2

Katanya, saat usiamu tujuh belas tahun, kamu akan bertemu dengan seseorang yang bisa membuatmu jatuh bangun menyukainya. Tujuh belas tahun, usia emas untuk merasakan cinta. Usia emas untuk melihat mimpimu di depan sana. Dan aku, aku lebih memilih kamu dengan mimpimu. Aku memilih untuk melihat dunia dari cara pandang yang berbeda. Tanpa ego, tanpa sesuatu yang mungkin disesali di kemudian hari.
"Pesanan bunga dari Mbak Lana udah dianter Bagas, Ca?"
Aku sedang merapikan tangkai bunga mawar yang tadi dibawakan Bagas ketika Mbak Siska tiba-tiba datang. Aku menoleh padanya. Pemilik Heaven's Florist itu bertanya dari ambang pintu menuju tempat penyimpanan bunga. "Udah belum?" tanyanya lagi. Alisnya menukik, tanda tak sabar untuk dijawab.
"Udah kok, Mbak." Aku menunjuk mawar-mawar di depanku. "Dia tadi bawain ini habis itu keluar nganter pesanan."
"Bagus." Mbak Siska mengacungkan jempol. Setelah urusannya selesai, dia pun keluar.
Aku menyelesaikan pekerjaanku, kemudian membawa bunga-bunga mawar tadi ke depan. Baru saja mencapai ambang pintu, aku langsung berbalik badan.
Saat-saat seperti ini sering terjadi sejak tiga tahun yang lalu, ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di Jogja sebagai mahasiswa baru Universitas Negeri Yogyakarta. Semesta selalu punya cara untuk membuatku bertemu dia. Di setiap kesempatan, di setiap saat yang tidak pernah kubayangkan, semesta selalu membuatku harus menghindar, terus menghindar, sampai aku terbiasa melakukannya.
Yogyakarta memang provinsi terkecil setelah DKI Jakarta. Luasnya hanya 32,5 kilometer persegi. Namun sialnya, mengapa saat ini, aku merasa Yogyakarta kecil sekali?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top