Game

Haloo!!
Kembali lagi bersama Gen 3 uwuu😍

Project kali ini apa?

Nah, jadi, semalam kami para member Gen 3 mengadakan game sambung kalimat. Jadi, setiap member memberikan empat kata secara bergiliran. Satu member diberikan waktu 20 detik. Durasi game-nya selama satu jam. Setelah game usai, terbentuklah sebuah cerita yang lumayan memiliki alur, tapi belum sempurna.

Jadi, tugas kita ya menyempurnakan cerita itu. Jadi semacam cerpen gitu. Temanya horor sih, tapi ini gak tau jadi horor atau thriller atau apa sih🤣🤣

Cusss... langsung aja!

***

"Siapakah Aku?"

.
.
.
.

Malam semakin pekat. Angin menguar menciptakan gerisik dedaunan di tengah keheningan. Aku masih berdiri ketakutan di halaman belakang rumahku. Sosok itu terus mengejarku. Kuharap ada orang lain yang bisa menolongku sekarang.

Ayah, Ibu, cepatlah pulang!

"Aww!!" pekikku. Sosok bertudung hitam itu berhasil menangkap tanganku. Wajahnya sama sekali tak terlihat sebab ditutupi sebuah masker berwarna senada dengan tudungnya. Aku menghitung irama jantungnya. Cepat sekali. Tubuhku terasa kram tanpa darah dan seketika menegang saat mata itu mulai menatapku dengan sangat tajam, membuat bulu kudukku merinding. Rasanya jantungku ingin meledak, sulit rasanya untuk bernapas. Sepertinya sudah tak ada oksigen di sekitarku. Keringat mulai membasahi tubuhku, jantungku berdetak lebih cepat dan semakin cepat.

Perlahan, sosok itu mulai mencekik leherku, membuatku kesulitan untuk bernapas. Kukunya menembus dagingku yang sudah melemah. Tiba-tiba saja darah mengalir. Terasa pedih menyiksa.

Apakah aku akan mati?

Bau amis menyeruak keluar. Kuku tajamnya menyobek epidermis kulit. Aku meringis merasakan sensasi sakitnya. Darah mengucur deras dari lenganku yang berhasil dia lukai. Meski tidak kuat, aku terbangun, menatap robekan besar pada luka yang barusan terjadi. Terasa perih hingga tulang.

Adakah yang bisa menolongku?

Sosok itu tak membunuhku, ia hanya menyiksaku. Menyiksaku dengan cara tak kasat mata. Aku tak bisa menebak apa yang akan dia lakukan. Lebih mengerikan lagi, aku tak tahu siapa sosok yang kini tengah mencengkeram tanganku ini. Entah siapa sosok itu, hanya bayangan yang terlihat. Mataku mulai buram. Tatapanku semakin tidak jelas.

Di tengah tubuh lemah yang terhuyung, aku berusaha mengenali sosok itu. Kulihat tubuh sempurna seorang lelaki. Walau seperti mimpi, dia benar-benar nyata. Dia kemudian menyeringai. Udara panas seketika menyapu wajahku, dan kulihat sosoknya berdiri tepat di hadapanku. Aku berlari sekuat tenaga. Matanya semakin merah menyala, menyeramkan. Kucoba lari walau kutahu itu mustahil. Menembus malam yang gelap. Semakin gelap seiring cahaya mataku yang mulai memudar. Aku tetap berusaha melarikan diri. Namun, kakiku sudah melemah, tak sanggup lagi menahan beban tubuhku sendiri. Aku ingin segera mati.

Dia berhasil menangkapku setelah aku berlari kecil beberapa langkah. Sekuat tenaga aku membuka masker dan tudung yang menutupi wajahnya. Berhasil!

Deg!!

Wajah itu ... apakah aku tak salah lihat?

Wajah dalam tudung itu tidak lain adalah kekasihku. "K-kau ... bagaimana kau bisa melakukan ini?" Rasanya mulutku sulit sekali berkata-kata.

Sosok yang kini sudah kulihat wajah itu tak peduli apa yang kukatakan, seakan tak mengenalku. Aku sadar, sepertinya kekasihku kerasukan. Kurasakan cengkeramannya di lenganku, tubuhku terhuyung ke belakang. Dorongannya teramat kuat hingga membuat tubuhku jatuh berguling-guling. Rasanya tulangku ingin patah. Sosok besar itu menarikku kasar, menghempaskanku hingga terpental.

Apa yang harus kulakukan?Haruskah aku menyerang balik?

Memikirkan opsi untuk hidup, aku lebih memilih untuk memelas, "Sayang, jangan bunuh aku."

