Bab 12

Dua minggu sudah berlalu sejak berita penemuan mayat pentagram disiarkan di televisi. Orang-orang masih ramai membicarakannya. Menjadi momok menakutkan yang kembali meneror warga. Masyarakat menjadi lebih waspada dan curiga terhadap orang asing. Begitu juga dengan Sejeong. Ia duduk di kursi taman setelah berolahraga. Matanya terus mengamati setiap orang yang berlalu di hadapannya. Semua kalangan dari anak-anak sampai kakek nenek tak luput dari analisa pandangnya. Napasnya masih terendah-engah. Jieun bilang ia tidak perlu ikut melakukan misi jika belum bisa meningkatkan kekuatan fisik dan mengendalikan bakat alaminya. Karena hal itu hanya akan menjadi halangan dalam melaksanakan misi dan membebani rekan lainnya.

Sejeong tidak bisa membantah karena ucapan Jieun ada benarnya. Itulah sebabnya kini ia rutin berolahraga dan lari sore di taman sambil mengasah kemampuan visinya terhadap orang-orang yang tak sengaja tersentuh olehnya. Ia melatih kekuatannya untuk melihat masa depan seseorang. Berlatih mengolah informasi dari gambaran singkat yang ia dapatkan dan menarik kesimpulan. Berulang kali ia lakukan sampai fisiknya pun terasa lelah. "Ternyata benar kata Haechan, bakat alami sangat menguras energi."

"Bukannya berolahraga, malah duduk santai disini." Suara Doyoung terdengar dari arah kiri. Sejeong menoleh.

"Siapa yang duduk santai?"

"Kau."

"Enak saja. Aku sudah—" Doyoung menyentuh telapak tangan Sejeong tiba-tiba. Sejeong tahu maksud dari tindakan Doyoung tersebut, tapi tetap saja ia tidak terbiasa dan tidak bisa mengontrol pikiran lain yang tebersit. "Minta izin dulu sebelum membaca pikiran orang."

"Pikiranmu lebih bisa dipercaya daripada ucapanmu."

Sejeong melotot geram. "Kau ini."

"Kenapa?"

"Menyebalkan."

"Memangnya kau meminta izin juga sebelum membaca masa depan orang lain? Tidak bukan?"

"Dua kali lipat menyebalkan."

Doyoung terkekeh. "Kau pasti lelah, Ayok."

"Ke mana?"

"Mengisi ulang energi."

"Assa! Cool."

Dasar bocah. Cepat sekali berubah suasana hatinya.

***

Sejeong melahap sandwich ukuran jumbo hanya dalam beberapa kali gigitan, dan kini sudah porsi keduanya. Doyoung sampai tercengang melihatnya. "Wah, jika aku orang asing, aku pasti akan salah paham dan mengira kau tidak makan selama seminggu."

Sejeong tersedak. Doyoung memberikannya minum. "Pelan-pelan." Doyoung memperingatkan agar tidak kembali tersedak karena minuman. "Aigooo." Doyoung menggelengkan kepala melihat Sejeong yang minum sambil menumpahkan minuman di kedua sisi bibirnya lalu membasahi leher dan pakaiannya. "Apa kau anak kecil, minum saja belepotan. Makan juga berantakan, terburu-buru seperti dikejar setan. Padahal kita pemburu setan."

Sejeong memasang wajah lugu dan melasnya. Hal itu membuat Doyoung tidak tega lagi mengomel. Doyoung berdehem. Ia menarik tisu lalu mengarahkan ke wajah bibir Sejeong yang belepotan sais dan air cola. "Makanlah lagi, tapi pelan-pelan saja. Kita tidak sedang terburu-buru," ucapnya dengan lebih lembut.

"Mianhae Oppa." Sejeong tersenyum.

Doyoung hanya berdehem.

"Oppa. Sebenarnya berapa umurnya Oppa?"

"Kenapa bertanya?"

