5.
Setelah banyak berpikir, Minji akhirnya menyadari ide Kim Taehyung bukan sesuatu hal yang buruk. Mungkin kehidupannya harus jelas dengan sebuah kontrak atau hal-hal tertulis yang serupa. Kalau tidak seperti itu, rasanya dia seperti seorang penyusup yang ketagihan mencuri sesuatu di rumah besar.
"Untuk apa kau mengendap-endap begitu?" Suara Taehyung membuat Minji hampir saja terjengkang. Dia berteriak kesal kepada Taehyung yang menikmati cokelat panas dengan tenang.
"Tidak, itu-maksudku, sepertinya kita harus membuat peraturan di rumah ini." Minji meringis, menunggu Taehyung bereaksi. Namun karena pria itu hanya menatapnya sambil menyesap cokelat panas, Minji merasa dia telah melakukan hal bodoh.
"Kau berpikir kontrak itu ada bagusnya?"
"Tidak, bukan begitu. Maksudku, kau harus memikirkan hal-hal seperti membersihkan rumah, mencuci baju dan memasak. Aku tidak mau melakukan semuanya sendiri."
Taehyung menyeringai, melangkah ke sofa ruang tengah dan Minji membuntutinya. Sepertinya dia benar-benar ingin semua hal itu beres dalam waktu yang singkat.
"Well, aku bisa saja menyewa asisten rumah tangga. Uangku ada banyak, dan itu mudah dilakukan." Taehyung berkata seolah hal itu hanyalah seperti membeli soda di mesin penjual minuman. Minji berdecih, tanpa diberitahu pun sebenarnya dia memahami hal itu. Hanya saja mendengar langsung dari mulut Taehyung membuatnya ingin melepaskan sebuah pukulan ke tulang pipi pria itu.
"Ya ya, terserahmu saja. Jadi, kita harus membuat peraturan. Aku tidak mau melakukan tugas rumah sendirian."
Kedua alis Taehyung bergelombang karena kernyitan di dahinya.
"Kau kan tidak bekerja, masa kau ingin bermalas-malasan terus sepanjang hari? Yah, memang sifat itu tampak cocok denganmu, but now you're my wife. Aku tidak bisa membiarkan kau menjadi wanita pemalas."
Mendengar Taehyung mengatakan bahwa dirinya adalah seorang istri, membuat gejolak aneh menyerang perutnya. Sensasi itu terus terusan hadir diwaktu-waktu yang tidak Minji duga. Seperti saat ini, seharusnya dia bisa langsung menyanggah, tapi lagi-lagi emosinya meredam tanpa dia sadari. Tampaknya memang Taehyung itu mempunyai garis keturunan penyihir, sehingga Minji bisa diam begitu saja. Yah, itu terdengar sangat bodoh dan mengada-ada.
"Malas katamu? Kau bahkan tidak tahu aku bekerja di sebuah gudang di pusat kota. Kau pikir hidupku hanya mabuk saja, begitu?"
Taehyung mengedikkan bahu ketika menyesap cokelat panasnya. "Aku memang berpikir begitu."
Sial!
Minji menghabiskan malam dengan menceritakan kehidupannya, yang mungkin bagi Taehyung tidak penting sama sekali. Namun, Minji tetap melanjutkan. Citra dirinya sebagai wanita baik-baik tampaknya sudah hancur, terutama di mata pria yang menyandang status sebagai suaminya. Dia juga tidak mau ambil pusing, tapi mendapat tatapan waspada setiap kali melintas di depan Taehyung membuatnya benar-benar ingin memperkosa pria itu.
"Memangnya tidak ada laki-laki yang bisa menggantikan dirimu?" itulah satu-satunya komentar yang terlontar begitu Minji menjelaskan tentang pekerjaannya. Kedua netranya memutar malas dengan decakan sebal.
"Kau pikir mengangkat barang dan menghitungnya agar sesuai dengan stok pekerjaan mudah? Apalagi ada para berandalan yang suka memalak kasir. Benar-benar, kalau aku mengingat hal itu, rasanya aku ingin mematahkan tulang lehernya saat itu juga," ujar Minji dengan sebuah pukulan yang melayang tiba-tiba di tangan sofa. Taehyung cukup terkejut, sebenarnya. Namun dia berusaha terlihat dingin dan gentle dengan pura-pura tersedak sehingga dia batuk hebat.
"Tidak, aku tidak bilang itu mudah. Aku hanya berpikir itu bukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang wanita," jelas Taehyung ketika melihat tatapan nyalang Minji yang terpusat padanya.
