22. Lowkey
Tolong yakinkan saya kalau cerita ini masih layak untuk dilanjutkan? :,-)
Tangis Gistara baru mereda usai Naka menuntaskan ceritanya. Matanya refleks memandangi langit-langit kamar, ingin menghalau air yang terus menetes di kedua irisnya.
Di luar dugaan, Naka sudah tahu semuanya. Namun, tidak berarti apa pun saat ini. Semuanya sudah terlambat menurut Tara. Dia sudah menandatangani kontrak pra nikah oleh Erlangga. Lagipula Tara sudah menerima bayarannya separuh. Satu milyar telah Erlan berikan sejak Tara sepakat tanda tangan. Jumlah yang lumayan fantastis tapi segera berpindah tangan karena Tara langsung memakainya untuk ganti rugi. Sementara sisanya Erlangga bilang akan diserahkan sebagai mas kawin ketika mereka menikah 'pura-pura' nanti.
Pura-pura hanya statusnya, tapi prosesi yang dijalani tetap legal dan sah. Jadi, diam-diam Tara berjanji pada dirinya sendiri dia akan menjadi istri yang baik untuk Erlan nanti, meski tahu tidak akan gampang. Dengan catatan, tidak ada sentuhan fisik, hanya sebatas menjalankan perannya sebaik mungkin.
"Tar, Mas mohon batalkan rencana kamu sama Erlan, ya." Naka menatap nanar sang adik. Dari sorot matanya tersirat percik tak suka ketika menyebut nama Erlangga.
Respons Gistara? Gadis itu menggeleng pelan.
"Why, Tara?!" Berontak Naka.
"Udah terlanjur, Mas. Enggak mungkin aku batalin rencana ini, kalau kayak gitu Erlan bakal nuntut aku."
"Peduli apa sama ancaman dia, Tar?!"
"Erlangga enggak main-main soal ancamannya, Mas." Gistara sering mendengar perihal seseorang yang jatuh cinta tidak bisa dinasihati, seakan nalarnya rusak, tidak berfungsi sebagaimananya. Dan, Tara menyaksikan sendiri hal itu terjadi pada Erlangga. Bulol alias bucin tolol mengalahkan logikanya sebagai laki-laki dewasa. Gimana tidak tolol, kalau demi cintanya pada Naima, lelaki itu rela melakukan apa pun. Merogoh materi yang tidak sedikit, hanya demi menjalani hubungan kamuflase guna menutupi hubungan sebenarnya dengan perempuan bernama Naima itu.
Naka meremas rambutnya frustrasi. "Kalau saja dulu Mas enggak kasih saran superbego sama kamu, Tar."
"Udahlah Mas Naka jangan gitu, biarin aku jalanin semuanya, kita lihat aja nanti kedepannya gimana." Apalagi memangnya yang bisa Tara lakukan selain pasrah?
"Tapi Mas enggak rela kamu dipermainkan sama Erlangga."
Tara menggeleng pelan. "Enggak akan, Mas. Aku bakal lebih hati-hati sama Erlan. Lagian pernikahan ini cuma satu tahun, Mas, aku cuma harus bersabar sebentar aja."
Gistara tahu, dari airmuka Naka tampak jelas lelaki itu memancarkan rasa sesal. Tidak hanya itu, Tara bisa menangkap aroma kebencian Naka pada Erlan menguar pekat dari ekspresinya.
Gistara cukup tahu diri untuk tidak merepotkan atau membebani Naka. Setelah deraan pandemi yang melanda seluruh dunia beberapa waktu lalu, Naka sedang berjuang merintis kembali bisnis F and B yang sempat ambruk diterjang badai pandemi Corona. Semua orang sedang berjibaku dengan perjuangannya, termasuk Tara saat ini.
"Kalau dia macam-macam sama kamu, jangan ragu ceritain sama Mas, Tar. Mas janji akan bikin Erlangga menyesal."
Haru meruangi perasaan Tara di antara anggukannya pada Naka. "Makasih ya, Mas. Maaf, gara-gara Tara pertemanan Mas Naka sama Kak Erlan jadi buruk sekarang ini."
Kibasan tangan Naka ke udara sebagai implikasi tidak setuju dengan kalimat sang adik.
"Kalau buruk ya buruk aja, memang dianya udah buruk dari dulu, Tar."
Gistara mengangguk, meski tak sepenuhnya setuju dengan pendapat Naka. Hidup kedepannya tidak ada yang tahu, siapa sangka nanti lama-lama Erlan akan sadar dan berubah menjadi lebih baik.
___
Hari pertama Gistara mendatangi apartemen Erlangga. Sore ini seperti permintaan Erlan. Tepat pukul lima setelah jam bubar kantor. Rasa rikuh masih mendera Tara setiap kali kakinya menginjak lantai unit yang ditinggali kekasih Erlangga.
"Tepat waktu juga kamu, Tar." Kalimat retoris Erlan yang hanya dibalas putaran bola mata Tara. Tumben kehadirannya tidak dihadang kalimat tendensi kekasihnya Erlan.
"Mendingan kamu cepetan ambil wudhu terus baca ini, Mas!" Gistara mengeluarkan buku bertuliskan Juz Amma dari dalam tas selempangnya.
"Santai, Tar, belajar tuh harus rileks, mana bisa diburu-buru."
"Kalau perlu sekalian kamu praktik salat ashar. Aku yakin banget kamu belum, atau enggak pernah salat ashar?!" Sindiran Gistara dibalas tawa kering Erlan.
Lelaki itu beranjak dari sofa, mulutnya bergumam pelan, menuruti perintah Tara mengambil wudhu.
