Bab 5
Sejeong keluar dari rumahnya pagi-pagi sekali untuk mengantarkan susu ke rumah-rumah warga. Ia mendapatkan pekerjaan baru. Lumayan untuk mengisi waktu liburnya. Sejeong sampai di depan rumah yang cukup megah. Rumah itu adalah rumah musuh besarnya, Hyekyung. Ia selalu melewati rumah Hyekyung saat berangkat dan pulang sekolah. Tak jarang, ia melihat interaksi manis Hyekyung dengan kedua orang tuanya di depan rumah.
Ia merasa dunia sangat tidak adil. Orang sejahat Hyekyung memiliki orang tua yang baik. Sedangkan Sejeong harus berjuang seorang diri.
Ucapan pria yang memberinya sepatu di halte tempo hari memang tepat sekali. Hidup memang terasa berat bagi sebagian orang dan mudah bagi yang lain.
Ia mengayuh sepedanya untuk melanjutkan perjalanan. Seorang pria yang sedang jogging berlalu di sampingnya. Sejeong mengenal pria tersebut dan menegurnya. "Oh? Ah-ju-ssi di de-depan to-toserba?" Sejeong menoleh ke belakang. "A-ahjussi." panggilnya.
Pria itu berhenti berlari lalu menoleh. "Saya?"
Sejeong tersenyum.
***
Sejeong mendapatkan sarapan ramyeon gratis di depan toserba. Ahjussi itu yang membelikannya. Ia pun makan dengan lahap.
"Apa itu sangat enak?"
Sejeong mengangguk. Pria tersebut tersenyum lalu meneguk minumannya.
"Pelan-pelan, kau bisa terse—"
Sejeong tersedak. Pria tersebut dengan cepat membukakan botol minum untuk Sejeong. "Aku bahkan belum selesai bicara, kau sudah tersedak saja."
"Mi-mianhaeyo." Mengelap mulutnya dengan tisu. "A-ahjussi—"
"Panggil saja Jungwoo."
"Oh. Ju-jungwoo ah-ahjussi a-apa kau t-tinggal di de-dekat si-sini? Saya belum pe-pernah me-melihatmu se-sebelum-nya."
"Aku baru saja pindah."
"Oh." Sejeong mengangguk. "Pantas saja."
"Apa setiap hari kau bekerja sepagi ini? Lalu bagaimana dengan sekolahmu?"
Sejeong tersenyum. "Ti-tidak. Ha-hanya ti-tiga ka-ka-kali se-se-ha-ri."
Jungwoo menyadari kekurangan Sejeong. Jadi ia tidak bertanya lagi karena kasihan melihat Sejeong harus terus menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang terbata-bata saat sedang makan. Sejeong pun melahap makanannya tanpa bersuara lagi. Tak perlu waktu lama. Sejeong telah menghabiskan ramyeonnya.
"Te-teri-ma ka-ka-sih." Sejeong menuliskan kalimat yang ingin ia ucapkan di buku kecil. Ia menuliskan ucapan terima kasih telah membayarkan makanannya dan semoga nyaman tinggal di daerah ini. Ia juga menulis kata maaf tidak bisa berlama-lama karena harus bekerja lagi.
***
"Aku menemukannya, posisinya di kota Seocho."
Taeyong memutar balikkan arah mobil tepat setelah mendengar ucapan Haechan.
"Apa kita sempat. Lokasinya masih cukup jauh." Doyoung sedikit ragu tidak sempat menangkap roh jahat kali ini.
"Pegangan saja. Biar aku yang urus."
"Kalian tidak akan sempat." Suara Jieun terdengar. "Aku akan membukakan gerbang untuk kalian."
Sebuah campuran air dan udara berwarna kebiruan membentang luas membentuk dinding yang tinggi di hadapan mereka.
"Gomawo, halmeoni."
"Yaa!"
Taeyong tidak menghiraukan suara Jieun lagi. Dengan kecepatan penuh ia membawa mobilnya menembus dinding dimensi ruang. Mereka tiba di halaman parkir sebuah apartemen. Seorang pria dan wanita tidak sengaja melihat mobil mereka yang tiba-tiba keluar entah dari mana.
Doyoung menghampiri pria dan wanita tersebut lalu menghapus ingatan mereka. Haechan menangani kamera cctv dan Jieun memantau pergerakan mereka lewat intuisinya. Mereka menaiki lift lalu berjalan menuju kamar tempat roh tersebut berada.
"Doyoung? Taeyong?" Panggil Jieun. Doyoung membenarkan posisi airpods.
"Iya."
"Berhati-hatilah."
"Hah. Selalu kalimat itu yang kau ucapkan, nenek muda."
"Tenang saja. Noona. Kami akan selamat."
"Selesai. Kalian bisa masuk." Haechan berhasil meretas kunci rumah. Taeyong masuk lebih dulu. Kondisi rumahnya sangat berantakan. Seorang gadis berlumuran darah ditemukan tak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Doyoung mendekat dan menyentuh gadis tersebut. Ingatan gadis itu merasuk ke dalam pikirannya.
