malam itu ... apa yang sebenarnya terjadi?"

"Levi tidak pernah mengatakannya kepadamu?"

"Mungkin pernah, tapi aku selalu menghindar dan emosi. Karena siapa yang tahan mendengar suami sendiri berbuat seperti itu dengan orang lain?"

"Kurasa kau hanya akan semakin emosi mendengar ini dariku—"

"Aku tahu," potong Serra. "Aku mungkin gila jika tahu bagaimana kalian bersikap di belakangku waktu itu. Tapi kalau tidak mendengarnya secara langsung, mungkin aku hanya akan semakin gila menerka semuanya sendirian."

Harumi mengangguk. "Mungkin jika aku menjelaskannya padamu—secara implisit—bisa merubah bagaimana pandanganmu tentang kami. Aku juga berharap keputusan yang terbaik ada di kepalamu setelah mendengarnya."

Mendadak Serra memalingkan wajah. Nyalinya langsung ciut. Ia merasa tak sanggup jika harus mendengarnya. Memangnya apakah ada seorang istri yang sanggup melakukan hal ini? Wanita satu itu terlalu takut jika semua pemikiran negatifnya akan terbukti. Dia tidak berani jika harus menghadapi kenyataan seperti itu; bahwa suaminya memang benar-benar berselingkuh.

Tetapi jika tidak mendengarnya secara rinci, ia tidak akan pernah tahu kan?

Serra menggigit ujung bibir, mengekspresikan segala kekalutan di sana.

"Jawabannya sudah kupersiapkan sejak kemarin. Kau kecewa, mungkin saja marah. Tapi aku mohon, seburuk apa pun jawaban ini bagimu, jangan menolaknya."

Walau tampak ragu tetapi pada akhirnya Harumi menganggukkan kepala.

Sorot mata Serra sudah kembali pada Harumi. Kerlingannya menampilkan keseriusan, juga ketegaran yang dipaksakan. "Maka dari itu tolong ceritakan semuanya kepadaku, Harumi."

***

"Ternyata seperti itu."

"Jadi bagaimana?"

Hening.

Ruangan itu tampak mencekam oleh aura aneh yang menguar pada salah satu dari mereka. Dinginnya pengatur suhu hanya memperburuk keadaan. Membuat hawa menjadi buruk dan merinding tak menentu.

Namun, wanita di hadapannya ini tampak sudah kenal dengan sifat dingin nan keras. Maka dari itu ia kembali bersuara, "Tuan Lenoir?"

Merasa terpanggil, Levi mengalihkan pandangan dari laptop ke arah wanita yang masih berdiri tegap dua meter dari meja kerjanya. "Ada apa, Sam?"

"Dua perusahaan baru saja membatalkan kerja sama, dan satu perusahaan besar tidak berniat memperpanjang kontraknya," jawabnya datar tetapi serius. "Jika terus seperti ini, beberapa bulan ke depan pasti—"

"Perusahaan akan mengalami penurunan besar-besaran," potong Levi. "Aku tahu itu. Semua karena kabar yang mereka beritakan di televisi."

"Lalu bagaimana dengan agen travel milik keluarga Aston?"

"Masih lebih bagus kebanggaannya Emma dibandingkan milik Aston."

"Kalau begitu perhotelan kepunyaan rekan Nyonya Serralyn di Indonesia?"

"Tidak ada yang sebagus si Pirang Dorian." Levi hanya menyebutkan kedua nama teman lamanya. Memang tak ada perusahaan baru yang lebih baik daripada bisnis turun menurun di kalangan kelas atas.

Wanita berambut pirang itu berkata, "Tapi menurut data, sudah terhitung satu tahun kita tidak bekerja sama lagi dengan kedua perusahaan tersebut."

"Yeah, kita tidak dapat memaksakan kehendak. Kalau tidak cocok apa boleh buat?" Levi merasakan keanehan dalam tatapan asisten barunya itu. "Ada apa?"

"Kalau Pak Tua Lenoir masih menjabat sebagai pemimpin, dia pasti akan membuang mereka yang menolak bernegosiasi ke laut," jawabnya santai.

Levi mempertegas, "Aku bukan si Tua Bangka—"

"Dasar culun, siapa yang kau sebut Tua Bangka?"

