3

"Rinso udah ... odol, sabun badan, sabun ... sabun apa sih, oh sabun cuci muka belum!"
Malam itu, setelah kerja part time di toko bunga aku pergi ke swalayan untuk belanja bulanan. Biasanya aku ke sana sore hari, sekitar jam empat. Namun, karena lelah, aku ketiduran sampai adzan Maghrib.
"Apa lagi ya yang belum?" Aku gigit bibir, berusaha mengingat apa yang belum kubeli. Kebiasaanku saat berbelanja adalah aku tidak pernah mencatat apa-apa yang ingin kubeli. Dan di saat seperti ini, aku menyesalinya.
"Nyari ini?"
"Eh?" Aku berbalik. Saat melihat seseorang yang menaruh sebungkus permen yupi ke dalam troli, kuyakin wajahku pucat pasi.
Mahesa ....
Aku diam seribu bahasa. Mahesa sama diamnya dengan aku. Kami hanya saling tatap, menelisik mata lawan untuk tahu di balik mata itu ada apa.
Ini gila.
Lebih gila dari momen-momen yang kubayangkan ketika harus berhadapan dengan Mahesa. Ini terlalu mendadak, aku bingung harus bagaimana. Aku belum menyiapkan apa pun, bahkan nyaliku tinggal seujung kuku.
"Ternyata bener, kamu nggak di Solo," katanya satir.
Aku membuang pandang, tidak ingin menatap Mahesa apalagi matanya.
"Sekolah di UNY, 'kan?" tebaknya dingin.
Mendengar tebakannya yang jitu, aku mendongak, menatap Mahesa penuh tanda tanya. "Tahu dari mana?"
Aku tidak tahu, jenis tatapan apa yang sedang Mahesa layangkan sekarang, tetapi aku tahu, ada kekecewaan yang begitu besar di dalam sana. "Waktu tadi sore aku ke toko bunga, ada laptop di meja kasir. Di atasnya ada buku novel karya kamu dan makalah. Sampul makalahnya logo UNY."
Tubuhku membeku.
"Awalnya kupikir novel dan makalah itu punya penggemar kamu, Ca. Tapi penjual bunganya sempet ngobrol sama bagian kasir. Dia nanya, di mana Anca? Dan firasatku langsung tertuju ke kamu. Kamu tahu, Ca? Yang namanya Anca itu banyak, tapi takdir nggak bisa terus-menerus bantu kamu sembunyi dari aku."
Aku menunduk, memejamkan mata erat, menahan gejolak dalam dada. "Maaf, Sa."
Mahesa mengembuskan napas berat. "Buat apa?"
"Buat semuanya ...."
"Nggak, maksudku, buat apa kamu bohong?" Mahesa menarik daguku agar menatapnya.
Dari tempatku berdiri, aku melihat perempuan yang selalu menemani Mahesa, Kartika namanya. Aku sering mendengar Mahesa memanggilnya begitu—Kar? Tika? Atau Kartika—kadang. Entah apa hubungan keduanya, tetapi kurasa lebih dari teman dekat.
"Ada baiknya kamu balik badan, Sa. Pacar kamu nyariin." Aku hendak meloloskan diri, tetapi Mahesa tidak memberiku jalan.
"Kamu ketolak di UNS? Makanya kamu bohong?" Dia mencengkeram lenganku. Tidak sakit, tetapi pertanyaannya yang menyakitkan.
"Enggak."
"Terus? Kenapa kamu nggak bilang kalau akhirnya di UNY? Kenapa dihubungin nggak bisa? Di Whatsapp nggak bisa, di DM nggak bisa."
Aku tetap tutup mulut. Mahesa tidak boleh tahu. Aku mencoba melepaskan diri lagi, tetapi cengkeramannya semakin erat. "Jawab, Ca. Jelasin. Coba aja dulu kamu bilang. Kita bisa perbaiki semuanya dan nggak perlu LDR. Kenapa kamu ngehindar? Kenapa kamu malah block nomor aku? Kenapa kita nggak selesaiin semuanya baik-baik tanpa ada kata putus? Kenapa?"
"Karena kita beda, Sa!" Aku memekik marah. Marah pada diriku sendiri lebih tepatnya. Aku merasa terpojok. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk menjadi seperti itu. Seperti yang Mahesa katakan. Kalau aku bisa memilih, memilih takdirku, aku tidak ingin membuat keputusan yang jelas menyakiti diriku sendiri dan Mahesa tentunya. "Karena kita beda ...."
