Bab 14

"Bunuh dia sekarang!"

Pandangan Sejeong semakin fokus. Sebaliknya kesadarannya semakin lemah. Kini pikirannya seperti dikendalikan oleh sesuatu yang lebih kuat darinya, menyebabkan tubuhnya terus bergerak mengikuti bisikan yang hampir menyerupai bisikan iblis. Semakin lama semakin dekat. Diri Sejeong yang sebenarnya telah tenggelam entah kemana.

Sebentar lagi hasrat terdalamnya akan terwujud.

Tiba-tiba ...

"Sejeong." Seseorang menarik lengannya.

Sejeong berhenti berjalan.

"Kau mengabaikanku? Kenapa tidak menoleh saat dipanggil?" tanya Doyoung.

Sejeong masih membelakangi Doyoung. Akhirnya Doyoung menyentuh bahu Sejeong lalu memutar tubuh Sejeong menghadap ke arahnya.

"Ya! Kenapa kau tidak menja—" Doyoung terdiam. Ia sadar hal aneh telah terjadi pada Sejeong.

Tiba-tiba tubuh Sejeong melemah. Doyoung dengan sigap menangkapnya.

***

"Sejeong-ah." Suara Haechan langsung terdengar begitu Sejeong membuka matanya. Haechan duduk di pinggir kasur dengan pandangan cemas. "Kau baik-baik saja? Apa kepalamu masih pusing?"

"Hm. Sedikit. Apa yang terjadi padaku?"

"Doyoung-hyung menemukanmu bersikap aneh lalu kau pingsan."

"Aneh? Pingsan?"

Haechan mengangguk.

"Kenapa bisa?"

"Sepertinya kau kelelahan karena terlalu banyak berlatih akhir-akhir ini."

"Apa mungkin hanya karena itu?"

"Mungkin saja."

"Di mana Doyoung-oppa sekarang?"

"Sedang melakukan misi pengejaran."

Jieun membuka pintu kamar dan menatap ke arah Sejeong. "Ya! Sudah lebih baik?" tanya Jieun dengan nada yang terkesan santai.

"Noona, nadamu bertanya tidak terkesan khawatir," protes Haechan.

"Nada bicara tidak penting. Arti kalimatnya lebih penting." Jieun mendekat ke sisi kasur. Ia meminta Haechan untuk keluar karena ada yang ingin ia bicarakan dengan Sejeong.

Setelah Haechan keluar, Jieun menatap Sejeong dan berucap, "Sekarang coba jelaskan semua yang kau ingat tentang hal aneh itu."

***

Doyoung melemparkan serangan dengan memutar badan, merunduk lalu memukul titik lemah lawannya, yaitu bagian belakang leher. Manusia yang sedang kerasukan roh jahat itu terpental menghantam tembok. Pria berusia 20-an akhir itu merintih dan terbatuk-batuk . Lalu dengan cekatan Taeyong melayangkan pedang emas abadi untuk menebas roh jahat yang merasuk.

Roh jahat tersebut berteriak kesakitan dan terpaksa keluar dari inangnya lalu melebur menjadi butiran debu hitam dan menghilang.

"Huh, aksiku memang tak pernah mengecewakan. Benar kan?" Taeyong meminta pengakuan dari Doyoung.

"Good job," ucap Doyoung sambil berjalan meninggalkan Taeyong.

"Ya! Tunggu aku." Taeyong berlari menyusul. "Kau sudah tidak sabar ya bertemu Sejeong makanya terburu-buru, haha."

***

"Sejeong-ah." Suara heboh Taeyong langsung memenuhi ruang TV. Sejeong yang sedang minum sampai tersedak.

Sejeong menoleh ke arah pintu masuk.

"Sejeong-ah, kau baik-baik saja? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Cepat katakan, biar kusembuhkan."

Doyoung mendorong kepala Taeyong saat berlalu di depannya. "Sejak kapan kau punya kemampuan penyembuh, hah?"

"Hehe." Tawa Taeyong.

"Aku baik-baik saja."

Taeyong mengerutkan keningnya. "Wajahmu berkata sebaliknya."

"Benarkah?"

Taeyong mengangguk dua kali.

Doyoung menatap Sejeong. Posisi mereka tepat berhadapan karena Doyoung duduk di sofa depan Sejeong. Sejeong berfirasat bahwa Doyoung sudah mengetahui kegusaran hati Sejeong sekarang. Karena dari cara Doyoung menatapnya sudah menjelaskan semuanya.

Akhirnya, Sejeong pamit ke belakang untuk menghindar. Sejeong memilih duduk di ayunan sambil menatap kolam renang. Tak lama setelahnya Doyoung datang menyusul. Sejeong merasa canggung namun berusaha menutupinya dengan menyapa dan bertanya bagaimana misi hari ini.

"Lancar," sahut Doyoung singkat. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Baik."