"Bajingan!" Doyoung menyumpah.
BUGH!
Suara hentakan keras terdengar. Taeyong menerima tendangan kencang. Doyoung berlari keluar dan pria yang sedang menjadi inang roh jahat itu menyerang dengan pukulan keras. Doyoung berhasil menghindar hingga pukulan tersebut mengenai dinding di samping wajahnya. "Siapa kalian? Berani-beraninya masuk ke rumahku."
Doyoung membalas dengan pukulan keras di dada pria tersebut. Berlanjut di wajah, pinggang dan benturan dahsyat kepalanya ke permukaan meja. "Kau, bajingan sialan!" Doyoung ingin melanjutkan pukulannya Namun tendangan kuat berhasil mendorongnya. Pria tersebut bergerak aneh. Suaranya mulai terdengar berlapis. Aura hitam mulai terlihat di sekeliling tubuhnya. Doyoung berdiri kembali.
"Sial. Kekuatan roh jahatnya mulai keluar." Taeyong kembali.
"Kupikir kau sudah mati," ucap Doyoung bercanda.
"Tidak semudah itu. Aku hanya lengah tadi."
"Akan kucoba percaya. Sekarang mari kita tunjukkan siapa kita."
"Oke."
Mereka menyerang bersama, pertahanan menjadi lebih kuat sekarang. Roh yang kali ini mereka lawan berada di tingkat dua. Doyoung sempat membaca ingatan pria itu. Ia telah membunuh tiga wanita yang ia perkosa lebih dahulu.
Doyoung dan Taeyong menyerang bergantian. Mereka perlu melumpuhkan roh jahat ini terlebih dahulu barulah pedang emas abadi bisa dikeluarkan dan menebas roh jahat keluar dari tubuh manusia. Jika manusia yang menjadi inang masih sadarkan diri, pedang emas tidak akan keluar.
Pria tersebut melarikan diri dengan melompat dari jendela.
"Wah. Dia benar-benar mahir memanfaatkan kekuatan roh jahatnya." Taeyong takjub melihat pria tersebut melompat dari lantai dua belas ke balkon di setiap lantai lalu sampai ke lantai dasar.
"Bagaimana? Ingin mengejar lewat sini atau turun seperti manusia normal?" tanya Doyoung.
"Tentu saja lewat sini."
Mereka tersenyum lalu melompat bersama dan berlari menuju mobil mereka.
"Haechan, tolong lacak lokasinya." Doyoung meminta tolong.
"Baiklah."
"Dia baru saja naik taxi."
"Oke." Taeyong langsung membanting setir dan menuju lokasi taxi yang ditunjukkan Heechan.
Haechan memutar kursinya untuk menghadap Jieun yang sedang asyik memoleskan kuteks di kuku jari tangannya. "Noona, apa kali ini mereka akan berhasil?"
"Tentu saja. Roh jahat kali ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka."
"Kapan anggota baru tiba?"
"Entahlah. Belum ada kabar."
***
Sejeong berjalan seorang diri di bawah langit malam yang bersinar kilat beberapa kali. Sepertinya akan turun hujan. Sejeong lupa membawa payung hari ini. Ia pun memutuskan berlari agar tiba di rumah lebih cepat dan tidak kehujanan.
Sejeong berlari di kegelapan. Lampu jalan di gang ini sudah beberapa hari tidak menyala. Pagar tembok di sisi kiri dan kanan gang terlihat menakutkan, tapi ia tidak punya pilihan. Tidak ada jalan lain menuju rumahnya selain gang kecil dan gelap ini. Firasatnya tidak enak, seperti akan terjadi hal buruk. Sejeong teringat bahwa ia menyimpan kartu nama detektif Park Sera. Ia sempat berpikir untuk menelepon, tapi rasanya tidak terlalu diperlukan. Ia pun memasukkan kembali kartu nama tersebut ke dalam tas sambil berjalan. Kemudian, seseorang keluar dari sela rumah dan menghantamkan pemukul bisbol ke kepalanya. Sejeong terjatuh. Ia memegang kepala bagian belakangnya. Malam ini udara cukup dingin namun cairan hangat terasa di ujung jemarinya. Sejeong menoleh ke belakang dan satu pukulan kembali menghantamnya. Sejeong terpejam tak sadarkan diri.
Saat sadarkan diri, Sejeong sudah berada di tempat yang berbeda. Di sekelilingnya sama gelapnya dengan gang yang ia lewati tadi dan udaranya jauh lebih dingin. Terlebih, kini jaketnya telah dilepas dan menyisakan kaos tipis. Sebotol air dingin tumpah membasahi wajahnya. Lalu suara tawa menggema. Pandangan Sejeong perlahan membaik dan kini terlihat sudah siapa saja yang menertawakannya.
"Annyeong, gagap!"
"Hye-hyekyung."
