23. Planning
Happy baca ❤️
Sorry for typo 🍓
Warning :
Yang rajin kasih komen, yang komennya out of the box, insyaallah di akhir kisah ini nanti bakal kachan kasih novel How to Be Marriage (Rumaisha - Ezar)
Yang pasti syarat mutlaknya sudah harus follow kachan, ya.
.
.
.
Sepersekian detik Gistara dibuat tertegun oleh tindakan Erlan. Jantungnya refleks deg-degan tanpa bisa dicegah gara-gara ditatap dari jarak super dekat serta tangan besar lelaki itu yang tanpa permisi mendarat di atas permukaan bibirnya. Saat kesadarannya kembali, detik itu juga sebuah suara menginterupsi polahnya dan Erlan.
Tanpa disadari hal sama sepertinya mendera Erlangga. Kali pertama setelah menemukan Gistara versi dewasa, Erlan bisa memandangnya dari jarak super dekat. Wajah mereka saling beradu. Erlan bahkan bisa merasakan embusan napas perempuan itu. Mengamati gadis berpipi tirus itu sampai tak sengaja tatapannya jatuh pada bibir merah alami milik Gistara. Sepersekian detik Erlangga dibuat takjub oleh perubahan drastis Gistara Swasti Padmaja. Gadis kecil yang dulu sering dia gendong, dia jaili sampai menangis kini tumbuh menjadi perempuan dewasa berwajah cantik.
Suara yang tak asing memecah keterpakuan Erlan dan Tara. Kalimatnya penuh tendensi bernada amarah. Refleks Tara mendorong dada Erlangga agar menjauh.
Seperti sebelumnya saat Gistara baru kenal pemilik suara itu.
Dari arah pintu Naima berteriak seperti orang kesetanan. Alih-alih merapal salam saat memasuki rumah, perempuan itu mencak-mencak, menggumamkan umpatan ke arah Gistara, sepertinya dia tidak terima mendapati Erlangga duduk tak berjarak dengan Tara.
"Apa-apaan kalian?!" Sentaknya mendekat dan berdiri tepat di sisi Tara. Tidak hanya itu, Naima menampar lengan Gistara sebagai implikasi protesnya. "Centil banget jadi cewe! Kamu juga, ngapain sih, Mas?!" Tak cukup, konfrontasinya mengarah juga pada Erlan.
Erlangga menggeleng beberapa kali. "Jangan salah paham, Nai, saya dan Tara enggak ngapa-ngapain."
"Bohong!" Denial Naima.
Gistara sudah terlanjur eneg. Percuma dia menyangkal, mau dia berkata jujur sekali pun kalau pada dasarnya lawan bicaranya memang menyimpan rasa tak suka, fakta apa pun tetap dialah yang akan disebut sebagai penjahatnya.
"Lo godain Mas Erlan, kan? Ngaku lo!" Naima makin tendensi, tangannya berani mendorong keras bahu Gistara.
"Jangan asal nuduh, ngapain aku godain Mas Erlan, toh dia calon suamiku." Santai Gistara. Benar, kan, kalau tanpa digoda pun, Erlangga Danapati memang calon suaminya.
"Bitch!" Umpatan kasar Naima tepat di depan Tara, tak hanya itu, tangan perempuan itu melayang ingin menampar pipi Tara tapi dengan sigapnya Erlan menangkap tangan Naima lebih dulu.
"Nai, please, jangan kekanakan. Kamu cuma salah paham. Saya dan Tara enggak ngapa-ngapain."
"Akhirnya yang aku khawatirkan terjadi juga. Diam-diam kamu main hati sama dia, Mas!"
"Naima!" Erlangga terlihat sangat frustrasi. "Berapa kali saya bilang, semua cuma pikiran buruk kamu. Sampai kapan kamu akan menyadari kalau saya melakukan banyak hal, semuanya ini demi kamu. Demi hubungan kita berdua."
