'Present'
Naruto © Masashi Kishimoto
Alternate Universe, Oneshot, Shounen-ai.
Cerita ini ditulis hanya untuk kesenangan belaka. Tidak untuk menjelek-jelekkan karakter asli maupun untuk dikomersilkan.
•
•
•
26 April. 3 hari setelah ulang tahunnya sendiri. Hari yang sejujurnya lebih dia ingat ketimbang hari lahirnya.
Uchiha Sasuke ingat, tujuh tahun yang lalu pada tanggal dan bulan yang sama, dia ada di sini. Di atas atap rumah sakit yang kemudian menjadi tempatnya bekerja di masa sekarang. Di bawah langit sore berwarna jingga yang tak dinodai setitik awan pun--bahkan langit hari ini sejingga langit 7 tahun lalu. Hembusan angin sore yang dulunya menarikan rambut panjangnya, kini mengibaskan jas putih yang dikenakan, menampakkan kemejanya yang agak kusut.
Sore ini, segala sesuatu benar-benar merepresentasikan kembali keadaan 27 April di tujuh tahun yang lalu.
Bedanya, saat itu, dia tidak sendirian seperti sekarang.
Tujuh tahun silam, dia ditemani seorang pemuda. Rambut jabriknya pirang, kulitnya sawo matang, tinggi badannya 10 sentimeter di bawah Sasuke. Tubuhnya dibalut baju dan celana berwarna biru lembut bergaris putih--khas pakaian untuk pasien rumah sakit, kakinya tak berkasut. Mata birunya redup. Bibirnya pucat.
"Sasuke, aku akan pergi ke suatu tempat untuk melakukan rehabilitasi sekaligus mengatur kembali hidupku yang terlanjur kacau. Jangan pernah mencariku, ya. Fokus pada masa depanmu."
Suara pemuda itu bahkan masih segar di ingatan Sasuke, seakan baru diucapkan tadi pagi. Sasuke masih mengingat senyum itu. Senyum keterpaksaan yang menjelaskan bagaimana hancurnya pemuda tersebut.
Bagaimana hancurnya dia saat menemukan orang tuanya tewas berlumuran darah di ruang keluarga ketika dia baru kembali dari piknik perpisahan bersama teman-teman SMA-nya. Bagaimana hancurnya dia setelah sadar dari pingsan yang terjadi selama seminggu dan mendapati bahwa kini dirinya menjadi yatim-piatu. Bagaimana hancurnya dia saat mengetahui kalau keluarganya terbunuh karena ayahnya yang merupakan seorang diplomat bersitegang dengan pemerintah. Bagaimana hancurnya dia saat tahu dirinya mengalami tekanan jiwa yang cukup parah dan membutuhkan pengobatan yang luar biasa.
Sasuke tidak bisa merasakan langsung apa yang pemuda itu rasakan. Namun, seandainya dia yang mengalami hal itu, tentu saja Sasuke tak akan tanggung-tanggung untuk membakar gedung pemerintah sebisanya.
"Aku mungkin takkan pernah kembali lagi, tetapi kalau takdir mengubahku ... kalau waktu berhasil menghapus kebencianku pada pemerintah negeri ini ... aku yang akan mencarimu, hingga kutemukan dokter Uchiha Sasuke di masa depan. Akan tetapi, selama aku belum kembali lagi untuk menemuimu ... jangan pernah ingat kalau kau pernah mengenalku."
Saat itu, Sasuke mungkin diam saja. Tidak mengatakan apa pun. Tidak mengiyakan ataupun menentang permintaan si pemuda pirang. Namun, yang Sasuke tahu adalah dari tujuh tahun yang lalu hingga sekarang ... dia selalu berharap pemuda itu akan mencarinya.
Uchiha Sasuke mendengkus, dalam hati menertawakan dirinya sendiri yang terlihat sangat patetis. Baru saja dia membalikkan tubuh dan hendak kembali ke bawah, kakinya terhenti lantaran mata tajamnya menangkap seseorang yang berdiri di ujung tangga.
Seseorang yang dilihatnya sekarang adalah seseorang yang sedari tadi dia pikirkan, tetapi dalam versi dewasa.
Seseorang mengenakan pakaian kasual--hanya sebuah kaus putih berlapis jaket merah dengan celana jeans belel, tidak seperti tujuh tahun lalu. Kakinya berbalut sepatu converse merah, tidak seperti tujuh tahun lalu. Rambut pirangnya cepak, tidak seperti tujuh tahun lalu. Bahkan wajahnya terlihat sangat bahagia, tidak seperti tujuh tahun lalu.
Sasuke masih mematung, sementara otaknya sibuk merangkai keterkejutannya menjadi satu pertanyaan: apakah aku berhalusinasi?
