Lost Control

Aku memarkirkan mobil di garasi rumah. Belari memasuki rumah seraya berteriak memanggil nama Yohan.

"Yohan!"

Tak ada suara. Aku memeriksa seluruh ruangan di lantai satu, tidak ada.

Aku bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, memeriksa kamar.

"Ya Tuhan, Yohan kamu dimana?" ucapku panik.

Aku mengecek kamar mandi, showernya menyala dan aku melihat Yohan meringkuk di lantai kamar mandi, basah kuyup.

Aku melepas blazerku, lalu membalutkannya pada tubuh Yohan yang mengigil.

"Mana obatmu?" tanyaku.

Ia menggeleng.

"Dimana?!"

Yohan menunjuk ke arah dimana botol obatnya jatuh di lantai, pilnya berserakan di lantai.

"Obatnya..." Yohan berbicara dengan susah payah, "...tidak mempan."

Aku memeluknya, mengusap kepalanya agar ia tenang. Aku tak tahu apa yang membuatnya kumat kali ini.

Air hangat yang masih mengucur membasahi kami. Air hangat salah satu cara untuk menenangkan Yohan.

"Tidak apa, aku di sini." ucapku, menepuk-nepuk punggungnya.

Yohan meremas lengan bajuku kuat, seolah bisa robek kapan saja. Aku bisa dengar ia menggertakkan giginya, memaksa dirinya untuk terkendali.

"Callie," Yohan mencoba berbicara.

"Ya, aku di sini,"

"Jangan..." ucapnya terbata-bata, "...tinggalkan aku."

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

Yohan beralih memelukku. Erat sekali. Rasanya leherku tercekik, aku mendengarnya menangis, sengaja menutupi wajahnya di balik bahuku.

"Maaf, kamu harus melihatku seperti ini,"

Aku mengusap punggungnya.

"Bicara apa kamu?" kataku. "Katakan padaku apa yang membuatmu cemas sampai kumat seperti ini?"

Yohan diam sejenak, mengatur napasnya yang masih sesegukan.

"Aku takut setiap kali kamu pergi meninggalkanku." ucapnya.

"Yohan, aku tidak akan—"

"Aku takut kamu tidak kembali, aku takut kamu muak padaku, aku takut kamu pergi, aku takut seseorang merebutmu dariku, aku takut—"

Yohan benar-benar mencekikku. Aku terpaksa mendorongnya dengan paksa sehingga ia terduduk di hadapanku, ia terlihat kaget saat aku mendorongnya.

"Yohan apa kamu masih ragu?" ucapku.

Bajuku ikut basah kuyup, rambutku basah meneteskan air karena diguyur air.

"Aku rela meninggalkan segalanya demi kamu. Aku rela berhenti bekerja demi kamu jika kamu mau! Aku akan memilihmu dibanding siapapun, Yohan."

Yohan diam, menatapku dengan tatapan bersalah.

"Callie, maaf..."

Aku meraih tangannya, lalu memeluknya.

"Sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkanmu. Kau mengerti?"

Yohan balas merangkulkan tangannya di punggungku seraya menggangguk.

***

Setelah mengeringkan rambut Yohan, ia jatuh tertidur karena efek obatnya. Vivi menemani Yohan yang terlelap di tempat tidur tak lupa aku menyelimutinya.

Aku mengecek hapeku, 11 panggilan tak terjawab dari Derrick. Aku menghela nafas tak berniat menelfonnya.

Sekarang aku memikirkan bagaimana aku bisa menyelesaikan pekerjaanku hari ini yang pasti sudah menumpuk.

TING TONG.

Bel rumah berbunyi. Aku melirik monitor dan melihat Derrick menatap ke arah monitor dengan tatapan khawatir.

Bodohnya aku, seharusnya aku langsung menelfonnya saja tadi.

Mau tak mau aku harus membukakan pintu. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya, Derrick langsung menyerbuku dengan pertanyaan.

"Aku baik-baik saja." ucapku segera menghentikan serbuannya.

"Callie, setidaknya kau angkat telfonku," ucap Derrick.

"Aku tak sempat mengecek hape tadi." jawabku.

Derrick menghela nafas, ia jelas terlihat sangat mengkhawatirkanku.

"Kau sudah makan malam? Mau keluar—"

"Tidak, makasih." tolakku segera. "Bisakah kau pulang sekarang? Aku ingin istirahat."

Derrick seolah ingin menyerbuku dengan pertanyaan lagi namun ia mengurungkannya.

"Baiklah," ucapnya. "Maaf mengganggu waktumu."