Hyekyung kembali tertawa. "Ternyata kau masih gagap saja. Ku pikir selama liburan suaramu akan membaik."
"A-apa yang k-kau la-lakukan."
"Hm. Entahlah. Kalian tahu kita sedang apa?"
"Membasmi tikus?" Semi bersuara.
"Ya, kau benar. Haha."
"Tikus besar dan menyebalkan." Satu tendangan menghantam keras permukaan perut Sejeong. Suara rintih kesakitan membuat Hyekyung semakin senang. Sejeong memegangi perutnya. Kepalanya cukup pusing dan kini perutnya pun dibuat sakit.
"Bagaimana rasanya ditendang dengan sepatu barumu?" Hyekyung telah mengambil alih sepatu pemberian Doyoung. "Sakit ya? Haha. Tikus jelek sepertimu tidak pantas memakai sepatu branded seperti ini."
"K-kau." Sejeong berusaha bersuara.
"Apa? Aku tidak dengar."
"Ke-kenapa ka-kalian j-jahat se-sekali."
"Hei! Kami tidak pernah berbuat jahat padamu. Kami hanya ingin bermain denganmu."
"A-apa i-ini di-disebut be-bermain?"
"Tentu saja ... bermain fisik."
Hyekyung berdiri dan memerintahkan Sinhye dan Yoori menyiram Sejeong dengan seember penuh air dingin. Sejeong tersentak lalu tubuhnya mengigil kedinginan.
"Apa rasanya sangat dingin?"
Sejeong mengangguk sekali.
"Ingin ku beri tahu cara agar tubuhmu terasa hangat?"
Sejeong kembali mengangguk. Hyekyung pun tersenyum. Ia melayangkan tangannya untuk menampar wajah Sejeong.
"Kau tahu, saat tubuh menerima pukulan, permukaan kulit akan terasa panas. Karena itu aku akan menampar dan memukuli seluruh tubuhmu hingga menghangat," ucapnya bengis sambil menampar wajah Sejeong berkali-kali.
Semi, Sinhye dan Yoori awalnya ikut menikmati kegilaan Hyekyung. Namun, sikap Hyekyung semakin lama semakin aneh. Semi mencoba menghentikan Hyekyung karena menurutnya sudah berlebihan dan tidak sesuai rencana. Namun wajahnya malah terkena kibasan lengan Hyekyung dan sudut bibirnya berdarah. Tak puas menampar, kini Hyekyung berdiri lalu menendang dan menginjak tubuh Sejeong berkali-kali.
"Hyekyung hentikan," ucap Yoori.
"Hyekyung sadarlah. Kau bisa membunuhnya." Sinhye mencoba menyadarkan Hyekyung.
Yoori dan Sinhye menarik tubuh Hyekyung dan menahannya untuk berhenti menyakiti Sejeong. Semi bergegas membangunkan tubuh Sejeong. "Sejeong, kau masih sadar?" Semi melihat sebelah mata Sejeong masih terbuka.
"Larilah, pergilah sejauh mungkin. Kami akan menahan Hyekyung di sini."
Sejeong pun berdiri dengan tertatih-tatih. Memar dan rasa sakit di sekujur tubuh membuat kakinya tak bisa bergerak cepat meskipun keinginannya untuk kabur sangat besar. Pepohonan di sisi kiri dan kanannya serta tanah lembab tempatnya berpijak menjadi saksi betapa keras perjuangannya untuk bertahan. Akar pohon yang mencuat sedikit di permukaan tanah beberapa kali hampir membuatnya terjatuh.
"Yaaa! Sejeong!"
Suara Hyekyung kembali terdengar. Sejeong mempercepat larinya sambil memegangi perut. Tanah yang menanjak membuat kakinya semakin berat melangkah. Sejeong terpeleset dan terbaring memeluk tanah. Ia merangkak menggunakan kaki dan tangannya. Lalu Sejeong berteriak kesakitan karena seseorang menarik rambutnya dari belakang.
"Mau lari kemana kau, Jalang!"
Sejeong melihat batu di dekatnya. Ia pun memungut batu tersebut dan memukulkan ke kepala Hyekyung. Tidak terlalu kuat tapi setidaknya berhasil membuat Hyekyung melepaskan genggaman pada rambutnya.
Sejeong ingin kembali berlari namun Hyekyung berhasil menahannya dengan menarik lengan Sejeong.
"Dasar jalang sialan!" Hyekyung melayangkan pukulan ke kepala Sejeong dan membuat tubuh Sejeong tidak stabil lalu tergelincir. Ia pun berguling menuruni tanah menurun yang hampir menyerupai jurang. Tubuhnya berhenti berguling saat menabrak sebuah pohon.
Hyekyung tersentak dan panik. "Se-sejeong," ucapnya pelan.
"Ya! Kau sudah mati? Jawab aku, sialan!"
Tidak ada sahutan. Hyekyung gemetar. Ia pun bergegas pergi meninggalkan Sejeong yang sudah tidak bergerak lagi.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top