7 - Alibi

08.30 PM

SETIBANYA di rumah, Arvin langsung menuju ke kamar. Meletakkan tasnya di atas meja belajar. Lalu, menghempaskan tubuhnya, yang terasa begitu lelah, di atas ranjang yang empuk. Netranya menerawang menatap atap dinding kamar yang berwarna biru langit. Pun, kini benaknya telah berhasil menembus batas waktu, akan kejadian pagi tadi di sekolahnya.

07.15 AM

Tiba-tiba saja, Arvin merasakan tubuhnya terasa remuk dan sakit di bagian kepala. Ia pun memilih untuk izin keluar kelas, menuju ke UKS. Mau tak mau Arvin harus rela tak mengikuti mata pelajaran pertamanya.

Namun, Arvin terkejut saat mendapati Happy, setelah sampai di UKS. Cewek itu terduduk di atas ranjang dengan wajah yang tampak begitu gusar, sembari tak henti menatap arloji bermotif doraemon di pergelangan tangannya. Arvin celingukan. Tak ada siapapun di ruangan ini. Di mana biasanya ada dokter maupun anggota PMR yang menjaga ruangan.

Pada akhirnya, langkah kaki Arvin surut perlahan menghampiri cewek itu. “Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya. Jujur saja, jika saat ini ia begitu mengkhawatirkan cewek itu.

Happy terkesiap. Kedatangan Arvin berhasil membuyarkan lamunannya. “A-aku nggak apa-apa, Vin. Kamu nggak usah khawatir,” jawabnya tergugu.

Happy memilih untuk menutup tirai pada ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di sana. Sedangkan, Arvin hanya bergeming menatap tirai putih yang telah tertutup di hadapannya. Entah kenapa Arvin merasakan ada suatu keanehan pada sikap Happy. Namun, entah apa itu.

Arvin melangkahkan kedua kakinya ke arah ranjang yang berada tak jauh dari tempat Happy. Ia menutup tirai dan merebahkan tubuhnya di sana. Mencoba untuk memejamkan kedua mata. Namun sayangnya, rasa khawatir terhadap cewek itu, masih saja mendekap diri, hingga membuatnya gelisah.

Tanpa buang waktu, Arvin terduduk. Menuruni ranjang, dan kembali melangkahkan kedua kakinya ke ranjang milik Happy. Hanya untuk memastikan keadaan cewek itu. Sebab, ia belum merasa puas akan jawaban yang diberikan oleh Happy kepadanya.

Perlahan, tangan kanan Arvin bergerak maju, membuka tirai pada ranjang cewek itu. Berharap sang empu di balik tirai tengah memejamkan kedua mata indahnya. Namun, mendadak Arvin terpegun saat tak menemukan keberadaan cewek itu di atas ranjang.

“Ke mana dia? Apa mungkin ke toilet?” pikirnya.

Arvin menggeleng kecil. Lalu, mengusap wajah dengan kedua tangannya. Entahlah. Ia tak ingin ambil pusing. Sebab, kepalanya saja sudah terasa begitu pusing. Apalagi jika harus memikirkan hal itu. Sudah pasti membuat kepalanya semakin terasa pusing.

Kini, Arvin memilih untuk membenamkan wajah di bawah bantal. Malam ini, ia ingin tidur cepat. Supaya esok, bisa membantu Awes untuk mengungkap kebenaran akan siapa Wolf. Kendati begitu, pikirannya masih saja melayang-layang, membayangkan wajah gusar sekaligus pucat Happy.

Oh, astaga! Arvin mendesah pelan. Ia meletakkan bantalnya kembali di samping tubuhnya. Entah kenapa rasa cemas terhadap cewek itu masih saja mendekapnya hingga sampai saat ini. Jika seperti ini terus, sudah pasti Arvin tak akan bisa tidur lebih awal.

“Gue akan tanyain keadaannya besok,” tuturnya mantap.

••••

Awes telah berada di ruang siaran. Tadi, pak Sany menyuruhnya untuk memanggil satu persatu nama siswa untuk dikumpulkan di ruang OSIS. Nama-nama tersebut adalah daftar nama para siswa yang keluar kelas pada saat Wolf beraksi, kemarin. ‘Calon tersangka’ begitulah yang ditulis Awes pada kertasnya.

Calon tersangka:
11 IPA 1: Always, Happy dan Yoga
11 IPA 2: Gavin
11 IPS 1: Arvin
11 IPS 3: Raja

“Untuk nama-nama yang saya panggil tadi, harap berkumpul di ruang OSIS sekarang. Ditunggu kedatangannya! Terimakasih.” Awes mengakhiri siarannya.

Menatap kembali kertas yang berada di tangan Awes, sebelum merangkak keluar. Mengecek kembali satu persatu nama tersebut, supaya tak ada yang terlewat olehnya. Namun detik setelahnya, kedua alisnya tertaut saat baru menyadari bahwa terdapat namanya terpampang jelas di sana.

“Ya, ampun! Kenapa ada nama gue di sini? Berarti, gue juga calon tersangka, dong?” Awes menepuk keningnya. Lalu,  menggeleng. “Tahu gitu, gue nggak akan tulis calon tersangka. Tapi ….” Awes menjeda sesaat ucapannya. Ia menyeringai lebar, sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “calon masa depan Happy," lanjutnya.

Awes terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. Mengingat, daftar nama-nama tersebut hanya Happy satu-satunya cewek di sana. Awes bergedik. Tak mau terus mengikuti kehaluannya. Ia pun melangkahkan kedua kakinya keluar ruangan, untuk menuju ke ruang OSIS.

