2.
"Auh! Ibu, ini sakit!"
"Biar saja! Kalau perlu aku akan memukul kepalamu dengan sapu!"
"Ibu—AAAAK!"
"Sayang, hentikan! Jangan emosi begitu."
Keributan itu berasal dari ruang tengah apartemen Minji. Gadis itu tahu kalau dia pasti akan menerima hal semacam ini nanti. Namun, dia tetap tidak siap dengan pukulan ibunya yang menyakitkan. Meskipun begitu, ayahnya—Choi Seunghyun—berhasil melerai sang istri—Choi Sooyoung—untuk memukul lebih jauh anak gadis satu-satunya itu.
Kelelahan, Sooyoung berakhir terduduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Kedua belah bibir—yang menyumpah serapah tadi—kering karena terlalu banyak bicara. Minji yang peka beringsut ke dapur untuk mengambil segelas air minum, yang di ambil dengan cara yang tidak lembut oleh ibunya.
"Kemarin Minho yang berulah karena memukul anak orang demi seorang perempuan. Sekarang anak perempuanku disuruh menikah karena mencumbu seorang pria, hah," kata Sooyoung dengan nada prihatin. Kepalanya benar-benar terasa pusing sekarang. Seunghyun sesekali memijat kepala Sooyoung, dan setelahnya dia menatap Minji dengan tajam.
"Jadi, kau benar mencumbu seorang lelaki dan dia minta pertanggung jawaban, begitu?"
Minji masih menunduk dan meringis kesakitan. Kedua bola matanya menatap ke mana saja—asal bukan netra Seunghyun yang sedang menatapnya galak.
Keabsenan jawaban dari mulut gadis itu membuat Seunghyun yakin, bahwa kalimatnya tadi merupakan sebuah fakta. Menyusul Sooyoung, dia mengembuskan napas sambil meluruskan kakinya perlahan.
"Ayah tahu kau bukan gadis yang agresif terhadap skinship. Tapi Ayah tidak tahu kalau kau bisa seceroboh ini." Seunghyun berkomentar dengan tenang. Kejadian di sabtu pagi ini bukan sesuatu hal yang pantas dibanggakan. Buru-buru menuju Ilsan hanya untuk meyakinkan dengan telinga sendiri bahwa gosip yang beredar tidaklah benar. Namun, kenyataan yang menusuk membuat kepalanya pusing. Sosoknya sebagai Ayah mungkin kurang berperan banyak, sehingga kejadian seperti ini memukul kesadarannya sangat keras.
Minji menangis sekarang. Dia jelas mengetahui rasa kecewa yang terpancar dari netra kedua orangtuanya. Meskipun begitu, dia tidak berusaha menjelaskan apa-apa dan membiarkan mereka hanya duduk sambil memandanginya yang semakin menangis.
Sooyoung berdecak pelan, melangkah dari sofa dan duduk di hadapan Minji dengan satu kaki sebagai tumpuannya. Dengan satu jitakan sebelumnya, wanita paruh baya itu memeluk Minji dan memukul punggungnya dengan keras.
"Sudahlah, tidak perlu cengeng seperti ini. Kau sudah dewasa, tanggung jawab jika kau benar-benar menyayangi keluargamu."
Minji menengadah, mengabaikan fakta bahwa hidungnya mengeluarkan cairan terus menerus.
"Ibu yakin? Maksudku, apa kau tidak malu karena ulahku?"
Sooyoung berdecak, kemudian menyentil dahi anak bungsunya dengan gemas.
"Kau sudah memalukan sejak dulu, jadi Ibu sudah kebal."
Apakah ini sebuah keberuntungan? Minji pun tidak tahu. Kilat kemarahan di bola mata Sooyoung lamat-lamat meredup, begitu pula dengan Seunghyun. Dia tidak berharap orangtuanya memaafkan secepat itu, karena perbuatannya kali ini sudah keterlaluan.
"Makanlah, sampai kapan kau mau menangis di situ?" Ucapan Sooyoung membuat Minji menelan tangisnya, dan beranjak ke meja bundar yang sudah berisikan makanan. Seunghyun tampaknya kasihan pada gadis itu, tapi dia hanya diam dan melahap kimchi banyak-banyak.
