Chapter 14
Apa Zac merasakan sesuatu?
Kalimat itu kembali terngiang di kepala Zac dan berulang kali, pemuda itu harus menggelengkan kepala hanya untuk membuang jauh-jauh pertanyaan Alsou yang tidak bisa ia jawab—semalam dia hanya berpura-pura tidak merasakan hal aneh tersebut. Namun, kenyataannya Zac tahu sekali mengenai arah pembicaraan Alsou.
Gadis itu tidak akan mengerti dengan hal aneh yang dia pertanyakan.
Zac kembali meminum segelas jus jeruk. Cahaya matahari terlihat sedang berusaha mengintip ke dalam apartemen melalui celah-celah gorden, dan untuk yang kesekian kali dia kembali menguap akibat mengantuk. Bukan, Zac bukan seorang yang pemalas. Pemuda ini selalu rutin bangun pagi serta berolah raga sebelum memulai aktivitas—hanya jika semalam ia tidak bergadang atau mabuk.
Zac butuh tidur, tetapi sekarang bukan waktu yang tepat. Pasalnya saat ini Rika sedang berada di apartemennya, entah kapan wanita itu akan segera pergi—Zac tidak tahu. Namun, ia berharap kakaknya akan segera pergi.
Melirik ke arah Alsou, gadis itu terlihat sangat nyaman berada di atas sofa dalam keadaan tertidur—Zac merasa iri, dia juga butuh tidur. Namun, jika Rika melihatnya maka wanita tersebut akan memukul kepala Zac lagi.
Ini semua akibat tradisi keluarga yang menyusahkan.
Yeah, sebuah tradisi di mana keluarga Zac selalu mendisiplinkan waktu dengan tidur di malam hari dan beraktivitas di waktu pagi. Sehingga menjadi sebuah pantangan bagi mereka, jika ada salah satu dari anggota keluarga yang masih dalam keadaan tertidur di saat pagi—peraturan yang sangat menyusahkan bagi Zac, terutama saat tugas memaksakan ia untuk bergadang. Namun, pemuda itu bersyukur karena mengambil gelar Sarjana di London membuat peraturan tersebut tidak berlaku. Terutama karena Zac tinggal sendiri.
"Kau sudah siapkan sarapan untukku?" Rika mengambil kursi dan duduk di atasnya menunggu Zac menyiapkan sarapan untukknya sebelum kembali ke kantor.
Mendengus malas, pemuda itu segera bangkit dari tempatnya mengambil sekotak sereal, memasukkannya ke dalam mangkuk lalu menuang susu. Ia tidak berniat untuk memasak saat ini. "Makanlah, aku lelah dan tidak berniat untuk memasak." Zac memberikan semangkuk sereal kepada Rika serta segelas jus jeruk. "Kau tahu, aku berada di luar apartemen sepanjang malam hanya untuk mencari gadis itu."
Rika menoleh ke arah gadis yang ditunjuk Zac. Tersenyum kemudian kembali menatap adiknya. "Apa yang membuatmu akhirnya memutuskan untuk mencarinya? Bukankah semalam kau berkeras untuk membiarkan dia berada di luar? Selain itu ...."
"Aku berbohong! Sebenarnya dia tidak memiliki keluarga. Err ... sebatang kara dan ...." Zac menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, tangan kanannya memainkan gelas bekas jus jeruk yang ia minum sebelumnya. "Dan ... dia tidak memiliki dokumen sebagai warga negara mana pun. Well, aku tahu ini tak masuk akal, tetapi kami bertemu ketika dia mengalami kecelakaan besar dan yeah, aku merawatnya di rumah sakit kemudian dokter mengatakan bahwa Alsou ...."
"Hmm ... berhenti mengarang cerita, Bodoh. Kau sudah mengetahui bahwa kau adalah orang yang terpayah dalam hal berbohong. Apa yang kau katakan sebagian benar dan sebagian bohong jadi katakan padaku yang sebenarnya." Rika menyuapkan suapan terakhir serealnya dan menutupnya dengan meminum jus jeruk. "Aku akan menolongmu selama kau tidak berbohong. Kau tahu ... aku merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis itu, maksudku seperti merasa tidak asing dengannya."
Rika melirik ke arah Alsou dan benar, perasaan seperti pernah mengenalnya kembali muncul. Sebuah perasaan yang menyatakan bahwa ia telah mengenal Alsou sejak lama, seperti kenangan kecil di masa lalu yang terlupakan dan susah untuk diingat. Dia memutar mata. "Aku harus segera pergi bekerja. Kau, kirimkan aku email, jelaskan apa yang terjadi dan bawa dia ke Jepang saat libur Natal." Rika bangkit lalu menggosok tangannya di kepala Zac. "Anak baik," katanya, sambil menjitak Zac lalu tertawa.
Dengan sigap ia mengambil tas di atas meja dekat Alsou tertidur, berhenti beberapa detik untuk sekadar melihat ponsel, Rika pun menganggukan kepala dan pergi tanpa menghiraukan Zac yang terus menguap menunggu dirinya pergi.
"Aku pergi." Rika memukul Adiknya yang terus-menerus menguap di depan pintu apartemen.
"Pergilah dan jangan kem ...."
"Jangan mengusirku atau aku akan menyiksamu." Rika tertawa, mengacak-acak rambut adiknya. "My pochi," lanjutnya dengan nada mengejek.
***
Alsou terbangun, perutnya terasa lapar sekali, tetapi insting hewannya tidak merasakan kehadiran siapa pun di apartemen. Membuka mata dengan malas, gadis itu menebarkan pandangan untuk mencari sosok Zac.
Mungkin di kamar.