“Raja, kamu pergi ke mana saat jam mata pelajaran pertama, kemarin?” tanya Pak Sany. Menginterogasi sekaligus mencari alibi.

“Saya sama Gavin di kantin, Pak. Saya nggak suka sama mata pelajaran Sejarah. Membosankan. Jadi, saya sengaja mengajak Gavin untuk menemani saya membolos,” terang Raja. Netranya kini menelisik ke arah Pak sany dan Pak Bambang (Guru BK) di hadapannya secara bergantian.

“Jangan bilang, Bapak menuduh saya jika saya pelakunya, ya?” tanyanya kemudian. Raja mencebik. Lalu, tertawa meremehkan. “Bapak tahu, kan, jika saya kaya raya? Jadi, mana mungkin saya merendahkan harga diri saya sendiri untuk melakukan hal sekotor itu. Pikir dong, Pak! Buang-buang waktu saya saja.”

Pak Sany menggeleng. Mengembuskan napas kecil, setelah mendengar keterangan dari Raja. Ia sudah hapal betul dengan tabiat arogan anak didiknya itu. Sehingga, memilih untuk tak menghiraukan ucapan Raja, dan melanjutkan sesi pertanyaan kepada Yoga.

“Kalau kamu pergi kemana, Yoga?”

“Saya ke toilet, Pak.”

Pak Bambang menautkan kedua alisnya saat melihat gestur gerak tubuh Yoga yang tampak mencurigakan. Cowok itu, terlihat jelas sekali meremas celana panjangnya. Gugup? Itulah yang terpikirkan oleh Pak Bambang saat ini.

“Di sini tercatat, hampir 1 ½ jam lebih kamu pergi sebelum akhirnya kamu balik ke lapangan. Ngapain saja kamu di toilet, sampai memakan waktu yang cukup lama?” tanya Pak Bambang menelisik sambil memperlihatkan catatan pribadi miliknya.

Yoga gugup. Mendadak degup jantungnya kian berdetak tak keruan. Jari jemarinya pun telah terkepal pada celana panjang, sebelum pada akhirnya menjawab, “Kemarin, saya sakit perut, Pak. Jadi, saya izin ke toilet untuk memenuhi panggilan alam. Dan ternyata, cukup keras, Pak. Mungkin, itu yang bikin saya lama di toilet.”

Sontak saja, jawaban Yoga tersebut memancing gelak tawa semua yang terduduk di depan meja bundar. Lain halnya dengan Pak Bambang yang terduduk tak jauh dari Yoga, hanya menggelengkan kepala. Benaknya hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang lain dari balik sikap Yoga. Entahlah. Yang pasti dirinya harus mencari tahu itu.

Kali ini, Pak Sany menatap tajam Arvin. “Arvin, kalau kamu ke mana? Seharusnya, kamu sebagai ketua OSIS memberi contoh yang baik kepada semua siswa di sekolah ini. Tapi, kenapa kamu malah membolos?”

Arvin tergegap saat ditatap tajam oleh gurunya itu. Kemudian, ia pun menjawab, “Kemarin, saya merasa nggak enak badan, Pak. Jadi, saya izin ke UKS untuk istirahat sebentar. Ternyata, sesampainya di UKS, saya bertemu dengan Happy. Kami pun memilih untuk berbaring di ranjang masing-masing, dengan menutup tirai.”

Pak Sany mengangguk setelah mendengar jawaban dari Arvin. Kini, pandangannya beralih ke arah Happy. “Apa selama di UKS, kalian nggak pergi ke mana-ke mana?”

Happy gugup. Ya, ampun! Apa yang harus ia katakan kepada gurunya itu?
“A-aku –"

“Kita nggak ke mana-ke mana, Pak,” potong Arvin cepat. “Kita berdua hanya berbaring di masing-masing ranjang, sampai pada akhirnya mendengar pengumuman dari Awes jika OSIS akan melakukan sidak,” tambahnya.

Tatapan Arvin beralih ke arah Happy yang berada di hadapannya. Mimik wajah cewek itu yang pada awalnya terlihat gugup, seketika berubah menjadi lega saat mendengar jawaban yang diberikan olehnya.

Kini, tatapan Pak Sany beralih ke arah Awes, menginterogasi cowok berkulit sawo matang itu. “Awes, kamu ke mana?”

Awes menyeringai lebar. “Anu, Pak. Saya mencari Happy. Dan nggak sengaja ketemu sama pelaku. Saya coba kejar, tapi malah kehilangan jejaknya.”

Pak Bambang terpegun. “Apa kamu sempat melihat wajahnya?” tanyanya penasaran.

“Wajahnya tertutup masker dan hoodie, Pak. Saat mata kami nggak sengaja saling bertatapan, saya melihat iris matanya berwarna merah. Jadi, saya sulit untuk mengenali orang itu.”

Pak Bambang mendesah pelan. “Cerdik sekali orang itu,” ungkapnya.

Hingga pada akhirnya, sesi wawancara selesai beberapa jam kemudian, dengan hasil yang telah tercatat oleh kedua pria berwajah tegas itu. Dan, mereka akan mendiskusikannya kepada Gayandra.

“Awes, coba kamu tanyakan orang kantin, apa Raja dan Gavin benar-benar ada di sana, kemarin?” titah Pak Sany kepada Awes sebelum keluar ruangan.

"Siap, Pak!" Awes memberikan sikap hormat bendera kepada gurunya itu. Kemudian, mengajak Happy dan Arvin untuk makan siang bersama di kantin.

Sayangnya, semua lupa untuk melakukan sesi wawancara kepada salah satu siswa. Membuatnya tersenyum kecil.

Orang itu ialah … Gavin.

To be continued

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top