5. Iris

"Woi!!! Arun lagi mukulin anak kelas sepuluh!!!"

Teriakan itu begitu menggema seantero koridor. Semua mata tertuju pada seorang siswa yang lari tergopoh-gopoh dari lantai atas menuju ke lantai bawah. Tak terkecuali, kami. Jennifer dan teman-temannya saling berpandangan dengan wajah bertanya-tanya.

"Nggak biasanya Arun mukulin orang di sekolah," kata Deana dan diangguki oleh kedua temannya yang lain.

"Pasti anak itu yang cari gara-gara sama Arun sampai emosinya meledak di sekolah," timpal Jennifer.

"Lihat, yuk." Kali ini Helga yang mengajak mereka untuk naik ke atas, ke kelas sepuluh tempat kejadian perkara.

Aku sedikit lega. Paling tidak mereka sudah menghentikan aksi mereka kepadaku. Biasanya mereka akan terus merundungku hingga merasa puas. Aku mengelus pipi kiriku yang terasa perih. Aku yakin, bekas tangan Jennifer akan tercetak di sini. Terpaksa aku harus berbohong lagi ke Mbah Putri nanti jika beliau bertanya soal bekas tamparan ini.

Koridor mendadak senyap. Para murid mungkin lebih tertarik dengan adegan perkelahian Arun di atas sana. Sedangkan aku? Aku lebih memilih untuk ke kantin dan menyetor donat ke ibu kantin, daripada menonton orang berkelahi. Aku benci dengan perkelahian.

Aku kembali melangkah menuju kantin yang tidak terlalu ramai. Meletakkan baki berisi donat di atas meja yang memang khusus menggelar jajanan.

"Mbak Bitha itu pipinya kenapa?" tanya Bu Rusmi, salah satu ibu kantin yang kutitipkan donat.

Aku meraba pipi kiriku. Pasti bekasnya sangat terlihat, bahkan Bu Rusmi bisa melihatnya dari jarak beberapa meter.

"Ah, nggak apa-apa, Bu," jawabku bohong. Aku tidak ingin membuat orang lain khawatir.

"Kelakuan Mbak Jenni, ya?" tanya Bu Rusmi kembali dengan wajah prihatin.

Aku hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan beliau. Sepertinya tidak ada yang perlu aku jawab. Hampir seluruh penghuni sekolah sudah tahu bahwa aku sering dirundung oleh geng Jennifer. Aku benar-benar terlihat menyedihkan.

"Titip seperti biasa ya, Bu," ucapku setelah menerima uang hasil penjualan kemarin dari Bu Rusmi.

"Yang sabar ya, Mbak?"

Aku mengangguk dan memberikan senyum tipis. Bertingkah seolah semua baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun mereka tidak pernah tahu bahwa setiap harinya aku selalu menangis diam-diam dan rasanya ingin menghilang saja.

"Makasih, Bu. Permisi," pamitku.

Setelah menghitung dan memasukkan uang hasil penjualan donat ke dalam saku, aku melangkah keluar kantin. Terbersit keinginanku untuk melihat apa yang terjadi tadi di kelas sepuluh. Arun yang berani memukuli seseorang di sekolah, bahkan seseorang itu adalah adik kelas yang baru sekitar tiga bulan menyandang status sebagai murid di sini.

Belum juga kakiku melangkah menuju tangga, Arun tiba-tiba muncul dari atas. Langkahnya besar-besar menuruni anak tangga. Rambutnya terlihat berantakan. Tangannya masih terkepal dengan buku-buku yang memerah. Rahangnya mengatup rapat seolah sedang menahan amarah.

Dia berhenti ketika melihatku di ujung anak tangga. Tatapannya dingin menusuk ke arahku. Tidak ada kata apapun yang meluncur dari mulutnya. Dia hanya melihatku dengan pandangan yang, entah. Aku sulit untuk mendeskripsikannya.

Sejurus kemudian, dia melanjutkan langkah melewatiku. Tiada sapa yang dia tunjukan untukku. Itu membuatku sedikit kecewa.

Hei, apa yang kamu harapkan, Tabitha? Berharap dia menyapamu dan bertanya "Apa kabar?"

Aku merutuki kebodohan pikiranku. Benar, untuk apa Arun menjadi sok kenal dan akrab denganku hanya gara-gara dia sudah membantuku kemarin?

***

"Udah sehat, Tha?" tanya Illana yang tiba-tiba saja muncul dan langsung duduk di bangku sebelahku.

Aku yang sedang mengerjakan tugas bahasa Inggris langsung menoleh kaget ke arahnya. Ini masih jam pelajaran, tapi Illana sudah keluyuran hingga ke kelasku. Sewaktu kelas sepuluh kami memang sekelas, tapi setalah naik ke kelas sebelas kami berpisah. Aku memilih masuk jurusan IPS, sedangkan Illana yang bercita-cita ingin jadi arsitek masuk ke IPA.

"Alhamdulillah, udah lebih baik sekarang," jawabku.

