51

Laszlo menggeleng dengan cepat. "Tidak! Tidak pernah," ucapnya tegas. Kemudian, ia melirik Davin sekilas sembari tersenyum jail. Laszlo kembali menatap Navis dengan tatapan takut seolah ada yang mengancamnya.

Melihat hal itu kecurigaan Davin melonjak tinggi. Ia sudah bersiap membekap mulut Laszlo bila anak itu berbicara yang tidak-tidak. Namun, ia tak dapat melaksanakan niat tersebut karena Navis segera mengunci pergerakkannya.

"Katakanlah! Ia tak akan bisa melukaimu," titah Navis tak ingin dibantah.

Davin memberontak dengan liar. Namun, kekuatan fisiknya memang berada di bawah Navis sehingga ia tak bisa melepaskan diri. Laszlo tertawa dalam hati, bola matanya berkilat nakal.

"Guru sering membicarakan wanita bernama Emily itu dengan tatapan penuh cinta," ungkap Laszlo sepolos mungkin.

Davin melotot lebar. "Heh! Dasar anak kurang ajar! Kapan aku begitu?!" umpatnya sebal. Pemberontakan yang ia lakukan menjadi semakin beringas mendengar ucapan Laszlo. Ia tak peduli lagi apakah Laszlo itu adalah pemimpinnya atau bukan. Saat ini, ia ingin sekali memukul bocah kurang ajar itu.

Navis semakin memperkuat kunciannya. "Apakah benar seperti itu?" tanyanya. Nada suaranya terdengar bimbang.

Laszlo tersenyum lebar, lalu mengangguk tegas. "Tentu saja, Guru. Apa saya terlihat seperti anak yang suka berbohong?" tanyanya sembari melemparkan mimik polos. "Guru Davin selalu membicarakan wanita bernama Emily itu di setiap ada kesempatan. Saat latihan ia terlihat begitu kejam, tetapi saat membicarakan wanita itu, guru terlihat begitu senang dan lembut," lanjutnya lagi dengan semangat.

Kuncian Navis semakin erat di leher Davin. Ia menatap Davin tajam. "Apa kau masih menyukai adikku?" tanyanya gusar.

Davin menghela napas pasrah. Ia tak lagi memberontak karena Laszlo telah mengatakan semua yang ingin dikatakannya. Ia mengingat dalam hati agar saat ia melatih Laszlo nanti, ia akan bersikap berkali-kali lipat lebih keras padanya.

Davin mengangkat bahunya tak acuh. "Apa gunanya lagi itu sekarang? Emily sudah memutuskan untuk tidak ingin menikah," ujarnya tak acuh. Terselip kepahitan di nada suaranya. Walau begitu, mimiknya begitu tenang seolah apa yang diucapkannya barusan tak mempengaruhinya sama sekali.

Navis melepas kunciannya sepenuhnya. Ia menepuk pundak temannya pelan. Ia juga tahu itu. Emily sendiri yang memutuskan untuk tidak menikah karena ia ingin mencurahkan seluruh perhatiannya pada putra semata wayang pemimpin mereka.

Omong-omong soal putra semata wayang pemimpin, ia ingat Emily baru saja kembali sendirian dari dunia manusia. "Hei! Bagaimana dengan putra Tuan Nathan?" tanya Navis dengan mata membulat sempurna.

Davin menggelengkan kepalanya lemas, kedua bahunya turun ke bawah. Mimiknya terlihat begitu frustrasi. Dalam hati, Laszlo memuji kemampuan acting Davin yang luar biasa.

"Kami kehilangannya. Tuan muda menghilang saat beberapa waktu lalu kami kembali ke sini untuk mencari sesuatu. Dari jejaknya, sepertinya ia diculik oleh manusia," jelas Davin dengan nada pahit. "Seharusnya waktu itu aku tak ikut Emily dan tetap berada di sisinya," lanjutnya lagi penuh sesal.

Wajah Navis berubah seolah sehabis menelan batu besar. Tentu saja! Berita kehilangan calon pemimpin mereka merupakan berita buruk yang amat besar. Bila ketahuan pihak musuh, mereka semua akan dibantai habis. Navis berjalan mondar-mandir dengan wajah gugup.

"Ini tak boleh sampai ketahui oleh siapapun," gumam Navis. Matanya langsung tertuju pada Laszlo yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keduanya bercakap-cakap. Ia mencengkram bahu remaja pria itu dengan kuat dan menatapnya tajam.

"Dengarkan ini baik-baik," perintahnya. "Kau sama sekali tak boleh membocorkan ini ke luar. Kalau kau membocorkan hal ini ke pihak luar, kau akan kubunuh di saat itu juga. Apa kau mengerti?"

Laszlo menganggukkan kepala kaku. Ia bisa melihat kesungguhan tersebut di mata Navis. Ia bisa melihat bahwa itu merupakan reaksi yang jujur, ia akan menarik Navis ke pihaknya. "Sa-sa-saya mengerti, Guru," gagapnya.