Setelah itu ia pun pamit dan pergi.

Aku menutup pintu setelah menatap mobil Derrick berlalu pergi. Jujur saja, aku merasa terganggu dengan sikap Derrick. Aku sudah memiliki suami, tapi ia masih memperlakukanku seperti aku belum menikah.

Aku kesal padanya. Hanya karena dia sahabat baikku, aku masih bisa memaklumi sikapnya. Mungkin Derrick butuh waktu untuk menyadari posisinya.

Aku menghela napas, bersandar di pintu. Entah kenapa dibalik rasa kesalku pada Derrick, ada sedikit rasa bersalah karena memperlakukan Derrick dingin. Aku tahu niatnya baik tapi...

Wajah Yohan yang terduduk di kamar mandi tiba-tiba terlintas di benakku.

Aneh, ya.

Aku lebih memilih Yohan dengan segala kekurangannya dibanding Derrick dengan segala kesempurnaannya.

Aku pernah mendengar rumor bahwa Derrick diam-diam menyukaiku sewaktu kami masih mahasiswa. Tapi aku tak pernah mendengar hal itu langsung dari mulut Derrick hingga kini, jadi bagiku itu hanya rumor belaka.

Namun tetap saja terkadang aku masih memikirkan kemungkinan itu.

Derrick pasti juga memikirkan resiko jika ia menyatakan perasaannya. Aku juga tidak ingin aku menjadi canggung dengannya jika aku menolak perasaannya.

Apakah aku suka Derrick?

Entahlah. Selama ini Derrick selalu membantuku, tapi, aku tak pernah merasakan perasaan yang aku rasakan saat bersama Yohan.

Aku melihat Vivi menuruni tangga, berdiri di anak tangga lalu mengeong pelan.

Ada dua kemungkinan, Vivi ingin makan atau Yohan sudah terbangun.

Aku memilih mengecek kemungkinan kedua. Aku segera menaiki tangga dan mengecek Yohan. Ia masih tidur, pulas sekali.

Aku duduk di sisi tempat tidur, menatap Yohan yang terlelap. Setelah tadi aku melihatnya menderita menahan dirinya, kali ini ia terlihat begitu tenang dan damai.

Aku selalu menginginkan hal ini. Melihat Yohan tanpa harus menderita menahan rasa sakit. Aku ingin... Yohan memiliki seseorang yang akan selalu berada di sisinya.

Ya, keinginanku adalah memenuhi keinginan orang lain.

Aku tidak keberatan.

Waktu berlalu.

Aku membuka mata. Cahaya matahari terik menembus tirai jendela kamar membangunkanku.

Aku melirik ke samping. Tidak ada Yohan di sana.

Kemana dia?

Segera aku bangkit dari tidurku. Melirik ke setiap sudut ruangan mencari sosoknya.

"Yohan?" panggilku dengan suara serak.

Aku berjalan menuju kamar mandi, kosong. Aku bergegas menuruni tangga dan mengecek dapur dan ruang tv.

Yohan berdiri di samping meja makan, meletakkan dua piring untuk sarapan.

"Tidurmu nyenyak?" sapa Yohan tersenyum lebar.

Aku mengamati meja makan, sarapan sudah terhidang sekalipun sangat sederhana.

"Ini... kamu yang buat?" tanyaku.

Yohan tidak pandai memasak, bahkan untuk masakan-masakan mudah pun ia masih kesulitan. Aku sangat tahu itu.

"Tentu saja," jawabnya. "Kenapa? Kamu takut aku meracunimu?"

"Pfft!"

Aku terkekeh. Yohan menarik kursi, mempersilakanku duduk.

"Kalau itu kamu, aku rela keracunan." ucapku, menggodanya.

"Omong kosong, Cal," balas Yohan, wajahnya memerah.

Ia duduk di hadapanku dan kami mulai menyantap sarapan kami.

"Callie, hari ini kamu harus kerja ekstra, ya," ucap Yohan.

"Setiap hari aku sudah melakukan itu."

"Semangat!"

"Makasih," aku tersenyum.

Yohan tersenyum. Ia lebih banyak mengamatiku dari pada menyuap makanannya sendiri.

Sepertinya moodnya sedang bagus hari ini.

"Callie," panggil Yohan.

"Hm?"

"Aku sangat bahagia."

Mendengar ucapannya, aku mengangkat kepalaku. Menatap matanya langsung.

Yohan tersenyum. Tulus.

"Yohan," kataku, "aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia."

"Aku tahu," balasnya. "Aku tahu, karena kau selalu melakukannya, Cal."

[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top