Bab 6
Doyoung memperhatikan ayunan pedang emas abadi yang digenggam oleh Taeyong. Mengayun sempurna lalu menebas leher manusia yang menjadi inang roh jahat. Sebenarnya pedang ini tidak nyata, hanya berupa bayangan bagi tubuh manusia yang ditebas. Namun tidak bagi roh yang merasukinya. Pedang berwarna emas yang disebut sebagai pedang emas abadi, sebuah pedang yang dibuat khusus untuk melenyapkan para roh jahat yang merusak ketenangan dunia. Hanya yang mampu yang bisa menanggung bobot pedang itu. Sudah lama sekali Doyoung tidak merasakan berat pedang itu di tangannya. Dulu ia termasuk ke dalam golongan yang mampu menanggungnya. Namun kini, pedangnya telah hilang. Lebih tepatnya telah ia korbankan.
"Sialan. Dia ahli sekali melarikan diri. Kita lelah mengejar saja hari ini. Bukan bertarung." Taeyong mengeluh lalu menghampiri Doyoung.
Aaaa! Bugh!
"Suara apa itu?" tanya Taeyong.
Doyoung segera berlari menuju arah suara berasal. Beberapa detik kemudian ia sampai di depan tubuh manusia yang terbaring tak berdaya. Kepalanya mendongak, dugaannya gadis ini terjatuh dari atas.
Taeyong yang datang belakangan langsung menghampiri gadis tersebut dan ingin menyentuhnya. Seketika Doyoung terpegun dan berhenti bergerak tepat setelah Taeyong berhasil membalikkan tubuh tersebut.
Rahangnya mengeras dan pupilnya melebar. Wajah yang tak asing telah berlumuran cairan merah di dahinya. Sebagian mengering dan sebagiannya masih merah segar. Lebam di kelopak mata kiri serta memar di sebelah pipi dan sudut bibir. Doyoung menyentuh wajah gadis itu untuk melihat cuplikan ingatan dari setiap luka yang tercipta. Emosinya membuncah. Napasnya memburu dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa dia gadis itu?"
Doyoung meneguk kelenjar ludahnya. "Aku harus menyelamatkannya."
"Jangan! Kali ini apa yang ingin kau korbankan? Nyawamu? Aku tidak akan membiarkannya," cegah Taeyong.
"Aku juga tidak bisa membiarkannya mati!" suara Doyoung meninggi.
"Kita bisa membawanya ke rumah sakit."
Doyoung berdiri dan berucap tepat di depan Taeyong. "Tidak akan sempat! Kondisinya sudah sangat parah."
"Kita bisa cari jalan lain."
Doyoung kembali duduk di samping tubuh Sejeong. Ia frustasi karena tidak tahu harus melakukan apa. Di saat seperti ini, ia sangat berharap memiliki kemampuan penyembuhan. "Aku tidak ingin jantungnya berhenti berdetak."
"Halo, Noona. Bisa kau tolong kami. Doyoung sedang kacau. Aku tidak yakin dia bisa berpikir rasional sekarang."
***
Doyoung berlari sambil menggendong tubuh Sejeong. Mereka telah tiba di rumah sakit berkat bantuan gerbang ruang milik Jieun. Perawat UGD membawakan bed stracher dan Doyoung meletakkan tubuh Sejeong di atasnya. Tubuh Sejeong di bawa masuk ke dalam ruang penanganan dan Doyoung tidak bisa mengikutinya. Ia hanya melihat dari dinding kaca. Para dokter dan perawat terlihat sibuk. Tidak lama setelahnya, tempat tidur Sejeong di dorong keluar dan di bawa ke ruang operasi.
Seorang dokter menghampiri Doyoung dan Taeyong. "Siapa wali pasiennya?"
"Saya." sahut Doyoung cepat.
"Pasien mengalami patah tulang rusuk dan kaki serta ada kemungkinan pendarahan di otaknya. Dia harus menjalani operasi segera."
"Tolong, selamatkan dia, dok!"
Dokter tersebut mengangguk. "Tentu saja. Tapi sepertinya akan memakan waktu yang lama."
"Tidak apa-apa. Asalkan dia selamat."
Doyoung pun menunggu di depan ruang operasi dengan gusar. Sudah berkali-kali ia berdiri untuk melihat ke dalam serta mondar-mandir ke kiri dan ke kanan. Dua jam lebih telah berlalu dan belum ada kabar apa pun yang ia terima dari ruang operasi.
Jieun datang dan duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaannya?"
Doyoung menggeleng tanpa suara. Jieun menatap pergelangan tangan yang masih menempel darah kering itu. Kemeja yang ia gunakan pun masih kotor bernoda merah kegelapan, menyatu dalam warna abu-abu kemejanya.
