Chapter 22
Jangan bersikap gegabah, Alsou!
Berhenti memanggilku Daddy, aku ... merindukanmu. Ini bukan suatu masalah besar karena yang terpenting sekarang aku bisa melihatmu.
Untuk kesekian kali, Alsou teringat dengan ucapan Zac dan bagaimana pelukan pemuda itu. Dia masih belum berubah dengan sifat pemalunya, tetapi hari ini rasa rindu telah membuat Zac memeluk Alsou dengan begitu erat sebagai manusia. Akan tetapi, satu hal yang telah membuat Alsou terhenyuk ketika melihat satu hal yang kurang di tangan pemuda tersebut—Zac telah kehilangan jari telunjuk di tangan kiri.
Saat itu gumpalan kemarahan menyesakkan dirinya.
Alsou duduk diam di samping Tendo. Gumpalan amarah masih tersimpan di dalam dadanya akibat perbuatan pria itu yang telah melukai Zac. Ia melanggar perjanjian, lebih tepatnya telah menipu Alsou dengan mengatakan bahwa Zac baik-baik saja.
Dia benar-benar licik. Alsou kembali mengeluarkan serbuk biru berwarna samar, membentuk sebuah belati untuk membunuh Tendo. Yeah, dia harus membunuh pria di sampingnya ini, terlebih lagi setelah Alsou mengetahui segalanya tentang Tendo dari Rika dan Audrey saat mereka berada di rumah sakit.
Aku telah melanggar perjanjian dengan menemui Zac, tetapi pelanggaran ini telah membuatku tahu bahwa kau telah menipuku. Aku mengetahui segalanya dan umurmu tidak akan lama lagi.
"Apa kau ingin membagi kekuatanmu padaku? Aku lihat kau membuang banyak sihir di dalam mobil ini." Tendo melirik ke arah Alsou dan dengan sigap gadis itu menghilangkan sihirnya. Tidak ingin jika Tendo mengetahui kemarahan serta niatnya saat ini.
Audrey yang sedang mengemudikan mobil hanya diam saja, fokus pada setir mobil. Ia menyerah dengan sikap Alsou yang lagi-lagi diluar dugaannya ketika melihat keadaan Zac di rumah sakit. Meskipun hanya sebentar, tetapi melihat kedua anak muda tersebut berpelukan membuat siapa pun paham bahwa mereka saling merindukan dan ingin saling melindungi.
Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Alsou, batin Audrey.
"Apa yang kau lakukan pada gadis itu dan siapa dia? Mengapa kau susah sekali menjelaskan padaku mengenai dirinya?" tanya Alsou. Kali ini ia harus mendengarnya sendiri dari mulut Tendo, seseorang yang telah membuat Aiko seperti sekarang.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang?" Tendo terlihat enggan untuk membahas mengenai Aiko.
"Dia sangat mirip denganku." Alsou menatap Tendo, berusaha mengintimidasi pria itu dengan tatapannya.
Tidak ada jawaban dari Tendo. Namum, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi bergerak liar membuat.
"Audrey! Apa yang kau lakukan?!" bentak Tendo, sadar bahwa Audrey mengerang sakit hingga membuat mobil yang ia kendarai separuh menyentuh bibir jurang.
Melihat Tendo yang kehilangan fokus akibat perbuatan Audrey, dengan sigap Alsou merubah posisi dirinya dengan duduk di pangkuan Tendo dan mengeluarkan serbuk biru di tangannya.
"Bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal, Tendo san." Alsou mengarahkan serbuk biru berbentuk belati ke jantung Tendo.
Bugh.
Tendo mengubah wujud beberapa detik sebelum Alsou menancapkan belati di jantungnya. Sigap dengan tubuh kucingnya Tendo berlari ke luar mobil, baginya bertempur di ruang sempit bukan hal yang baik.
"Bitch," bisiknya, sadar bahwa ada luka kecil di bahunya akibat belati milik Alsou. "Dia berani mencoba untuk membunuhku." Segera Tendo kembali mengubah wujudnya menjadi manusia lalu menatap tajam ke arah Alsou yang kini berdiri di hadapannya, sedangkan Audrey tak sadarkan diri di dalam mobil akibat benturan keras ketika mobil akhirnya jatuh ke jurang, akibat perkelahian kecil.
Alsou mengubah wujudnya menjadi seekor kucing, kali ini ukurannya lebih besar dari ukuran kucing normal. Serbuk biru menyelimuti seluruh tubuhnya, ia mengeong geram menatap Tendo.
Sambil berlari, ia mengeluarkan serbuk biru di tubuhnya, ekor kucingnya membelah menjadi dua menandakan bahwa Alsou memang merupakan seorang Nekomata. Melompat, Alsou mengubah wujud menjadi manusia mengarahkan belati biru ke jantung Tendo. Namun, dengan sigap Tendo menahannya dengan serbuk cokelat miliknya.
"Kucing liar, kau akan menyesal karena telah mencoba untuk membunuhku." Tendo terkekeh menatap Alsou. "Aku tahu apa yang kau lakukan pada saudara kembarmu yang lemah itu."
Bugh.
Dengan keras Tendo menghantamkan tangannya ke perut Alsou, sebuah pukulan keras berisi sihir yang berhasil membuat gadis itu terlempar cukup jauh. Pakaian Alsou sedikit hangus akibat sihir Tendo, ia meringis sakit. Sesaat gadis itu teringat dengan perkataan Audrey.
Gunakan otakmu jangan terlalu banyak menggunakan sihir.
