Chapter 15
Beberapa minggu kemudian di Kyoto, Jepang.
Aroma kayu memenuhi seluruh ruangan di rumah yang termasuk dalam ukuran rumah besar di Jepang. Dari ruang tamu yang berpemandangan kolam besar berbentuk parit kastil, dengan berbagai warna ikan koi yang senantiasa berenang menghiasi air kolam, tampak seorang pria dewasa berpakaian hakama sedang duduk memandang kolam, menikmati suasana tenang di rumahnya.
"Tendo san," panggil seorang pria berpakaian tuxedo hitam.
Pria dengan pakaian hakama—Tendo Akiyama memutar posisi duduknya, menghadap ke arah lelaki muda berparas western. "Apa yang kau temukan, Audrey?" Suaranya terdengar berat membuat siapa pun merasa segan ketika berbicara dengannya.
Pria western itu—Audrey membungkukkan punggungnya untuk beberapa saat, memberikan tanda bahwa Tendo memiliki status jabatan yang lebih tinggi dari Audrey. Setelah dipersilakan untuk duduk, Audrey pun masuk ke dalam ruangan dan duduk di hadapan Tendo.
"Dia berada di London. Seseorang akan membawanya ke sini, tidak lama lagi." Audrey menerima segelas sake dari Tendo kemudian meminumnya.
Tendo hanya mengangguk, menyeruput sakenya, dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Melirik ke arah foto keluarga yang terbingkai indah, wajah Tendo tampak terlihat dipenuhi dengan kesedihan. Dia merindukan putrinya yang kini terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Pria itu teringat mengenai perkataan dokter, saat terakhir kali ia mengunjungi putrinya. Dokter tersebut berkata bahwa tidak ada penyakit apa pun yang terdeteksi dari tubuh gadis itu dan hal ini sungguh aneh.
Aneh bagi dokter itu, tetapi tidak baginya.
"Kau sudah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama seperti satu tahun yang lalu." Tendo menatap Audrey dengan tatapan yang tajam, seakan menuntut agar Audrey bisa mendaptkan apa yang ia inginkan.
Tubuh Audrey sedikit bergetar dan setelah meneguk saliva, ia pun mengangguk pelan. "Aku sudah bertemu dengannya, Tendo san dan kali ini aku yakin bahwa aku tidak melakukan kesalahan."
Tendo menyeringai dan menyeruput sakenya. Gerakannya sangat anggun seperti masyarakat Jepang dengan kelas sosial yang tinggi, melihat Tendo Akiyama yang seperti ini terkadang membuat banyak orang tidak bisa menebak siapa dan apa pekerjaan pria itu. Tendo Akiyama memiliki sosok yang misterius.
"Ah, ini untukmu, Tendo san. Kuharap apa yang terdapat di dalamnya bisa membuatmu senang." Audrey memberikan amplop berwarna cokelat yang tersegel.
Melihat amplop tersebut, mimik wajah Tendo berubah menjadi lebih hangat dan bersahabat, ekspresi kesedihan dan intimidasi kini lenyap ketika tangannya menggenggam amplop cokelat tersebut. "Kau ... tidak salah lagi. Aku bisa merasakan kekuatannya padamu."
"Ya," ucap Audrey berbisik. Satu hal yang terkadang membuat Audrey merasa takut untuk menemui Tendo—tuannya adalah karena dia ahli dalam memainkan mimik wajah, hal ini membuat Tendo sering menjadi sosok yang tidak terbaca.
Dari dalam amplop tersebut, Tendo menemukan beberapa foto gadis dan secara otomatis pria itu mengusapnya lembut. "Tidak akan lama lagi,"bisiknya kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Audrey. "Cepat temukan dia padaku, Audrey."
Sambil mengulurkan tangan, Tendo dan Audrey saling berjabat tangan dan asap berwarna keemasan muncul di tangan tersebut, semakin lama membuat Audrey tampak kelelahan. Namun, tidak bagi Tendo—ia menikmatinya dan wajahnya tampak semakin muda dan bersinar.
"Kau adalah milikku, Audrey. Sekarang pergilah dan pastikan kau bisa membawanya ke sini."
***
London.
Alsou terlihat duduk manis di depan Zac, mereka menunggu Rika yang katanya ingin memberikan dokumen tanda kewarganegaraan untuk Alsou. Wanita itu kini sudah tahu segalanya tentang Alsou, kecuali kebenaran bahwa gadis cute yang tinggal bersama Zac adalah seorang Nekomata. Yeah, untuk sejauh ini Rika masih belum mengetahuinya, walaupun terkadang beberapa kali Rika merasakan ada hal aneh di apartemen adiknya.
"Zac," panggil Alsou pelan, "apa Zac bisa mendengarku?" Ia meringis, memegangi perutnya. Namun, tidak mendapat respon dari pemuda yang duduk di hadapannya karena sibuk dengan laptopnya.
Hari ini Zac merasa sedikit tegang karena harus menunggu hasil ujiannya yang akan di posting oleh universitanya. Ia merasa gugup sebab selama ujian berlangsung dirinya tidak bisa belajar dengan baik dan semua itu terjadi karena gadis yang sekarang duduk di hadapannya.
Alsou selalu mengganggunya setiap kali Zac hendak belajar, mengganggu seperti meminta perhatian karena selama hampir dua minggu pemuda itu terlihat sibuk dengan tumpukan buku dan laptop.
Pluk.
Dua balok gula keluar dan masuk dari cangkir kopi milik Zac, beriringan dengan serbuk biru yang tampak mengambang di udara menyelimuti setiap balok gula yang keluar dari cangkir Zac.
Dia mulai lagi.