"Pasti sudah sangat tua, kan?"

"Ke-kenapa emangnya kalau aku tua? Fisikku tetap muda."

"Tapi pemikiran Oppa tetap tidak bisa dibohongi. Kau terasa seperti ibu-ibu tua yang suka mengomel, hehe."

"WAH ... HAHA ... WAH." Doyoung kehabisan kata-kata. "Ingin kusemprotkan saos pedas di mulutmu?"

"Tidak." Sejeong tersenyum.

***

Park Sera mendatangi rumah korban pembunuhan berantai pentagram. Kontrakan satu ruang dengan barang yang berantakan dan tak terurus. Belum lagi sampah plastik bekas kemasan makanan, serta botol-botol soju dan kaleng bir yang menambah aroma busuk. Jika saja ia tidak cinta dengan pekerjaannya, Sera tidak akan mau memasuki ruangan seperti ini. Tidak ada informasi penting yang ia dapatkan dari sini. Hanya satu yang bisa ia ambil yaitu sebuah foto korban dengan anak kecil dan wanita.

Menurut informasi yang telah dikumpulkan oleh timnya, korban terakhir terlihat adalah sebulan yang lalu. Saat itu Korban pergi ke toko kelontong di dekat kontrakannya untuk membeli 2 botol soju. Kondisi Korban sudah terlihat mabuk di malam itu. Pemilik toko sempat menegurnya untuk berhati-hati saat berjalan pulang. Sang korban justru mengomel tak jelas seperti tidak terima akan dikatakan mabuk.

Ia pun pergi dari toko dan melewati gang besar. Korban sempat tertangkap cctv. Kemudian menghilang dibelokan gang kecil dan tidak ada cctv di sana. Setelah itu tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepadanya. Entah korban sampai ke kontrakannya atau tidak. Atau sempat pulang lalu pergi lagi.

Namun, firasat Sera mengatakan korban tak sempat kembali. Sebab dua botol soju yang baru saja dibeli tidak ada di kontrakannya. Botol soju dengan stiker idol wanita. Sera keluar dari kontrakan korban dan bertemu seseorang.

***

Sejeong melakukan sesi meditasi lagi untuk melatih fokusnya dalam pengendalian bakat alami. Ia ditemani oleh Haechan.

"Haechan-ssi," panggil Sejeong setelah mereka selesai bermeditasi.

"Hm?"

"Aku penasaran, sebenarnya umur kalian semua berapa? Kalian terlihat muda."

"Umur Doyoung-hyung dan Taeyong-hyung adalah 980 tahun."

Sejeong membelalak. "Jadi mereka hidup di jaman kerajaan. Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku? Aku yang termuda di sini. Usiaku baru 109."

"Baru kau bilang? Daebak."

"Kita beruntung menjadi brocker brotherhood di bawah kepemimpian Jieun-noona, kita menjadi awet muda karena melakukan kontrak dengannya. Oh iya apa kau telah melakukan kontrak?"

"Kontrak? Kontrak yang seperti apa?"

"Ternyata belum yah. Kalau begitu kau masih bisa menua seperti manusia biasa."

"Jadi jika aku telah melakukan kontrak dengannya, aku tidak akan menua?"

"Ya seperti itulah."

"Sebenarnya, siapa Jieun-eonnie ini? Apa dia bukan manusia seperti kita?"

Haechan menggelengkan kepala. "Dia siluman harimau putih. Usianya sudah 1500 tahun lebih."

Sejeong tersedak minumannya. Sangat tidak disangka, wajah imut itu telah berusia 1500 tahun. Pantas saja Taeyong sering menggodanya dengan panggilan nenek.

"Kau ini sungguh tidak tahu apa-apa jika tanpaku." Haechan berucap.

Sejeong memilin bibir dan tersenyum tipis. "Ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan?"

"Apa?"

