31
Laszlo menatap kepergian Kaizen dengan tampang bodoh. Pasalnya, Kaizen tak keluar melalui pintu, melainkan jendela kamarnya. Dalam gelisah, Laszlo menunggu Kaizen kembali. Sudah satu jam, Kaizen keluar dengan tampang gusar dan masih belum kembali juga. Firasatnya mengatakan bahwa ini berkaitan dengan dirinya.
Jika menuruti hatinya, ia ingin keluar mencari Kaizen. Akan tetapi, akal sehatnya memberitahunya bahwa ia hanya akan menjadi hambatan bagi Kaizen. Maka dari itu, ia menunggu dengan cemas di dalam kamarnya.
Satu setengah jam pun berlalu. Laszlo tak tahan lagi. Ia pergi ke kamar Davin diam-diam, takut membangunkan Yuri dan Emily. "Davin? Davin? Apa kau dengar suaraku?" tanya Laszlo dengan suara kecil di depan pintu. Ia sesekali mengetuk pintu tersebut dengan lemah.
Davin keluar dengan wajah linglung, sepertinya nyawanya belum terkumpul semua. "Ada apa, Las?"
Laszlo menelan salivanya susah payah. "Kai, dia pergi. Sudah hampir dua jam, tapi masih belum kembali. Sepertinya ada sesuatu," jelas Laszlo sepelan mungkin sambil menyeret Davin masuk ke dalam kamarnya.
Davin membelalak. "Dasar penyihir bodoh!" umpatnya dengan mimik tegang. Kening Laszlo mengerut.
"Apa ini karenaku?" tuntut Laszlo. Ia menatap Davin tajam sembari mengeluarkan aura intimidasi.
Davin menghela napas berat. Sudah tak ada gunanya lagi disembunyikan. Toh, cepat atau lambat Laszlo harus tahu. Pelan, ia mengangguk membuat napas Laszlo tercekat.
Walau sudah menduganya, ia tetap saja tak bisa menerima. Tubuhnya limbung akibat rasa bersalah yang menghantamnya. Hidupnya membahayakan semua orang.
"Bukan salahmu, Nak," bisik Davin pelan. "Aku berani bersumpah atas nyawaku dan nyawa Tuanku yang terdahulu. Ini semua bukan salahmu," lanjutnya lagi iba.
Laszlo sudah tak tahan lagi. "Kalau bukan salahku, lantas ini salah siapa? Hah?! Kau bisa jelaskan ini semua salah siapa?" bentak Laszlo gusar. Ia membahayakan semuanya; Emily, Kaizen, Yuri, dan Davin. Nyawanya tak seberharga itu sehingga harus mengorbankan begitu banyak nyawa demi melindunginya.
"Jawab! Kalau bukan salahku, ini semua salah siapa?!" bentak Laszlo kalap karena Davin tak kunjung menjawabnya. Davin hanya memasang mimik sendu yang sama sekali tak bisa diartikan olehnya.
Laszlo menghela napas berat. Ini bukan saatnya ia begini, ia membangunkan Davin untuk mencari Kaizen. Bukan untuk memperdebatkan siapa yang salah atau di mana letak kesalahan dari kehidupannya ini. "Sekarang, bukan itu yang penting. Apakah kau bisa membantuku untuk mencari-"
"Mencari siapa, Las?" sebuah suara yang amat sangat familiar di telinga Laszlo menyela. Laszlo segera berbalik dan mendapati Kaizen yang baru saja masuk ke dalam kamarnya melewati jendela.
"Kai! Kau tak apa?" seru Laszlo kaget bercampur lega. Dari luar, tak tampak Kaizen terluka sama sekali. Akan tetapi, siapa yang tahu kalau Kaizen menyembunyikan lukanya dengan sihir.
Kaizen terkekeh pelan. "Hei! Kau terlalu meremehkanku, Sobat," ungkap Kaizen dengan mimik tersinggung.
Davin menghela napas lega. "Aku yakin temanmu baik-baik saja, Las," ujar Davin menenangkan.
Laszlo menarik Kaizen agar mendekat ke arahnya. Memeriksa setiap inci tubuhnya dengan teliti. Bagian yang tak tertutupi baju memang tak terlihat luka sobek atau luka memar sama sekali. Akan tetapi, karena hatinya masih tak tenang, Laszlo menarik baju yang dikenakan Kaizen ke atas.
Kaizen yang malu segera menepis tangan Laszlo. "Hei! Apa yang kau lakukan, Las? Aku masih suka pada perempuan, kau ingat? Aku suka pada Yuri," dengkus Kaizen.
Laszlo memutar bola matanya malas. Ia juga tak suka dengan sesama jenis. Ia hanya ingin memastikan keadaan Kaizen memang sempurna dan baik-baik saja. "Aku hanya ingin memeriksamu," bantah Laszlo sedikit tersinggung.
Kaizen menepuk pundak Laszlo pelan. Matanya menatap mata Laszlo dengan serius. "Sungguh! Aku baik-baik saja," ujarnya penuh penekanan di setiap suku katanya.
Laszlo mendesah lega. Ketegangan serta kekhawatiran yang ia rasakan dari tadi meluruh. Ia membungkukkan badannya dan menutup wajahnya. Saking leganya, ia rasa kakinya sudah sekenyal jelly.
"Tenangkanlah dirimu. Aku tahu kau tegang dan khawatir. Tapi akan lebih bagus kalau kau tak panikan seperti ini," nasihat Davin sembari meremas pundak Laszlo pelan. "sebaiknya kalian berdua tidur saja. Aku yang akan berjaga," lanjutnya lagi meninggalkan kamar Laszlo.
Kaizen langsung mengganti bajunya yang terkena cairan berwarna merah dan berbau amis. Keningnya mengerut jijik saat baju itu lolos lewat kepalanya. "Mereka menjijikkan," keluhnya sebal.
Ia menyadari bahwa setiap pergerakannya diawasi oleh mata tajam Laszlo. Ia menghela napas lelah, sepertinya ia tak bisa istirahat malam ini. Laszlo pasti akan menuntut penjelasannya hingga tuntas. Sial sekali ia karena saat para musuh datang Laszlo masih terjaga, tidak seperti biasanya.
"Tidurlah! Kau pasti lelah," desah Laszlo pelan.
"Eh?" Kaizen terdiam saat melihat Laszlo sudah memejamkan matanya dan tidur menyamping.
-----------------
710.01012022
Yuhu! Happy New Year, all!
Semoga apa yang jadi resolusi kalian tahun ini terwujud yak..
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top