chapitre douze
"Bajingan!"
Levi menghembuskan napas pelan setelah mengungkapkan apa saja kejadian belakangan ini. Bagi orang yang tidak menyukai basa-basi layaknya ia dan sang Paman, pria itu hanya perlu berkata seperti: "Aku menghamili anak Tenjou, dan sekarang Ayahnya menuntut pertanggungjawaban." Juga beberapa kalimat yang mengancam akan membeberkan semua keburukan keluarga Lenoir.
"Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini padaku?"
"Aku begitu sibuk belakangan ini, dan—"
"Aku akan punya cucu lagi!"
Pria itu terdiam sebentar, "... Ya?"
"Keponakanku berselingkuh sehingga aku akan memiliki cucu lagi. Keajaiban Tuhan itu nyata. Ini kebahagiaan ganda!"
Bukan sarkasme. Sebab Julien betul-betul mengatakannya dengan nada penuh bahagia diselingi dengan tawa. Levi dibuat kebingungan dengan reaksi Pamannya yang sangat di luar ekspektasi.
"Kau ingat tidak sebelum menikah pernah bilang begini: 'Dia yang terakhir untukku. Aku tidak akan berpaling pada wanita lain.' Kau mengatakan itu karena aku berusaha menjodohkanmu dengan anak dari rekan bisnisku. Sewaktu itu aku bertaruh jika kau akan menjilat ludahmu, dan ucapanku terbukti saat ini." Di ujung sana, Levi dapat mendengar pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Wah, aku menang taruhan!"
"Kenapa kau tidak marah padaku?"
"Kenapa aku tidak marah? Kenapa aku harus marah padamu? Perasaan kebahagiaanku lebih besar karena menang taruhan dan akan mendapat cucu baru. Saat ini aku terlalu bahagia." Jeda sebentar, Julien sempat menyapa balik orang yang ikut dalam liburan singkatnya.
"Kau bahagia karena akan mendapat cucu baru?" Levi menaikkan sebelah alisnya. "Aku bisa memberimu cucu baru setiap tahun jika aku mau, Pak Tua. Tapi tidak, bukan itu permasalahannya. Anak itu kudapat bukan dari Serra."
"Ngomong-ngomong, apa maksudmu tadi dengan ancaman itu? Aku tidak terlalu menyimak."
"Ayah Harumi mengancam akan mengungkapkan semua keburukan perusahaan jika aku tidak menikahi putrinya."
"Wawu apwa masawahnya?"
"Hah?"
"Tch, aku sedang menghisap cerutu," kata Julien. Ia terdengar menghembuskan asap cerutunya. "Lalu apa masalahnya? Kau tinggal nikahi saja dia, masalah selesai."
Levi menjawab tegas, "Aku sudah memiliki Serra. Aku tidak bisa menikah lagi begitu saja. Lagipula, hidupku sudah sangat sempurna dengannya."
"Munafik!" bentaknya. "Kalau satu istri saja sudah merasa sempurna, apalagi jika kau memiliki dua? Itu namanya kesempurnaan ganda!"
Seharusnya pria bermata keabuan satu ini sudah tahu jika meminta pendapat kepada Julien lebih sering menghasutkan. Jadi ia hanya membalas dengan santai, "Aku penganut monogami."
"Lalu kau mau bagaimana? Sudah coba menyumpal mulutnya dengan uang—"
"Kau lupa? Mereka bangsawan kuno yang hartanya tidak akan habis selama beberapa generasi," potong Levi. "Uang tidak begitu bekerja di saat-saat seperti ini."
Julien menaikkan nada bicara dan menghardik, "Dasar tikus tengik, bodoh sekali kau ini! Sudah pasti uang dapat mempermudah segalanya. Kecuali uangmu hanya sedikit—ups! Aku lupa kau tidak lebih kaya dari diriku. Yah, apa boleh buat?"
"Aku sudah menawarkan uang dan berbagai fasilitas. Dia menolak mentah-mentah ...," jawab Levi sejujur mungkin. Lalu tidak bermaksud mengadu, tetapi— "... dan dia malah menghadiahiku beberapa pukulan."
"Apa?!" Levi yakin jika di ujung sana Pamannya mulai emosi. "Kalau Ayahnya tidak suka uang dan menolak kau untuk tidak menikahi putrinya, masukkan saja dia ke kandang singa!"
"Aku bukan kau."