"Pembohong."

Sejeong mengerutkan kening.

"Aku tahu apa yang terjadi padamu hari ini. Aku sudah melihatnya."

"Tepatnya apa yang kau lihat?"

"Kau dan teman sekolahmu."

Sejeong menunduk. "Aku sedikit khawatir dengan hari pertamaku kembali ke sekolah besok," ucap Sejeong akhirnya dengan intonasi rendah.

"Apa yang perlu kau khawatirkan? takut menjadi korban bully lagi?"

"Bukan."

"Lalu apa?"

"Aku takut tidak bisa menahan emosi ... dan berakhir menggunakan kekuatanku dengan sembrono." Sejeong mendongakkan kepalanya dan menatap Doyoung. "Seperti hari ini," sambungnya.

Doyoung balas menatap Sejeong lalu tersenyum tipis. "Aku mengerti perasaanmu." Doyoung mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah gelang dengan tali berwarna hitam dan terdapat satu mutiara putih di tengah sebagai permata dari gelang tersebut. Doyoung meraih lengan Sejeong lalu memasangkan gelang tersebut.

"Ini ... bukan gelang biasa?"

"Hm. Aku telah memasukkan sedikit energiku ke batu permatanya."

"Wah. Daebak." Sejeong menatap kagum gelangnya. "Pantas saja terasa berbeda."

"Aku tidak ahli mengucapkan kalimat penghibur atau memberikan kalimat semangat. Jadi kurasa gelang itu bisa mewakiliku."

"Hm. Gwenchana."

"Besok, atau kapanpun saat kau merasa hampir lepas kendali, peganglah permata gelang itu."

"Terima kasih, oppa," ucap Sejeong lalu kembali menatap gelang di lengan kirinya. Rasanya cukup menenangkan.

"Hm."

"Tunggu, bukankah ini terlihat seperti gelang persahabatan atau pasangan yang biasa dipakai anak muda."

"Benarkah?"

"Iya, dan biasanya dijual sepasang. Apa gelang satunya oppa yang pakai."

"Tidak. Aku tidak membeli sepasang. Hanya itu."

Sejeong menatap curiga.

"Sungguh. Hanya itu."

"Baiklah akan kucoba percaya."


***


Sebuah mobil sport berwarna putih melaju dan berhenti tepat di depan gedung sekolah. Sejeong menggenggam tali sabuk pengamannya erat.

"Kau sedang apa?" tanya Haechan.

"Mengumpulkan energi."

"Untuk?"

"Kau tidak lihat semua orang menatap ke arah mobil kita? Kan sudah kubilang turunkan aku di depan gerbang saja."

"Hahaha. Astaga!" Haechan tertawa. "Kau ini kenapa sih? Memang apa yang salah di antar sampai depan sekolah."

"Kau tidak tahu seperti apa aku di sekolah?"

"Tahu. Kau adalah objek perundungan utama."

"Nah itu maksudku. Kalau orang-orang melihat aku keluar dari mobil ini, kira-kira apa yang akan terjadi?"

"Hmm." Haechan berpikir. "Orang-orang akan membicarakanmu dan anak-anak yang sering mengganggumu akan mendapatkan bahan untuk mengganggumu lagi. Begitu?"

"Kau tahu persis tapi tetap melakukannya."

"Sejeong-ah." Haechan menatap Sejeong serius. "Apa kau lupa siapa kau sekarang?"

Sejeong mengedipkan matanya dan menatap Haechan.

"Kau bukan lagi Sejeong yang dulu. Kau tidak perlu berjalan sambil menundukkan kepala dan ketakutan. Tidak ada satu pun manusia yang bisa melawanmu di sekolah ini. Sadarlah."

Sejeong terhenyak ditampar kenyataan. Kenyataan yang tidak Sejeong sadari. Buat apa dia merasa takut. Dia bukanlah Sejeong yang dulu.

"Cepat keluar kalau tidak mau terlambat di hari pertama."

Sejeong membuka pintu mobil. Mendongakkan kepala dan melangkah dengan percaya diri. Ralat. Pura-pura percaya diri. Tidak semudah itu menghilangkan rasa takutnya.

Tak cukup sampai di situ, Haechan ikut keluar dan berteriak memberi semangat kepada Sejeong. Ia merasa sangat malu karena semakin menarik perhatian banyak orang. Termasuk Yoori, salah satu pengikut setia Hyekyung.




***

Sejeong duduk di kursinya dengan tenang. Satu mata pelajaran telah berlalu dan kini sepuluh menit istirahat sebelum memulai pembelajaran kedua. Sejeong melihat Hyekyung berdiri dari kursinya. Tiga sahabatnya mengikuti di belakang. Hyekyung duduk di atas meja Sejeong.

"Annyeong, OKB."

Sejeong tidak merespon.

