Chapter 19
Beberapa jam yang lalu
Baju yang dikenakam Alsou tampak begitu kotor oleh bercak darah dan sedikit basah akibat terjatuh di tumpukan salju pinggir jalan yang tergolong sepi. Pria di hadapannya terkekeh, masih dengan pakaian yang terlihat lebih bersih dan rapi.
"Sudah berulang kali kukatakan bahwa kau bukan lawanku, Nona Alsou." David menghampiri Alsou, berjongkok di hadapannya, menahan kedua tangan gadis itu dan mengusap darah di sudut bibir Alsou.
"Kau terlalu banyak menggunakan kekuatanmu, sedangkan aku ... menggunakan ini." David menatap Alsou dengan tatapan mengejek, sambil menyentuh pelipisnya.
Alsou hanya bisa menatap David dalam keadaan meringis, luka di tubuh akibat pertempuran singkat membuatnya kesakitan. "Siapa kau sebenarnya, David?" bisik Alsou, mencoba memastikan bahwa pria di hadapannya memang bukan manusia biasa, memastikan bahwa David memiliki keterkaitan dengan Zac.
"Aku ...." David menggantung kalimatnya lalu mengeluarkan asap putih di tangannya, membuat Alsou menjadi semakin lemah dan tak sadarkan diri. "Lebih baik kau tahu dengan sendirinya."
***
Beberapa menit kemudian di kediaman Tendo.
David membawa tubuh Alsou di pundaknya, berjalan perlahan menuju kediaman Tendo dan ketika memasuki halaman belakang, tiba-tiba ia sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sesosok kucing dengan bulu seputih salju, David sangat mengenalnya. Menunggu beberapa saat di belakang kucing tersebut, makhluk itu pun merubah wujudnya menjadi wanita cantik dengan balutan kimono putih.
Ini akan menjadi sangat menarik, batinnya. Perlahan, David mendekati wanita yang sedang mengamati tuannya. "Kau sangat tidak sopan karena masuk tanpa permisi, Iwayana san."
Wanita itu menoleh dengan ekspresi terkejut karena menemukan sosok David bersama Alsou di bahunya—dalam keadaan berlumur darah.
"Kau—"
David terkekeh, menyadari apa yang telah membuat Iwayana terkejut hingga tidak mampu melanjutkan kalimatnya. "Lama tidak bertemu."
Bruk!
Suara tubuh Alsou menghantam tanah terdengar cukup keras, memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Gadis itu membuka mata dan menatap Iwayana, mengisyaratkan sesuatu, tetapi wanita itu hanya bergeming tidak mau memahami isyarat Alsou.
"Apa yang akan kau lakukan pada—"
"Wow! Terlihat seperti sebuah reuni keluarga di sini." Suara Tendo tiba-tiba muncul dari balik punggung Iwayana. Ia masih bermain dengan benda berlumur darah di tangannya lalu melemparkan benda tersebut ke arah David.
"Awetkan benda menjijikan itu, jadikan sebuah gantungan kunci. Aku ingin pemuda itu selalu melihatnya dan teringat denganku," ucapnya, sambil melirik ke arah Alsou dan Iwayana. "Lakukan untukku, Audrey." Tendo tersenyum miring.
David alias Audrey membungkukkan sedikit tubuhnya lalu segera pergi membawa sebuah jari tangan dari Tendo—terlihat sangat penurut layaknya seekor peliharaan yang patuh pada tuannya.
Alsou mendecak kesal, begitu pula dengan Iwaya. Namun, dengan santai Tendo membersihkan pisau lipatnya dengan menggunakan sapu tangan yang tersimpan dari balik pakaiannya.
"Aku tidak mengundangmu datang ke sini, Iwayana san." Tendo melirik tajam ke arah Iwayana dan seketika tubuhnya mengeluarkan asap berwarna cokelat keemasan, seakan siap untuk menyerang jika hal buruk mungkin saja terjadi.
"Aku tidak perlu undanganmu. Aku ke sini untuk menjemput pemuda yang telah kau sekap dan lebih buruknya, aku akan membunuhmu karena kau telah—" Sekali lagi, Iwayana tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia paham betul dengan apa yang telah dilakukan Tendo terhadap Zac dan hal itu membuat Iwayana tidak ingin membuat Alsou mengetahuinya, terlebih lagi setelah melihat kondisi gadis tersebut.
Tendo tersenyum miring lalu membuka kedua tangannya dan mengarahkan serangan ke arah Iwayana, sadar bahwa wanita itu sedang lengah.
Blash!
Asap cokelat keemasan milik Tendo meleset dan membakar ranting pohon di belakang Iwayana, serta sedikit kimono wanita itu. Wajahnya terlihat terkejut dengan mata terbelalak, serta napas yang terengah-engah karena hampir mati.
"Jangan mengkhawatirkan orang lain ketika di medan pertempuran, Sayang." Tendo kembali mengarahkan serangannya ke arah Iwayana lalu berlari cepat dan menendang perut wanita itu.
"Arrgghh!"
Bruk!
Iwayana jatuh ke sudut halaman Tendo, menghantam tembok pagar dengan sangat keras. Serbuk putih di tangannya mulai terlihat, diam-diam dia mencoba membidik serangan diantara rasa sakit akibat pria yang berdiri tidak jauh di hadapannya.
