[03] Why? Because
Dahulu kala, ketika kedua kaum diciptakan, sudah ada larangan untuk saling mencintai. Sudah bisa ditebak? Tentu saja ini tentang malaikat dan iblis. Kisah lama, kalian pasti sudah tahu tanpa harus kuceritakan. Pada intinya, dua kaum berbeda ini dilarang bersama. Benar-benar dilarang. Tetapi karena belum ada yang jatuh cinta, konsekuensinya tidak diketahui, dan hanya menjadi cerita seram dengan akhir yang berbeda-beda di setiap mulut. Selama beberapa ratus milenium, tidak ada yang melanggar aturan ini, karena saat itu aturan berperilaku sungguh ketat di antara kedua kaum.
Kemudian beberapa perubahan di sana-sini terjadi dan akhirnya ada yang jatuh cinta betulan.
"Wah, bagaimana ini?" tanya mereka.
Lalu yang lain memperburuk keadaan dengan berseru, "aduh, hukuman menanti kita. Siap-siap saja, deh."
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi," sahut seseorang dengan bijak. "Ada baiknya kalau kita membuat divisi khusus di setiap kaum untuk melarang adanya cinta terjadi di antara kita semua."
Singkat cerita, divisi itu dibentuk. Mereka bekerja sama untuk memberantas adanya pasangan-pasangan terlarang di antara kedua kaum. Sebagai catatan, mereka sangat sukses dalam pekerjaan ini. Tidak ada pasangan lagi yang tercatat, tidak ada kemungkinan adanya hukuman, dan semua orang bahagia, yeay!
Yeah, seharusnya ada pengecualian. Karena ... hei, kita, kan, tidak bisa memprediksi masa depan. Pada akhirnya ada pasangan yang lebih cerdas dari yang lain, bekerja sama untuk mengelabui semua orang. Dua nama yang dikenang sepanjang masa, karena mati untuk cinta mereka. Haha, bukankah sangat ironis?
Kita akan kembali beberapa milenium sebelum Elathan dan Cordelia, pada pasangan lain bernama Jason dan Amaryllis. Seorang malaikat, Jason, jatuh cinta pada iblis cantik bernama Amaryllis. Pada dasarnya di antara kedua kaum tidak ada yang bisa dibilang jelek, hanya saja Amaryllis jauh lebih cantik daripada iblis-iblis lain. Sulit untuk tidak jatuh cinta padanya. Dia memiliki mata merah darah yang lembut dan memesona, kulit cokelat terbakar matahari, rambut hitam kelam yang lembut nan luwes terkena angin, kuat dan punya jabatan bagus. Sifatnya baik, dan intinya dia ini idaman semua orang.
Sedangkan Jason sendiri juga sama-sama kuat dan punya posisi bagus di kaumnya, tampan dan keren. Jason punya mata hijau botol yang bisa bersinar setiap kali dia menggunakan kekuatannya, garis wajah luar biasa tegas di atas kulit pucatnya, rambut hitam yang terlihat sangat keren ketika tertiup angin, bahkan jauh lebih keren ketika dalam posisi biasa saja. Pada zaman dahulu, ketegasan seperti yang dimiliki Jason tidak ada duanya. Selain tegas dan berwibawa, dia sangat ramah pada semua orang. Pada dasarnya dia adalah panutan orang-orang. Diplomasi berjalan lancar kalau ada dia, dan suasana jadi hidup karenanya.
Hidup mereka begitu sempurna, Jason dan Amaryllis bisa mendapatkan pasangan mana pun yang mereka kehendaki. Tetapi mereka malah saling mencintai. Mau tahu kisah singkatnya? Mereka sering bertemu dan berurusan dalam diplomasi kedua kaum, ditugasi dalam kunjungan sana-sini, semua dilakukan bersama-sama. Sudah lihat di mana bagian romantisnya, kan? Semua orang mengira jika dua insan ini tidak akan bisa saling jatuh cinta karena mereka sudah punya posisi luas biasa bagus di masing-masing kaum, sehingga kemungkinan mereka mengorbankan posisi untuk hal remeh semacam cinta bukanlah sesuatu dalam jadwal mereka.
Iya ... kan?
Haha, tentu saja tidak. Justru dengan posisi mereka itulah, semua hal ini bisa dilakukan. Rumah di kawasan tempat tinggal campuran dua kaum? Tugas-tugas yang mengharuskan mereka pergi berdua? Dan itu baru sebagian kecilnya. Tidak ada yang curiga. Sama sekali. Bahkan orang-orang yang menugasi mereka.
