5 - support

"(Name)-chan, lihat! Aku lulus!!"

"S-selamat, Ya-chan."

"Hehe, sankyu! Tak sia-sia aku belajar semalaman. (Name)-chan dapat berapa?"

"... aku remidi."

.

.

.

A fic abou H. Lev x Reader (aamiin)

Haikyuu is Haruichi Furudate's only

Warning for typo(s) and OOC

Enjoy!

.

.

.


Hari Kamis.

Seperti biasa, Morisuke, Kuroo, dan Kai menghabiskan waktu istirahat di kantin, ditemani menu makan siang masing-masing. Beruntung ketiganya datang lumayan awal, mereka jadi tak perlu pusing mencari tempat yang kosong.

"Sialan--ugh--sialan!"

Kuroo memperhatikan Morisuke yang sedari tadi menggerutu pelan. Matanya menyipit terganggu kala melihat kawan liberonya menggigiti ujung sedotan jus.

Padahal matahari sedang bersinar terik lantaran sedang pertengahan musim panas, kenapa Morisuke malah seperti habis terkena hujan badai?

"Kau kenapa?" Kai yang bertanya.

"Siapa? Aku? Aku baik-baik saja." Morisuke membalas ketus.

"Apanya yang baik-baik saja? Berhenti menggigiti sedotanmu. Banyak bakteri dari bahan kimia di sedotan plastik." Kuroo memandang risih dengan kedua tangan disilangkan.

"Terserah." walau begitu, Morisuke tetap menjauhkan ujung sedotan dari mulutnya.

"Tapi sungguh. Kau kenapa?" Kai mengulangi pertanyaannya.

Morisuke menggerutu sejenak. "Lev."

Satu nama itu seakan menjelaskan segalanya. Kuroo dan Kai sudah mulai tak asing dengan suasana hati Morisuke yang buruk akibat si adik kelas. Apalagi ketika Lev berusaha mendekati adik si libero. Morisuke yang dasarnya sudah galak jadi tambah meledak-ledak.

"Biarkan saja kenapa?" Kuroo mengernyit tak paham, dibalas decihan keras Morisuke. "Tak sudi punya adik ipar dia."

"Kadang aku heran. Kenapa kau protektif sekali pada (Name)-chan?" Kai bertanya lalu menyumpit potongan chicken katsu miliknya.

"Aku cuma tak mau (Name) terluka lagi." Morisuke menghela napas. "ini gara-gara si brengsek satu itu," lanjutnya geram.

Kuroo mengerang ketika melihat kawannya kembali menggigit ujung sedotan. "Hentikan." tangannya spontan merebut kotak jus Morisuke.

"Oh, (Name)-chan pernah punya pacar?" tanya Kai penasaran.

"Pernah. Saat dia SMP, di klub basketnya."

"Oya? Apa jangan-jangan (Name) berhenti main basket karena patah hati?" Kuroo menaikkan sebelah alis.

Morisuke menggeleng. "Mana mungkin? Itu sih karena dianya malas saja. Buktinya dia masih sangat menggilai si pirang NBA itu."

"Ah, benar sih." Kuroo menanggapi singkat.

"Kuroo-san!!"

Ketiganya menoleh kala mendengar suara yang mereka kenal betul. Sumber badai Morisuke terlihat berjalan mendekat.

"Tumben?" Kai heran.

"Pasti ada maunya." Kuroo mengangkat bahu.

"Cih." Morisuke membuang muka.

"Apa maumu?" Kuroo bertanya to the point.

"Hehe, tolong ajari aku Biologi dong, Kuroo-san! Ujianku remidi." Lev memamerkan deret gigi putihnya. Disodorkannya kertas ulangan dengan angka berwarna merah pada Kuroo.

"Wah, kau bodoh." mata Kuroo meneliti jawaban Lev. Merasa iritasi melihat jawaban asal-asalan yang Lev tumpahkan pada kertas ulangannya.

