01/01

Naruto © Masashi Kishimoto

Alternate Universe, Oneshot, Yaoi, Hurt / Comfort.

Cerita ini ditulis hanya untuk kesenangan belaka. Tidak untuk menjelek-jelekkan karakter asli maupun untuk dikomersilkan.





Tahun baru? Tidak ada yang spesial. Aku melewati malam tahun baruku dengan menonton pesta kembang api dari balkon apartemenku. Hanya ditemani sebatang rokok mentol yang kubiarkan tetap terbakar tanpa kuisap.

Bunyi ledakan serta warna-warni kembang api yang mengukir keindahan di langit malam tak berhasil menarik atensiku. Meski mataku berada di sana, menatap langit malam yang seakan terbakar dengan api pelangi, namun pikiranku tidak. Dia melayang jauh, menembus ruang dan waktu, mendarat di balkon ini lagi dalam waktu yang berbeda ---setahun, dua tahun, dan tiga tahun yang lalu.

Berbeda dengan tahun ini, pada tiga tahun yang sudah lewat selalu kuhabiskan malam tahun baru bersama seseorang di tempat ini. Seseorang dengan raut dingin, mata sekelam langit malam, serta bibir yang selalu membentuk garis datar dan selalu mengapit sebatang rokok mentol.

---Benar, aku sengaja membakar batangan kanker yang kubenci ini sebagai usahaku menghadirkan kembali sosoknya di sini. Ingin mengulang kembali tahun-tahun yang sudah menjadi sekedar kenangan bersamanya. Dalam hati berharap dia masih ada di sini, bersamaku, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sepasang tangan pucat yang melingkari perut rataku cukup membuatku terkejut. Kutolehkan kepalaku, mendapati seulas senyum terpatri pada wajah lembut wanita di belakangku yang terlihat masih mengantuk.

"Kenapa Naruto-kun tidak membangunkanku?"

Suara Hinata yang selembut parasnya mengundang senyum tipis di bibirku. Kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku, kemudian menaruh daguku di atas pundaknya. "Kamu terlihat sangat pulas, aku jadi tidak tega membangunkanmu."

Hinata tertawa pelan. "Bukan karena Naruto-kun ingin menghabiskan malam tahun baru bersama rokok mentol pengganti Sasuke-kun?"

Sebenarnya, Hinata selalu menghubungkan segala perilaku janggalku dengan seseorang yang barusan dia sebut. Namun setiap kali Hinata mengatakannya, aku akan bereaksi seakan itu adalah pertama kalinya Hinata melakukan itu.

"Kenapa terkejut begitu?" Hinata lagi-lagi tertawa pelan. "Reaksi Naruto-kun seperti pencuri yang tertangkap basah oleh warga dan takut dikeroyok."

Tangannya meraih rokok yang diapit jariku, dan di luar ekspektasiku, bukannya membuang, Hinata malah membawa rokok itu ke bibirnya, menarik masuk nikotin ke dalam paru-parunya.

Tentu saja aku terkejut. Tanganku bergerak hendak meraih rokok itu, namun Hinata dengan gerakan yang tak terbaca segera mengunci pergerakanku dengan sebelah tangannya.

Di saat seperti inilah aku menyesal memiliki istri seorang atlet bela diri. ---Proporsi badan boleh seperti ranting kayu, sekalinya bergerak malah membuatku terlihat menyedihkan seperti ini.

Yang bisa kulakukan sekarang hanya mendelik dan, "Hinata, apa yang kamu lakukan?"

"Hanya ingin menyadarkan suamiku yang entah kenapa selalu bertingkah bodoh," jawab Hinata sembari melepaskan kunciannya. Mengisap kembali rokok di tangan, dia kembali melempar pertanyaan, "seharusnya aku yang bertanya, apa yang Naruto-kun lakukan? Kenapa masih di sini?"

"Kenapa masih di sini? Tentu saja karena ini rumahku! Rumah kita!"