Alsou segera bangkit, kembali berusaha berdiri tegap di hadapan Tendo yang bergerak lambat untuk mendekat. Satu hal yang ia sadari bahwa dia tidak pandai bertarung dan lawannya adalah makhluk yang cukup sulit dikalahkan, terlebih lagi karena Tendo memiliki kartu kehidupan Aiko, saudaranya. Membunuhnya maka sama saja dengan membunuh Aiko.
Prang.
Kembali Alsou terlempar menghantam kaca mobil, beberapa tetes darah mulai terlihat di wajahnya seakan mendapatkan serangan dari dalam.
"Aiko dalam bahaya jika aku membunuh Tendo. Aku harus mengulur waktu hingga Audrey terbangun, tetapi ...." Alsou kembali mengerang ketika Tendo mencengkram lehernya.
Kaki Alsou bergerak liar, berusaha melepaskan diri dari cengkaraman Tendo yang telah membuatnya susah bernapas. Tangan Alsou menggenggam tangan pria itu, memaksa untuk membuat Tendo membuka cengkramannya.
"Kau tidak ingin menggunakan sihirmu, Sayang? Atau kau mulai ragu untuk membunuhku, sepertinya kau telah mengenali siapa diriku." Tendo mengeluarkan gumpalan asap berwarna cokelat keemasan di tangan kirinya, bersiap untuk mengarahkan sihirnya ke arah Alsou.
Gadis itu terpejam, serbuk biru kembali mengelilingi tubuhnya. Dalam hati, Alsou membenarkan perkataan Tendo bahwa ia mulai ragu untuk membunuh pria yang sekarang akan membunuhnya. Alsou tidak ingin melukai atau bahkan membunuh saudara kembarnya ketika membunuh Tendo.
Blash.
Serbuk biru milik Alsou menyelimuti tubuhnya dan membuat Tendo terlempar, melepas cengkaraman di lehernya. Sihir milik pria itu meleset menghantam sebuh tebing dan berhasil membuat sisi terluar tebing berguguran. Alsou bergidik, sadar bahwa Tendo memang akan membunuhnya.
"Perisai, ya?" Tendo mengusap darah dari sudut bibirnya. "Gadis pintar dengan tidak memberikan sihir perisainya padaku."
"Kau salah menilaiku sebagai gadis penurut, Tendo san. Hari ini dewa kematian sedang bersamamu karena kau telah melukai banyak orang terdekatku." Alsou mengeluarkan serbuk birunya membentuk sebuah katana. Pelatihan singkat untuk bertempur dengan katana akan ia terapkan kali ini.
Tendo tertawa keras, seakan mengejek Alsou. "Baiklah, kita buat ini semakin serius dan kau harus ingat konsekuensinya jika kau berhasil membunuhku. Saudara kembarmu ... akan mati, ikut bersamaku." Tendo turut mengeluarkan asap cokelatnya, membentuk sebuah katana dan dengan sigap ia melakukan penyerangan.
Alsou mengarahkan katananya dan refleks dia terpejam, takut jika katana Tendo mengenainya. Namun, ia berhasil mengahalau dengan menghantamkan katana miliknya.
Audrey, cepatlah. Aku telah melawan rencana dengan menggunakan banyak sihirku.
"Kau tampak ketakutan. Setelah ini aku akan membunuh pemuda itu dan kekasihmu." Tendo kembali mengarahkan katananya ke sisi lain mencoba untuk kembali melukai Alsou.
Bagi Tendo, membunuh satu nyawa di hadapannya tidak menjadi masalah besar karena ia telah mengetahui kebohongan gadis itu dari awal. Terkadang ia tertawa ketika mengingat gadis itu melukai dirinya sendiri untuk melindungi Iwayana, sekadar untuk menipu Tendo.
Trang.
Suara katana terdengar terus menerus dan Alsou tampak tidak melakukan perlawanan, ia hanya bergerak untuk menahan serangan Tendo karena berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak menyesal jika keputusan tersebut pada akhirnya akan ia lakukan.
Alsou melompat mundur, menjauh dari posisi Tendo. Napasnya terengah-engah, bulir keringat tampak membanjiri tubuhnya. Ia memusatkan pikiran pada katananya memberikan kekuatan sihir terpusat pada katana tersebut lalu sambil berlari, ia memutar katana memusatkan kekuatan pada lengan dan kaki, mencoba untuk melakukan penyerangan.
Bruk.
Alsou terlempar ketika mendapat sebuah dorongan keras dari punggungnya. Sihirnya seketika lenyap dan membuat pandangan kabur.
"Kau...," bisik Alsou
"Sudah cukup."
Sebuah serangan sihir menghantam keras ke arah Alsou dan membuatnya mengerang kesakitan hingga sebuah darah menyeruak keluar dari mulutnya.
"Anak pintar," ucap Tendo, sambil tersenyum ke arah seseorang yang telah membuat Alsou tergelatak tak sadarkan diri. "Bunuh dia, Audrey. Kau milikku, bukan?" Tendo menyeringai setelah melihat pemuda yang telah membuat Alsou lemah tidak berdaya.
"Baik, Tendo san." Audrey mengelurkan asap putih di tangan kananya, membentuk sebuah belati dan bersiap untuk membunuh Alsou.
"I'm sorry," bisik Audrey.
_______________
Bingung bikin adegan kelahi -_- apalagi pake sihir hedeh
Semoga masih tetap menghibur. Karena yang manis-manis itu tidak akan bersifat selamya, ya kan?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top