Lagi-lagi semua hal tampak sempurna, tidak ada yang bisa menghancurkannya begitu saja. Jason dan Amaryllis saling mencintai, tidak ada yang bisa merusak cinta mereka begitu saja. Tetapi saat ini adalah saat yang paling cocok untuk mengatakan sebuah peribahasa: sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh juga.
Akhir cerita ini bermula dari kehamilan Amaryllis. Pasangan ini awalnya bahagia, dan bahkan lagi-lagi tidak ada yang curiga akan hal ini. Kemudian setelah beberapa waktu berlalu dan sudah tiba waktunya Amaryllis melahirkan, iblis itu ternyata melahirkan sebuah makhluk yang bisa disebut sebagai monster. Kalau kalian ingat dengan monster yang dilawan Elathan di bab pertama, dia adalah anak Amaryllis dan Jason.
Amaryllis mati. Ketika Jason berusaha melawan, dia tidak tega dan malah terbunuh. Dan kemudian, begitulah kisah ini berakhir.
"Mustahil! Dia melahirkan seekor monster!"
"Kau benar! Apa yang harus kita lakukan?"
Solusinya dimunculkan oleh Tuhan sendiri. Dengan kekuatan-Nya, dia menambah persenjataan monster itu dengan kekuatan yang besar dan serangkaian hal yang sudah kalian lihat di bab satu, kemudian membuat kedua kaum mempelajari alasan kenapa mereka tidak diperbolehkan bersama.
Divisi yang mencegah terjadinya kecelakaan cinta ini semakin diperketat, kemudian membuat suasana di antara kedua kaum semakin tegang. Kegiatan apa saja dibatasi, dan bahkan sering diadakan interogasi dadakan. Lalu bagaimana Elathan dan Cordelia bisa bertemu?
Kisah lama ini diawali dengan Elathan yang tidak sengaja memecahkan kaca jendela perpustakaan ketika sedang berlatih simulasi perang bersama militer dari kaum iblis. Cordelia, seorang pustakawan, ada di dekat tempat kejadian dan hampir saja disalahkan jika Elathan tidak segera menanganinya. Saat itu, pangkat Elathan belum cukup tinggi. Satu kejadian disambung kejadian lain, kemudian mereka mempelajari kisah Jason dan Amaryllis, membuat hidup mereka jauh lebih sempurna dari pasangan gagal sebelumnya.
Yeah, lagi-lagi ada pengecualian. Kita tidak bisa berharap akan selalu mendapatkan angka enam setiap kali melempar dadu. Pada akhirnya, semua hal ketahuan dan mengantarkan kita pada sebuah kisah lain.
~•••~
Elathan menarik lengan Cordelia ketika keduanya berlari menyusuri celah gedung-gedung sempit untuk menghindari penjual es krim yang dibayar kurang dari seharusnya. Kota sedang ramai. Divisi sedikit melonggarkan aturan, membuat malaikat dan iblis bisa kembali hidup berdampingan. Sehingga saat ini, keduanya berlarian di kota.
Bangunan-bangunan yang dibangun dengan batu-batu sedikit berlumut, dan kini Elathan menarik Cordelia ke celah gedung lain. Sambil terengah-engah, keduanya berdiri hampir saling menempel karena celah gedung yang semakin sempit. Elathan menjilat es krimnya sendiri, sambil menunduk melihat wajah Cordelia yang memerah setelah berlarian.
"Kenapa kita bersembunyi di sini? Seharusnya kau bayar penjual es krim itu dengan nominal seharusnya," omel Cordelia.
"Kenapa? Ya untuk saat ini," jawab Elathan tanpa dosa. "Aku ingin berlari bersamamu, itu saja."
Wajah Cordelia semakin memerah. "Sudah, deh. Ayo pergi dari sini. Aku harus melapor ke pusat beberapa jam lagi," katanya guna mengalihkan pembicaraan.
"Aku tahu. Tapi tidak usah buru-buru." Elathan menarik lengan Cordelia keluar dari celah gedung itu agar tidak menimbulkan kecurigaan, kemudian berbaur dengan kerumunan. "Mau jalan-jalan lagi? Kita beli kue lain."
"Hm, satu lagi tidak apa-apa, deh."