***

Doyoung pergi ke lokasi yang ditunjukkan Haechan sebagai rumah dari korban pembunuhan pentagram. Semenjak kemunculan kasus baru pentagram, ada percikan api tersendiri dalam diri Doyoung, Taeyong, Haechan dan Jieun. Semuanya seperti kembali ke dalam kubangan amarah dan kesedihan yang tak berujung. Kegelapan emosi yang membuat semuanya bergerak tanpa instruksi. Berusaha mencari kebenaran demi mengobati luka masing-masing.

Doyoung berdiri di depan pintu berwarna coklat yang tampak lusuh dan tak terawat. Baru saja ia ingin memegang ganggang, pintu sudah terbuka dari dalam. Sera terkejut melihat seseorang yang telah lama tidak ia lihat. Begitu juga dengan Doyoung.

"Doyoung-ssi."

***

Sejeong keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Ia membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap lurus ke langit-langit kamar. Pikirannya melayang ke kejadian tiga tahun lalu yang diceritakan oleh Haechan. Ia membayangkan setiap peristiwa seolah ia berada di sana. Ternyata bukan hanya ia yang memiliki luka.

"Aku penasaran kenapa Jieun-eonnie menunjukkan emosi seperti itu tadi. Biasanya dia tidak pernah membawa perasaan saat menjalankan misi." Sejeong bertanya lagi kepada Haechan.

"Ah. Itu karena dia punya masa lalu yang buruk dengan iblis itu." Haechan yang sudah berdiri kembali duduk dan menceritakan masa lalu Jieun kepada Sejeong.

"Namanya Astaroth, iblis berkedudukan tinggi. Ia bertarung melawan iblis itu karena telah membunuh orang-orang terdekatnya. Ia berhasil mengalahkan Astaroth. Namun ...." Tangan Haechan mengepal kuat. "Tiga tahun yang lalu, iblis sialan itu kembali. Dia menjadi lebih kuat dan membunuh Go Chansung lalu menghilang."

Sejeong tersentak.

"Chansung-hyung adalah anggota pertama yang Jieun noona rekrut. Mereka berdua telah bersama sangat lama. Lalu 500 tahun kemudian Jill menemukan Doyoung-hyung dan Taeyong-hyung kemudian membawanya bergabung dengan Jieun noona. Bisa dikatakan juga bahwa Chansung-hyung adalah satu-satunya anggota tim yang direkrut langsung oleh Jieun-noona. Kekuatannya pun hampir setara dengan Jieun."

"Lalu bagaimana ia bisa meninggal? Bukankah ia sangat kuat?"

"Ia mengorbankan nyawanya."

Sejeong merasa Haechan sangat membenci situasi yang ia kisahkan. Ternyata dibalik tawa dan candanya selama ini, ada luka yang terlalu perih untuk diungkap. Pasti sangat berat baginya.

"Sunbae-nim, aku berjanji akan menjadi lebih kuat dari sekarang. Agar tidak buru-buru menyusulmu," ucapnya lirih.

***

Jieun berdiri di depan sebuah nisan bertuliskan nama Go Chansung. "Annyeong chansung-ah." Jieun meletakkan mawar putih di atas nisan tersebut dan mulai menundukkan kepala. Ia kembali mengangkat kepalanya, sedikit mendongak untuk menahan air mata yang ingin terjatuh.

"Sudah tiga tahun berlalu. Aku tidak akan meminta maaf lagi."

Hening kembali. Jieun hanya menatap batu nisan tersebut. Beberapa menit setelahnya ia kembali bersuara. "Kali ini aku akan menangkapnya. Tunggulah, Chansung-ah."

Jieun beranjak pergi meninggalkan makam Chansung. Jieun sadar sedari tadi ada seseorang yang mengikutinya. Namun ia bersikap pura-pura tidak tahu saja. Orang tersebut tidak mengikutinya lagi sejak ia meninggalkan makam. "Kamu mengikuti orang yang salah."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top