"Kau masih lemah seperti dulu, Iwaya san," ucap Tendo, sambil mengangkat tubuh lemah Alsou. "Berhenti membuang tenaga dengan bertarung denganku dan serahkan gadis ini untukku."
Alsou tampak mulai sadar, kekuatannya sedikit demi sedikit terlihat kembali. "Jangan lukai ibuku, Tendo san," bisik Alsou.
Blash!
Sebuah serbuk putih mengarah pada Tendo, sebuah serbuk berbentuk runcing yang memiliki racun mematikan bagi siapapun yang mengenainya.
Blash!
Dengan cekatan Alsou mengeluarkan perisai dari sihir miliknya, menghalau serangan dari Iwayana agar tidak mengenai Tendo.
"Apa yang kau lakukan Alsou?!" Iwayana terlihat marah akibat perbuatan Alsou yang tidak masuk akal.
Menyelamatkan musuh! Apa maksudnya? Serbuk putih milik Iwayana menebal berbaur dengan salju. Ia begitu marah karena Alsou tidak mengikuti rencana mereka dengan baik.
"Aku menyerahkan diriku pada Tendo san, menukar diriku dengan Zac." Alsou membuat sebuah perisai yang melindungi dirinya dan Tendo.
Menggerakkan kedua tangannya untuk mengumpulkan serbuk sihir berwarna biru, Alsou segera menyerang ke arah Iwaya bersamaan dengan serangan dari wanita itu.
Blash, boomb!
Mereka berdua terlempar satu sama lain karena kekuatan yang seimbang. Tendo hanya tersenyum, seakan menikmati pertarungan antara ibu dan anak—ia menyukai sebuah pengkhianatan antara keluarga dan hal ini telah terjadi kembali untuk yang kedua kalinya.
"Bunuh wanita jalang itu dan aku akan mengembalikan Zac dalam keadaan selamat, Manis." Tendo berbisik tepat di telinga Alsou sambil melirik ke arah Iwayana.
Tertawa kecil, Tendo sadar bahwa Alsou terkejut atas perintah yang baru saja ia berikan. "Atau aku akan memberimu sebuah hadiah gantungan kunci berbentuk telinga milik Zac." Tendo semakin mengintimidasi karena tahu apa kelemahan Alsou.
Alsou meneguk salivanya. Ia harus membunuh ibunya demi menyelamatkan Zac dan keluarganya. Tubuhnya bergetar dan secara perlahan Alsou kembali bangkit, mengeluarkan serbuk biru dari kedua tangannya, mencoba kembali menyerang Iwayana yang terlihat sudah terluka akibat perbuatan Tendo.
"Tenanglah di surga, okaasan," bisik Alsou, kembali memberikan serangan ke arah Iwayana yang masih terkejut tidak menyangka bahwa gadis itu akan membunuhnya.
Alsou berlari memberikan serangan bertubi-tubi melawan sihir dari Iwayana dan akhirnya hampir mencapai titik kemenangan. Ia berhasil menyerang dan mengenai tubuh Iwayana yang sebelumnya sudah terluka oleh Tendo.
Bernapas terengah-engah, Iwayana berusaha mencari oksigen, berusaha menahan rasa sakit dari putrinya. Tubuh wanita itu bergetar, air matanya tanpa sadar menetes menampakkan kesedihan, menatap Alsou yang sekarang sudah berada di hadapan Iwayana. Jarak mereka sangat dekat.
"Moshiwake arimasen," bisik Alsou, tepat di telinga Iwayana.
"Tidak akan kumaafkan. Pergilah." Iwayana tidak bisa menghentikan air matanya dan Alsou mencabut pisau dari kumpulan serbuk biru di tangan yang telah berlumuran darah.
"Pejamkan matamu dan tenanglah di sana. Aku mencintaimu."
Alsou mengusap air mata Iwayana dan air matanya lalu berjalan santai menghampiri Tendo yang tampak tersenyum puas atas hasil kerjanya.
"Kembalikan Zac pada keluarganya dan aku akan menjadi milikmu." Alsou berlutut di hadapan Tendo, merasa muak dengan senyum yang terlukis di wajah tampan pria itu.
"Aku akan mengembalikan pemuda itu pada keluarganya dengan kondisi yang sangat baik." Tendo menepuk pelan kepala Alsou lalu menebarkan pandangan dan tampak Audrey atau David sedang berjalan menghampiri mereka, tanpa menggunakan atribut gothic sebelumnya.
"Audrey, urus mayat wanita jalang itu. Aku memiliki banyak urusan dengan gadis baruku." Tendo tersenyum puas karena dapat membunuh Iwayana tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, selain itu dia juga telah berhasil membuat Alsou menjadi semakin terpuruk akibat serangan psikologi yang baru saja ia berikan.
Maafkan aku, Ibu, batin Alsou ketika sempat melihat tubuh Iwayana untuk terakhir kalinya, sebelum Tendo membawanya masuk ke dalam rumah besar dengan gaya Jepang kuno.
————————
Well, Alsou sudah masuk ke dalam wilayah musuh. Sekarang pertanyaannya Zac bakal dilepaskan atau tetap di sekap?
Semoga menghibur mwaahh 😘😘😘
*belum diedit.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top