"Jahat! Aku sudah berusaha padahal." Lev mengerucutkan bibir.

Mata Kuroo terpejam, memikirkan betapa susahnya jika harus mengajari Lev. "Aku tak paham bagian mana yang kau sebut usaha," ucap Kuroo sambil membolak-balikan kertas ujian Lev.

"Makanya, ajari aku Kuroo-san! Kau kan pintar." Lev mencoba merayu si kakak kelas.

"Hah? Apa untungnya untukku?" Kuroo meletakkan kertas ulangan Lev, lalu mengalihkan atensi kembali pada makan siangnya.

"Berbagi ilmu itu hal yang mulia, Kuroo-san! Senpai yang baik harus mau membantu kouhai-nya dong!"

"Aku tahu aku baik. Mau kapan?"

Morisuke mendelik pada Kuroo tak percaya. Kenapa orang-orang sangat mudah termakan ucapan si titan Rusia?

"Waah! Asazu, Kuroo-san! Pulang nanti di perpustakaan apa kau bisa?" tanya Lev.

"Hmm, boleh. Aku mungkin juga sekalian belajar. Kalian berdua ikut?" Kuroo melirik Kai dan Morisuke.

"Skip." Morisuke berujar spontan. Mana bisa dirinya konsentrasi belajar kalau ada Lev?

Kai tertawa pelan melihat Morisuke yang masih menghindari bertatap muka dengan Lev. "Aku ikut." ujarnya pada Kuroo.

"Wah, aku akan diajari dua senpai! Kalau gitu sampai nanti Kuroo-san, Kai-san, Kak Mori!" Lev langsung melesat pergi setelah berucap agak jahil di akhir kalimat.

Morisuke sontak menggebrak meja lalu berdiri. "Jangan panggil nama depanku, sialan!"

Kai terkekeh pelan, sedangkan Kuroo sudah tertawa terbahak sembari memegang perut.

"Kak Mori?" goda Kai.

"Kau jangan ikut-ikutan." Morisuke kembali duduk, lalu melanjutkan makan siang.

"Tak usah malu, kak Mori." Kuroo langsung dihadiahi tendangan khas Morisuke.

________


"(Name)-chan, kau tak mau makan?" tanya Yase menghampiri kawannya.

"Sebentar, Ya-chan. Aku benar-benar harus belajar." (Name) terlihat sibuk berkutat dengan buku cetak di tempat duduknya.

"Duh, semalam kau pasti menonton live basket kan? Makanya jadi tak belajar." Yase mencibir.

(Name) meringis. "Habis ada Ryouta-kun, lho! Aku harus nonton!" balas (Name).

"Kan bisa di tonton lain kali." tangan Yase menyilang, pandangannya nampak menghakimi.

"Ugh, iya iya maaf. Aku salah. Ah, tapi Ya-chan. Semalam itu ya, Ryouta-kun berhasil mencetak--"

"Aku tak akan paham kau bicara apa. Aku lapar, jadi aku akan beli roti dan jus saja." Yase berbalik meninggalkan (Name).

"Mau titip sesuatu?" tanyanya menoleh pada (Name).

(Name) mengangguk cepat. "Jus."

Yase mengacungkan jempol lalu beranjak keluar kelas. Terdapat mesin penjual minuman di dekat lorong kelas satu sebelum ke arah kantin. Yase berpikir untuk membeli titipan (Name) terlebih dahulu.

Setelah memasukkan uang, tombol jus kotak ia tekan. Dua kali, untuknya dan untuk (Name). Yase menunduk untuk mengambil jusnya lalu berbalik. Tubuhnya menabrak tubuh tegap seseorang.

"Maaf!"

"Ah, maaf"

Ucap keduanya bersamaan, kemudian saling menatap menyadari ternyata mereka mengenali satu sama lain.

"Ah, Haiba-san," sapa Yase.