Elathan tersenyum senang. Sambil menahan diri agar tidak menggandeng tangan Cordelia di kerumunan, dia mengarahkan gadis itu ke kedai roti di dekat sana. "Di sini ada kenalanku, kita bisa minta sedikit diskon."
"Aduh, aku punya uang, kok. Aku tidak bisa terus-terusan mengikuti gayamu seperti ini," balas Cordelia sedikit kesal. Ia terbiasa tidak menarik perhatian orang-orang, namun sekarang berubah sulit karena Elathan gemar bersosialisasi.
Pemuda itu tersenyum dan mengabaikan Cordelia, karena ia sendiri yang akan membuat gadis itu selamat. Atau setidaknya itulah yang selalu ia pikirkan.
Keduanya keluar dari kedai roti itu dengan beberapa potong roti bite size. Kemudian dengan perlahan mereka berjalan keluar keramaian. "Besok mau ke menara lagi? Sepertinya besok penjagaan akan sedikit berkurang, hari libur nasional soalnya."
"Benarkah? Tapi aku tidak libur," balas Elathan sedih. "Akan kusempatkan datang kalau bisa. Mungkin di sore hari."
"Aku ... sebetulnya ingin membicarakan sesuatu denganmu."
Elathan berhenti berjalan. Jantungnya berdetak kencang bukan karena rasa cinta, melainkan sesuatu yang lain. Pemuda itu gugup luar biasa. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku ... uhm ... bagaimana, ya, mengatakannya...." Cordelia menunduk menatap roknya, mendadak tertarik melihat ke sana. Ia mencengkeram pinggiran rok birunya dan setelah menarik nafas ia melanjutkan, "aku ... suka kamu ... tapi aku lelah terus menerus menyembunyikan hubungan ini."
"Kamu mau menyerah?" tanya Elathan. Jantungnya terus berdegup kencang, ia takut sekali.
Cordelia menatap Elathan, sama sekali tidak yakin, "aku tidak mau menyerah ... tapi kalau sudah saatnya ... bagaimana? Aku takut."
"Ayo ikut aku." Elathan menarik lengan Cordelia menjauh dari sana, memasuki rentetan gang sempit, kemudian berakhir di sebuah rumah kecil bergaya jadul. Ia mendudukkan Cordelia, kemudian duduk di sampingnya. "Aku tidak mau mengakhiri hubungan ini. Dan tidak akan ada saatnya untuk mengakhirinya. Aku tidak mau kau bicara seperti itu lagi." Padahal Elathan sudah mencoba tegas, namun suaranya tetap bergetar.
"Sayang sekali ... kita tidak bisa memilih orang yang kita cintai," balas Cordelia sendu. Ia menatap tanah, enggan membalas tatapan tajam Elathan yang sedang menggenggam tangannya erat-erat. "Kenapa dari seluruh malaikat yang ada, aku malah harus jatuh cinta pada sesuatu yang terlarang?"
"Kau menyesal?"
"Ada kata-kata bijak dari dunia manusia, mereka bilang begini: kalau mencintaimu adalah sebuah dosa, maka kamulah dosa terindahku."
Elathan jadi tersipu. Padahal dia jarang-jarang sampai merona seperti itu. Sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia membalas Cordelia, "manusia pintar sekali, ya."
"Aku harus kembali bekerja," ucap Cordelia. Ia tersenyum dan melepas pegangan tangan Elathan. "Kita bisa tertangkap kapan saja, jadi...."
Elathan menelengkan kepalanya dan menatap Cordelia bingung. Keheningan menangkap keduanya selama beberapa saat, kemudian dengan cepat Cordelia memajukan tubuhnya dan mencium pipi Elathan. Ciumannya lembut dan tidak menuntut, tetapi tetap terasa sangat manis. Keheningan di sekeliling mereka semakin menambah suasana intim. Cordelia memeluk Elathan dan melepas ciumannya seraya berkata, "ada baiknya kalau kita melakukan segala hal seolah-olah ini hari terakhir kita."
Nafas keduanya bersatu ketika jarak mereka sangat dekat, Elathan terhenyak dan merasa begitu tersiksa pada setiap gerakannya. Dia takut hari ini adalah hari terakhirnya bersama Cordelia. Dengan lembut ia membalas pelukan gadisnya dan mencurahkan seluruh perasaannya-ya, seolah-olah ini adalah hari terakhir mereka. []
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top