You 57: Behind Me, Before You

Game session kemarin sudah berakhir. Semua jawaban tidak menentukan alur cerita. Kalau harapan reader sama dengan alur berarti memang sudah alurnya seperti itu. Oke?

***

Bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai tengah berciuman dengan sahabatmu sendiri? Aku tebak rasa sesaknya sama seperti yang kurasakan saat ini.

Tapi aku hanya bisa terdiam dari balik tirai ini. Kuurungkan niatku memanggilnya, orang yang sedang dicium Chaeyoung.

Tadinya aku juga sudah menyiapkan kata-kata permohonan maafku untuk Chaeyoung, tapi sepertinya dia tidak pantas mendapatkannya.

Aku hanya bisa berharap cukup hatiku saja yang patah. Jangan sampai hati Lisa juga patah. Anak itu benar-benar menyukai Chaeyoung. Ayolah, aku sudah mengalah sekali. Haruskah aku melepasnya juga kali ini?

Apa yang akan kukatakan pada Jisoo nanti? Aku benar-benar ingin marah padanya tapi aku tidak bisa. Entahlah, lihat saja nanti.

Kutinggal saja dulu dua orang itu, lebih baik aku mundur. Kenapa orang yang kusayangi bisa jatuh semua pada Chaeyoung? Kenapa dia selalu menjadi sainganku? Bahkan untuk marah padanya pun aku tidak bisa lagi.

Aku harus menghentikanmu, Chaeyoung. Sebelum kau hancur karena perbuatanmu sendiri. Tapi sekarang aku bimbang apakah aku harus menghentikanmu atau membiarkanmu benar-benar hancur?

***

"Ini. Dikompres."

Seseorang mengulurkan segelas es batu untukku. Aku yang sedang duduk dibawah tangga menoleh.

"Kau..."

Aku heran kenapa orang ini masih saja mendatangiku setelah semua perlakuan kasarku padanya.

"Duduk sini disampingku." Aku mendengus, menepuk tempat disebelahku.

"Lama tidak berjumpa." Ucapnya, setelah duduk tepat disampingku.

"Ya, sudah lama, tidak berbincang seperti ini."

Aku memainkan gelas es batu itu di tanganku.

"Bagaimana kabar eomma?"

"Sepertinya tidak baik. Sama sepertiku."

Gadis itu menopang dagunya dengan tangannya. Ia sedikit memajukan badannya, membenarkan posisi tangannya yang menyangga di kakinya.

"Aku bertanya kabar eomma-ku, bukan kabarmu. Gadis bodoh."

Aku mendorong pelipisnya dengan jari telunjukku.

"Eomma-mu itu selalu bersama Appa-ku, kau tahu."

"Tahu dengan jelas."

"Bagaimana kabar Appa-mu? Ehm, maaf. Kabar Appa Jisoo ya?"

"Kau tahu sendiri kan."

"Ya, benar. Tidak pernah baik kepadamu."

Aku terkekeh mendengar jawabannya. Krystal membenarkan posisi duduknya.

"Aku sebenarnya ingin minta maaf."

Krystal menatapku.

"Padaku?"

Aku menatapnya dengan bingung. Krystal menggeleng pelan.

"Pada Jisoo."

"Dia pasti sudah memaafkanmu. Dia baik, tidak sepertimu, parah."

"Sialan kau Jennie." Krystal menepuk bahuku keras-keras.

"Kukira dia membenciku."

Ujar Krystal dengan suara yang sangat pelan.

"Tidak. Dia tidak membencimu. Aku dan semua orang lah yang sebenarnya membencimu."

Aku tertawa kecil, mencoba menghiburnya.

"Bagaimana dengan Chaeyoung? Aku sudah membuat Appa-nya dan Appa-ku bermusuhan."

Krystal sedikit menunduk. Kurasa ia sedih mengingat kesalahannya.

"Ya bagus itu. Mantap. Teruskan."

"Apasih Jen!"

Krystal menendang kakiku.

"Kau kenapa? Merasa bersalah pada Chaeyoung karena sudah menusuknya?"

"Coba kau saja yang jadi aku."

"Tidak mau." Jawabku, mantap.

Krystal terdiam.

"Sudahlah, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Orang yang pernah salah bukan berarti tidak punya harapan lagi di masa depan. Kau bisa bangkit walau kau hancur. Semua orang punya kesempatan entah separah apa kesalahan yang diperbuatnya. Kau kan tidak sengaja?"

Aku menoleh sedikit kearahnya.

"Kenapa matamu berkaca-kaca begitu?"

Aku sedikit panik, apa aku menyinggungnya? Dia tidak sedang bawa pisau kan? Malah disini sedang sepi lagi.

"Jen, aku masih menyukaimu."

Tiba-tiba Krystal menarik bajuku yang memang sudah keluar daritadi.

"Kenapa kau bersamanya."

