Chapter 20

Alsou berjalan di belakang Tendo, mengikuti pria itu menuju sebuah lorong yang menghubungkan ruang bawah tanah. Sangat lembab dan minim pencahayaan, sekitar satu meter terdapat sebuah ruangan dengan jeruji besi atau ruangan dengan pintu tertutup tanpa jendela.

"Selama kau bersikap baik, maka kau tidak akan berakhir di sini." Tendo tetap melanjutkan langkahnya, berjalan begitu angkuh karena makhluk yang ia inginkan dengan begitu mudah datang dan menyerahkan dirinya hanya demi seorang manusia.

"Aku akan melakukan apa pun selama kau melepaskan Zac dan tidak mengganggu keluarganya," bisik Alsou yang masih terdengar jelas di telinga Tendo.

Ia melirik ke arah para tawanan yang berada di balik sel penjara. Mereka sama seperti dirinya dan Audrey, seorang Nekomata, serta di antara dari mereka ada yang terlihat kehilangan beberapa organ tubuhnya. Seketika Alsou ketakutan jika hal itu juga terjadi pada Zac, mengingat bahwa sebelumnya Tendo sempat melempar sebuah jari tangan kepada Audrey.

Kriet.

Pintu sel terbuka, memperlihatkan sosok pemuda yang tampak kotor dan tidak terurus. Alsou mengenali dengan baik pemuda itu dan langsung berlari masuk ke dalam sel untuk memeluknya.

"Zac ... I'm coming," bisiknya tepat di telinga Zac, ia berusaha menahan tangisnya.

Alsou begitu merindukan Zac, pemuda yang telah melindungi dan merawatnya selama ini. Sosok yang telah memberikan limpahan kasih sayang setelah Iwayana mengambil ingatan, sihir, dan mengubahnya menjadi seekor kucing.

"Gomenasai Zac—" Alsou menghentikan ucapannya, ketika Zac membalas pelukannya dengan tangan yang bergetar.

"Alsou ... kau melihatku seperti ini? Kau datang? Aku ...." Pemuda itu mempererat pelukannya. Tubuh mereka bergetar, saling berusaha menahan tangis karena saling merindukan. "Kau terluka ...."

Alsou mengangguk di dalam pelukan Zac dan berbisik, "Aku akan menyembuhkan tubuh kita berdua. Tetaplah di sini." Serbuk biru muncul mengelilingi tubuh mereka berdua. Namun, dengan sigap Tendo menarik tubuh Alsou dengan kasar.

Teng teng teng!

Zac tersentak ketika mendengar suara pukulan besi. Kembali ia tertawa kecil, teringat dengan apa yang dia lihat sebelumnya. Zac merasa gila karena telah berulang kali berkhayal bahwa Alsou berada di sini dan memeluknya.

Pemuda itu sangat merindukan Alsou hingga membuatnya berkali-kali bermimpi dan berhalusinasi.

"Semoga kita bisa bertemu sebelum aku mati membusuk di tempat ini, Alsou. Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, setidaknya setelah kejadian yang membuat kita terpisah ... aku memahaminya." Zac mengusap sedikit cairan bening di sudut matanya.

"Aku merindukanmu dan selalu berharap kau akan baik-baik saja, meskipun hingga saat ini aku tidak tahu kau di mana."

Audrey berdiri di depan jeruji besi tempat Zac berada, tangan kanannya membawa sepasang pakaian baru untuk Zac. Terlihat lusuh, tetapi sangat bersih jika dibandingkan dengan pakaian yang dikenakan pemuda itu. "Pakai baju ini, kita akan segera pergi." Audrey melempar baju itu di depan Zac lalu kembali menutup jeruji.

Pergi dari sini? Apakah Alsou berada di sini? pikir Zac. "David! Apa Alsou—"

"Berhenti memanggilku dengan nama itu. Panggil aku Audrey dan cepat ganti pakaianmu sebelum tuanku berubah pikiran."

***

Gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar, terdapat beberapa foto seorang gadis yang mirip dengannya. Ia mengernyit, mencoba berpikir siapa gadis yang ada di dalam bingkai foto tersebut.

Tidak ada waktu untuk berpikir hal demikian yang terpenting sekarang adalah tentang keselamatan Zac.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar dan tampak sesosok wanita paruh baya membawakan pakaian ganti serta beberapa aksesoris rambut di tangannya. Ia tersenyum menatap Alsou. "Permisi, Nona, saya Fukushima dan ini dari Tendo san untuk anda."

Fukushima masuk ke dalam ruangan Alsou dan membantu gadis itu untuk mengenakan pakaian baru, serta menggulung rambut lalu menyematkan aksesoris berbentuk bunga sakura.

Tidak ada perbincangan di antara mereka karena Alsou memutuskan untuk diam, walaupun ia penasaran dengan sosok gadis yang ada di dalam bingkai tersebut.

Zac sudah pergi dari sini, pria itu menepati kesepakatan dengan baik.