"Pergilah bersihkan dirimu dulu. Biar aku yang menunggu."
Doyoung menatap lengan dan kemejanya. Kondisinya benar-benar kacau.
***
Doyoung membasuh wajahnya. Lalu pantulan dirinya di cermin menatapnya penuh kesedihan.
"Apa yang kau tatap? Kenapa wajahmu kacau sekali?"
Doyoung bertanya kepada dirinya sendiri di pantulan cermin. Bayangan masa lalu kembali terbayang. Senyum manis seorang gadis yang sedang menatapnya. Langit hari itu sangat cerah. Kadar debu halus tak ada. Kicauan burung pun terdengar merdu. Wanita itu duduk di sampingnya lalu membenarkan posisi kerah Doyoung sambil berucap, "saranghae."
Doyoung membasuh wajahnya lagi agar kenangan itu tidak membayang di kepalanya.
Di depan ruang operasi, seorang wanita berpakaian hitam dengan rambut berwarna perak serta aksesoris tengkorak di jari manis kiri berjalan menuju Jieun lalu mengambil posisi di sampingnya.
"Penampilanmu belum berubah," sindir Jieun terhadap pakaian Jill yang masih setia dengan nuansa gelap.
"Penampilanmu juga belum berubah," sindiran balik untuk Jieun karena berpakaian terlalu modis hanya untuk ke rumah sakit.
"Haha. Bagaimana dengan perekrutan. Sudah menemukan orang baru?"
"Sudah."
"Kapan kau akan membawanya?"
"Secepatnya."
"Kau tidak sedang berbohong, bukan? Jangan berikan anggotaku harapan palsu."
"Memangnya kapan aku pernah berbohong."
"Hah. Apa perlu ku sebutkan kapan saja?"
Jill berdehem. Dasar siluman harimau. Sindir Jill dalam hati.
"Aku bisa mendengar suara hatimu."
"Aku harus pergi dulu. Sampaikan saja salamku pada Doyoung."
"Tidak janji."
***
Seorang pria merayap di lantai dengan kepala yang bercucuran darah. Betisnya terkulai lemah karena tempurung lututnya pecah dihantam sebuah palu besar. Guntur dan petir menyambar. Sekilas kilatan petir itu menyinari wajah pria bertudungkan mantel berwarna hitam. Ekspresi senyumnya terlihat menyeramkan. Ia berjalan menghampiri pria yang susah payah menghindarinya.
Hanya butuh beberapa langkah, ia sampai di muka pria itu lalu kembali melayangkan pukulan palu besar. Bayangannya yang sedang memukul terlihat perkasa dan besar di dinding sisi kanan.
Terlihat sekilas senyum pria bertudung itu saat sinar kilatan petir menempar wajahnya. Bola mata gelapnya berbinar cerah bahkan di kegelapan. Ia menatap pria yang telah sekarat di bawah kakinya. Senyumnya kembali merekah tatkala napas terakhir telah terhembuskan. asap biru yang bersinar keluar dari puncak kepala pria yang meninggal tersebut.
Pria bertudung menghirup asap itu seperti sedang menikmati hidangan lezat. Telapak tangannya meraih sang asap biru lalu merubahnya menjadi sebuah gumpalan yang semakin lama semakin kecil dan akhirnya berubah menjadi batu biru kecil yang mengkilap.
Ditelannya batu tersebut dan bola matanya yang hitam seketika berubah menjadi merah berkilau.
***
Doyoung datang menghampiri Jieun yang menggantikannya menunggu Sejeong. Jieun berdiri dan ingin pergi ke toilet. Tepat di depan pintu toilet, intuisinya terguncang. Bayangan mengerikan terlihat samar-samar. Seorang pria menghantamkan palu besar kepada manusia dengan brutal. Perasaannya sangat kuat. Tungkainya tidak stabil dan berpegangan di sisi pintu. "Perasaan ini ...." Jieun terengah-engah. "Iblis itu telah kembali."
Haechan sedang membuat dua cangkir kopi. Untuk dirinya dan juga Taeyong. Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan sekarang Jieun yang menemani Doyoung di sana. Saat berjalan menuju sofa, tempat Taeyong sekarang sedang duduk bersantai menonton acara televisi, lengan Haechan kehilangan fungsi genggamnya. Dua cangkir yang ia pegang jatuh bersamaan dan membasahi betisnya. Taeyong menoleh karena terkejut.
"Haechan? Ada apa?"
Tangan Haechan gemetar dan bola matanya bergerak gusar. "Hyung." Bahkan suaranya terdengar bergetar.
Taeyong menunggu lanjutan kalimat Haechan.
"Iblis itu kembali."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top