Ketika ingin menyusul Zac, tiba-tiba hidung Alsou menangkap aroma lezat di meja makan. Tuna kaleng. Setengah berlari, gadis itu segera naik ke atas meja dan melahap tuna kaleng tersebut. Seketika ia lupa mengenai ajaran Zac bahwa hal ini dilarang karena manusia akan menganggapnya tidak sopan dan makan sebelum mencuci tangan itu tidak sehat.
Benar saja karena terlalu terburu-buru melahap tuna kaleng tersebut, tanpa sengaja kaki Alsou menendang mangkuk sereal bekas Rika dan menghasilkan bunyi.
"Alsou! Oh my God, kau menambah tugasku menjadi semakin banyak di saat aku sedang malas untuk beraktivitas." Zac meremas rambutnya tidak sadar bahwa dia hanya menggunakan boxer yang bagi pemuda itu merupakan suatu pantangan untuk memamerkan dadanya di hadapan seorang gadis yang bukan kekasihnya, meskipun sebenarnya Zac memiliki tubuh yang sangat bagus—kaum wanita menyebutnya dengan istilah roti sobek. Entah darimana dan sejak kapan istilah tersebut hadir.
"... dan ahh ... tunaku, kau ... shit! Alsou, pergi mandi! Bersihkan dirimu dan jangan terlalu banyak menggunakan sabun." Terburu-buru Zac menghampiri Alsou untuk turun dari meja, berhati-hati dengan pecahan mangkuk yang masih berserakan di lantai dapur.
Alsou menjilat tangannya yang menyimpan sisa makanan kemudian memeluk Zac. "Selamat pagi, Zac." Seperti biasa ia menggosokkan kepalanya di dada Zac, tercium aroma maskulin dengan parfume yang digunakan pemuda itu dari hidung sensitif Alsou. Dia sangat menyukai aroma daddy-nya, perpaduan yang sangat indah.
"Damn!" pekik Zac, sadar bahwa ia telah memamerkan dadanya di hadapan Alsou. Ia menyilangkan kedua tangan untuk menutupi dada dan segera mundur beberapa langkah. "Berbalik!" perintah Zac, lagi-lagi jantungnya berdebar.
Mengapa aku bertingkah seperti seorang wanita, padahal sebelumnya aku selalu berpenampilan seperti ini ketika Alsou masih menjadi seekor kucing. Ia menggelengkan kepala dan kembali menatap punggung Alsou.
Ia teringat ketika pertama kali Lousiana menginap di apartemennya dan sambil berusaha menahan malu demi bersikap layaknya seorang pemuda tangguh akhirnya dia pun berhasil, tetapi untuk berpenampilan seperti sekarang di depan si manusia Alsou, Zac butuh waktu—terkadang ia membenci sifat pemalunya.
Zac berlari kecil mengambil kaos bekas tadi pagi yang tersampir di sofa dan segera memakainya. "Pergi mandi, Alsou. Kau berantakan sekali dan jangan terlalu banyak menggunakan sabun. Hanya sebanyak ini, ok?" Zac mengambil telapak tangan Alsou lalu membuat gambar lingkaran dengan jarinya.
"Roti sobek," ucap Alsou tiba-tiba, membuat Zac mengangkat kedua alisnya. "Si Pirang sering mengatakan hal demikian melalui benda bergambar yang terkadang menimbulkan suara. Dia bilang, kau adalah roti sobek yang sangat tampan, tetapi sangat pemalu."
Dia menceritakan hal demikian kepada teman-temannya. Wajar saja, setelah malam itu semua gadis menatapku dan mencoba untuk menyentuhku.
Alsou menyentuh sudut bibir Zac membersihkan jejak berwarna putih dengan jarinya. "Zac juga terlihat berantakan." Ia tersenyum manis, tangan kirinya menggenggam tangan pemuda itu. "Zac juga harus mandi, 'kan? Zac sudah lama tidak mengeramasiku." Ia meletakkan kepalanya di dada pemuda itu.
Terbelalak, otomatis otak Zac bekerja ke arah yang lebih aneh, wajahnya semakin memerah. "A-are you crazy!? Aku tidak akan melakukan hal itu. Mandi sendiri dan jangan manja," pekiknya, sambil menyembunyikan wajahnya menahan malu. "Setelah ini kita akan berjalan-jalan jika kau menuruti semua keinginanku."
Zac segera pergi menjauh sebelum keringat berbentuk bulir jagung membasahi tubuhnya akibat terlalu malu. Alsou selalu berpikiri bahwa dirinya adalah seekor kucing tanpa memikirkan diriku yang berusaha menahan diri dari pikiran kotor.
Dengan kasar Zac membasuh wajah lalu memandang pantulan dirinya di depan cermin, memerhatikan sudut bibir yang sebelumnya disentuh Alsou—ia menyukainya, hanya saja belum bisa mengontrol rasa malu. Gadis itu terlalu naif bagi Zac, tetapi menggemaskan. Dia suka, tetapi berusaha untuk tidak menyadari. Pemuda itu sadar bahwa Alsou hanyalah peliharaan yang sangat ia sayangi. Itu saja, tidak lebih.
"Aku harap dia tidak menghabiskan shampo dan sabunku lagi kali ini."
***
"Ya aku juga menyadarinya bahwa dia ... baiklah, bantu aku untuk mengurus dokumennya."
Klik.
Sebuah senyum tersungging dari wajahnya sambil menatap foto gadis yang tertera di ponselnya.
"Sudah kuduga," bisiknya di tengah suara para pengunjung kantor kedutaan Jepang.
_____________
Hi, lama gak update xixixi. Rada bingung juga mau nulis apa buat chapter ini, tapi semoga masih suka ya. Love 😘😘😘
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top