Prolog
Samar samar, Minji menilik sekelebatan memorinya dua hari yang lalu. Dia ingat saat itu sedang patah hati karena putus cinta, kemudian memutuskan untuk mabuk semalaman. Sepasang netranya juga mengidentifikasi sosok di depannya. Benar-benar tidak asing—seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, dia tidak bisa menyatukan puzzle memorinya secepat itu.
"Siapa tadi katamu?" Minji meyakinkan sekali lagi, sedikit mengernyitkan dahi menatap pria di depannya.
"Calon suamimu. Apa kau kesulitan memahami kata-kataku barusan?" tanyanya dengan wajah datar tapi mengamati dengan baik. Tenggorokan Minji mendadak kering. Dengan satu gerakan cepat, dia sudah menghabiskan separuh gelas ice americano untuk melepas dahaga.
"Tidak. Maksudku, aku tentu tahu apa artinya calon suami. Yang aku tidak mengerti adalah, kenapa aku bisa menjadi calon istrimu? Aku bahkan sama sekali tak mengenalmu." Minji tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, karena hal seperti ini biasanya terjadi di dalam sebuah drama.
Maka, pria di depan Minji melonggarkan simpulan dasinya. Merasa terganggu, mungkin terlalu ketat atau sebenarnya itu hanya pengalihan dari rasa frustasi yang sedang dirasakannya.
"Malam minggu, bar sekitar Gangnam. Kau mabuk berat. Aku tidak yakin kalau ada pemabuk segila dirimu, tapi, ya, pada akhirnya aku tahu dan mengerti."
Minji mengernyit, mengerti apa maksudnya?
"Wajah mesummu itu, tidak salah lagi. Kau pasti mempermainkanku ketika mabuk, benar begitu, kan?" tuduh Minji dengan wajah murka.
Taehyung terkekeh pelan, terlihat meremehkan. "Kalau aku mau, aku bisa melakukannya dengan wanita yang jauh lebih seksi darimu. Memangnya kau memiliki sesuatu hal yang mencolok?" Tatapannya mencemooh, dan tanpa sadar dia mengamati dada Minji yang tertutup oleh kedua tangannya.
Minji berdecih, tapi rasa penasaran lamat-lamat meredam kemarahannya.
"Lalu? Aku masih tidak mengerti kenapa kau melamarku sekarang. I mean, yah, aku memang ingin menikah—tadinya. Pria yang kuinginkan bukan kau, maaf sekali. Lagi pula, kita tidak saling kenal. Menikah itu butuh mengenal satu sama lain, kan?"
Taehyung menghela napas, sedikit mengikis jarak agar suaranya semakin terdengar jelas di tengah hiruk pikuk kafe.
"Baiklah, sepertinya ingatanmu benar-benar payah. Kau bahkan melupakan aksi brutal yang menciumku dan berjanji ingin menikah. Sedikit tambahan, kau memberi tanda di leherku," bisik Taehyung sambil sedikit menurunkan kerah kemejanya. Dia benar, ada satu bulatan kemerahan di sana. Minji sontak menutup mulutnya, seiring dengan tatapan membola yang sudah diduga oleh pria bermarga Kim itu.
"A—apa?"
"Ya, ini perbuatanmu. Kalau kau tidak percaya, aku punya rekaman cctv bar itu. Kau mau melihatnya?"
Sebelum Taehyung menunjukkan rekaman itu, memorinya semakin tergali dan menanyangkan kejadian malam itu—seperti sebuah film roman picisan. Minji menatap Taehyung yang menanti jawaban, sebelum akhirnya berakhir tak sadarkan diri.
~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top