#11
ripgianti dapet voucher 5k.
mamakgalak, puan_rahmat, ciVelan22, Adensyalala, tobelimilkshake dapet voucher 2,5k.
Komen yang banyak lagi yaak. ❤️
#11
Setiap kali ke Plataran Hutan Kota, ingatan Jeffrey seperti tersegarkan kembali pada hari H pernikahan Richard—pamannya—dengan Feronia, delapan tahun silam.
Setiap detail masih terasa jelas dalam ingatan. Bukan hanya visual—dekorasi serba merah dan hijau dari bunga mawar merah segar—dia bahkan masih ingat excitement yang dia rasakan.
The day he had been waiting for quite a while.
Hari itu, Jeffrey paham mengapa Richard—pria paling bucin sedunia—sabar menunggu calon istrinya selama lebih dari dua dekade.
She's got the best genes.
Kalau Feronia sudah terlihat sempurna di foto-foto dan videonya yang bisa ditemukan di mana saja, maka setelah melihat sosoknya langsung dengan mata kepala sendiri, Jeffrey perlu mengkaji ulang makna sempurna di kamusnya. Karena Feronia di televisi atau di internet tidak ada apa-apanya dengan aslinya.
Terserah Richard beralasan bahwa wanita itu punya kepribadian baik blablabla. Dengan rupa demikian cantiknya, walaupun kepribadiannya agak buruk, seandainya jadi Richard, Jeffrey mungkin tidak akan memprotes. Nobody's perfect, no?
Tapi, jelas bukan Feronia yang menjadi alasan bagi Jeffrey untuk menanti-nantikan momen pernikahan tersebut. But her daughter.
~
Sebelum hari pernikahan itu, Jeffrey sudah sempat bertemu dengan Revanda. Dua kali.
Kali pertama, pada tahun pertamanya menempuh magister di Columbia.
Malam itu ada teman sesama mahasiswa Indonesia yang ulang tahun. Jeffrey diundang makan malam di Jean-Georges. Dia datang paling akhir, karena berangkat langsung dari bandara setelah mengunjungi paman dan bibinya di Seattle, sedangkan hujan membuat jalanan agak lebih macet dibanding biasanya.
Christian dan Andrew sudah tiba lebih dulu.
Hanya tersisa satu kursi di ujung meja, di seberang Christian. Jeffrey pun berjalan ke sana.
And that's how he saw her for the first time.
She found a seat in the nook. Alone. With the downpour of New York City outside the window at her back.
Jeffrey tidak pernah sebegitunya terpana melihat gadis tak dikenal di tempat umum. Tapi malam itu dia mengakui, he fell for her at the first sight.
Selama ini, semua lirik lagu romantis soal cinta pada pandangan pertama, terdengar terlalu cheesy dan omong kosong. Sampai kemudian dia mengalaminya sendiri.
What he saw that night was perfect—even though all the girl did was look down at her plate and eat without making eye contact with anyone else.
"Move aside, you're blocking my view of the gorgeous scenery behind you."
Jeffrey bahkan masih mengingat ocehan tidak penting Christian malam itu.
Tentu saja Jeffrey nggak bakalan mau minggir. Malah dia mengajak Christian bersaing terang-terangan dengan sengaja menghalangi pandangan temannya.
Sampai larut malam, hujan tak kunjung reda.
Rombongannya baru akan pulang saat waiter mendatangi meja mereka dan mengumumkan bahwa restoran akan tutup.
She is still there too.
Mereka keluar hampir bersamaan. Sebagian teman-teman Jeffrey langsung ke pinggir jalan untuk mencegat taksi. Sebagian lagi, yang tidak membawa payung, berteduh di depan pertokoan lebih dulu.
She didn't bring any umbrellas.
Sebelum Christian atau yang lain maju, Jeffrey sigap menawarkan payungnya lebih dulu.
Gadis itu menolak dengan halus. And he swore to God, he never heard an angelic voice like that before.
"At least let me share my umbrella until you get a cab." Jeffrey tidak putus asa.
Tidak enak menolak dua kali, gadis itu akhirnya mengangguk.
Selama sepuluh menit, Jeffrey berdiri bersisian dengannya di pinggir jalan. Diikuti tatapan mencemooh dari Christian dan yang lain-lain.
Sepuluh menit berselang, Jeffrey melepasnya dengan anggukan dan senyum puas terulas.
If they were meant to be, they would meet again later.
