12

"Penyihir pertahanan! Buat lapisan pelindung sebanyak tiga lapis." Davin berteriak keras sembari berlari menuju kandang kuda. Di sepanjang perjalanannya, ia pun memberi titah pada para prajuritnya untuk segera memberikan perlawanan.

Sementara itu, Nathan yang tengah memikirkan solusi paling damai untuk masalah ini tersentak mendengar keributan di luar. Ia segera berlari keluar dan mendapati para prajuritnya dalam keadaan siaga. Musuh sedang menyerang dari arah belakang.

Tangan Nathan mengepal kuat. "Ini sudah keterlaluan," desisnya marat. Urat-urat di lehernya menonjol seiring dengan semakin memerah wajahnya. Derap langkahnya cepat dan tegas menuju kandang kuda. Dikeluarkannya kuda hitam nan besar miliknya, lalu mengambil alih kepemimpinan dari tangan Davin.

"Pasukan pemanah, bersiap!" Nathan mengangkat tangan kanannya dan tangan kirinya memegang tali kendali kuda. "Pasukan penyihir, perkuat perlindungan! Lalu, bagi sebagai untuk menyerap semua sihir api dan tanah tersebut!"

Mata Nathan menatap nyalang pada prajurit musuh yang berusaha merangsek maju. "Lepaskan panah kalian!" titah Nathan yang langsung diiringi hujan panah di pihak lawan. "Serang!"

Pasukan berkuda pun tak mau kalah, mereka membantai musuh dengan semangat penuh. Sudah lama sekali mereka hanya berlatih dan berlatih. Hal itu membuat mereka menjadi bosan. Pecahnya perang yang sudah membuat mereka berlatih dalam kegelisahan malah membuat semangat mereka berkobar. Ayunan pedang dan hujan panah membantai musuh tanpa ampun.

"Menyerahlah, Diego!" pinta Davin seraya tersenyum tipis. " Pasukanmu sudah habis ¾. Kau sendiri juga tahu kalau ilmu berpedangmu masih jauh di bawahku," ujarnya guna mematikan semangat Diego, komandan klan Trae.

******

"Las!" seruan senang yang terselip nada manja membuat makanan yang hampir masuk ke dalam kerongkongan Kaizen beralih arah menuju tenggorokan. Pemuda itu pun terbatuk-batuk tanpa henti.

Laszlo menyodorkan segelas milkshake stroberi dengan sigap. Melihat batuk sang teman tak kunjung reda walau sudah dua menit lamanya, ia pun bangkit dan menepuk punggung Kaizen pelan. "Kenapa kau buru-buru sekali? Apa kau pikir aku akan merebut cake-cake ini?" gerutu Laszlo pelan.

Kaizen menggeleng pelan sembari terbatuk. Setelah batuknya cukup reda, ia mendorong tangan Laszlo pelan. Kemudian, menatap Jessi-pelaku yang membuatnya tersedak-tak percaya. "Kenapa kau ada di sini?" serunya sebal.

Laszlo menatap gadis berambut pirang itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Kaizen dengan tatapan heran. Tak biasanya Kaizen-yang selalu ramah-menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. "Kau tak apa, Kai?" tanyanya pelan.

"Las," keluh Jessi manja sambil bergelayut manja membuat kening Laszlo berkerut tak suka. Laszlo sama sekali tak mengenal gadis ini. Ia bahkan tak tahu bagaimana caranya gadis itu mengetahui namanya.

"Apa saya kenal dengan Anda?" tanya Laszlo sesopan mungkin. Walau sebenarnya ia ingin sekali menepis kasar tangan yang bergelayut manja itu. Akan tetapi, ia tak melakukannya karena teringat dengan perkataan sang ibu-ia harus selalu bersikap sopan terhadap orang lain.

Semburan tawa meluncur bebas dari bibir pink milik Kaizen. Pemuda itu terlihat amat sangat puas bahkan ia sampai harus memeganggi perutnya yang mulai kram akibat tertawa terlalu hebat. Sementara itu, mata Jessi melotot lebar dengan bibir menganga tak percaya.

"Apa kau yakin kau gak tahu aku, Las?" desak Jessi tak terima.

Sejenak, Laszlo terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa karena ia tahu jika menjawab tak tahu, gadis itu akan marah. Atau bahkan-lebih sial lagi-menangis. Saat ini, ia sedang tak ingin berurusan dengan gadis yang menangis. Akan tetapi, jika ia menjawab tahu, ia bahkan tak tahu siapa nama gadis berambut pirang dengan mata besar itu. Tatapannya beralih pada Kaizen guna meminta bantuan.

Dengkusan kasar Kaizen berikan. "Memangnya siapa kau sampai Las harus mengenalmu?" cibir Kaizen dengan mimik mencemooh.

Jessi mengepal tangannya kuat. Menatap Kaizen dengan penuh kebencian. Kemudian, dengkusan napas kasar meluncur dari hidungnya, melenyapkan kesan elegan yang dipertahankannya sedari tadi. "Kau jahat, Las!"

Laszlo menundukkan kepalanya dan berbisik pelan, "Maaf." Ia melirik Kaizen yang sudah menyelesaikan cake-nya. "Kau sudah selesai belum? Kalau sudah ayo pulang," ajaknya gusar.

Laszlo bisa merasakan pandangan menusuk dari berpasang-pasang mata mengarah padanya akibat kejadian beberapa menit yang lalu. Bisik-bisik tak mengenakan pun mulai terdengar. Laszlo segera bangkit dari kursinya dan berjalan keluar terlebih dahulu setelah pamit pada gadis pirang itu.

"Hei, Las! Kau sungguh tak mengenalnya?" tanya Kaizen setelah mereka mencapai jalan besar.

Laszlo mengayunkan kakinya ringan, lalu menggeleng pelan. "Apa aku harus mengenalnya? Apa mungkin ia terkenal?"

Kaizen terbahak hebat sambil bertepuk tangan dengan hebohnya membuat tatapan orang-orang mengarah padanya sejenak. Selang beberapa detik, ia melambaikan tangannya pelan. "Kau tak harus mengenal gadis menyebalkan itu, Las. Lupakan saja wajah tak penting itu!"



-----------------
724.27102021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top