Illana mengangguk-angguk. "Mau es krim, Tha? Aku beli ini buat kamu." Dia menyodoriku dengan satu cup es krim coklat yang masih belum dibuka, sedangkan mulut Illana sudah penuh dengan es krim cone yang dia bawa.

Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih. "Kenapa kamu di sini, Lan?"

Aku heran. Kenapa saat jam pelajaran masih berlangsung, Illana bisa main ke kelas ini. Kelasku sekarang memang sedang jam kosong, tapi guru kami memberikan tugas yang harus dikumpulkan hari ini juga.

"Jam kosong, Tha. Biasalah. Dari pada menganggur, aku ke sini saja," jawabnya dengan cuek.

"Kok, sama?" Aku mengerutkan kening. Kubuka es krim pemberian Illana dan menyendoknya.

"Banyak kelas yang jam kosong, Tha. Dengar-dengar, sih, para guru sedang rapat dadakan."

"Rapat apa?"

Illana mengangkat bahu. "Kamu tahu hari ini Arun mukulin anak kelas sepuluh, kan?" Aku mengangguk. "Nah, katanya guru-guru sedang membahas nasib Arun sekarang."

"Maksudnya?" Aku sungguh tidak mengerti.

"Ya, kasak-kusuknya sih, Arun mau di-drop out," jawab Illana dengan cuek.

Eh? Benarkah itu? Arun akan dikeluarkan dari sekolah?

"Kenapa kamu kaget gitu, Tha?" tanya Illana melihat ekspresi kagetku.

Aku tidak menjawabnya, masih kaget dengan apa yang dikatakan Illana. Ini tidak mungkin, kan? Penyelamatku akan segera dikeluarkan dari sini?

"Kamu... Nggak dekat-dekat dengan Arun, kan, Tha?" tanya Illana lirih dan penuh selidik.

"Memang kenapa?" Aku juga heran kenapa Illana terus memperingatkan aku agar tidak mendekati makhluk bernama Arun Pawana itu.

"Tha, dengar aku baik-baik." Illana memasang gestur serius. Dia bahkan menyudahi memakan es krimnya. "Aku kenal Arun. Dia temanku saat SD. Kamu tahu? Dulu, dia selalu datang ke sekolah dengan tubuh biru-biru dan mata yang memerah. Dia anak yang emosional, bahkan pernah memukuli anak kelas dua hanya karena anak itu tidak sengaja menyenggolnya. Kamu tahu nasib anak itu? Dia sampai harus cacat seumur hidup. Bayangkan, Tha! Anak kelas lima SD bisa berbuat kriminal seperti itu!"

Illana tampak berhati-hati dan setengah berbisik saat membicarakan Arun. Seolah jika ada yang mendengarnya, dia akan dalam keadaan yang berbahaya. Nyaris sama seperti nasib anak kelas sepuluh tadi.

"Memang orang tua korban nggak melaporkan kasus itu ke polisi?" tanyaku penasaran.

"Dia selalu bisa lolos dari jerat hukum karena pengaruh ayahnya, Tha. Ayahnya itu... apa ya? Bisa dibilang seperti bosnya Yakuza kalau di Jepang."

Kali ini giliran aku yang bergidik. Seberbahaya itukah seorang Arun Pawana? Ah, aku adalah orang yang selalu percaya bahwa tindakan apa pun yang diambil seseorang, pasti ada hal yang melatarbelakangi. Mungkin, Arun melakukan hal-hal itu ada alasan yang tidak diketahui oleh orang lain. Bukan hanya sekadar melampiaskan emosi sesaat. Hatiku mengatakan hal itu.

***

Seperti ada yang menuntun langkahku hingga kemari. Di belakang sekolah, tempat di mana aku diikat oleh Jennifer dan teman-temannya beberapa hari lalu. Sebotol minuman isotonik berada dalam genggamanku. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang. Tadi, ketika tanpa sengaja aku melihat Arun yang sedang berjalan melintas lapang upacara, tiba-tiba saja aku bergerak mengikutinya hingga ke sini.

Aku merutuki diri sendiri. Uh, aku benar-benar seperti orang bodoh. Untuk apa aku mengikuti Arun Pawana hingga sampai di sini? Hanya karena beberapa hari belakangan ini aku terus berpikir mengenai cerita Illana tentangnya saat SD, aku secara tidak sadar selalu mencari bayangannya di antara ratusan siswa di sini.

Aku masih celingak-celinguk di sini. Masih berusaha mencari sosok Arun yang tidak tampak di mana pun. Aku yakin tadi dia menuju ke arah belakang sekolah ini. Sudah kepalang basah aku mengikutinya, lebih baik kulanjutkan saja.

Kemudian, sebuah suara bola yang memantul di atas lantai tertangkap telingaku. Otomatis aku menoleh ke sumber suara dan mendapati tubuh tinggi itu di sana. Arun sedang melakukan dribel dan memasang ancang-ancang untuk memasukkan bola ke dalam ring.

"Kenapa mengikutiku?" tanya Arun tiba-tiba setelah berhasil melakukan three point.

