Bab 13
Jieun berhasil menangkap basah seseorang yang membuntutinya. "Kamu mengikuti orang yang salah," ucapnya di belakang telinga Taeyong.
"Astaga! Kau kira aku mengikutimu?" Taeyong membalikkan tubuhnya jadi menghadap ke arah Jieun.
"Iya."
Taeyong tertawa lepas. "Kau ini ada-ada saja nenek. Aku hanya ingin berkunjung ke makam Chansung. Lalu kulihat kau disini jadi ya kutunggu saja sampai kau pergi."
"Kenapa harus menunggu."
"Karena aku tidak mau berkunjung bersama kau." Taeyong menjulurkan lidahnya.
Jieun Emosi dan ingin sekali menendang Taeyong sampai terhempas jauh. Namun ia ingat sekarang masih berada di depan makam Chansung. Jadi ia harus bersikap sopan dan meredam emosinya.
Jieun hanya diam dan menatap Taeyong tajam. Namun aura membunuhnya terpancar hingga udara di sekeliling terasa dingin. Taeyong sampai bergidik ngeri. Taeyong pun menyingkir untuk membukakan jalan lalu mempersilahkan Jieun pergi.
"Huaaa. Amarahnya sungguh luar biasa. Bisa kau liat hyung? Dia belum berubah sampai sekarang."
***
Doyoung dan Sera duduk berhadapan di meja cafe. Sera menatap ke arah Doyoung yang belum berubah sejak tiga tahun yang lalu. Doyoung masih saja pendiam.
"Apa saja yang kau lakukan selama tiga tahun ini?" tanya Sera.
"Seperti biasa."
"Apa kalian masih berburu roh jahat?"
Doyoung sedikit tersentak. "Sejak kapan kau mendapatkan ingatanmu kembali?" Doyoung tidak menjawab pertanyaan Sera. Justru melemparkannya pertanyaan lain. Jujur Doyoung penasaran mengapa Sera mengenalinya dan bahkan menanyakan roh jahat. Padahal ingatan Sera tentang Doyoung dan teman-temannya telah dihapus oleh Taeyong. Mereka juga sudah memastikan bahwa Sera tidak mengingatnya karena setahun yang lalu mereka tidak sengaja bertemu tapi Sera tidak mengenali mereka.
"Baru-baru ini aku mendapatkannya kembali saat hampir celaka."
"Aku baru ini menemukan seseorang yang mendapatkan ingatannya kembali setelah kami hapus."
"Jadi apakah kalian masih mengejar roh jahat?" Sera melemparkan pertanyaannya lagi.
Doyoung meletakkan cangkir kopi di tangannya ke atas meja. "Masih," ucapnya dengan wajar datar. Doyoung membenarkan posisi duduknya. "Sekarang aku yang bertanya. Sebanyak apa kau ingat tentang kami?"
"Bagaimana kondisi gadis yang kau selamatkan tiga tahun yang lalu?" tanya Sera kembali.
***
Sejeong dan Haechan berdiri di atas papan lompat kolam renang. Hari ini adalah jadwal Sejeong berlatih mengendalikan bakat alaminya. Jieun memantau di pinggir kolam. Berbaring santai di atas kursi rebah yang biasa digunakan untuk berjemur dipinggir pantai. Tak lupa kacamata coklatnya yang trendi bertengker di atas puncak hidung, menutupi kedua bola matanya. Berbanding terbalik sekali dengan Sejeong yang sudah basah kuyup sebab jatuh bebas ke dalam kolam sebanyak 3 kali.
"Oke mari coba lagi." Sejeong mencoba menarik napas lalu memposisikan diri di ujung garis lompat.
"Sudah siap?" tanya Haechan.
"Sudah."
Haechan berpegangan di pagar dan bersiap mendorong tubuh Sejeong. "Kali ini harus berhasil ya."
Sejeong mengangguk lalu mulai berkonsentrasi. Tanpa isyarat apapun, Haechan langsung mendorong tubuh Sejeong hingga kehilangan keseimbangan dan miring ke samping lalu terjatuh ke bawah. Terhempas dan masuk ke dalam air kolam. Sejeong gagal lagi menghentikan waktu.
Sejeong memukul air dengan kesal. Jieun tampak tidak peduli dan meneguk jus mangga. Sedangkan Haechan berteriak menyemangati Sejeong. "Go Sejeong go Sejeong go."
Sejeong mendengkus kesal lalu kembali ke atas papan lompat. Ia mencoba lagi. Lagi, dan lagi. Entah sudah ke berapa kalinya ia mencoba. Masih saja tidak bisa mengendalikan waktu sesuai keinginannya.
"Oke ini yang terakhir. Jika masih gagal juga, kita pulang saja. Kau harus istirahat. Besok hari pertamamu masuk sekolah lagi, bukan?"
"Ah. Iya. Aku lupa."
"Ya! Bisa-bisanya kau lupa. Mulai besok adalah tahun terakhirmu di sekolah. Apa kau tidak ingin bersekolah lagi?"
