17 - Way

Hallo readers siders
Happy reading

[Name] menatap dari balik jendela kamar yang menampilkan seorang ibu hamil yang sedang berjalan di sore hari bersama sang suami yang setia mendampinginya, kedua tangan dua orang itu saling tertaut lembut, seakan menunjukan bagaimana kedua orang itu terikat satu sama lain lewat gerakan tangan yang begitu erat memegang satu sama lain. Detik berikutnya, kedua pasutri itu tampak tertawa, menampilkan sang pria yang kini menundukkan kepala sembari mengecup berulang perut buncit yang wanita yang ikut tersenyum akibat perlakuan sang adam. [Name] yang melihat dari dalam hanya bisa tersenyum tipis, melihat bagaimana masa-masa kehamilan seorang wanita yang cukup beruntung. Tidak sepertinya, yang kini hanya bisa diam berdiri menghadap kaca melihat kebahagiaan orang lain yang menjadi asumsinya sendiri hingga terbentuk bayangan imajinasi dimana semuanya itu hanya fatamorgana semata.

Manik indah berbalik, menjulurkan tangan untuk menarik tirai berwarna putih tipis itu untuk menutupi pemandangan hari ini. Kemudian, wanita yang kini tengah hamil 17 minggu/4 bulan itu mengambil langkah mendekat kearah kaca lemari yang menampilkan dirinya sendiri.

Membiarkan manik indah yang kini melihat tubuhnya yang bahkan lebih kurus dari saat sebelum ia hamil, tulang pipi yang begitu tegas tampak menghiasi wajahnya yang dulunya berisi pipi yang cukup berisi. Sedikit melirik kebawah melihat kondisi tubuhnya yang tertutupi dress hamil sederhana dengan perut yang sedikit terlihat buncit. Tangan itu dengan penuh kelembutan tergerak membuka kancing dress arah depan hingga menyisakan pakaian dalam. Mengusap pelan dan dengan lembut merasakan perasaan lain ketika mengusap perutnya sendiri, selama kehamilan [Name] merasakan kepedihan yang mungkin bisa saja membuat kehamilan-nya terganggu.

Setelah kejadian dimana Gimyung menampar-nya hingga ujung bibirnya yang robek, [Name] seperti hidup diambak laut yang mengombang-ambing dirinya. Gimyung hanya akan mengunjungi-nya seminggu sekali untuk memberikan uang dan kebutuhan tanpa berbicara banyak pada [Name]. Hidup sendirian di sebuah rumah yang di beli oleh ibu Gimyung menjadi satu satunya tempat tinggal [Name] untuk bertahan hidup, tapi, semua itu bukan menjadi penyelesaian masalah melainkan masalah yang seakan tak ada habisnya.

Gimyung dan Rua sudah menikah 1 minggu yang lalu.

Semenjak pernikahan keduanya, Gimyung belum menampakkan batang hidungnya di hadapan [Name] untuk memberikan uang mingguan seperti yang Gimyung lakukan biasanya. [Name] hanya bisa diam, karena dirinya tak bisa berbuat banyak setelah apa yang Gimyung lakukan padanya tempo hari.


Flashback

"Gak [Name]! Kamu gak boleh pergi, kamu bawa anak aku!"

"Lepasin!"

"[NAME]!"

"LEPASIN GIMMY!"

Gimyung menahan amarah dan air matanya dengan mengigit bibir, tangan kananya mengcengkram kuat lengan sang wanita. Melihat [Name] yang menangis membuat Gimyung seakan merasakan debaran lain, pikiran bodoh yang tersambung hingga bagian tubuh ikut bergerak.

Gimyung menarik kuat tubuh [Name] dengan tangan kirinya dan menampar pipi sang hawa hingga tetasan darah itu kini terlihat mengotori ubin berwarna putih itu.

"Aku gak akan ngelepasin kamu, [Name]"

"Kamu gila, Gimmy!!"

Gimyung menarik kasar tubuh [Name], mencengkeram kuat dagu sang wanita hingga desiran amarah dan deru nafas berat diantara keduanya begitu ketara terasa. [Name] menahan emosi dengan tetap tenang meskipun mata wanita tak bisa menutupi kesedihan atas apa yang baru saja ia ketahui.