"Tidak, bukan di sini. Rumah Naruto-kun adalah Sasuke-kun."

Mataku membulat. "A-apa?"

"Karena rumah adalah tempat hati berlabuh. Dan hati Naruto-kun tidak di sini. Hatimu ada di sana, di rumah seorang inspektur kepolisian Konoha yang sudah memperistri sahabat baikmu sejak kecil dan sudah punya anak."

Aku terpekur.

"Kamu berusaha terlalu keras, Naruto-kun." Hinata mendudukkan dirinya di kursi tepat di sampingku. "Tapi lebih dari dirimu sendiri, aku tahu. Selamanya hatimu takkan aku dapatkan, karena Sasuke-kun telah memiliki hatimu dan juga sebaliknya sejak dulu. Jadi pergilah" Istriku menatapku dalam. "Pergilah, sebelum aku menjadi egois dan menahanmu di sini."

Aku mencoba mencairkan ketegangan dengan terkekeh. "Hinata, kamu mengusirku dari rumah?"

"Tentu saja tidak," jawabnya cepat, "aku hanya menyuruh Naruto-kun untuk pergi menemui Sasuke-kun di ruang tamu."

"Apa? Sasuke di ruang tamu?"

Hinata mengangguk. "Aku menyuruhnya ke sini untuk menemui Naruto-kun. Atau mungkin kalian ingin pergi ke mana? Terserah. Intinya pergi dan temui Sasuke-kun dulu."

Di titik ini, aku tak dapat membendung perasaanku. Sebut aku lemah, tapi aku benar-benar tak dapat menahan air mataku yang luruh. Aku berlutut, memeluk lutut Hinata dan menumpahkan air mataku di sana.

Aku tahu aku adalah pengecut sialan. Sejak awal, tidak seharusnya aku menikahi Hinata. Tidak sepatutnya aku menyakitinya seperti ini. Tidak sebolehnya aku memanfaatkan perasaannya padaku untuk menutupi aibku dari keluargaku yang selalu menuntut kesempurnaan tanpa cacat.

Perasaanku pada Uchiha Sasuke adalah cacat, itulah kenapa aku menggunakan Hyuuga Hinata sebagai plester yang menutupi cacatku. Tapi lihatlah apa yang plester ini lakukan padaku. Aku seakan hancur karena telah menghancurkan gadis malang ini.

"Hinata ... maafkan aku ...."

Tanpa kata, Hinata meraih wajahku. Dia membersihkan wajahku yang penuh air mata menggunakan tangannya yang bebas, kemudian berdiri dan menarikku untuk ikut berdiri.

"Naruto-kun, aku sangat mencintaimu." Hinata berujar lirih. "Pergilah."

Aku mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Hinata. Aku tahu bahwa Hinata sedang merokok sambil menangis, namun aku tetap melangkahkan kaki demi menghargai usaha Hinata untuk membahagiakanku dan demi kebahagiaanku sendiri.

Kudapati Uchiha Sasuke sedang duduk di sofa, dengan sebatang rokok mentol di tangan. Aku tersenyum pedih, kemudian berjalan mendekatinya.

"Dobe," dia memanggilku.

"Teme," aku balik memanggilnya. "Selamat tahun baru."

"Hn", Sasuke menjawab pendek. "Hinata bilang kamu ingin bertemu denganku. Ada apa?"

Berusaha menahan sesak di dada, aku menjawab pelan, "mau ... keluar bersamaku sebentar?"

"... Hn."

Karena selamanya aku akan menjadi lelaki paling egois di dunia, yang rela menginjak orang lain demi mendekatkan diri pada kebahagiaan yang aku inginkan.





END





A/N :

Jumlah kata : 838 (tanpa embel-embel disclaimer dan A/N)

Gatau nulis apaan. Yaudah lah ya.

Happy new year all. Semoga resolusi untuk tahun ini tercapai.

Chlor. 🐸

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top