"Apakah boleh jika tidak sekolah lagi?"
"Kalau itu aku tidak tahu. Coba saja tanyakan pada Jieun-noona."
Sejeong menoleh ke arah Jieun yang sedang sibuk menatap layar ponselnya. Sejeong terbayang temperamental Jieun yang meledak-ledak. Ia spontan menggeleng takut. "Aku tidak berani."
Haechan tiba-tiba mendorong Sejeong lagi.
"Aaaa," teriak Sejeong. Kali ini ia benar-benar terkejut dan tidak sempat bersiap-siap.
Sejeong memejamkan matanya dan menyiapkan diri untuk merasakan sakitnya menghantam air kolam untuk ke sekian kalinya. Namun, dalam hati ia terus meminta waktu untuk berhenti. BERHENTI. Teriaknya dalam hati.
Seketika semua berhenti. Jam beker dengan denting jarum yang keras yang sengaja diletakkan Haechan dipinggir kolam berhenti berbunyi. Suara hiruk pikuk dunia pun tak lagi terdengar. Keheningan seolah menyelimuti dunia.
Tubuh sejeong masih mengambang di udara. Namun pergerakan jatuhnya menjadi sangat pelan. Seolah gravitasi juga berhenti atau kehilangan fungsinya. Sejeong menoleh ke arah Jieun. Ternyata benar dugaannya. Jieun tidak terpengaruh oleh kekuatannya.
Jieun melepas kacamatanya lalu tersenyum. Kemudian ia berjalan di atas air. Sejeong terkejut melihatnya. Air yang seharusnya merupakan benda cair tiba-tiba memiliki massa yang sama dengan benda padat hingga bisa menjadi alas berpijak. Jieun menarik tubuh Sejeong yang melayang-layang di udara persis seperti astronot yang berada di luar angkasa.
"Luar biasa." Sejeong berdiri di atas air. "Bukan hanya gravitasi, bahkan air juga ikut terpengaruh." Sejeong merasa takjub sendiri akan kekuatannya.
"Iya. Seluar biasa itulah kekuatanmu."
"Bagaimana mungkin aku bisa memiliki bakat seperti ini?"
"Jangan terlalu senang. Semakin kuat bakat yang kau miliki, semakin besar tanggung jawab yang harus kau tanggung."
***
Jungwoo keluar dari rumahnya dan berjalan menuju rumah makan tempat biasa ia membeli makanan. Rumah makan Ahjumma itu sederhana namun cita rasanya sangat cocok di lidahnya, sehingga ia selalu menyempatkan diri mampir ke sana paling tidak seminggu sekali. Kalau dia tidak sibuk, bisa empat kali dalam seminggu.
Suara berisik terdengar keras dari rumah makan. Jungwoo berlari menuju asal suara. Saat membuka pintu, keadaan sudah sangat berantakan. Kursi dan meja berhamburan bersama pecahan piring dan gelas. Seorang pria yang masih terlihat mabuk menampar ahjumma dengan kuat.
Kehadiran Jungwoo benar-benar tak digubris. Pria paruh baya itu tidak menyadarinya. Jungwoo menatap adegan kekerasan itu dengan wajah datar. Namun kakinya melangkah dengan lebar saat pria itu ingin melemparkan kursi kepada ahjumma.
"Siapa kau!" pria itu berteriak. "Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang."
"Ah! Kau suaminya Ahjumma. Jadi kau penyebab lebam-lebam yang sering terlihat di tangannya." Jungwoo masih memegangi lengan pria itu.
Pria tersebut berusaha melepaskan pegangan tangan Jungwoo. "Siapa kau?"
"Aku? Hanya pelanggan."
Pria itu meringis kesakitan karena semakin lama genggaman Jungwoo semakin kuat.
"Ju-jungwoo-ssi," panggil Ahjumma. Akal sehatnya kembali dan genggamannya pun melonggar. Suami ahjumma itu menarik tangannya cepat.
"Si-silahkan duduk. A-aku buatkan pesananmu seperti biasa."
Jungwoo duduk di kursi. Suami ahjumma pergi dengan wajah kesal dan membanting pintu kencang. Tak lama setelahnya, ahjumma datang dengan pesanan Jungwoo. "Apa dia sering seperti itu?" tanya Jungwoo.
"Tidak juga." Ahjumma menjawab dengan raut yang tidak meyakinkan. Jungwoo merasa ada kebohongan dalam ucapannya.
"Dia hanya seperti itu saat sedang kesulitan."
"Berarti dia sering berada dalam kesulitan."
Ahjumma hanya menunduk lemah. Tak mengiyakan dan tak juga mengelak ucapan Jungwoo.
"Maaf jika aku terlalu ikut campur, tapi mengapa kalian tidak bercerai saja?"
Ahjumma memeluk nampan di depan perutnya. Tangannya mengepal dan bola matanya nanar. "Seandainya ... tapi tidak semudah itu."