Dan Jeffrey sama sekali tidak menyesal tidak sempat tahu nama, apalagi nomor ponselnya.
~
By their second encounter, Jeffrey knew she is the one.
Kali itu—hanya beberapa bulan berselang setelah pertemuan di Jean-Georges—Richard datang ke New York.
He said he came to meet his daughter.
Jeffrey hanya memutar bola mata mendengar Richard mengaku-aku sudah punya anak perempuan, padahal belum pernah menikah.
"Wait—your future wife, she has a child? You never said she's a divorcee." Mata Jeffrey membola memikirkan hal itu.
Mulanya, Richard tampak tidak berniat untuk menjelaskan.
Yeah, jalan bagi Richard untuk mempersunting Feronia tidak mudah. Wajar jika dia masa bodo dengan orang luar. Tidak mau terbuka bercerita, juga tidak mau banyak mendengar pendapat orang.
Jeffrey sedikit tahu dari Aghnia—bibinya yang di Seattle—bahwa Richard dan Feronia pernah pacaran di usia muda. Mungkin Feronia masih berusia belasan waktu itu.
His family disapproved.
Feronia adalah aktris muda yang lagi naik daun. Setiap detail kehidupannya jadi konsumsi publik. Orang tua Richard tidak suka.
Mereka lalu berpisah. Dan Feronia sempat hiatus dari dunia televisi.
Seluruh keluarga tahunya Richard dan Feronia bertemu lagi beberapa tahun belakangan, setelah kedua orang tua Richard yang dulu menentang hubungan mereka telah berpulang. Tapi belakangan Jeffrey tahu, mereka tidak pernah benar-benar berpisah. To no one else's knowledge, Richard spent his entire life devoted to one woman, never leaving her side.
"She is." Richard kemudian memberi informasi sepotong, dan Jeffrey tidak berniat memaksa. "She had her at the age of 18. Never married to the dad."
Menekan rasa ingin tahunya, Jeffrey kemudian mengantar Richard ke sebuah coffee shop di Tribeca, Manhattan, tempat janjian temu itu berada.
Surprise, it's her.
Sayangnya, tahu diri bahwa itu adalah momennya Richard, kali itu Jeffrey hanya bisa melihat dari jauh.
But sure he wouldn't waste the third chance—Richard's wedding.
~
Jeffrey menanti-nantikan hari itu tiba seperti orang gila.
Jika biasanya dia tidak terlalu excited pulang ke Jakarta, waktu itu dia mungkin tampak lebih bahagia dibanding calon mempelai pria.
Sore hari menjelang petang, di Plataran Hutan Kota yang seluruh areanya disewa sehari penuh untuk privasi, Jeffrey mengenakan setelan terbaik yang dia miliki.
Sebelum acara dimulai, tidak menemukan Revanda di venue, dia memutuskan berkeliling area Plataran yang tidak sempit.
And she's there. The most beautiful woman on earth, dressed in mauve satin. Take a seat in the garden alone. Surrounded by greenery, a bubbling fountain, and dim lighting that feels magical.
Tanpa banyak berpikir, setelah memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya, Jeffrey berjalan menghampiri.
"Guess you don't want to miss the ceremony," katanya ramah, berhenti tak jauh di sisi tempat duduk si gadis.
Suaranya, walau tidak keras, nyatanya tetap mengejutkan Anda. Gadis itu sempat tergeragap selama beberapa saat, sebelum kemudian mengulas senyum ala beauty pageant. "Oh, is it about to start? Maaf, aku kelamaan bengong. Jarang-jarang lihat yang ijo-ijo di Jakarta."
Anda berdiri sambil merapikan dress-nya. Menatap Jeffrey sekilas, seolah Jeffrey tidak perlu ditatap lama-lama.
Yeah, it slaps his face a bit. Mendadak disadarkan bahwa dia tidak se-eligible itu. Working in the Hollywood entertainment industry, she must have met many fine and attractive men. Dan Jeffrey tidak ada apa-apanya, walau selama ini dia sudah cukup percaya diri karena terkenal paling ganteng setongkrongan—don't mention Christian, okay?
"I am the bride's sister, by the way." Anda memperkenalkan diri ketika mereka berdua berjalan masuk ke rumah kaca bersisian.
So sad, she doesn't remember him and their meet-cute at the Jean-Georges.
Jeffrey pun mengangguk, balas memperkenalkan diri.
"I'm the groom's nephew."