"Katanya tadi pagi kau diantar oleh laki-laki tampan dengan mobil mewah. Tidak mungkin dia pacarmu, kan?"

Sejeong masih diam.

"Tapi mengingat seperti apa wanita gila di rumah sakit waktu itu ingin mengadopsimu, rasanya mungkin saja sih kau berpacaran dengan laki-laki tampan. Omo! apa wanita itu germo mu?" Hyekyung berekspresi seolah-olah sedang kaget.

"Ya! kau punya pekerjaan baru ternyata." Semi menepuk bahu Sejeong lalu tertawa.

"Berapa tarifmu semalam?" tanya Sinhye.

"Apa pelangganmu biasanya tampan seperti laki-laki yang mengantarmu?" Giliran Yoori yang bertanya.

Sejeong masih bungkam.

"Oh iya kegiatan kita di taman kemarin juga cukup mengejutkan. Tidak kusangka kau bersikap seberani itu sekarang. Huft. Sayang sekali aku sangat sibuk kemarin, jadi tidak bisa berlama-lama denganmu. Tapi tenang saja, aku sudah mengosongkan kegiatanku hari ini khusus untukmu. Haha."

"Banyak yang ingin kami tanyakan padamu." Yoori berucap.

Hyekyung mengangguk untuk mengiyakan kalimat Yoori.

Sejeong belum juga bersuara. Ia memilih diam dan berusaha untuk tidak menanggapi ocehan Hyekyung dan kawan-kawannya.

"Ya! Kau sedang puasa bicara?" mendorong kepala Sejeong ke belakang dengan dua jarinya "Atau kau kembali afasia? Haha."

Sejeong mulai menajamkan tatapannya.

"Woah. Lihat. Kini dia berani menatapku seperti itu." Hyekyung berbicara kepada teman-temannya.

"Dasar," Mendorong kuat kepala Sejeong, "tidak tahu," mendorong lagi, "Diri." Kali ini Sejeong menahan lengan Hyekyung hingga tak sempat mendorong kepalanya.

"Kau berani memegang tanganku? Apa kau ingin menyusul orang tuamu?" Intonasi Hyekyung meninggi. Ia melayangkan sebelah tangannya yang bebas untuk menampar Sejeong. Sejeong tidak menahannya kali ini, ia membiarkan Hyekyung melukainya terlebih dahulu, agar ia punya alasan untuk membalas.

Sejeong menyeringai. "Ternyata kau sungguh penasaran denganku. Banyak sekali pertanyaan yang kau ajukan. Kenapa? Apa kau sudah sangat merindukanku?"

Tampak ekspresi orang-orang di kelasnya terkejut karena bicara Sejeong yang lancar dan Tegas. Eunbi si ketua kelas yang bisanya cuek dengan situasi kelas dan hanya fokus belajar juga ikut menoleh memperhatikan kejadian di belakang.

Hyekyung berdiri dan mendorong meja Sejeong ke samping.

"Ya, Gae Saekki! Jangan besar kepala hanya karena gagapmu hilang. Aku bisa membuatmu cacat dua kali lipat dari sebelumnya."

Sejeong melihat ke arah sepatu yang digunakan Hyekyung. Ia ingat sepatu itu. Itu adalah sepatu yang ia dapatkan dari orang asing di halte bus. Sejeong tiba-tiba terbayang adegan masa lalu tersebut. Tunggu! Pria itu adalah Doyoung-oppa?

Sejeong tiba-tiba teringat wajah pria yang memberikannya sepatu. Ia benar-benar lupa tentang sepatu dan pemberi sepatu tersebut sampai akhirnya hari ini ia melihat sepatu itu lagi.

"Rupanya hari ini kau menggunakan sepatu yang kau curi dariku. Apa kau setidak mampu itu sekarang, sehingga harus mencuri sepatu branded milik orang lain?"

Setelah mengingat asal sepatu tersebut. Sejeong sangat ingin mengambil kembali dari Hyekyung. Bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan kembali sepatunya.

"Shibal," umpat Hyekyung lalu berniat menyerang Sejeong.

Belum sempat Hyekyung bergerak, Sejeong telah berdiri dari kursi. Menarik kerah baju Hyekyung lalu menghempaskannya ke belakang sehingga menghantam loker yang berada tepat di belakang kursi Sejeong. Semua mata tertuju kepadanya. Sejeong merasa ada gejolak aneh di dalam dirinya. Seperti haus tapi bukan air yang ia butuhkan. Buku-buku jemarinya berbunyi.

"Kau sebaiknya berhati-hati." Orang-orang di kelasnya terkejut. Terutama Hyekyung dan teman-temannya. "Karena sekarang aku juga bisa membuatmu cacat dua kali lipat." Sejeong duduk di atas tubuh Hyekyung yang terbaring lalu melayangkan pukulannya dengan yakin dan keras di wajah dan kepala Hyekyung.


***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top