"Mas, mendingan kamu selesaikan kesalahpahaman pacarmu, aku mau pulang!" Gistara beranjak dari duduk, secepat kilat menyambar tas yang diletakkan di meja. "Dan, besok kayaknya aku enggak perlu datang lagi, kamu udah hapal, langsung aja menghadap papa kalau emang masih mau meneruskan rencana kamu." Pengimbuhan Gistara sebelum kakinya berderap meninggalkan apartemen Erlangga.
"Tar, tunggu!" Interupsi Erlan menahan langkah Tara.
"Mas Erlan! Biarin aja dia pergi, kamu tahu, kan, aku enggak suka lihat dia ada di sini." Naima menyela.
"Nai, please, bukan saatnya untuk berdebat." Erlangga refleks berdiri, sejajar di sisi Naima. "Kita udah sepakat, kan?! C'mon, dewasa sedikit saja."
Airmuka Naima berubah keruh. Aura ketidaksukaan menguar mendengar kalimat Erlangga. "See... baru dekat sama dia sebentar aja kamu udah berubah, Mas. Kamu berani kasar sama aku." Protesnya tak terima.
Erlangga mengusap kasar wajahnya. Bimbang melanda, tadinya ingin mengejar Tara, tapi urung oleh konfrontasi Naima. Lelaki itu mengenyakkan diri kembali menyandar pada sofa.
"Please Nai, kita udah sering bahas ini. Kamu juga udah setuju sama rencana kita. Kalau kayak gini terus, kapan kamu mau dapat restu mama?" Lelah memancar di wajah Erlan, ketika harus terus mendebatkan hal sama berulangkali dengan Naima.
Tangis Naima. Perempuan itu menempati ruang kosong di sisi Erlan. "Maafin aku, Mas, aku benar-benar enggak tahan lihat kamu dekat sama dia."
Erlan melepas embusan napas lagi. Diraihnya jemari Naima untuk dia genggam.
"... trust me, Nai, please. Kamu tahu kedekatan saya dan Tara enggak melibatkan perasaan. Kami profesional." Tangan kekarnya lantas merangkul Naima ke dalam dekapan. "So sorry, udah bikin kamu kayak gini. Saya janji, ini enggak akan lama, Sayang." Sedikit rasa bersalah menyusup, kenapa dia harus terpantik emosinya. Tetapi kalau boleh jujur, Erlangga juga merasa tidak suka saat kadar kecemburuan Naima di atas ambang wajar terhadap Gistara. Perempuan itu bukan siapa-siapa, Naima harusnya meletakkan rasa percaya penuh terhadapnya. Mana mungkin Erlan akan berpaling dari Naima ke Gistara? Tidak akan pernah. Lagian Tara bukan tipe Erlan.
"Mas Erlan." Gumam Naima. Perempuan itu mendongak menatap mata jelaga milik Erlangga.
"Iya, Nai?"
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu, sebenarnya sejak dari kemarin."
"Apa, Nai?" Erlan mengendurkan dekapannya, memberi ruang Naima agar menegakkan posisi duduknya.
"Mas ... boleh, enggak, kalau sembari nunggu kamu ngelakuin rencana itu, aku pergi liburan aja? Biar aku juga enggak emosi terus setiap lihat kamu sama cewe itu?" Ide yang tercetuskan oleh Naima. Perempuan itu harap-harap cemas menanti respons Erlangga. "Mungkin sebulan, atau bisa lebih, sampai urusan Mas Erlan kelar." Pengimbuhan Naima sebelum Erlan sempat bereaksi.
Terdengar embusan napas saat Erlangga mengosongkan udara di dalam paru-paru-nya. "Memangnya kamu mau liburan kemana, Nai?" Tanyanya dengan sorot mata menyelidik. Bukannya apa-apa, Erlan sama sekali tidak keberatan menanggung itinerary liburan Naima, tetapi untuk saat ini, bukannya Naima harus lebih fokus memikirkan cara terbaik mengambil hati mamanya? Mengatur strategi sama seperti dirinya yang sedang menyusun rencana.
"Aku mau ke Paris, Sayang, gimana menurut kamu?" Tanya berbalas tanya, Naima tampak antusias menyebut nama negara yang ingin dia kunjungi.
"Apa enggak bisa ditunda, Nai?"