"Halo temannya (Name)-chan! Emm, Izuna 'kan?"

Yase hanya tersenyum sembari mengangguk. Ia menyingkir mempersilahkan Lev memakai mesin minuman di belakangnya.

"Hari ini tak sama (Name)-chan?" tanya Lev sembari memilih minuman.

"Dia sedang sibuk belajar," balas Yase.

"Wah, kalau begitu tolong sampaikan salamku untuknya." Lev menoleh memarkan cengiran lebar.

"Tentu. Kalau begitu aku duluan Haiba-san." Yase lalu berlalu menuju kantin, membeli roti.

Saat sudah kembali ke kelas, langsung saja ia duduk di meja depan (Name). Jus pesanan ia letakkan di samping buku cetak gadis itu.

"Makasih, Ya-chan!" (Name) berujar ceria. "Sebentar, ini kuganti dulu uangmu-"

Yase menahan tangan (Name) yang hendak mengambil dompet di dalam tasnya.

"Daripada itu (Name)-chan, menurutmu Haiba-san bagaimana?"

________


Kuroo tengah mengabari Kenma untuk pulang duluan lantaran ia harus menemani Lev belajar di perpustakaan sehabis ini.

Di luar dugaan teman dengan rambut mirip puding itu malah berkata akan ikut menunggu. Kuroo hanya mengangkat bahu kemudian mulai memberesi barangnya, bersiap menuju perpustakaan.

Ia kembali melirik ponselnya saat terdengar bunyi notifikasi. Kali ini ia benar-benar heran.

"(Name)-chan?"

Pesan dari adik kelas ia buka. Senyum jahil terpampang melihat isi pesan itu.

"Maaf, Yakkun. Aku sudah bilang akan membantu Lev."

________

"Loh? Kok ada dia?" (Name) terheran melihat Lev duduk di hadapan Kuroo.

"(Name)-chan!" seru Lev lantang, mengundang lirikan sinis beberapa orang yang kala itu berada di perpustakaan. Lev spontan meminta maaf pelan.

"Dia juga remidi sama sepertimu. Kebetulan sekali, ya?" Kuroo menopang dagu.

"Kuroo-san! Jangan bilang-bilang," gerutu (Name) sembari berjalan mendekat. Ia duduk di sebelah Lev, berhadapan dengan Kuroo di seberang meja.

"Tak belajar lagi, (Name)-chan?" goda Kai.

(Name) menampilkan cengiran. "Aku menonton sampai larut, senpai. Kenapa senpai juga disini?"

"Cuma ikut belajar. Kenma juga ada, kok. Tadi dia pergi entah ke rak mana untuk bermain game," balas Kai.

"Ngomong-ngomong kenapa tadi kau bilang untuk tak memberi tahu Yakkun kalau belajar denganku?" tanya Kuroo heran.

"Tadinya aku bilang ke Kak Mori akan belajar bersama Ya-chan, tapi ternyata ia ada acara keluarga mendadak. Kalau Kak Mori tahu aku belajar bersama Kuroo-san dia pasti akan datang lalu mengacaukan belajarku." (Name) menggerutu sebal mengingat sikap protektif kakaknya.

"Hoo, ya sudah. Jadi, mana yang tak kau mengerti?" tanya Kuroo. (Name) pun mengeluarkan buku cetaknya. Tangannya membuka halaman yang sebenarnya sudah ia baca berulang-ulang saat istirahat tadi, namun belum juga terserap oleh otaknya.

"Aku rasa biologi tak suka denganku," ucap (Name) putus asa.

"Jangan seperti kakakmu. Ah, sintesis protein memang materi yang agak panjang dan rumit," balas Kuroo, "Lev juga tak bisa yang ini," lanjutnya.

"Berarti bukan akunya yang bodoh, materinya memang susah!" ujar Lev.

"Anggap saja begitu." Kuroo menggelengkan kepala lelah lalu mulai menjelaskan materi pada dua murid dadakannya.

