[3]
"Akane!"
Aku berbalik menatap sahabat ku.
"Wanda! Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu? "
Wanda memelukku kemudian menangis.
Aku menghela nafas dan menepuk punggung Wanda.
"Aku turut berduka cita atas kematian ayah dan ibumu... "
Wanda terus menangis, makin lama tangisannya makin mereda.
Wanda melepaskan pelukannya dariku.
Dia tersenyum.
"Terima kasih sudah mau menemaniku Akane... "
Aku balas tersenyum sambil menepuk kepalanya.
"Tidak apa, kita kan sahabat. "
Wanda dan aku merupakan sahabat masa kecil.
Orangtua nya wafat ketika dia baru berumur 5 tahun.
"Hei Wanda, ayo ke sana!"
Wanda menatapku dengan tatapan khawatir.
"Tapi... kak Atsushi melarang kita untuk bermain di sana... "
"Ya ampun Wanda----ayolah... jangan khawatirkan perintah bodoh kakakku itu, sekali ini saja, ok? "
Awalnya Wanda menatapku gusar, namun raut wajahnya menjadi ceria seketika.
"Baiklah. "
Aku dan Wanda sering bermain di sekitar hutan dulu.
Namun ketika umurku enam tahun, aku hampir di culik.
Untung saja kak Atsushi ada di sana waktu kejadian itu terjadi.
Namun kak Atsushi mulai melarang kami bermain di area hutan itu lagi.
"Wanda----tolong.... "
Air mata mulai mengalir di wajahku.
Tangan penculik itu mencekik leherku dengan keras, aku nyaris tidak bisa bernapas.
Wanda hanya bisa diam di sana tanpa melakukan apa-apa.
"Wan---da... "
Pandanganku mulai menghitam, aku jatuh pingsan.
Pada saat aku bangun, aku melihat kak Atsushi dan Wanda berada di depanku dengan tatapan khawatir.
Kak Atsushi dengan cepat memelukku----begitu juga Wanda.
"Maafkan aku Akane, harusnya aku bisa berbuat lebih ketika kau di sandera... "
Wanda menangis dengan kerasnya.
Aku tersenyum menanggapinya.
"Tidak apa, itu salahku juga. "
Kak Atsushi melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tatapan marah.
"Jangan lakukan itu lagi! Ini sudah kedua kalinya kau di sandera!"
Aku merasa bersalah terhadap kak Atsushi.
Aku mengiyakan perkataannya dan tidak pernah bermain di sekitar hutan itu lagi.
Di kali kedua aku tertangkap, aku sempat melihat sekilas sosok wanita.
Dia tersenyum dengan mengerikannya.
Wajahnya seluruhnya tertutupi rambutnya yang panjang.
Aku benar-benar ketakutan.
"Akane---maaf, aku benar-benar harus melakukan ini... "
Aku menepis tangan Wanda yang berusaha memegangku.
"Jangan bercanda dasar iblis!"
Wanda terlihat kesakitan karena ucapanku.
Namun aku tidak peduli, dia merenggut nyawa orang yang paling berharga bagiku.
Adik kesayanganku---Akaria----
"Akane... I'm ---- sorry----"
"WHY DIDN'T YOU JUST DIE?! "
Waktu itu umurku masih tujuh tahun, aku tidak tahu bahwa perkataanku saat itu akan berdampak banyak bagi Wanda.
Setelah kejadian itu Wanda mulai menghilang dari hidupku.
Aku berpikir bahwa dia di hukum karena perbuatannya itu.
Setelah lima tahun, aku terkejut ketika mendapati Wanda kembali ke sekolah.
Dengan penampilan dan sifat yang baru.
.
.
.
"Wanda---jangan bilang kau---"
"Why didn't you just die, hm? "
.
.
.
[CloverEvent]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top