Levi sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan kepemimpinan yang orang-orang terdahulunya lakukan. Mungkin mengancam fisik dan teror-teror kecil tak berarti boleh saja. Tetapi untuk urusan menyangkut nyawa, ia angkat tangan. Bukan berarti pria satu ini pengecut. Hanya jika sekali saja dia melakukannya, itu artinya Levi telah menyalahgunakan kekuasaan.
Cukup sekali saja ketika Levi mengancam balik Ayah Harumi. Namun, selain itu jangan harap ia akan kembali melakukannya.
Lagipula, itu bukan Levi.
Setelah itu terdengar sebuah helaan napas, "Ini yang tidak kusuka darimu, kau terlalu lurus. Sesekali mengotori tangan demi mendapatkan apa yang kau inginkan bukan masalah besar. Sudahlah, sekarang apa rencanamu?"
"Tetap menjalani hidup seperti biasa dengan tanggungan akan membiayai anak yang dikandung Harumi hingga dia dewasa, pada awalnya. Tapi—"
"Itu kan rencanamu, bagaimana dengan istrimu? Dia setuju dengan itu?"
Levi terdiam.
Serra selalu saja mengatakan tidak setuju dan diakhiri dengan perdebatan di antara keduanya. Levi tidak pernah mendengar kalimat persetujuan atau dukungan penuh dari sang istri. Hanya ada amarah, kesedihan, lalu amarah lagi. Jangankan membahas masalah ini berdua hingga selesai, menyinggung kecil saja bisa menjadi seperti menuangkan minyak tanah dalam api. Percuma.
Sewaktu meminta izin untuk pergi dari rumah sakit, bukankah Serra menyetujuinya? Atau itu kalau hanya perasaan Levi saja? Tetapi kalau pria itu bisa mengusahakan yang terbaik, istrinya pasti mendukung kan?
Namun, bagaimana jika tidak? Kalau Serra terus menolak, apa yang harus Levi perbuat?
Jika Hayato bilang akan menyebarkan semua permasalahan perusahaan, Julien bisa mengurusinya dengan mudah tanpa harus tercium media atau polisi lain. Karena Levi yakin berkas-berkas yang dikumpulkan orang itu masih kekurangan banyak bukti.
Lalu untuk masalahnya dengan Harumi? Levi bisa saja mengelak sekarang. Tetapi ketika anak itu sudah lahir dan tes DNA menunjukkan hasil yang positif, tamat sudah riwayatnya.
"Bisa aku minta tolong padamu?"
"Apapun itu untuk keponakanku. Ah, sebelum itu akan kupinjamkan tangan kananku, Sam. Dia mungkin akan sangat membantumu."
Jika yang pria itu lakukan adalah menuntut Levi atas tindakan pemerkosaan, maka hal yang diperlukan hanyalah satu: mendatangi mereka yang memegang kekuasaan hukum lebih dulu dari Hayato.
"Victor ... kau masih ingat dengannya?"
Buat mereka tutup mulut atau seolah abai dengan masalah ini.
"Ah, teman lamaku. Tentu saja aku ingat, walau hubunganku dengannya tidak begitu baik. Puluhan tahun lalu aku meludahi wajahnya karena dia berusaha merebut gadis incaranku," jawab Julien. "Apa yang kau perlukan dari dia?"
"Pastikan kau melakukannya sesuai perintahku."
***
Tiga hari berlalu tanpa saling sapa, Serra melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Levi. Biasanya sang suami akan menghabiskan waktu hampir seharian di sana jika tidak pergi ke kantor. Tetapi kini, ruangan itu sudah seperti kamar pribadi dengan sofa panjang yang disulap menjadi kasur. Sangat bersih dan tertata rapi.
Satu-satunya tempat berantakan hanyalah di meja kerja. Ada begitu banyak lembar kertas, tumpukan berkas hingga buku catatan tergeletak terbuka. Bahkan layar komputer plus laptop dibiarkan menyala entah sudah berapa hari di sana.
Levi sudah bekerja terlalu keras. Untuk mempertahankan bisnis, nama baik keluarga, hingga pernikahannya sendiri. Terkadang melihat pria itu kurang tidur hingga kantung mata menebal membuat perasaan Serra teriris. Sang suami rela melakukan apa saja demi memperbaiki semuanya. Sedangkan ia? Sejauh ini Serra hanya bisa menuntut, meminta untuk dilepaskan meski hatinya menolak keras.