Alsou melirik ke arah jendela dan melihat puncak gerbang rumah Tendo terbuka, menampakkan asap berwarna putih yang samar oleh butiran salju. Dalam diam, ia merasa sedih karena tidak dapat melihat kondisi Zac, tetapi inilah yang telah menjadi kesepakatan antara dirinya dan Tendo. Membiarkan Zac pergi dari sini tanpa bertemu dengan Alsou terlebih dahulu.

Gadis itu hampir meneteskan air matanya.

"Sudah selesai, Alsou san. Sebentar lagi Tendo san akan menemui anda." Fukushima tersenyum, memperlihatkan garis-garis di kulit wajah yang menandakan bahwa umurnya sudah tidak muda lagi.

"Terima kasih," jawab Alsou, tanpa menoleh dan hanya melihat bayangan Fukushima di dalam cermin. "Err ... bisa kau sebutkan siapa gadis yang ada di dalam foto itu?" Akhirnya Alsou bersuara, tidak dapat menahan rasa penasarannya dan mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok Zac.

"Mohon maaf, Nona, saya tidak memiliki kewenangan tentang hal ini." Fukushima menundukkan sedikit tubuhnya. "Pekerjaan saya telah selesai, saya permisi dulu."

Alsou hanya mengangguk lalu membiarkan wanita itu pergi. Ia menadahkan kedua telapak tangannya, kembali membuat gerakan seperti membentuk nasi kepal, dihirupnya serbuk biru dari tangannya, dan secara perlahan luka-luka di tubuhnya menutup.

"Konichiwa," sapa Tendo, tampak ramah, tetapi masih terdengar menyeramkan bagi Alsou. Ia teringat dengan permintaan pria itu untuk membunuh ibunya. "Sudah bisa menyembuhkan luka sendiri? Kau memiliki sihir yang luar biasa." Pria itu berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan aliran kolam ikan koi.

"Kau sudah membebaskan Zac dengan aman, bukan?" tanya Alsou, tidak ingin berbasa-basi, "sekarang apa yang harus aku lakukan untukmu?" lanjutnya, sambil memutar posisi duduknya dan menatap Tendo dengan tajam.

Angin musim dingin masuk melalui jendela dan menyapu ke seluruh ruangan tempat mereka berdua. Tendo tertawa sinis lalu menengadahkan tangannya, mengisyaratkan agar Alsou meletakkan tangannya di atas tangan pria tersebut.

"Berikan aku sedikit sihirmu lalu kita akan pergi menemui tokoh utama dalam perjanjian ini." Sebuah asap berwarna cokelat keemasan terlihat mengelilingi telapak tangan Tendo.

Ragu-ragu, Alsou berpikir sejenak. Paham bahwa hal ini kemungkinan besar akan membuatnya lemah, terutama jika Tendo mengambil kekuatannya terlalu banyak. Namun, mereka telah bersepakat dan hal tersebut demi keselamatan Zac serta keluarganya. Alsou meneguk gumpalan di tenggorokannya, dengan tubuh yang gemetar, ia meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan Tendo. Membiarkan pria itu mengambil kekuatannya—hanya untuk kali ini.

"Gadis pintar," bisik Tendo.

***

"Zac!" Laura berlari menuju pagar dan langsung memeluk putranya dengan erat ketika melihat kemunculan pemuda itu bersama Audrey yang kembali berpenampilan seperti David, sedangkan Rika hampir saja terjatuh akibat tersandung oleh kakinya sendiri akibat terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.

Rika tidak memeluk Zac, tetapi malah menatap David dengan tatapan menyelidik. "Where is she?" tanya Rika, sadar bahwa Alsou tidak bersama mereka berdua.

"Rika chan, kita bisa berbicara di dalam." Zac menjawab terlebih dahulu sebelum Audrey menjawab pertanyaan Rika karena ia ingin membicarakan kabar buruk ini dari bibirnya sendiri, meskipun hal ini akan terdengar begitu menyakitkan.

Terutama mengenai satu hal yang telah kurang dari dirinya akibat perbuatan Tendo.

"Apa kalian baik-baik saja?" Rika kembali bertanya, seakan mengetahui hal aneh di antara mereka berdua. Namun, tiba-tiba Rika mengurungkan niatnya untuk menginterogasi dua pemuda di hadapannya karena telah menemukan satu hal yang membuatnya tercengang. "What happen?" bisik Rika, khawatir jika Laura mendengarnya.

Tidak ada jawaban di antara dua pemuda itu.

"Jangan katakan," bisik Rika lagi, wajahnya menegang, membuat Laura turut merasakan hal aneh di antara Zac dan David.

"Rika bantu Zac untuk masuk ke rumah. Biarkan David atau Zac yang menjelaskan kebaradaan Alsou dan apa yang telah terjadi." Laura berusaha tampak tenang, meskipun ia juga begitu panik karena tidak menemukan Alsou.

"I see that," bisik Rika tepat di telinga David.

"Ini diluar dugaanku. Maaf." David menggenggam tangan Rika berharap agar hal ini bisa menenangkan gadis yang berjalan di sampingnya.

_________________

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top