Dia memutuskan untuk play along, meski telah mengetahui semuanya.
Bahwa gadis di depannya itu bukan adik, melainkan putri kandung yang selama sembilan belas tahun disembunyikan oleh calon mempelai wanita dari khalayak.
She'd rather not be pitied, Jeffrey pun mengabulkannya.
~
Ofc, Jeffrey tidak berharap Anda selanjutnya bisa didekati dengan mudah.
Setelah pertemuan di pesta pernikahan di Jakarta, mereka sempat dua kali membuat janji bertemu untuk makan siang bersama di New York.
Each time they agreed to meet, she never came alone but asked his permission to bring a friend.
Yang pertama, dia datang dengan Adnan.
Yang kedua, dia datang dengan ... Gera Ardhinata Soekarno Muda. None other than his own cousin.
Jeffrey hanya bisa tertawa dalam hati.
Dunia ini sangat lucu.
Jauh-jauh dia bertemu seorang gadis di New York, tidak lain tidak bukan adalah teman satu SMA sepupunya ketika bersekolah di Indonesia.
Teman. Yeah, he doesn't buy that.
Nggak ada teman yang menatap dengan cara Gera menatap Anda. There was something more than platonic about his gaze, despite its subtlety.
Lately, he knows they're in an on-and-off relationship.
Tapi Gera tidak penting. He's no more than a high school ex-boyfriend. Ada sosok lain yang justru mengganggu Jeffrey.
"The uncle ...." Jeffrey menekan lidahnya. Sekali lagi menimbang-nimbang apakah yang ada di pikirannya sungguh perlu untuk diucapkan atau tidak, berhubung suasana sedang genting, dan tidak seharusnya dia salah fokus ke hal-hal aneh.
Kali itu, setahun berselang setelah pernikahan Richard dan Feronia; Revanda, Gera, dan Adnan yang baru saja kembali dari Indonesia mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan dari airport menuju condo mereka di Tribeca.
Jeffrey adalah orang pertama yang tiba di rumah sakit.
The three of them were badly injured. Bahkan seingatnya Gera sempat koma cukup lama.
"I sense something off about him." Jeffrey akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada Richard.
Yang dia maksud adalah adik angkat Feronia.
Let's not mention his name since he's not here anymore.
Pria itu seumuran dengan Revanda. Dia menjadi orang kedua yang tiba di rumah sakit, setelah Jeffrey. Langsung terbang dari Indonesia begitu mendengar kabar kecelakaan terjadi.
But he doesn't act like an uncle. Or a brother.
He seems more like ... a man on the verge of insanity because he is afraid of losing his lover.
"Leave him be. Life has been tough already." Richard menolak mengatakan apa pun.
Typical Richard.
Tapi Jeffrey masih menyipitkan mata pada pria setengah gila yang duduk tidak jauh dari tempat Richard dan dirinya duduk itu. Kepalanya dipenuhi banyak tanda tanya.
"He's married, right?" tanyanya, terlalu kepo.
Richard mengangguk lemah.
Selanjutnya, Om Ardhinata—ayah Gera—tiba dan mengambil alih perhatian Richard.
End of the discussion.
~
Just a month after the accident, Jeffrey tiba-tiba mendapat telepon dari Richard.
Pamannya itu belum lama pulang ke Indonesia, mungkin sedang riweuh dengan kelahiran putra pertamanya.
Sepersekian detik Jeffrey menerka telepon ini dalam rangka apa. Tapi begitu ponselnya menyentuh telinga, orang di seberang sudah menjawab pertanyaan dalam benaknya itu tanpa basa-basi.
"Jeff, I need a favor." Suara pamannya terdengar bergetar. He's so serious.
"Spit it out." Jeffrey menjawab tanpa basa-basi pula.
"Anda kemarin balik ke sini. To the uncle's funeral."
Satu fakta itu sudah mengejutkan Jeffrey.
The uncle passed away?
Tapi fakta lain lebih menyita perhatiannya. But didn't she just get out of the hospital? Bagaimana dengan kondisi kesehatan yang belum pulih, dia bisa terbang ke Indonesia? Bahkan Gera saja belum keluar dari rumah sakit.
Tapi ternyata, penjelasan Richard berikutnya jauh membuat Jeffrey tercengang.