Baik Levi juga Sam menoleh ke sumber suara. Di sana, Julien baru saja membuka pintu dengan tendangan kaki. Di belakangnya, dua pengawal mengikuti dengan sigap. Dua orang di dalam ruangan itu tampak biasa saja, pemandangan seperti ini bukanlah hal baru bagi mereka. Levi pun seolah tidak peduli pintunya yang berlapiskan emas hampir saja di rusak.

"Sudah selesai berliburnya?" tanya Levi.

"Yah, menyenangkan sekali. Orang pemurung tak ramah sepertimu tidak akan mengerti caranya pria dewasa bersenang-senang." Julien berdiri angkuh sambil menaikkan dagunya. "Oh, maaf, walaupun bertingkah seperti remaja baru puber tapi kau ini sudah berumur, ya? Berupa usiamu tahun ini? Lima puluh delapan?"

Levi hanya mendengus.

Julien mendekati Sam dengan seringaian. "Samiyah, apa kau merindukan atasanmu yang dermawan ini? Bagaimana hari-harimu dengan keponakanku di sini? Menyusahkan? Aku tebak kau lebih senang bekerja bersamaku."

"Tidak ada hal menarik selain atasanku yang sekarang selalu merasa terpuruk. Dan tolong jangan panggil nama itu."

"Aku tidak terpuruk."

Ia melirik. "Kenapa? Kita ini keluarga, sudah sepantasnya kami memanggil dengan nama aslimu. Benarkan, Levi? Apa kalian ingat dulu aku yang menampari bokong kalian karena merusak tanamanku?"

Sam tidak peduli atau pun membalas ucapannya.

"Julien, bagaimana dengan rencana yang kuberitahu sebelumnya?" tanya Levi. "Sudah menghubungi Victor?"

"Ya, aku sudah menemuinya sebelum kemari."

"Lalu bagaimana? Apa berhasil?"

Julien langsung menolehkan pandangannya dari Sam. "Bukan main! Victor tidak suka uang."

"Kurasa kau selalu bisa memikirkan cara selain menyogoknya dengan uang."

"Tidak." Julien mengibaskan sebelah tangannya. "Tidak mungkin, aku tak bisa memaksanya. Atau kau malah ingin aku membuangnya ke laut? Jahat sekali kau!"

"Hah?" Salah satu alis Levi terangkat. "Berhentilah bermain-main denganku, Julien. Kalau kau tidak mau kuusir dari sini karena menggangguku bekerja."

"Memangnya kau bisa mengusirku?" Julien tersenyum meremehkan. "Coba saja."

"Hanya perasaanku saja atau memang kau semakin menyebalkan? Kau juga terdengar seperti tidak begitu meyakinkan saat ini."

"Saya juga merasakan hal yang sama, Tuan Muda Lenoir," ucap Sam menyetujui.

Julien yang awalnya tertawa kencang langsung berdecih kesal menanggapi ucapan keponakan juga Tangan Kanannya. Hal itu membuat mata Levi semakin menyipit heran.

"Minggir kau!" Julien menarik kasar lengan Levi. Menyingkirkan bos-besar-yang-tidak-lebih-tampan-juga-kaya-darinya itu dari kursi empuk di balik meja. "Aku mau duduk!"

Levi terpaksa menyingkir dan membiarkan kursinya di duduki Julien.

Walau sebenarnya masih ada beberapa kursi lain di sana. Pria tua itu menempatkan kedua tungkainya di atas meja dan menggeserkan laptop yang masih menyala dengan kaki. Ia mengernyit. "Laptop merek apa ini? Banana? Tidak ada yang lebih mahal lagi apa?"

Asal kalian tahu, laptop Levi ini adalah keluaran terbaru dengan harga yang bisa membuatmu gigit jari. Tetapi sayangnya hal itu tentu tidak berlaku untuk Julien. Bagi pria tua ini, laptop milik Levi mungkin tidak ada bedanya dengan membeli permen kaki di toko pinggir jalan.

"Oliver!" panggil Julien kepada salah satu lelaki yang berdiri di belakangnya Oliver dan Sam sudah seperti study banding. Mereka sibuk bersama atasan yang berbeda selama beberapa waktu. "Mana kesukaanku?"

Pria bernama Oliver langsung menghampiri bosnya. Ia merogoh kotak berwarna emas mengilat yang tersimpan di saku dalam jas. "Silakan, Tuan Julien."

Setelah melirik isi dari kotak tersebut, Levi menegur pelan, "Julien, dilarang menghisap cerutu di kantorku."