***
Sejeong duduk di kursi taman dengan tentengan belanjaan berisi cemilan. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Hyekyung dan komplotannya sedang berjalan ke arahnya. Sorot mereka sudah bertemu sehingga melarikan diri pun akan percuma. Ini pertama kalinya Sejeong melihat Hyekyung lagi sejak hari kepulangannya dari rumah sakit.
Tak peduli kemampuan Sejeong telah bertambah atau tidak, rasa gugup tetap saja muncul saat melihat wajah yang tersenyum manis namun terasa jahat itu mendekatinya. Sejeong diam-diam mengepalkan kedua tangannya dan berharap hal buruk tidak akan terjadi.
"Aigoo, Sejeong kita yang cantik sedang apa duduk sendirian disini?" Hyekyung langsung duduk di samping kiri Sejeong.
Sejeong masih diam.
"Di mana eonnie kaya dan modis yang menjemputmu waktu itu?"
"Untuk apa kau tahu dia di mana?"
"Daebak. Ternyata Sejeong benar-benar sembuh dari gagapnya?" Semi tersentak.
Hyekyung membongkar plastik cemilan Sejeong. Ia membuka kaleng cola lalu seolah-olah tidak sengaja menumpahkannya ke tubuh Sejeong. "Ah. Mian. Tanganku terpeleset. Haha."
"Tunggu, di mana bekas lukamu? Bukankah seharusnya masih ada? Tidak mungkin secepat ini hilang." Sinhye memperhatikan wajah Sejeong.
"Coba kulihat." Hyekyung memegang wajah Sejeong dengan kedua tangannya. "Kau benar, seharusnya lukanya masih ada."
Hyekyung memberi kode kepada teman-temannya untuk berbaris menutupi Sejeong dan dirinya dari pandangan orang lain. Yoori, Semi dan Sinhye mengatur posisi dan setelah itu, tamparan Hyekyung melayang ke wajah Sejeong. "Tak masalah jika lukamu hilang, aku bisa membuatnya lagi."
Sejeong sempat terkejut, namun ia tidak menyangka kalau tamparan Hyekyung terasa selemah ini. Sejeong terkekeh masih dalam posisi kepala menghadap ke sisi kanan bawah.
"Wah, gadis gila. Bisa-bisanya kau tersenyum setelah ditampar."
"Ternyata tamparanmu tak sekuat dulu, apa kau mulai melemah?"
"Apa?" Hyekyung kembali menampar Sejeong.
Sejeong tak menghindar, justru terus membuat wajahnya menerima tamparan tersebut. Hingga tepat menuju tamparan ke tujuh, lengan Hyekyung akhirnya ditahan oleh Sejeong. "Sudah cukup. Berapa kali pun kau lakukan, tak akan berdampak bagiku. Kau hanya membuat tanganmu lelah."
Sejeong berdiri dari kursi, mendorong Yoori dan Semi untuk menyingkir dari jalannya. Sejeong berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia berusaha menahan diri.
Sejeong masuk ke dalam toilet umum lalu memuntahkan isi perutnya bersama rasa takut dan trauma yang ia tahan sejak tadi. Sejeong terbayang udara dingin dan mencekamnya malam di gunung hari itu. Di saat ia merintih kesakitan tapi masih saja menerima pukulan dan tendangan. Belum lagi rasa sakit berguling ke dalam jurang lalu terdampar sekarat. Bagaimanapun juga rasa sakit akan perundungan itu belum sepenuhnya hilang. Inilah yang membuat Sejeong merasa tak pernah siap kembali ke sekolah.
Tiba-tiba dengung menyerang indra pendengarannya. Semakin kuat dan disertai bisikan-bisikan tak jelas. Sejeong sekuat tenaga menahan diri untuk tetap sadar namun bisikan itu terus menghasutnya melakukan sesuatu. Sejeong keluar dari toilet, membasuh wajahnya di depan wastafel dan meneguk sebotol penuh air mineralnya karena ia merasa sangat haus. Namun dahaganya tak juga hilang justru semakin panas. Tenggorokannya seperti terbakar. Bisikan-bisikan itu terus menghasutnya untuk bergerak. Sejeong pun mencoba mengikuti. Kesadarannya mungkin telah menghilang setengahnya.
Sejeong menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang. Ia berjalan dan terus berjalan, pandangannya seperti mengarahkannya ke satu tujuan dan Sejeong cukup mengikuti saja. Entah kemana pikirannya akan membawanya. Apakah ini salah satu efek samping dari mendapatkan kekuatan? Apakah ini lumrah terjadi? Kenapa tidak ada yang memberi tahukan kepadanya sebelumnya?
"Hyekyung? Apa dia tujuanku?"
"Bunuh ... bunuh ... bunuh." Bisikan itu terdengar semakin jelas.
"Kenapa aku harus membunuhnya? Apa dia roh jahat?"
"Bunuh ... bunuh ... bunuh."
Semakin dekat jaraknya dengan hyekyung semakin menggila rasa hausnya. "Apa-apaan ini? Kenapa aku begini?"
"Bunuh dia sekarang!"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top