"Memang bukan. Tapi, aku melakukannya karena Jung sialan itu. Sudahlah, aku sudah memberitahumu. Kau sudah tahu bahwa aku bekerja, dan tidak mungkin meninggalkan kasir pengecut bernama Seokho itu sampai setidaknya akhir tahun."
Ini berat, tentu saja. Sejujurnya Taehyung lebih suka Minji tinggal di rumah. Dia tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkan-seperti dia berusaha mencium rekan kerjanya saat tak sengaja mabuk. Itu akan memalukan image-nya sebagai pemilik brand fashion ternama, juga sebagai suaminya.
Taehyung mulai mengambil sebuah pensil dan selembar kertas, goresan tangannya begitu lihai sampai-sampai Minji rasanya ingin menendang bokong Taehyung sampai biru. Atau kalau bisa, sampai pria itu tidak bisa berjalan lagi. Apalagi ketika tulisan besar di sana tampak mengejek dirinya-peraturan untuk wanita pemabuk.
"Pertama-tama, aku akan senang sekali kalau kita berdua berkomitmen untuk saling menjaga nama baik satu sama lain. Di luar sana orang mengenalmu sebagai Minji si anggun, bukan seorang porter yang merangkap sebagai pengecek stok gudang sebuah mini market. Kuharap kau mengerti hal itu terlebih dahulu." Taehyung menatapnya sambil meletakkan pensil begitu saja. Tidak ada senyum, juga kekehan kecil begitu dia menyepelekan sesuatu. Beginilah mode Taehyung ketika sedang serius-sangat dingin dan membuat perutmu sedikit merasa mulas.
"Ya, aku tahu hal itu, Kim Taehyung. Aku juga tidak mau malu untuk kedua kalinya. Jadi, perlukah aku melakukan penyamaran agar tidak ada berita aneh?"
Taehyung tanpak berpikir, sambil menyesap cokelat panasnya. Beberapa detik kemudian, kepalanya mengangguk menyetujui hal tersebut.
"Perlu dicoba. Hanya sampai akhir tahun, kan?"
Minji mengernyit. "Kurasa aku menceritakan soal Seokho, bukan diriku. Aku jelas masih mau bekerja di sana."
Taehyung menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Hanya sampai akhir tahun, karena Seokho itu mungkin akan keluar atau pindah setelah masa itu-aku tidak mau tahu. Yang jelas, kau harus berhenti sebelum tahun baru."
"Dengan kata lain kau mengekangku, begitu?"
"Tidak, tentu tidak, Nona manis. Hanya ingin menawarkan sesuatu yang lebih pantas dan cocok denganmu. Aku pemilik brand fashion ternama, kau bisa bekerja di divisi mana pun. Aku juga akan menyiapkan seorang asisten untukmu dan supir pribadi. Apa pun itu, aku akan serahkan agar kau bisa berhenti melakukan pekerjaan itu."
Taehyung kehabisan cokelat panas, jadi dia tidak bisa menghindari tatapan kesal seorang Choi Minji. Begitu menusuk, sampai-sampai rasanya Taehyung ingin pergi dari situ secepatnya. Dia bisa merasakan aura negatif yang mulai menguasai ruangan dimana mereka duduk sekarang.
"Kau ini suka mengatur hidup orang lain, ya? Aku akan melakukan apa yang kusuka, dan kau tidak berhak untuk melarangku!" Minji meluapkan semua emosinya saat itu juga, sehingga dia merasa sedikit tenang meskipun kesalnya belum lenyap. Namun, Kim Taehyung itu malahan tersenyum dan bertepuk tangan, seperti sedang menonton sebuah atraksi sirkus yang mengagumkan.
"Suka mabuk, mencium orang sembarangan dan pembangkang. Apa lagi kejutan yang menungguku?" Taehyung bicara hal itu, lalu beberapa detik kemudian rahangnya terasa seperti mau copot. Sesuatu telah menghantam rahangnya dengan sangat keras, sehingga dia tidak sempat melihatnya. Namun kepergian Minji ke lantai dua dengan dua tangan terkepal hebat merupakan sebuah jawaban.
"Ah ya, bukan ini kejutan yang aku inginkan. But still, ini kejutan juga," gumam Taehyung sambil memegang rahangnya yang terasa ngilu.
~

Open PO mulai hari ini!
.
.
Meskipun nanti bisa dibeli di toko buku kesayangan kamu, buku "Curhat Kpopers" ini sudah bisa kamu pesan, ya! Ada benefit untuk 100 pembeli utama, yaitu TOTEBAG yang pasti menarik banget! Yuk dapatkan promo menarik ini. Pemesanan melalui Kak Anita (kontaknya ada di banner ini) 😀✌
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top