"Tapi sekarang anaknya nggak ada. Dia pergi nggak pamit. Orang terakhir yang dia temui, the uncle's wife, but we can't reach her either." Kalimat-kalimat Richard terdengar terlalu cepat. "Kalau Anda pulang ke NYC, terhitung sejak waktu dia ngilang, harusnya tadi siang udah sampai condo. Tapi sampai malem ini belum ada. We can't track her down. She left her phone and her Amex here."
Rahang Jeffrey mengeras. Mendadak sadar sudah cukup lama dia tidak menjadi saksi drama kehidupan. "What should I do?"
"Ada beberapa tempat yang mungkin dia datengin. I'll text you the details. Tolong lo cari dia ke tempat-tempat itu. Gue masih delay di Doha. Nyampe sana paling cepet in fifteen hours."
And that is his call to make a serious move.
Malam itu juga, Jeffrey dengan bantuan semua kenalannya, mencari Revanda keliling Manhattan. Bahkan keliling New York. Semalam suntuk.
Tidak satu pun ruas jalan maupun gang-gang kecil yang mereka lewatkan. Tapi Anda tidak ada.
Sampai Richard tiba, masih belum ada kemajuan.
Laporan orang hilang juga tidak membuahkan hasil hingga kurun waktu sangat lama.
She had gone missing for two months before finally showing up at her condo again.
Tapi bahkan setelah pulang pun, dia tidak mau ditemui oleh siapa pun, termasuk Richard yang sudah susah payah melewatkan kelahiran serta minggu-minggu pertama putranya sendiri demi mencari dirinya.
"May I ask one last favor?" Jeffrey belum pernah melihat Richard tampak seputus asa itu sebelumnya. "Agak nggak tahu diri sih ini."
"Apa?" Jeffrey tidak mungkin menolak.
"She won't let me or her mother see her for quite a while. Can you look at her every now and then? I'll put guards around her, but it will make me feel at ease to know a family is watching her."
Jeffrey mendesah.
Jujur saja, dia juga agak frustasi karena dua bulan belakangan dibiarkan tidak tahu apa-apa selain fakta bahwa Anda pergi dari Indonesia tanpa pamit.
"But don't you think I deserve to know what happened in Malang? Kenapa gue denger Zane juga sampai masuk rumah sakit?"
"It's a terrible accident." Richard menjawab pilu. "Di Bromo. And yes, your brother was there too. Dia lagi liburan. And then, the accident happened just like that."
Tidak tega, Jeffrey menahan diri untuk tidak bertanya-tanya lagi. Segera mendorong pamannya itu untuk pulang ke Indonesia dan berjanji untuk mewujudkan permohonan terakhirnya.
Malah, alih-alih hanya mengawasi dari jauh, setiap hari Jeffrey menyempatkan diri mendatangi condo tempat Anda mengurung diri. Menunggu di depan kamarnya. Sambil sesekali mengancam akan mendobrak pintu.
Ketika akhirnya Jeffrey berhasil membuat pintu kamar itu terbuka, kondisi Anda sudah ada di titik yang membuat Jeffrey tidak mungkin berpaling.
He believes it's not just because someone died. She must have been through a lot more than that until it became unbearable.
That's how he promised to God, he will protect her at all cost.
~
"Langsung balik?" Richard Abram bertanya ketika Jeffrey berpapasan dengannya untuk turun menggunakan elevator yang sama, malam ini, pada hari pertama Jeffrey masuk kantor.
Masuk kantor, huh? His first day at work basically did nothing but meet people.
Para eksekutif, para mentor—yang merupakan gabungan dari tim internal dan eksternal—yang akan membimbingnya selama persiapan suksesi dua belas bulan ke depan, juga para kolega yang akan bekerja dengannya.
"This can't even be called work." Belum lama tadi, Richard sempat menghina—bercanda, of course—setelah menyelamatkan Jeffrey dari ajakan makan malam orang-orang, setelah tadi siang sudah sempat makan bersama di Plataran Hutan Kota. Jeffrey loves his duality tho. "Instead of being paid, you actually have to pay tuition fees for what I will give you for the next two semesters."
"Yes, Sir." Tadi, Jeffrey hanya menangkupkan kedua tangan di depan dahi dan menunduk dengan hormat.
Sekarang, dia melakukan gestur yang sama untuk menjawab pertanyaan yang barusan diajukan padanya.
"My darling is waiting," jawabnya, sengaja memilih jawaban yang cheesy.
Kontan Richard menyodok rusuknya, mendengus pelan. "How is she?"
"Great. Lagi ada Oma di rumah."