"IYA! AKU GILA [NAME]!"

[Name] menggelengkan kepalanya beberapa kali, tak mampu menahan air matanya yang luruh begitu saja saat Gimyung berteriak kencang dihadapanya.

"AKU GILA KARENA AKU MENCINTAI 2 ORANG DI WAKTU YANG SAMA, [NAME]!!!"

"Kamu gak bisa ambil berada diposisi itu, Gimyung!! Kamu harus bisa lepasin salah satunya!!!"

"KALO AKU GAK MAU, KENAPA!!!?"

Nafas [Name] terasa tersekat kala Gimyung langsung menarik tubuhnya dengan kuat, genggaman lelaki itu pada pergelangan tangganya begitu membuat deru nafas dan rasa takutnya tak bisa ia tahan lagi.

"Gimyung, kamu mau ngapain!!"

Brakk!

Tubuh [Name] tersentak kala belakang tubuhnya terasa menghantam sesuatu yang keras hingga rasa sakit itu memenuhi tubuhnya. Tangan kiri yang bergetar itu mencoba menahan berat tubuhnya yang akan jatuh terduduk kelantai dengan tangan kanan yang menyentuh perutnya yang tiba-tiba saja terasa keram.

Berbeda dengan [Name], Gimyung hanya berdiri dengan kilatan emosi di manik mata pria itu, kilatan emosi yang begitu jelas dari kilatan manik mata hingga tangan yang terkepal kuat. Manik hitam itu diam memandang wanita yang ia cintai, memandang bagaimana tangannya sendiri mendorong wanita yang sedang mengandung anaknya ke tembok yang bisa saja membahayakan sang wanita dan bayinya.

"Kamu gak bisa letakin aku di posisi yang sulit [Name]! Sampe kapanpun aku enggak akan pernah ngelepasin kamu ataupun Rua! Kamu harus ngerti [Name] dia juga hamil anak aku!"

[Name] meringgis pelan dengan deru nafas tak teratur, tak bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Gimyung karena perutnya yang begitu keram hingga rasa sakit itu tak bisa ia tahan lagi. Hingga, semuanya gelap begitu saja.

Flashback off

Setelah hari itu, [Name] terbangun di kasur dengan sebuah surat permintaan maaf dari Gimyung dan sejumlah uang. Gimyung tak melakukan banyak aksi, [name] yang hanya bisa diam saat Gimyung mengunjungi-nya hanya untuk memberinya uang tanpa berbicara banyak atau menanyakan tentang perkembangan kehamilannya. Dan [Name]-pun, memilih untuk diam dan memperhatikan kehamilannya agar tetap stabil meskipun semuanya tak semudah yang kira.

[Name] menatap kearah jam dinding yang menunjukan pukul 4.30 sore, memutuskan untuk memakai kembali dress yang ia kenakan kemudian melangkah menuju taman dapur untuk membuat susu hamil-nya.

Wanita itu dengan perlahan dan teliti membiarkan rambutnya terikat satu hingga menampilkan leher jenjangnya, setelah hamil [Name] terlihat lebih cantik meskipun dengan lebih kurus. Hormon keibuan yang begitu kuat terpancar begitu saja, bagaimana terlihat dari cara [name] yang begitu teliti dalam melakukan sesuatu hingga perasaannya yang sangat tidak mudah untuk di kontrol. Wanita itu dengan tenang, mengambil gelas hingga membuat susu itu kedalam gelas yang sudah ia siapkan tanpa menyadari seseorang yang telah melihat apa yang semua wanita itu lakukan sejak awal.

Bibir yang terdapat luka itu perlahan mengembangkan senyuman, menghampiri perlahan hingga mendaratkan kedua tangan untuk memeluk perut wanita yang tengah mengandung bayi mereka sembari dagu yang bersandar pada kepala sang wanita.

[Name] bergerak sedikit kala merasakan pelukan ditubuhnya, wajahnya mengadah menatap siapa sosok yang memeluknya tersebut.

"Gimmy?"

Gimyung tersenyum, mengeratkan pelukan-nya pada tubuh sang wanita dengan senyum mengembang.

"Hallo, [Name].."


Hai? ada yang masih nungguin cerita ini?


Jangan lupa vote

Salam manis

Tr

18-11-23



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top