Aku tercekat. Tidak tahu harus berkata apa. Apa aku harus jujur bahwa aku mengikutinya karena penasaran? Ludahku seperti tersangkut dalam tenggorokan. Sulit untuk kutelan. Tanganku terasa dingin karena genggaman pada botol minuman isotonik yang diberi oleh Illana tadi. Otakku masih berputar untuk memberi alasan yang cukup logis.

"Ehm, itu. Aku mau kasih ini sebagai ucapan terima kasihku untuk tempo hari." Aku mendekatinya, lalu mengulurkan minuman isotonik itu pada Arun.

Ide yang bagus, Tha! Untung segel botol ini masih utuh, belum kubuka. Paling tidak, itu bisa menyelamatkanmu dari rasa malu karena ketahuan membuntutinya.

Arun memicing. Dia hanya menatap sekilas ke arahku, kemudian membuang muka. Dia kembali fokus pada dribelnya tanpa berkata apapun.

Aku sedang ditolak sekarang. Dia bahkan sepertinya tidak tertarik sama sekali dengan tawaran minuman isotonik ini. Padahal cuaca sedang terik, tapi dia tidak tergiur dengan segarnya minuman ini.

Baiklah. Aku diacuhkan. Itu tandanya aku harus pergi sekarang. Aku berbalik, tapi kemudian Arun bersuara.

"Bisa bermain basket?" tanya dia yang membuatku mengerutkan dahi.

"Nggak," jawabku singkat. Aku memang tidak bisa bermain basket, bahkan aku lemah dalam bidang olahraga apapun. Mendapatkan nilai tujuh di penjaskes saja aku sudah bersyukur.

"Kalau bela diri? Pencak silat? Karate? Taekwondo? Thai boxing?"

Aku menggeleng. Semua jenis olahraga saja aku lemah, apalagi bela diri. Kata MbahPutri, anak perempuan itu harus anggun, tidak boleh pecicilan ikut bela diri.

Arun menghentikan dribelnya dan menatapku. Ada raut wajah keheranan yang dia perlihatkan. Matanya seperti scanner yang memindai tubuhku dari atas hingga ke bawah.

"Pantas kamu begitu gampang untuk dipermainkan," kata Arun.

"A—apa hubungannya antara bela diri dengan aku yang mudah dipermainkan?" Aku sungguh tidak paham apa maksud Arun.

"Supaya kamu bisa lebih berani melawan mereka." Arun membuang bola basketnya ke sembarang arah. Tatapannya menajam seolah mampu menusuk ke dalam mataku. Aku berjingkat mundur ketika tubuhnya perlahan mendekatiku.

Aku harus bagaimana? Alarm bahayaku tiba-tiba berdering. Apa yang sedang dilakukan Arun dengan terus mendekat ke arahku? Senyumnya menyeringai, membuatku bergidik. Aku terus mundur berusaha menghindari langkahnya yang semakin mendekat.

Namun, tiba-tiba saja tubuhku terasa limbung. Sepersekian detik kemudian aku merasakan pantatku berdebum ke atas tanah. Rasanya sedikit nyeri. Sepertinya aku terantuk batu tanpa sengaja hingga membuatku terjatuh.

Jangan dibayangkan Arun akan menolongku sebelum pantatku menyentuh tanah seperti dalam film-film romantis yang pernah kalian tonton. Tidak sama sekali. Dia malah tersenyum miring melihatku kesakitan.

"Lihat. Kamu bahkan nggak berani mendorongku atau melakukan perlawanan ketika kamu merasa terancam," ujarnya sambil berjongkok tepat di depanku. "Bahkan jika sekarang aku menciummu pun, aku yakin kamu nggak akan berani menamparku, kan?"

A—apa maksudnya dengan mencium? Jangan-jangan? Oh, tidak! Kepala Arun bahkan sudah didekatkan kepadaku. Apa yang ingin dia lakukan sebenarnya? Dia tidak serius ingin menciumku kan? Tidak! Bibirku masih perawan.

Aku begitu ketakutan hingga tanpa sadar aku menutup kedua mataku. Aku bisa merasakan embusan napas Arun yang kian mendekat. Satu detik. Dua detik. Bahkan hingga detik ke lima tidak ada yang terjadi. Aku mencoba membuka sedikit mataku dan mendapati Arun sedang meneguk minuman isotonik yang tadi kubawa.

Aku mengembuskan napas lega. Untunglah, sepertinya dia hanya bercanda. Arun menghabiskan setengah botol, lalu menutupnya kembali.

"Aku bukan cowok brengsek yang mencari kesempatan dalam kesempitan." Dia mengangkat botol minuman isotonik di genggamannya. "Tapi, cuma ini yang kamu beri sebagai ucapan terima kasih untukku yang sudah menyelamatkan hidupmu?"

Eh? Aku mengernyit.

"Jika aku meminta hal lain, boleh?"

"A—apa yang kamu mau?" Aku sedikit ketakutan jika Arun meminta hal-hal aneh sebagai imbalan. Dia bahkan sudah kembali menyeringai sekarang.

"Pernah bolos sekolah?"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top