Zac mengernyit, sadar bahwa Alsou mulai mengganggunya dengan kekuatan sihir yang ia miliki. Sejauh ini gadis itu terlihat lihai dalam menggunakan kekuatannya dan hal itu terkadang membuat Zac merasa terbantu atau terganggu, contohnya seperti sekarang ini dan keributan tadi pagi dengan menghadirkan beberapa kecoa melayang di tempat tidur akibat Zac tidak mau bangun ketika Alsou membangunkannya.
Gadis ini begitu menyebalkan. Zac akhirnya mengalah dengan menatap ke arah Alsou, mengalah karena menurutnya gadis ini ceroboh. Yeah, dia bisa menjadi begitu mencolok jika menggunakan sihir di depan umum. Selain itu, Alsou tidak pernah sadar bahwa ia akan menjadi lemah jika dalam sehari terlalu banyak menggunakan sihir. "Bisa kau berhenti menggunakan sihirmu, Alsou?" tanya Zac lembut dan dalam sekejap Alsou menghentikan sihirnya.
Dia hanya sedang mencari perhatian.
"Aku menginginkan puding ini lagi, Zac." Alsou menunjuk ke arah piring bekas puding yang telah ia habiskan.
Zac mengembuskan napas. "Kau bisa memesannya sendiri pada pelayan, bukan? Ini sudah kesekian kalinya kita makan di luar dan kau sudah tidak perlu takut lagi dengan orang lain." Pemuda itu tampak risih setelah melirik sedikit nilainya di laptop, ada dua huruf C di sana dan itu tandanya sebentar lagi Rika akan memarahinya.
Alsou melipat tangan di depan dada, mengerucutkan bibir lalu membuang muka, ia merajuk, dan Zac yang melihat hanya memutar mata. Pemuda itu menutup laptopnya lalu menggenggam tangan Alsou—meminta pengertian.
"Alsou, kau tahu aku baru saja menyelesaikan ujianku dan sekarang aku mendapatkan dua nilai C, jika Rika chan mengetahuinya maka dia akan kembali menceramahiku. Apa kau mau membebaniku dengan bertingkah seperti ini?"
Alsou menggigit bibir, ia tidak bisa melihat Zac seperti ini. Alsou menyayangi Zac dan tidak ingin membebaninya. Bangkit dari kursi, gadis itu segera menghampiri Zac lalu duduk di pangkuannya—memeluk pemuda itu.
Untuk kesekian kalinya wajah Zac memerah.
Gadis itu kembali menarik perhatian para pelanggan dan membuat beberapa pelanggan mengomentari mereka berdua.
Alsou tidak peduli, tetapi Zac merasa risih karena tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Aku menyayangi Zac. Maaf karena membebani Zac." Alsou mengecup kening Zac. Hal yang telah ia pelajari dari Rika secara diam-diam ketika pemuda itu sedang tidak bersama mereka.
Well, tanpa sepengetahuan Zac, Rika telah mengajari banyak hal tentang wanita dan sesuatu yang ....
"Menjauhlah, akan kupesankan puding untukmu." Zac mendorong tubuh Alsou secara perlahan, segera menjauh untuk menyembunyikan rasa yang selalu mengganggunya beberapa minggu terkhir.
Ini semua berubah sejak Rika ikut bergaul dengan Alsou, entah apa yang telah Rika ajarkan pada Alsou, tetapi sejauh ini Zac sadar bahwa sikap Alsou berubah. Dengan kata lain, gadis itu pandai membuatnya merasakan hal lain—nyaman, tidak terburu-buru dan natural begitu lembut.
Zac memukul kepalanya saat ia berpikir ingin menempelkan bibirnya pada bibir Alsou.
Sambil menunggu puding pesanan Alsou, Zac mengalihkan pandangannya ke arah tempat duduknya dan di sana terlihat David, tetangga baru yang sedang mencoba mendekati Alsou. Entah sejak kapan pria itu berada di mejanya.
Zac cemburu dan ia sadar itu, alasannya pun simple karena pria itu walaupun berpenampilan gothic, tetapi mampu membuat Alsou terlihat nyaman sama seperti ketika gadis itu bersama dengannya. Namun, satu hal yang juga tampak terlihat begitu aneh di mata Zac, yaitu setiap kali David berbincang dengan Alsou maka setelah perbincangan mereka berakhir di saat itu juga gadis tersebut akan terlihat kelelahan.
"Kau cemburu melihatnya?" Suara Rika yang tiba-tiba terdengar dari punggung Zac berhasil mengejutkan pemuda itu dan dengan terburu-buru ia pun segera merubah ekspresi dengan mengusap tengkuk.
"Tidak. Tidak sama sekali, Rika chan."
"Dia salah satu temanku yang membantuku untuk mendapatkan dokumen kewarganegaraan, Alsou. Dia memang tampak aneh, tetapi sebenarnya David memiliki jabatan penting di Kedutaan."
"Huh! Seriously?" Zac melipat dahi, merasa tidak percaya bahwa pria berpenampilan gothic itu merupakan bagian dari kedutaan. Biar bagaiaman pun, dengan penampilan seperti itu rasanya, tidak mungkin. Pemerintahan terkadang memang tidak terduga.
"Jangan khawatir dia mendekati Alsou hanya karena urusan pekerjaan tidak lebih, selain itu dia juga sudah tahu bahwa kau adalah kekasihnya." Rika menendang kaki Zac lalu menyerahkan amplop berisi dua tiket pesawat untuk penerbangan ke Jepang.
Rika tersenyum dan tanpa menunggu respon dari adiknya, ia memutuskan untul langsung pergi meninggalkan pemuda itu menghampiri Alsou dan David--mereka harus segera pergi kembali ke Jepang karena keperluan mendesak.
———————
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top