Tegakah ia membiarkan suaminya melakukan semua hal, sedangkan Serra hanya berdiam diri. Menunggu waktu setiap anggota Lenoir diadili meski tak bersalah sekali pun. Semua kerja keras Levi bisa menjadi sia-sia dan Serra tahu itu. Apa yang sudah keluarga ini bangun meski dengan tangan-tangan kotornya akan musnah dalam sekejap.
"Apa saja yang akan hilang?" Serra bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. Kepalanya bersandar santai di atas lengan Levi.
Pria itu menjawab tak fokus. "Beberapa hal."
"Tadi Julien tidak mau menjelaskan. Kenapa?"
"Bedebah Tua itu hanya takut hartanya terkuras habis."
"Jangan mengumpatinya seperti itu. Dia yang merawatmu sejak kecil," katanya serius. "Selain pemangkasan harta, apalagi yang akan diambil?"
Levi mendesah pelan, matanya mulai menyipit karena kantuk dan bisa tidur kapan saja. "Tenjou tahu terlalu banyak karena dulu pernah punya hubungan baik dengan keluarga kita. Sekali saja mereka membuka aib lama, akan membahayakan posisi kekuasaan Lenoir di Eropa."
Serra mengangguk paham. "Lalu dari keluarga mereka ... apa yang akan terjadi?"
Jawaban tidak keluar. Levi sudah benar-benar menutup matanya.
"Levi..." Serra menyentuh sisi pipi sang suami.
"Hm?" Mata kelabunya kembali terbuka. Levi harus memaklumi keinginan Serra untuk berbincang hingga tengah malam. Karena jika tidak, wanita hamil itu tak mau menyapanya esok hari. "Apa katamu tadi?"
"Konsekuensi dari keluarga mereka."
Ia berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kau tahu, mereka sangat kolot. Bahkan dikucilkan di keluarga sendiri rasanya sudah seperti akhir dunia. Selain itu mereka juga bisa kehilangan jaringan bisnis jika aku berkehendak."
"Terdengar sangat rumit."
"Serra, ini bukan hanya janji lisan tapi perjanjian bisnis dan politik halus yang mengikat dua keluarga lintas negara. Di atas kertas itu tertulis: demi "Menggabungkan Kekuasaan Timur dan Barat" atau simbol keharmonisan dua budaya besar. Tapi zaman sudah berbeda. Sekarang siapa peduli soal itu? Ibuku lahir di tahun yang sama dengan sepupu jauh mereka. Tidak ada yang terjadi hingga sekarang. Semua aman bahkan saat Julien memberiku perintah untuk melakukan bisnis di Jepang."
Keluarga Lenoir yang dulunya sering terlibat dalam bisnis ilegal penyeludupan senjata dan lainnya kini sudah "bersih" dan sah di mata hukum. Meski masih ada banyak orang yang takut atau ragu dengan mereka. Karena satu perintah saja konon nyawamu bisa hilang seketika.
Lalu di sisi lain, perjodohan ini tidak lain untuk menguatkan kekuasaan. Memperluas pengaruh mereka di dua benua hingga menjaga warisan. Tentu, Lenoir tidak perlu repot-repot memikirkannya sebab masa depan mereka sudah terjamin. Tetapi Tenjou? Mereka berbeda. Kadangkala mereka bergerak sangat halus hingga tak tercium baunya.
"Tapi semua itu ... benar-benar tidak akan terjadi, kan?"
Levi menggeleng. "Tidak di bawah pengawasanku."
Tetapi kenyataannya memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Musibah bisa datang kapan saja. Dan meski gaya hidup Lenoir cenderung bebas dan super elit, mereka selalu memegang dua tradisi terkutuk: kekeluargaan hingga kesetiaan.
Lenoir setia dalam banyak hal. Sampai-sampai konon katanya dikutuk hanya bisa mencinta kepada satu orang saja.
"Mama." Wajah Selina menyembul dari balik pintu. "Selina sudah siap pergi."
Serra berbalik menatap putri kecilnya. "Little bean, bajumu bagus sekali."
Selina tersenyum lebar. Ia berputar cepat hingga rok dengan gambar bintang-bintangnya mengembang lucu. "Kakek yang belikan minggu lalu. Katanya, Kakek akan ambil semua bintang di angkasa untuk Selina."
Mata cokelat gelap menyorotkan sirat hangat. "Kakekmu bilang begitu?"
"Iya!" Ia mengangguk antusias. "Mama ... Paman besar itu datang lagi."