Objek yang Sasuke anggap sebagai halusinasi itu melangkahkan kaki, mendekat kepada Sasuke yang masih tak bergerak. Langkah pria itu--bukan pemuda lagi, sama seperti dirinya--terdengar jelas di telinga sang dokter muda.
"Kupikir aku akan berkeliling Jepang untuk mencarimu, ternyata kau bekerja di rumah sakit ini, ya?" Suara itu terdengar ceria, terlalu nyata untuk dianggap halusinasi.
Sasuke masih diam.
"Hei, kau terlalu terkejut atas kedatanganku atau terlalu heran dengan ketampananku yang sudah melampauimu?" Terdengar nada jenaka dalam suara tersebut. "Sasuke, jangan bilang kau mengira aku adalah halusinasimu? Kalau benar, berarti kau tidak menurutiku untuk tidak mengingatku, ya?"
Sasuke menemukan kesadarannya lagi. Mulutnya terbuka, mengucapkan sebuah pertanyaan, "Kau ... benar-benar telah kembali?"
"Kau berharap aku tak pernah kembali lagi? Jahatnya ...."
"Bukan begitu!" Sasuke memotong dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi. Dia sendiri terkejut dengan suaranya. "Maksudku, waktu telah berhasil melakukannya padamu?"
"Menghapus kebencianku, maksudmu? Heh, jangan bercanda. Sampai sekarang pun aku benar-benar ingin membumihanguskan negara ini." Terkekeh renyah. Pipi bercodet seperti kumis kucing naik, membuat mata menyipit.
Uchiha Sasuke masih tidak percaya. Ditariknya kerah baju si lawan bicara, membenturkan bibirnya sendiri pada bibir lelaki itu.
Dia ingin memastikan bahwa ini benar-benar nyata.
Dan ternyata, dia tak berhalusinasi.
Bibir lembut ini, mulut hangat ini, tidak mungkin bisa dicecap dari objek yang tidak nyata.
'Dia' benar-benar telah kembali.
"Sudah selesai memastikan?" Pria itu bertanya setelah Sasuke melepaskan ciuman mereka yang terlalu tiba-tiba. Jarinya mengusap bibir.
Bukannya menjawab, Sasuke malah menarik laki-laki itu ke dadanya. Memeluk si pirang dengan sangat erat, seolah akan kehilangan dia lagi jika pelukannya longgar sedikit. Euforia menyerbu hati dan pikirannya habis-habisan.
"Three days ago was your birthday, right?" Yang dipeluk bertanya kepada Sasuke. "So, let's say my present here is my birthday present for you."
Sasuke terkekeh. Kepalanya ditempelkan pada tengkuk laki-laki itu. "It's pretty late to give me a birthday present, anyway."
"At least I give you a present, better than not. Atau kau memang tidak ingin aku kembali lagi?"
"Katakan sekali lagi dan kita akan benar-benar berkelahi di sini."
"Oh, jadi kau adalah seorang dokter merangkap preman sekarang?"
"Hanya kalau kau berkata aku tak menginginkan keberadaanmu di sini."
Kekehan saling bersahutan. Pelukan tak berkurang, malah semakin erat. Tentu saja pelukan Sasuke jauh lebih erat.
Bermenit-menit terlewati, hingga akhirnya si pirang menggeliat tak nyaman dalam pelukan Sasuke. "Bisa kau lepaskan aku sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu."
Sasuke menurut. Pelukan dilepaskan, seraya si pirang mengambil satu langkah ke belakang. Tangan kanannya tersodor ke depan.
"Selamat ulang tahun, dokter Uchiha Sasuke." Suara itu berdendang ceria. "Dan, tadaima."
"Ah, terima kasih banyak." Sasuke segera menjabat tangan hangat itu dengan membentuk senyuman tipis. "Dan, okaeri ... Uzumaki Naruto."
•
•
•
Jumlah kata: 955 (tanpa disclaimer dan A/N)
SAYA TUH BENAR-BENAR LUPA KALAU 3 HARI YANG LALU ADALAH HARI ULANG TAHUN JAGOAN SAYA HSHSHS!!!1!1!1! MAAFKAN SAYA, NAK SASKEH. TERLALU SERIUS STREAMING 'WHAT A LIFE' SIH! *Literally crying in Nihongo*
DAN SAYA TUH RENCANANYA BIKIN DRABBLE AJA, KOK MALAH MEMBLUDAK JADI HAMPIR 1k KATA?! *Now I'm crying in Mandarin*
Cukup ngegasnya. Intinya, selamat ulang Tahun kesayangannya Papah, nak Uchiha Sasuke. Doanya tambah ganteng ya, biar menantu Papah tambah pusing. /Mengamini sambil melirik Uzumaki Naruto
Chlor. 🐸
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top