14
Upacara kematian para prajurit yang gugur telah dilaksankan dengan penuh hormat dan sendu. Nathan terlihat sedih melihat prajuritnya yang gugur lumayan banyak. Ia pun bertekad dalam hatinya bahwa ia akan menyelesaikan perang ini dengan cepat.
Di pihak lain, semangat musuh semakin jatuh. Kematian Diego menjadi puncak dari jatuhnya mental musuh. Diego, komandan yang paling mereka hormati, merupakan orang yang sangat kuat. Walau kemampuannya masih berada di bawah Davin sedikit. Akan tetapi, tak ada dari mereka yang meragukan kemampuannya. Kabar kematiannya merupakan mimpi buruk yang amat sangat mengerikan bagi mereka.
"Apa ini?! Lihat! Gara-gara kau!" tuding Torin geram. "Kau bilang kita akan menang! Tapi apa?! Hah?! Apa?! Kau lihat?! Tak ada dari prajuritku yang tersisa. Yang ada hanya kepala Diego saja!" lanjutnya sambil mengepalkan kedua tangannya kuat. Kemudian memukul meja dengan keras hingga meja tersebut patah menjadi dua bagian tak sama rata.
Pasoon dan Michio bungkam. Torin yang ada di hadapan mereka saat ini sepertinya siap menggilas siapa saja yang membantahnya. Ia benar-benar merasa geram, kesal, sedih, sekaligus terpuruk setelah kematian komandannya. Raungan penuh amarah memenuhi tenda tersebut.
"Abu jenazah para prajurit sudah kami kumpulkan, Tuan," lapor salah seorang prajurit berjirah hitam.
Nathan mengangguk sekilas. "Tebarkan abu tersebut ke sungai. Mereka sudah cukup kesulitan selama hidup ini. Sekarang, biarkanlah mereka bebas. Mereka adalah orang-orang yang berjasa untuk klan kita."
Prajurit tersebut mengangguk patuh. "Lalu bagaimana dengan abu jenazah komandan Diego dari klan Trae, Tuan?"
Nathan terdiam. Jika menurut tradisi, abu tersebut akan disebar ke laut. Namun, yang menyebarkan abu tersebut haruslah keluarga dari si jenazah. Akan tetapi, mereka bukan bagian dari keluarganya. "Simpan saja dulu. Jika perang berakhir kirimkan abu tersebut pada keluarga Diego."
"Baik, Tuan. Saya mengerti." Prajurit tersebut membungkukkan badan, lalu berjalan mundur-keluar dari tenda Nathan.
*******
Kaizen mengerang pelan membuat perhatian Laszlo yang tadinya pada bukunya beralih pada pemuda itu. Matanya meneliti mimik bosan milik Kaizen. Mata besar itu terlihat redup dan hendak menutup. Kepala Kaizen pun sesekali terjatuh seiring dengan kelopaknya yang semakin menutup. Laszlo menyenggolnya pelan.
"Bangun, Kai. Sebaiknya kau permisi keluar sebelum dipanggil oleh Mr. Thompson," bisik Laszlo pelan.
Kaizen membuka matanya paksa dan menoleh ke arah Laszlo; linglung. Mengangguk pelan setelah mencerna perkataan Laszlo selama satu menit penuh. Pemuda itu mengankat tangannya tinggi-tinggi hingga Mr. Thompson melihatnya.
"Ada apa? Apa kau ingin menjawab pertanyaan nomor lima?" tanya Mr. Thompson dengan suara tenang membuat kantuk Kaizen menguap tanpa sisa.
Pemuda berambut coklat gelap itu menggeleng kuat. "Bukan, Sir. Saya ingin permisi ke toilet," bisiknya hati-hati. Dalam hati, ia merutuki dirinya karena sudah berani meminta izin untuk keluar. Namun, karena sudah terlanjur. Ia hanya berharap dapat mengantongi izin tersebut-walau sebenarnya itu adalah hal yang sangat mustahil.
"Kau mau pergi ke mana? Apa kau ingin membolos pelajaranku? Apa pelajaranku begitu membosankan hingga kau ingin keluar di tengah-tengah pelajaran?" berondong Mr. Thompson dengan nada tak senang.
"
Maaf menyela, Mr. Thompson. Sebaiknya Anda mengizinkannya pergi ke toilet, Mr. Sepertinya tadi pagi dia salah makan sewaktu sarapan," sela Laszlo tenang membuat Kaizen melotot tak percaya.
Mr. Thompson melirik ke wajah Kaizen yang terlihat agak lesu. Kaizen yang sadar sedang diteliti oleh Mr. Thompson segera meremas-remas perutnya dengan ekspresi yang meyakinkan bahwa ia membutuhkan toilet saat ini. Setelah menimbang cukup lama-sekitar dua menit-guru berkepala plontos dan berperut buncit itu pun mengangguk dengan tidak rela.
"Berterima kasihlah padaku nanti," bisik Laszlo sebelum Kaizen lari terbirit-birit keluar kelas.
"Dasar, Laszlo! Bisa-bisanya ia mempermalukan aku seperti itu. Awas saja nanti!" geramnya. Kakinya melangkah dengan riang menyusuri koridor yang sepi. Matanya meneliti koridor itu sambil mempertimbangkan hendak ke mana ia sekarang. Berhubung ia izin ke toilet karena salah makan, maka ia akan memanfaatkan waktunya dengan sebaik-dan selama-mungkin, tentunya.
----------------
617.03112021
Yo! Siapa nih yang punya temen kayak Laszlo. Bisa-bisanya dia ngehancurin harga diri temannya buat ngebantuin temannya bolos kelas.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top