49
"Untuk masalah itu, kalian yang harus membantuku," ungkapnya serius. Ia mengalihkan tatapannya pada Kaizen yang hendak protes. "Aku dengar kau pintar membuat ramuan sihir pengubah," lanjutnya.
Kaizen membuang muka, ia sudah tahu Laszlo akan memaksanya untuk melakukan sihir penyamaran. "Tidak! Kalau begitu, aku tak akan bisa dekat denganmu," tolak Kaizen tegas.
Laszlo menghela napas berat. "Bisa! Aku akan masuk di sana sebagai prajurit pelatihan dan kau juga bisa masuk ke sana sebagai penyihir pelatihan."
Ucapan Laszlo barusan langsung mendapatkan protes keras dari berbagai pihak. Mereka mengatakan bahwa tak masuk akal bila prajurit dan penyihir pelatihan masuk begitu saja ke dalam medan perang padahal mereka tak memiliki pengalaman apa pun di medan perang.
Laszlo menatap lurus ke dalam satu per satu mata orang yang ada di hadapannya. "Aku tahu ini juga tak masuk akal. Jadi, aku sudah memikirkannya matang-matang. Besok, kita akan kembali ke klan. Setelahnya, Davin akan membuat sebuah pemilihan sebagai komandan tertinggi saat ini."
Laszlo menatap Davin dengan mimik serius. "Kau bisa melakukannya 'kan, Davin? Aku percaya padamu. Dan aku juga yakin kalau di pasukan pelatihan saat ini ada yang memiliki bakat yang bagus. Anggap saja pelantikan mereka sebagai kesatria dimajukan," ucapnya.
Davin menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Kepalanya sakit memikirkan ide Laszlo. Memang benar apa yang dikatakan oleh remaja itu. Namun, alasan yang membuatnya menentang remaja itu terjun ke medan perang bukanlah kemampuan, melainkan remaja itu masih terlalu muda.
"Davin?" panggil Laszlo karena Davin tak kunjung menjawab.
Davin menghela napas berat. "Baiklah. Saya mengerti, Tuan," balasnya dengan berat hati. Tak ada gunanya mencegah Laszlo, sebaiknya ia turuti saja daripada anak itu berbuat ulah tanpa ia tahu. Kini, ia bisa melihat wujud Nathan kecil di dalam diri Laszlo; begitu keras kepala dan bertanggung jawab. Ia yakin Laszlo juga akan menjadi orang yang sama hebatnya seperti Nathan.
"Davin!" bentak Emily, Arden, dan Marie secara bersamaan.
Davin menatap ketiga rekannya pasrah. "Kalian tahu sendiri kalau itu bukanlah permintaan, melainkan perintah. Laszlo yang saat ini bukanlah anak yang harus kita asuh. Dia sudah memilih untuk menjadi pemimpin untuk kita dan menanggung semua beban ini. Tugas kita sebagai bawahan adalah menuruti perintahnya dengan baik dan membantunya sekuat tenaga," jelas Davin akan keputusan yang diambilnya.
Ketiga orang dewasa itu terdiam. Davin benar, mereka juga tahu itu. Akan tetapi, mereka masih belum bisa membiarkan anak semuda itu terjun ke medan perang. Namun, karena itu adalah keputusan Laszlo sebagai pemimpin, mereka akan menghormatinya. Tak lupa, mereka juga akan mengerahkan kekuatan sekuat tenaga untuk membantunya.
"Baiklah. Kami mengerti, Tuan Muda," putus ketiga orang itu secara serempak.
Laszlo tersenyum tipis. Ia tak menyangka bahwa permintaannya akan berjalan semulus ini. "Lalu, untuk berjaga-jaga, aku ingin kalian pura-pura tidak mengenaliku, kecuali Davin," ujarnya. "Ini hanya di depan orang-orang, bahkan prajurit klan sekali pun. Sebaiknya, kita berhati-hati agar rumor tentangku tidak terdengar. Biarlah mereka berpikir bahwa aku, putra dari Nathan, masih berada di dunia manusia," lanjut Laszlo.
"Kenapa hanya Davin yang boleh mengenalimu di sana?" protes Kaizen tak terima. Padahal, harusnya ia-lah yang lebih akrab dengan Laszlo dibandingkan siapapun karena ia adalah penyihir yang akan selalu melindunginya.
"Aku akan masuk sebagai murid Davin. Jelas saja ia harus mengenalku. Apakah menurutmu tak aneh bila Davin yang mengaku sebagai guru berpedangku tak mengenalku?" balas Laszlo tenang. Melihat Kaizen masih kecewa, Laszlo pun menambahkan, "Ayolah, Kai. Kita bisa dekat saat kita sudah masuk ke dalam pasukan. Saat itu, kalau aku sedang tak ada kerjaan, aku akan menempelimu hingga kau merasa muak."