Aku menatap Mahesa dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak terlahir di keluarga yang berada. Aku terlahir di keluarga yang bahkan nggak harmonis kamu tahu itu. Ayahku pergi ninggalin ibu, kamu juga tahu itu."
"Itu bukan alasan untuk kita pisah. Kita sama-sama manusia. Nggak ada yang beda, Ca. Gimanapun kondisi kamu, aku terima."
Aku tertawa sedih. Aku tahu Mahesa akan bicara seperti itu. "Ibu nggak kuat bayar uang kuliah. Makanya setelah mutusin kamu, aku berhenti setahun. Aku nggak daftar ke mana-mana setelah lulus. Aku kerja, Sa. Aku nggak sempet mau daftar ke UNS, UNY, UNDIP, atau Universitas mana pun karena nggak ada biaya."
Kali ini, Mahesa yang diam seribu bahasa.
"Aku cari uang untuk kuliah. Aku bantu ibu banting tulang. Baru setahun setelahnya aku bisa daftar ptn mandiri."
Mahesa masih diam. Dia seperti menungguku untuk menjelaskan semuanya. Dan aku memanfaatkan hal itu untuk bicara.
"Aku sengaja minta putus karena aku malu nggak kuliah waktu itu. Aku mutusin kamu karena nggak mau ketika aku kerja buat adik-adik aku juga saat itu, kuliah kamu jadi keganggu. Aku nggak mau udah LDR, aku tetep nyusahin kamu terus." Aku menunduk dalam, terisak. "Aku mau, kamu wujidin cita-cita kamu, Sa. Walau harus tanpa aku."
Aku semakin menunduk dalam. "Maaf .... Karena kupikir itu yang terbaik untuk kita. Jujur, dari awal aku nginjakin kaki di Jogja, aku udah sering lihat kamu secara nggak sengaja. Tapi aku takut untuk ketemu kamu. Aku malu untuk jelasin semuanya."
Mahesa menggenggam tanganku. Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan tangannya. "Kenapa harus malu?" tanyanya pahit.
Aku menggeleng. "Kartika cantik," kataku satir. Aku mencoba tersenyum lebar. "Dia pinter. Ambil kedokteran juga kan kayak kamu?" Aku pernah melihat keduanya turun dari mobil dan mengenakan snelli. Sangat serasi.
"Dia tinggi, badannya bagus. Yang terpenting, dia sama kayak kamu. Kalian orang yang berada. Kalian cocok. Dia kelihatan sayang banget sama kamu, Sa. Jangan buat dia kecewa kayak kamu kecewa sama aku."
Dengan berat hati, aku melepaskan genggaman tangan Mahesa. "Aku harap, kamu nggak pernah cari aku."
Kudorong troliku menjauhi Mahesa menuju kasir. Mahesa menahanku, tetapi aku menyentaknya, melayangkan tatapan setajam yang aku bisa.
Semua cerita punya akhir.
Setiap kupikir kisahku dan Mahesa telah berakhir, semakin aku yakin kisah ini justru tak berujung. Karena ketika kulihat dari kaca di swalayan Mahesa mengacak rambut frustrasi dan tidak menghiraukan ucapan Kartika, ketika Mahesa terlibat cekcok dan ingin melepaskan diri dari genggaman tangan Kartika, ketika itu pula hatiku tidak yakin bila aku bisa melupakannya. Karena kupikir, Mahesa juga belum bisa melupakanku.
Yah, hanya firasat. Firasat yang membuat sudut hatiku berkedut nyeri setiap memikirkannya.
"Maaf, Sa ...."
"Maaf buat semuanya."
Setelah pertemuan itu, aku tidak pernah lagi melihat Mahesa. Entah Mahesa yang menuruti permintaanku agar tidak mencariku atau karena aku pindah kerja dan memilih tinggal di asrama.
Justru aku yang sempat mencari Mahesa hanya untuk memastikan keadaannya, tapi Mahesa hilang—raib bagai ditelan bumi.
Aku tidak menyesal. Aku hanya ... hanya sering teringat ucapannya dulu, ketika kami masih berusia tujuh belas tahun.
"Besok kita kuliah di Jogja sama-sama, ya, Ca. Itu impian kamu juga, 'kan? Nanti berangkat ke kampusnya bareng, skripsiannya juga. Kalau laper telepon aku, ya? Jangan sungkan, aku bawain makanan dari rumah ke kosan kamu."
Ya, benar, Sa. Semua itu hanya mimpi. Mimpi yang tidak akan pernah terjadi setelah usia tujuh belas tahun.
-----Tamat------
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top