Yang dimaksud Selina adalah orang-orang suruhan Julien. Jika Levi sedang tidak bisa menemani keluarganya, pria tua itu akan mengirimkan ajudan untuk mendampingi mereka.
"Kita mau pergi kemana?"
"Ke rumah teman Mama sebentar. Setelah itu terserah Selina mau pergi kemana pun."
Mata keabuannya membuat ceria. "Benarkah?! Selina ingin bertemu Kakek."
Serra baru ingat jika Julien baru saja pulang tadi pagi setelah berlibur singkat. "Kakekmu pasti lelah. Biarkan dia istirahat sebentar."
"Tapi kata Kakek, Selina boleh main ke sana kapan saja."
Serra baru akan kembali menolak tetapi Selina sudah menampilkan wajah sedihnya. Diam-diam ia mengiris. Jika yang seperti ini saja ia tak tega, bagaimana suatu saat nanti kalau hal buruk benar-benar menimpa keluarganya? Menimpa Selina? Sanggupkah Serra melihat semuanya jatuh karena ego tingginya?
Dengan pakaian rapi, Serra pun sudah bersiap pergi. Setidaknya ia mencaritahu lebih banyak sebelum memutuskan. Serra tak bisa tinggal diam. Demi masa depan keluarga, dan demi menyelamatkan sang suami.
Hampir tiga puluh menit berikutnya, mereka sudah sampai di tujuan.
Serra menitipkan Selina kepada ajudan di sana. Bocah itu duduk santai di dalam mobil sambil membuka buku dongeng antariksa.
Ketika itu, Serra menatap pintu di hadapannya dengan hati tak karuan.
Sudah beberapa hari sejak Selina diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Selama itu pula Serra terus memikirkan begitu dalam setiap permasalahan dengan kepala dingin. Ia sudah tidak semarah sebelumnya, tidak pula terlalu sedih sampai harus menangis seharian.
Levi pun belum bisa diajak bicara serius. Dia terlalu sibuk sampai-sampai hanya pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Itu pun Serra yang meminta pulang karena lagi-lagi Selina merindukan sang Papa. Kalau dilihat-lihat, pria itu kembali kepada aktivitas rutinnya. Lupa waktu sebab begitu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan kemarin, belum satu jam Levi berada di rumah, teleponnya sudah dibanjiri panggilan dari kantor.
Serra tahu ia tidak boleh egois. Dia mengerti betapa sibuknya sang suami dan memaklumi dengan sepenuh hati. Walau sebetulnya terdapat sedikit kekesalan sebab Levi tak kunjung membahas permasalahan ini dengannya.
Levi bilang, dia akan mengusahakan yang terbaik. Maka dari itu, ia juga akan melakukan hal yang sama. Untuk semuanya.
Serra merasa harus melakukan ini. Ia tahu, dan sudah memikirkannya matang-matang. Kalau Levi punya pemikiran individual untuk menyelesaikan permasalahannya, maka Serra pun memiliki caranya sendiri.
Wanita itu menarik napas dalam-dalam. Berkunjung ke rumah seseorang tidak pernah terasa semenegangkan ini. Ketika hati sudah cukup siap, akhirnya ia menekan tombol bel.
Tidak perlu waktu lama, sebab kurang dari satu menit pintu itu pun terbuka. Jantung Serra seolah berloncatan.
"Serra?"
Yang menyambut Serra benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Walau rasanya begitu sulit, tetapi wanita itu terus meyakinkan diri bahwa ia bisa. Maka dari itu dia berusaha menampilkan senyum terbaiknya. "Hai."
Dia menatap balik Serra dengan wajah terkejut sekaligus bingung. "Ada perlu apa? Kenapa tidak bilang mau kemari?"
"Maaf, aku tidak mengabarkanmu terlebih dahulu," ucap Serra. "Kau sedang sibuk?"
"Tidak. Aku hanya tidak menyangka kau akan ke sini."
Tak apa. Bukan masalah.
"Boleh aku masuk?" tanya Serra dengan ramah. "Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Walau awalnya tampak bingung, tetapi akhirnya ia membuka lebar pintu dan mempersilakan Serra untuk masuk. "Silakan."
Aku pasti bisa.
"Terima kasih ...,"Serra mengangguk sopan, lalu masuk ke dalam rumah."... Harumi."
—————
Kira-kira apa yang bakal dibicarakan? Apa Harumi bakal dilabrak terus diviralkan?😅
Sampai ketemu di chapter selanjutnya!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top