Kaizen mencibir pelan. Walau begitu, ia tak lagi melayangkan protes.
Laszlo pun mulai menjelaskan strateginya pada mereka semua. Laszlo meminta pada Emily, Arden, dan Marie berangkat hari ini. Sementara Davin, ia juga memintanya untuk pulang sementara dan kembali lagi lusa nanti setelah memberikan tanda bahwa ia memiliki murid seni pedang yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun.
Sementara itu, Laszlo meminta Yuri untuk memilih. Ingin kembali ke klan bersama dia ataukah tinggal sementara di dunia manusia. Apa pun pilihan Yuri, ia meminta Yuri agar mempertimbangkannya matang-matang karena ia tak ingin menyeret Yuri ke dalam perang yang sudah menelan banyak korban itu.
Kaizen sendiri sudah diminta agar pergi bersama Marie. Kaizen akan diperkenalkan sebagai murid pribadi Marie. Semuanya mendengarkan penjelasan Laszlo dengan saksama dan tidak membantah lagi.
Mereka tahu bahwa saat ini, Laszlo juga sedang berusaha untuk menjaga orang-orangnya. Maka dari itu, mereka akan berusaha untuk membantu anak itu agar beban yang ditanggungnya tak terlalu berat.
"Baiklah, karena sudah selesai memaparkan rencanaku. Sebaiknya aku langsung berangkat ke sekolah," ujar Laszlo membuat seisi ruang tamu memandangnya heran. Ia pun membalas pandangan tersebut dengan tatapan bingung. "Kenapa? Ada yang salah? Walau sudah terlambat, aku tetap harus berangkat ke sekolah, 'kan?"
Emily dan Marie tersenyum tipis, keduanya menggeleng cepat. "Ya, sudah. Sana ke sekolah," ujar keduanya sembari memberi kode agar para lelaki diam saja.
Dengan begitu, Laszlo pun naik ke atas dan mengambil buku-buku di kamarnya. Lima menit berlalu, ia pun turun dalam keadaan siap berangkat. Rahang bawah dan rahang atas Kaizen serta Yuri terpisah lebar melihat Laszlo.
"Kau serius?" tanya keduanya histeris. "Kau benar-benar akan berangkat ke sekolah?" keluh keduanya sembari memamerkan wajah malas.
"Tentu saja," balas Laszlo yakin. Tampangnya yang serius membuat siapapun yang melihatnya tak akan berpikir bahwa itu adalah lelucon semata.
"Libur saja. Lagian untuk apa kau serajin itu bersekolah? Toh kau juga sudah tak akan melakukannya lagi dalam 2 hari ke depan," rengek Kaizen sembari menarik tangan Laszlo.
Yuri mengadang Laszlo dengan berdiri tepat di hadapannya dan merentangkan tangannya lebar-lebar. "Benar! Untuk apa lagi kita harus pergi ke sekolah?"
Laszlo mengangkat sebelah alisnya tak setuju. "Apa aku mengajak kalian berdua untuk bersekolah bersamaku?" tanyanya santai.
Kaizen dan Yuri terdiam. Laszlo sama sekali tak mengajak mereka, lalu apa yang membuatnya dan Yuri berpikir bahwa Laszlo mengajak mereka bersekolah. Apa karena mereka sudah menganggap bahwa mereka bertiga adalah tiga sekawan yang tak terpisahkan? Ya, sepertinya karena hal itu.
"Tidak, sih. Tapi tetap saja. Untuk apa kita bersekolah? Kita kan tidak membutuhkannya lagi. Lagipula, seingatku kau tak begitu menyukai lingkungan sekolah. Menurutmu, sekolah adalah tempat yang ramai dan berisik," ujar Kaizen ngotot.
Laszlo menghela napas. "Tetap saja kita harus mengurus semua surat perpindahan kita, 'kan? Kita tak mungkin pergi begitu saja tanpa memberitahu seorang pun. Mereka pasti akan merasa aneh. Bagaimana kalau mereka sampai mendatangi rumah ini, lalu tersebar bahwa putra dari pemimpin klan Vuto telah kabur dari dunia manusia?"
Kaizen terkekeh mendengar penjelasan Laszlo. "Kau benar-benar berpikir seperti itu?"
--------------------------
1068.19032022
Akhirnya, sebentar lagi perang 🥳🥳🥳🥳
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top