Matanya tajam menatapku. Dia lantas berbisik di telingaku, "Merasa pantas hidup, ya?"

Bulu kudukku kembali meremang mendengar suaranya yang tak seperti biasa. Inikah sosok yang kukenal?

Bibirku bergetar menahan tangis. Aku menangis, jariku diiris. Di tengah rasa sakit itu, aku teringat sesuatu. "Ini yang dulu kau rencanakan? Sejak malam itu kau berencana membunuhku? Apa salahku?" Aku bertanya bertubi-tubi, tetapi tak ada hasil.

Apa benar dia sedang kerasukan?

"Lupakan! Akan kuhabisi kau!" serunya. Dia lalu mengambil sebuah kapak di pojok kanan.

"Sadarlah, ini aku cintamu." Aku masih mencoba melepaskan diri. "Apa aku bersalah padamu?" lanjutku diikuti tangisan.

Dia kembali mengabaikan tangisku. Aku mulai kesal dan hilang kendali. "Jangan sentuh aku, Brengsek!" teriakku sembari menghempaskan genggamannya. "Kau bukan lagi laki-laki. Bunuh saja aku seperti kemauanmu!"

Dari mataku mengalir deras air mata yang sudah menyatu dengan darah. Dia menyunggingkan senyum sinis. Sungguh mengerikan.

Tiba-tiba ada seseorang yang menghantamkan pukulan di kepalanya.

"Aarrg!" Dia meringis. Matanya membelalak, amat mengerikan. Aku memekik, tertahan melihatnya. Aku tertegun begitu melihat bahwa yang memukulnya adalah ayahku. Kulihat ayahku mulai berduel dengannya. Dengan sekuat tenaga kuberlari. Berusaha tidak melihat belakang.

Ah, tapi ... bagaimana keadaan Ayah sekarang?

Aku tak bisa mengabaikan Ayah meskipun aku sendiri sudah semakin lemah. Aku masih bernapas, tetapi sekarat. Kulihat dari kejauhan Ayah terkapar. Aku ingin kembali, tetapi sosok itu sungguh menakutkan. Cukup banyak darah bersimbah di sana.

Aku kembali berlari, kemudian berjalan, hingga tertatih. Tak lama kemudian, suara aneh mulai terdengar. Aku melihat ke belakang, Ayah masih bisa bangun dan melawan.

Tidak. Aku tidak boleh lari dan menjadi pengecut seperti ini. Aku harus membantu Ayah.

Kupaksakan kakiku melangkah kembali. Ayah dan kekasihku itu terus berduel. Hingga akhirnya aku berhasil mendekat.

"Ayah...," panggilku. Namun, Ayah seperti tak mendengar suaraku.

Aku gemetar. Bingung harus melakukan apa. Hingga akhirnya....

Deg!!

Jantungku seakan berhenti sepersekian detik. Mataku membeliak melihat darah segar memancar begitu deras. Entah sejak kapan Ayah menyembunyikan golok di balik tubuhnya yang tadi sudah sempat terkapar. Satu sayatan di leher kekasihku berhasil membuatnya tumbang. Lelaki itu tergeletak tak sadarkan diri.

"A-ayah ... k-kau ... kau membunuhnya?" ucapku terbata-bata.

Lagi-lagi Ayah mengabaikanku. Pria paruh baya itu sedang berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. Keringat mengalir deras dari pelipisnya. Aku menunggu Ayah tenang, sembari aku juga berusaha menenangkan diri.

"Ayah...," lirihku setelah beberapa menit berlalu.

Keningku berkerut seketika. Aku baru menyadari sesuatu yang aneh. Ada yang tidak beres dengan Ayah. Kenapa sejak tadi Ayah tak melihat ke arahku?

"Ayah," panggilku lagi seraya mendekat.

Kulihat Ayah memejamkan mata, lantas mengembuskan napas perlahan. Dia seperti orang yang merasa lega akan sesuatu. Tepat saat Ayah membuka mata, aku tertegun dibuatnya. Air mata jatuh dan membasahi pipinya.

Kalimat yang keluar dari mulut Ayah pada detik selanjutnya, sukses membuatku terkejut.

"Nara, Ayah sudah menghabisi lelaki brengsek ini, Nak. Ayah sudah membalaskan dendam atas kematianmu. Orang ini pasti sudah gila, dia terus mengatakan bahwa kau menghantuinya." Tangis Ayah pecah. Dia kemudian melanjutkan, "Entah itu benar atau tidak, Ayah tidak peduli. Pembunuhmu sudah mati di tangan Ayah. Ayah harap, sekarang kau bisa pergi dengan tenang."

- END -

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top