Sekali lagi Richard mendengus pelan. "I'm jealous that my daughter wants to meet her instead of me."
Hubungannya dengan Anda sudah jauh lebih baik, walau belum pernah ketemu. She is willing to answer his texts or calls sometimes.
"Ngomongin engagement?" Richard bertanya.
"Yep." Jeffrey mengangguk.
"Udah ada rencana tanggalnya?"
"Next three months."
Richard manggut-manggut. "Thank you for taking care of her and loving her more than Feronia or I could."
~
Sekian kilometer dari tower Abram Holdings, Ibel masih berkutat dengan email untuk memastikan tak ada satupun yang terlewat dia periksa hari ini, ketika sebuah notifikasi pesan muncul di pojok kanan bawah layar PC-nya.
Membaca nama pengirimnya, Ibel langsung membuka pesan itu tanpa berpikir.
R
Balik kantor jam berapa?
Mau kujemput?
Seketika wanita itu mengernyitkan dahi.
Roger Abram jelas tidak pernah turun tangan datang menjemput sendiri ke kantornya.
Paling banter, om-om itu akan meminta Yasa—salah satu sopirnya—untuk pergi menjemput Ibel.
Bukannya Roger tidak mau. Justru Ibel yang akan khawatir kalau sampai Roger bersikeras melakukannya.
Kayak nggak tahu seberapa canggih mata-mata netizen aja!
Gemas, Ibel membalas cepat.
Ibel
Sebentar lagi
Nggak mau ketemu di rumah aja?
Bad day?
You need me ASAP?
R
Quite the contrary
Just wanna see you ASAP
I can wear a mask and an ugly hoodie, u know?
Idih.
Ibel memutar bola mata.
Percuma pakai hoodie jelek kalau Bapak ke sininya pakai mobil limited edition yang cuma ada tiga unit di Indonesia!
Ibel mau ngomel, tapi kontras dengan senyum yang tidak kunjung hilang dari wajahnya.
Belum sempat dia membalas, pintu ruangannya sudah lebih dulu terketuk, menyita perhatian.
"Lembur sampai jam berapa?" Salah seorang rekan kerjanya melongokkan kepala di pintu.
Ibel mesem. "Udah selesai. Bentar lagi balik."
"Dinner? Anak-anak yang ngajakin. Enrique bilang, kangen cewek yang mencampakkan dia pas kelas empat SD."
Ah. Ibel memasang wajah masam yang dibuat-buat. "Tolong suruh dia introspeksi diri, okay? Kalau dia nggak selingkuh, mungkin aku sama dia nggak perlu putus setelah dua minggu jadian. Dan mungkin kita udah married, plus punya anak TK sekarang."
Mendengarnya, tawa rekannya itu pecah.
Selama beberapa saat, keduanya berbagi tawa. Lalu lamat-lamat surut.
"Kalau Aryton kangen cewek yang mencampakkan dia tujuh tahun lalu, Bel?" Si rekan mulai lagi, membuat Ibel menghela napas panjang seraya menutupi rasa tidak nyaman dengan ekspresi masam dibuat-buat, seperti sebelumnya.
"Bilangin ke Aryton, jangan ngaco. Ibel nggak sudi ketemu dia setelah dia terang-terangan nyolong klien Ibel."
Sang rekan tertawa mendengarnya. "Isn't that more aligned with the principles of fair competition?"
"Fair competition, his ass." Ibel mengumpat dengan nada dan wajah datar, membuat tawa sang rekan pecah.
Tapi sebagai sesama orang dewasa yang pikirannya masih jalan, rekannya itu tahu kapan harus undur diri.
"Okay, copied." Pria itu lantas mengangkat tangan untuk pamit. "But don't skip dinner. Polysilane nggak akan bangkrut gara-gara berkurang satu pelanggan tetap."
Ibel tidak mengindahkan lagi, segera kembali ke WhatsApp Web dan mengetik balasan untuk Yang Terhormat Baginda Roger Abram.
... to be continued
Siapa nama rekan kerjanya ibel, wkwkwkwk???
Eniwey, tadi tu reveal layer pertama konfliknya Anda yaah. Kalo bagi kalian, 'halah, gitu doang depresi!' Ya sabar boend, hehe. Ntar ada layer-layer selanjutnya.
'Emang dasar cewe menye-menye!'
Kalo ini, bener sih, xixixi. Emang eke sengaja bikin Anda menye-menye. Why not?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top