Ia memelukku dan menangis di bahuku.

Astaga. Ini lebih menyeramkan dari ditusuk pisau. Tusuk sajalah aku sekarang, Krystal.

"Jangan begini. Bangun."

Krystal masih menangis.

Di taman di depanku, lewat seseorang, gadis yang amat kukenal. Sedang menatap kearahku, kedua tangannya mengepal. Astaga, matanya berkaca-kaca. Dia berbalik dan pergi dari hadapanku. Maaf Jisoo.

"Palli!"

Aku membentak Krystal. Tapi tangisannya malah tambah keras.

"Astaga kau ini. Aish jinjja!"

Aku berteriak frustasi. Akhirnya aku menenangkan Krystal terlebih dahulu.

"Sudah ya. Kembali ke kelas saja. Ini es nya terima kasih. Kau pakai saja untuk mengkompres matamu yang bengkak itu. Sepertinya kau lebih membutuhkannya. Kau tidak mau kan dibilang si mata bengkak oleh teman-temanmu kan? Krystal si mata bengkak."

Krystal mengangguk saja.

"Gomapseumnida."

Ia masih berusaha menghentikan ingusnya.

"Aku pamit ya."

Aku mendahului Krystal, mencoba mencari sosok Jisoo.

***

Kemana dia? Di seluruh gedung dan kelas tidak ada. Aku lelah mencarinya. Kuputuskan untuk kembali dulu ke rumah. Ponselnya juga tidak aktif. Dia pasti marah.

Hei, tunggu. Wangi masakan!

Aku bergegas menuju dapur.

"Jisoo?"

Mataku berbinar melihat dia ada disini.

"Wah, wangi sekali. Kau bikin apa?"

Jisoo tidak menjawab. Ia membawa panci kecil yang masih panas keatas meja makan.

TRAK!

Ia sedikit membantingnya.

"Omo..." Responku.

"Tidak usah baik-baik. Biasanya kalau pasangan baik-baik, itu tandanya habis selingkuh."

Jisoo menatapku dengan death glare-nya.

"Kau cemburu? Pada Krystal?"

Dia diam saja. Tatapannya masih kesal.

Aku tertawa puas.

"Jisoo, dia hanya menangis."

"Di pelukanmu, begitu?"

"Oh ayolah, aku tidak memiliki rasa apapun padanya."

"Kau ingin membalasku? Jennie, aku bisa melemparmu dengan sup ini sekarang juga."

"Jisoo, aku tidak pernah membalasmu bahkan ketika kau berciuman dengan Chaeyoung."

Aku tersenyum.

"Kau lihat?"

Jisoo terhenyak, ia menatapku dengan tatapan terkejut.

"Aku juga mau bilang tentang itu."

Ujarnya, setelahnya Jisoo menunduk, tatapannya mengawang. Apa dia takut aku akan marah padanya?

"Hei, tidak apa-apa."

Aku mendekat, menatapnya, merangkul bahunya dan menggenggam tangannya di meja.

"Aku tahu kau akan mengatakan ini padaku seperti biasa, Jisoo. Tenang saja, aku tidak marah padamu. Ya?"

Justru sikap terbukanya ini yang membuatku bisa mencintainya seperti ini.

Aku mencium keningnya, menenangkannya.

"Aku hanya merangkul Krystal, tidak berciuman dengannya."

Aku tertawa kecil, berniat menggoda Jisoo tapi malah cubitan yang kudapat di perutku.

"Kenapa kau mau saja dicium si bodoh itu?"

Tanyaku.

"Karena kau sudah membuatnya babak belur, Jennie."

"Kau tidak perlu minta maaf atas namaku, Jisoo. Tidak usah, meskipun aku salah. Kalau dia minta macam-macam bagaimana?"

"Chaeyoung bukan orang seperti itu, Jennie."

"Kau malah membelanya. Bagaimana tadi?"

"Apanya?

Jisoo menatapku.

"Ciumannya."

Biar kuperjelas sekalian.

"Oh. Manis. Dan... Enak."

Jisoo tersenyum senang.

Anak ini...

Benar-benar tidak bisa menjaga perasaan orang.

"Oh ya? Bagaimana? Bisa kau tunjukkan? Apa dia lebih hebat dariku?"

Aku mencoba menggodanya.

Tanpa banyak bicara Jisoo menarik daguku dan menekan bibirnya ke bibirku.

Bagus. Aku suka inisiatifmu, Jisoo. Sering-sering saja.

Aku tidak bisa tidak tersenyum saat ini. Tidak apa Chaeyoung mendapat ciumannya, aku sudah mendapatkan ciumannya lebih dulu, jauh sebelum Chaeyoung.

"Ngh..."

Jisoo mendesah juga akhirnya.

Aku tersenyum lagi. Masih melanjutkan ciuman kami.

Sampai pintu sial itu terbuka.

"Sedang apa kalian?!"

***


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top