Davin menarik Navis agar menjauh dari Laszlo. Ia merasa Navis bersikap terlalu berlebihan pada anak bau kencur yang tak mengerti apa pun. Lagi pula, orang yang mereka bicarakan sekarang adalah anak yang tengah diancam oleh pria berbadan kekar itu.

"Sudahlah! Kau menakuti calon kesatria berbakat. Untuk sementara ini, aku titipkan ia padamu karena aku akan sibuk untuk memimpin perang sementara waktu ini. Selama kau beristirahat, latihlah anak itu hingga ia bisa menjadi kesatria yang hebat," ujar Davin sembari menarik Laszlo ke depannya.

Laszlo menatap balik Navis yang menatapnya penuh pertimbangan. Ia akan melakukannya sekuat tenaga seperti kata Davin. Laszlo bisa merasakan remasan cemas pada bahunya.

"Baiklah," ucap Navis tiba-tiba, lalu pergi ke tempat di mana pedang kayu diletakkan. Ia mengambil dua buah pedang kayu dan kembali ke tempat Davin dan Laszlo berada. Keduanya menatapnya dengan pandangan bingung. Ia tersenyum lebar—lebih tepatnya menyeringai—sembari menatap Laszlo tajam. "Kalau kau bisa memukulku sekali saja dengan pedang kayu ini," lanjutnya lagi.

Davin menarik Laszlo mundur sembari menatap Navis sengit. "Apa kau gila? Dia hanya anak-anak. Perlukah kau berbuat sejauh ini?" tanyanya gusar.

Navis tersenyum mengejek. "Kenapa? Apa anak yang kau bangga-banggakan sebagai murid berbakat ini tak akan mampu menyentuhku? Apa kau tidak terlalu lembek pada anak itu?" ejek Navis membuat Davin menegak ludahnya susah payah.

Laszlo menarik lengan Davin pelan. "Sudahlah. Aku yakin bisa melakukan hal itu. Percaya saja padaku, Guru," sela Laszlo sebelum Davin menyemburkan kata-kata yang tidak pantas.

Davin terlihat tidak terima. Namun, ia melihat kesungguhan dan semangat yang berkobar di mata Laszlo. Ia tak lagi menghalanginya. Ia melangkah mundur, keluar dari ruang latih tanding Laszlo dan Navis dengan harapan Navis tak bertindak terlalu keras pada Laszlo.

Bukannya ia meragukan kemampuan berpedang anak itu. Hanya saja kemampuan berpedang Navis sangatlah berbeda. Pria itu lebih menekankan kekuatan daripada teknik. Ia bisa membelah dua monster dengan tubuh besar dalam sekali ayunan.

Davin memperhatikan latih tanding itu dengan gelisah. Navis menyerang Laszlo secara bertubi-tubi, mendesak agar remaja pria itu mundur ke belakang. Laszlo masih terlihat tenang walau sudah dalam keadaan terdesak. Sementara Navis terlihat semakin bersemangat karena sudah berhasil memukul mundur Laszlo.

Laszlo tersenyum tipis. Ia bisa merasakan perbedaan kekutan antara Davin dan Navis yang begitu besar. Navis cenderung menyerang dengan kekuatan yang besar sehingga tak memberikan waktu untuk lawannya melakukan serangan balasan. Sedangkan Davin lebih ke kekuatan yang lebih kecil, tetapi mematikan. Kini ia mengerti mengapa Davin begitu khawatir.

Namun, ia tak akan kalah begitu mudah. Serangan besar seperti ini pasti akan ada celahnya. Ia akan terus menghindar sampai menemukan celah tersebut.

"Kenapa kau menghindar terus seperti tikus kecil?" ejek Navis. "Apa kau sedang mencari celah itu? Asal kau tahu, tak akan ada celah yang sedang kau nantikan itu," ujarnya jumawa.

Laszlo mendecak. Benar. Tidak ada celah di pertempuran ini. Walau begitu, ia tak akan menyerah dengan mudah. Laszlo mengganti kuda-kudanya, tubuhnya merunduk agak ke bawah. Ia tak akan lagi menghindari serangan mematikan tersebut. Ia yang akan menciptakan celah itu bila celah itu tak bisa ditemukan.

"Oho! Sudah berubah pikiran dan ingin melawan balik?" tanya Navis bersemangat. Kini, ia menganyunkan pedangnya semakin liar membuat Davin semakin gelisah di tempatnya berdiri.

Matanya membulat sempurna saat melihat pedang kayu itu diayunkan dengan kekuatan penuh ke atas kepala Laszlo yang sedang merunduk tanpa melakukan apa pun. "Las! Menghindar!" teriaknya panik.







--------------------
1131.26032022
Entah siapa yg mau menang atau kalah. Terserah mereka saja lah. Aku pusing 🤣🤣🤣🤣

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top