"Bah! Ternyata selain bocah, kau juga buta? Ini wafer stik!" balas Julien tidak peduli, lalu menyalakan cerutunya.

Levi mengernyit. Pria satu ini berpura-pura abai dengan sifat tak terduga pamannya serta kursi yang telah diambil alih. Maka ia pun memutuskan untuk kembali bertanya, "Jadi bagaimana dengan Victor? Kau berhasil membuatnya tutup mulut?"

"Hampir berhasil."

"Bagian mana yang sulit hingga kau tak bisa melakukannya?"

"Kalau kau mengizinkan aku melakukannya dengan caraku, semuanya akan mudah. Tentu langsung berhasil pada pertemuan pertama. Tetapi kau melarangku untuk bermain kasar."

"Sudah pasti aku melarangmu," jawab Levi. "Setelah aku bersusah payah membersihkan nama baik keluarga, mana mungkin kubiarkan kau kembali mengotorinya."

"Kau yang mencoba membungkam mereka atas tindakan burukmu juga termasuk mengotori nama baik keluarga."

"Setidaknya caraku masih sedikit halus."

"Levi," panggil Julien lambat-lambat. "Kalau istrimu tahu kau melakukan ini, apa yang akan dikatakannya? Apa menurutmu dia akan setuju? Karena kau belum menjelaskan tentang yang satu ini kepadaku."

Tanpa sadar, sebelah tangan Levi terkepal erat. "Mau dia setuju atau tidak, aku tetap harus melakukan ini. Demi semuanya."

"Kau berkata seolah semuanya berada di genggamanmu." Julien menghembuskan asap cerutunya. "Anakmu satunya lagi ... ada darah Tenjou yang mengalir di tubuhnya. Apa kau tega?"

"Maksudmu?"

"Apa kau sanggup melihatnya menderita suatu saat nanti?"

Setiap keturunan Tenjou memiliki tugas seumur hidup yang wajib dipenuhi. Tidak ada hal yang bisa mereka lakukan selain memastikan jika kelangsungan nama baik mereka akan terus terjaga. Semua hal itu harus dilakukan kalau kau tak mau dikucilkan atau dianggap melanggar kehormatan seperti yang sedang dilakukan Harumi.

Julien melanjutkan, "Kelak anak itu akan membenci leluhurnya. Kau tahu sendiri bagaimana Tenjou dengan anak-anak mereka."

"Kalau pun memang benar anakku, tidak akan kubiarkan dia menjadi penerus keluarga mereka."

"Dan kau mau menciptakan masalah lagi dengan mereka?"

"Sekarang lebih baik kita fokus ke permasalahan yang sedang terjadi—"

"Permisi."

Semua kepala yang berada di dalam ruangan pun menoleh, menatap ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Di sana, berdiri seorang wanita berpakaian rapi dengan senyuman tipis.

"Speak of the Devil! Serra!" Julien langsung bangkit dari kursi. Menghampiri wanita yang kini sedang menutup pintu. Wajahnya semula kegirangan berubah drastis sambil mengamati sekitar Serra. "Cucuku kesayanganku yang imut itu ... dimana dia?"

"Ada hal penting yang harus kulakukan, jadi Selina aku titipkan dengan ajudannya di lantai bawah."

"Bedebah!" umpat Julien. "Padahal aku sudah sangat merindukannya. Ya sudah. Oliver, antar aku menjemput cucuku." Pria tua itu menatap Levi dan Serra secara bergantian lalu berkata, "Selina tidak akan kukembalikan sebelum malam. Dan Levi, kita akan membicarakan lagi masalah ini nanti."

Serra kala itu langsung menatap ke arah suaminya.

"Ada apa?" tanya si pria.

Levi, menatap dengan tatapan tak percaya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir Serra datang ke kantor. Kalau biasanya wanita itu selalu mampir dengan alasan mengajak makan siang bersama, kali ini Levi tidak begitu yakin.

Pasti ada hal lain. Sebab tatapannya terlihat berbeda dari beberapa hari ke belakang.

Tampak tanpa beban, juga tajam.

Serra menjawabnya lambat tetapi tegas, "Kita perlu bicara. Empat mata saja."

—————

Apa yang bakal dibicarain ya? Kalian berharap baikan lagi sama Levi atau malah pisah aja?

Sampai ketemu di chapter depan!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top