[4]
Aku berlari mencoba menghindari Wanda dan wanita yang menusuk Nanase tadi.
Ketika merasa sudah aman aku berhenti sebentar untuk mengambil nafas sebanyak mungkin.
"Oh my dear Akane, where are you hiding? ~"
Aku mendengar suara Wanda semakin mendekat.
Aku kembali berlari lagi.
Sudah cukup lama aku berlari, berusaha mencari bantuan namun sayangnya tidak ada orang di sekitar sini.
'Oh god, please.... '
Aku bersembunyi di bawah kolong meja guru, berharap mereka tidak menemukanku.
Aku mendengar suara pintu terbuka.
Syukurlah itu bukan pintu kelas ini.
Aku melihat sebuah pisau di laci meja guru tersebut.
Kenapa ada benda seperti ini di sini?
Aku tidak memperdulikan pertanyaan di kepalaku itu dan segera mengambil pisaunya.
Air mataku menetes.
Am I really----have to kill her?
***
She----she use to be my bestfriend----
Padahal aku hanya ingin melindunginya waktu itu----
Aku hanya ingin melindunginya dari adiknya sendiri----
Namun apa yang kudapat? Kebencian, dia membenciku.
Aku kembali mencari Akane bersama Akaria----sosok wanita tadi----
Hm? Kalian ingat siapa Akaria bukan?
Ya, benar sekali. Dia adik kesayangan Akane.
Kalau saja aku tidak membunuh Akaria saat itu----Akane sudah pasti mati!
Kenapa dia tidak bisa menghargai usahaku untuk melindunginya?!
Aku merasakan sesuatu menyentuh pundakku.
Aku kenal bau ini, bau wangi yang khas.
Sambil menyeringai aku berbalik ke belakang----
"Oh, my dear Aka----"
Perkataanku terhenti begitu merasakan sesuatu yang tajam menusuk perutku.
Akane----menusukku.
Darah mulai keluar dari mulut dan juga perutku.
Mata Akane sudah tidak berwarna hijau terang seperti dulu, seringaian muncul di wajah nya.
Darah menyebar di mana-mana ketika dia mulai menikamku berulang kali.
Tawa nya menggema di seluruh kelas.
Akane sudah kehilangan akalnya.
***
Aku menikamnya berkali-kali.
Entah kenapa, aku merasakan kesenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku mulai tertawa dengan kerasnya.
"I never feel this good before----thank you Wanda----"
Darah mulai menciprat kemana-mana.
Wajahku sekarang di penuhi darah juga.
Aku tersenyum melihat Wanda yang sudah tergeletak tanpa nyawa di lantai.
Mungkin aku harus lebih sering melakukan ini.
***
"Hey Wanda,"
Aku berbalik menatap ke arah sosok wanita yang mengerikan itu.
Entahlah, aku tidak takut kurasa.
Setelah kejadian itu, aku sudah tidak takut lagi terhadapnya-----terhadap Akaria.
"What do you want now, little girl? "
Akaria tersenyum, senyumannya benar-benar lebar.
"Wanna help me kill my sister? "
Mataku melebar karena kaget.
"Yang benar saja! Tidak akan! Aku masih menyayangi Akane... aku----"
"DON'T YOU DARE TO SAY THAT!"
Aku kaget ketika mendengar Akaria membentakku.
"Sorry---I just... "
Akaria kembali tersenyum.
"So, are you in----or not? "
.
.
.
[CloverEvent]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top