Ruang tamu minimalis ini menyisakan Gistara. Kali ini lebih tenang karena tidak terdengar desau omelan Naima. Bagus! Begini memang harusnya suasana belajar, tidak diinterupsi oleh kecemburuan buta kekasih Erlangga.
Sendirian menunggu, membuat angan Tara terbang pada satu pemikiran. Hela napas panjangnya menguar. Otaknya sibuk merangkai kalimat yang dulu pernah dia kagumi.
Tidak pernah ditemukan pada dua insan yang saling mencintai, sesuatu yang lebih indah dari pernikahan.
Dulu ... kutipan kalimat itu adalah kata-kata yang sangat indah bagi Gistara. Perempuan mana yang tidak berbahagia ketika disunting laki-laki yang mencintainya? Puncak pembuktian cinta adalah ikatan pernikahan. Namun, semuanya kini terasa seperti fatamorgana. Pernikahan di depan mata, tapi rasa bahagia itu tidak sedikit pun terpecik di hati Tara.
"Saya grogi kalau dilihatin terus kayak gitu, Tar." Adalah protes Erlan. Entah, mendadak Erlangga jadi salah tingkah.
Embusan napas berat Tara mencuat. "Terus aku harus gimana, Mas?!" Hampir habis kesabaran. "Kalau aku enggak lihat gerak mulut kamu, aku mana tahu kamu bacanya tartil atau enggak." Walau sebenarnya sejak tadi Tara dengarkan bacaan Erlan lumayan lancar. Hanya beberapa ayat saja yang kadang terlupa atau tertukar. Selebihnya bacaan lelaki itu cukup enak didengarkan. Gistara jadi heran sendiri, padahal Erlangga memiliki bakat luar biasa soal bacaan Alquran, tapi, lelaki itu malah tidak menyadari kelebihannya. Alih-alih menjaga rasa taqwanya, Erlangga justru terperosok jauh ke dalam jurang dosa ; pacaran, berdusta pada sang ibu, lalu, entah apa lagi yang Gistara tidak tahu.
"Kamu pura-pura kan, Mas?" Semprot Tara. Matanya menyelidik ke arah Erlan.
Erlangga menghentikan bacaannya. "Maksudnya Tar?"
"Enggak bisa baca Alquran, enggak pernah salat, semuanya cuma alibi?! Bulshit semua pengakuan kamu, Mas. Kalau udah lancar, ngapain pakai minta waktu ke papaku? Minta ajarin aku segala?"
Kedua bahu Erlan terangkat bersamaan. "Ya memang, siapa bilang saya enggak bisa sama sekali?" Santai Erlan. "Saya bisa tapi banyak yang udah lupa."
Gistara gemas sendiri. Ingin sekali tas selempangnya dilempar ke atas kepala Erlangga, tapi berusaha sekuat tenaga dia tahan agar emosinya tidak membuncah.
"Kalau gitu kita sudahi sesi belajar ini. Besok kamu langsung saja menghadap ke papa, kalau kamu masih ingin meneruskan rencanamu." Gistara beranjak, baru kakinya ingin melangkah, tapi tangan Erlangga mencekal pergelangannya.
"Mau kemana kamu?"
"Pulang!"
"Saya belum izinkan kamu pergi, Gistara. Di sini dulu, dengarkan bacaan saya sampai selesai."
"Apalagi sih, Mas Erlan?"
"Duduk!"
Kalimat Erlan adalah perintah. Gistara tidak punya pilihan lain.
"Aku enggak mau lama-lama di sini, nanti yang ada pacarmu cemburu buta, nuduh aku yang enggak-enggak."
"Naima lagi keluar, selama sesi belajar dia akan menghabiskan waktunya buat shopping."
"Enggak habis pikir ya, Mas, kenapa kamu enggak mau coba jujur aja ke Tante Saras, kalau kamu itu udah punya pacar?" Pernyataan retoris, karena Tara tahu jika Erlangga dan Naima terhalang restu Tante Saras.
"It's not your business, Gistara. Kamu enggak paham, jadi lebih baik jangan ikut campur."
"Aku curiga kalau pacar kamu itu enggak baik-" sengaja Tara ingin memancing emosi Erlan.
"Tara!" Interupsi Erlan tegas. Tak acuh, Tara melanjutkan ucapannya.
"Buktinya Tante Saras pernah cerita kalau dia enggak setuju kamu berhubungan sama Naima, Tante--"
"Gistara Swasti Padmaja! Diam saya bilang!"
"Mulut punya aku, kenapa jadi kamu yang rempong nyuruh diam?!" Tantang Tara tak mau kalah. Mendengar spoiler Erlan tentang Naima yang sedang asyik shopping timbul rasa geregetan sendiri. Ternyata mutlak benar ucapan Tante Saras tentang Naima.
Tanpa aba-aba, tangan Erlan mendarat di bibir Tara, membekapnya erat disertai tatapan tak suka mendengar kekasihnya dinilai minus. "Shut up!"
"Mmmbh... le-pas, Mas Erlan!" Berontak Tara. "Aku enggak bisa napas, kamu mau bunuh aku, ya?" Sumpah, daripada kesal, saat ini Gistara merasa sangat grogi berada di jarak sedekat ini dengan Erlangga. Aroma kayu bercampur musk dan bargamot menyeruak terhidu Gistara, sialnya, irama jantungnya dag-dig-dug tanpa dikomando.
Sepersekian detik ditatap Erlangga lekat dan sangat dekat membuat Tara mati gaya. Saat kesadaran memanggil pulang, tangan Tara refleks mendorong keras dada Erlangga.
"Apaan sih! Jauh-jauh kamu, Mas!" Sentaknya seraya menegakkan duduk.
Dehaman Erlan. Sepertinya lelaki itu sama salah tingkahnya seperti Gistara.
___
27/04/2025
1300
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top