Decakan Naima. "Katanya aku harus tenang, selagi kamu menyiapkan rencana, ya udah kalau gitu aku liburan aja, biar kamu enggak terganggu sama rasa cemburunya aku, Mas." Alibi Naima. "Ayolah Mas, lagian aku baru dua kali ke sana, kebetulan aku mau ketemu sama teman lama di sana, sekalian reunian."
"Teman?"
"Cewe, Mas, kamu jangan mikir macam-macam, ya." Seolah memahami isi pikiran Erlan, Naima segera mengklarifikasi. "Iya Mas? Besok aku mau ngurus visa."
Tidak punya jawaban lain, Erlangga mengangguk samar.
"Really, Mas? Ah, makasih Mas Erlan." Naima berhambur memeluk Erlangga.
Erlangga membalas pelukan Naima, meski merasa ada yang masih janggal di hatinya tentang keputusan Naima.
___
"Sumpah ya, rasanya pengin aku cakar-cakar itu muka pacarnya Mas Erlan." Tumpah ruah semua rasa kesal Gistara di depan Kika. Usai lolos meninggalkan perdebatan sepasang kekasih di apartemen Erlan, Tara tidak langsung pulang ke rumah, tapi menelpon Kika, sengaja ingin bertemu di kafe tempat biasa mereka nongkrong.
"Sorry ya, Tar, gara-gara aku keceplosan cerita ke Mas Naka, semuanya malah jadi runyam." Ekspresi Kika menyirat rasa bersalah. Gistara memberinya gelengan. Ya mau disembunyikan seperti apa pun, cepat atau lambat kebohongannya dan Erlan pasti bakal terendus juga. Hanya masalah waktu.
"Udahlah Ka, cepat atau lambat Mas Naka juga bakal tahu, enggak ada bedanya. Lebih cepat lebih baik, jadi beban rasa bersalah gue sedikit berkurang." Merasa bersalah karena sudah tidak jujur pada sang kakak. Walau risikonya pertemanan Erlan dan Naka sekarang hancur berantakan.
"Jadi, kamu tetap melanjutkan rencana itu, Tar?"
"Iya tetap, Ka, gimana pun juga aku udah tanda tangan isi perjanjian itu."
"Lagian kenapa sih, kamu enggak nurut aja sama papamu? Ikut bantu-bantu di kantornya sana."
Tara memamerkan wajah cemberutnya. "Ka, kamu tahu, kan, aku paling enggak suka sama praktek nepotisme kayak gitu."
"Ya kan enggak harus langsung dapat jabatan, kamu mulai dari bawah, Tar, jadi staf admin atau apalah gitu."
"Bukan passionku duduk di belakang meja sampai berjam-jam, please, aku bisa mati bosan, Kika." Bukan rahasia lagi, sejak dari zaman kuliah Gistara sudah jujur pada kedua orangtuanya jika dia menjalaninya hanya untuk menyenangkan hati mama papanya. Dalam benak Tara tidak ada rencana mengikuti jejak Andrew serta Elyn sebagai workaholic. Gistara ingin menjadi pengusaha sesuai dengan passionnya sendiri.
"Jadi, gimana sama plan B yang pernah kita bahas, Tar?" Kika berkata usai menyeruput frappuccino favoritnya.
Kening Gistara mengkerut, mencoba mengingat rencana yang dimaksud sang sahabat. "Apaan ya? Kok aku lupa, Ka?!
Decakan Kika. Tangannya refleks menoyor pelan kepala Tara gemas. "Plan B-nya kamu, yang mau bikin Kak Erlan klepek-klepek, Gistara."
Gistara menggigit bibirnya sendiri. Kemarin, sih rencana itu sebatas wacana tak serius, tapi, melihat gelagat Naima yang memuakkan, Tara jadi termotivasi untuk benar-benar membuat Erlan jatuh ke pelukannya.
____
Warning :
Yang rajin kasih komen, yang komennya out of the box, insyaallah di akhir kisah ini nanti bakal kachan kasih novel How to Be Marriage (Rumaisha - Ezar)
Yang pasti syarat mutlaknya sudah harus follow kachan, ya.
02-05-2025
1400
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top