Kuroo bahkan menunjukkan buku catatannya. (Name) mendelik melihat tulisan tangan sang kakak kelas yang tergolong rapi untuk ukuran anak lelaki. "Salin saja, lalu baca-baca lagi kalau masih ada yang kurang jelas. Aku berusaha membuatnya gampang dimengerti," ucap si kakak kelas.

(Name) spontan memotret catatan milik Kuroo. Disalin di rumah lebih enak. Sebaliknya, Lev langsung menyalin isi catatan Kuroo.

"Kuroo-san harusnya masuk mading," ujar (Name) menatap kakak kelasnya.

"Oya? Agar kita bisa lebih sering bertemu?" goda Kuroo sembari melirik Lev sedikit. Ia lumayan menikmati ekspresi tak suka pada wajah adik kelasnya.

"Ogah." balasan (Name) membuat Lev menghela napas lega.

"Kau kejam, (Name)-chan. Kalau sudah lunayan mengerti, coba kerjakan ulang soal ulanganmu tadi. Kau juga, Lev."

(Name) pun kembali melihat kertas ulangannya. Agak meringis saat matanya menangkap jawaban asal yang ia tulis di sana. (Name) pun kembali membaca soal yang diberikan gurunya. Sesekali matanya melirik pada layar ponsel yang terdapat potret catatan Kuroo.

"Merepotkan. Materi buku ini benar-benar tak lengkap. Kai, ayo cari buku lain." Kuroo tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya diikuti Kai.

"Jangan terlalu macam-macam." Kai menatap Lev awas lalu mengekori Kuroo.

Dalam hati Lev sangat berterima kasih kedua senpainya amat peka. "Siap! Azasu, senpai!"

(Name) menatap Kai bingung. Tapi kemudian ia hanya mengangkat bahu lalu kembali berkutat dengan soal di hadapannya, sesekali memutar pulpen di jarinya. Tak sengaja pulpen itu terlpas lalu mendarat di dekat kaki Lev.

(Name) menggerutu lalu merunduk meraih pulpen yang terjatuh.

"Aduh!"

"Ouch!"

(Name) mengusap dahinya yang terbentur kepala Lev  dengan sebal. "Maaf (Name)-chan," Lev menampilkan cengiran lalu mengambil pulpen milik (Name).

"Terimakasi--Ah, Lev!!" (Name) berseru kesal saat Lev malah meninggikan pulpennya. "Cepat kembalikan!"

Lev terkekeh melihat wajah merajuk (Name). Usaha gadis itu untuk terlihat mengancam malah tampak lucu di matanya.

"Coba ambil dong, (Name)-chan!" Lev sedikit menurunkan pulpen itu, lalu kembali menaikkan saat tangan (Name) berusaha menggapainya.

"Sialan satu ini." tanpa di duga (Name) berdiri di atas bangku lalu meraih pulpen di tangan Lev. Lev yang kaget spontan menarik pulpen di tangannya. Merasakan tangannya tertarik ke depan, kaki (Name) yang agak berjinjit ikut tergelincir.

"Hah-HEI!" (Name) berseru panik. Tanganya sempat memegang pundak Lev, tapi ia malah jatuh menabrak dada bidang si lelaki.

"Ngh!" Lev mengerang kecil merasakan beban si bagian depannya. "(N-Name)-chan, kau tak apa?!"

"Lev sialan!" (Name) yang berusaha bangun malah kembali menyusruk ke arah lelaki itu. Rona mulai menyebar di wajahnya. Ia harus segera menyingkir sebelum kakak kelasnya datang dan--

"Kalian sedang apa?"

Lev mendapati Kenma menatapnya risih.

'Sial,' umpat Lev dalam hati.

"Anu, Kenma-san! Ini-!"

"Aku akan panggil Kuroo," ucapnya lalu berlalu.

'Mampus saja!'







Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top