~
Sekali lagi, benak Kim Taehyung kembali menayangkan gerakan bibir erotis Minji. Dia bahkan tidak ingat wajah gadis itu, tapi dengan mudah memeta perbuatan yang membuat tubuhnya seketika panas. Dasi yang dipakai dikendorkan, tapi tak berniat untuk membuka kancing kemeja yang terasa mencekik. Bekas kemerahan di lehernya belum hilang secara sempurna, dia tidak ingin mengambil risiko untuk diperolok teman kerjanya—Park Jimin.
"Kau sedang demam?" Jimin menatap khawatir dengan kedua tangan yang memegang cangkir kertas berisikan kopi. Mau tak mau dia sedikit merasa tidak enak. Mungkin saja Taehyung begitu karena perilakunya tadi sedikit kurang ajar untuk meminta pengadaan barang yang dikirim secepatnya. Atau juga karena sikap kesal terang-terangan yang ditunjukkan selama rapat.
"I'm okay," sahut Taehyung singkat, kemudian mengambil cangkir kertas berisikan kopi secara paksa. Padahal, kopi adalah salah satu hal yang dihindari olehnya. Tapi hari ini secara khusus Taehyung penasaran akan rasa pahit yang seketika menguasai pangkal lidahnya. Kedua alisnya mengernyit, Jimin sedikit tidak enak. Minuman yang diambil oleh Taehyung pastilah tertukar, karena pria Busan itu lebih suka menyantap kopi tanpa gula.
"Kau banyak melamun. Hampir saja kau melakukan kesalahan besar tadi. John Park itu, aku kenal betul. Lama di Amerika, dan tak ada satu pun branding yang berhasil dikuasai dengan benar."
Jimin bahkan tidak sadar kalau logat Seoul-nya sudah hilang, digantikan dengan satoori yang sangat kental. Biasanya hal itu terjadi ketika dia terlalu bersemangat terhadap sesuatu, atau dalam hal ini dia sangat kesal.
"Buktinya aku tidak melakukan perjanjian kerja sama dengannya, Jimin. Tugasku meminimalisir resiko, dan aku sudah melakukannya." Taehyung melirik kesal, kemudian menyesap kopinya sampai habis. Keningnya mengernyit ketika pangkal lidah kembali merasakan sensasi getir. Dia melirik kesal, masih menunggu Jimin mengatakan sesuatu kepadanya.
"Ya, kau benar. Aku hanya khawatir saja. Bisnis fashion sudah banyak, dan kita perlu sesuatu hal yang berbeda agar dicari terus menerus." Jimin menyandarkan bahunya di sofa, masih melirik dengan ragu.
"Ada apa? Kalau kau melihatku seperti itu, orang-orang jelas salah paham, Jim." Taehyung mendesah berat. Kedekatannya dengan Jimin sering disalah artikan. Apalagi pria itu sengaja bermanjaan dengan Taehyung jika kebetulan melintas di depan para pegawainya. Keisengan Jimin itu sempat membuat Taehyung benar-benar menjauhinya untuk beberapa saat karena kesal.
"Oke, ini kedengaran agak tidak masuk akal dan melenceng dari topik pembahasan barusan. Tapi, sejujurnya aku ingin menanyakan hal ini sejak tadi." Jimin menatap Taehyung dengan sungguh-sungguh sekarang, sepenuhnya abai terhadap peringatan Taehyung.
"Ini bukan sifatmu, Jimin. Biasanya kau tidak pernah meminta izin begitu. Kau penasaran tentang sesuatu?"
Jimin mengangguk mantap. "Kudengar dari Bibi, kau akan menikah minggu depan. Apa itu benar?"
Tenggorokan Taehyung tiba-tiba tercekat. Inginnya bilang tidak, tapi lidahnya tidak mau melakukan sesuatu. Seharusnya dia bisa menjawabnya secara diplomatis dan terarah, tapi otaknya sedang tidak mampu bekerja maksimal seperti biasa. Mungkin karena dia lapar, atau benar-benar tidak ingin orang lain tahu secepat ini.
Tapi ini Jimin, rekan kerja sekaligus karibnya sejak lama. Kau tahu kan, kadang kalian bisa dikatakan bersahabat kalau saling membagi rahasia. Jimin sudah melakukan itu sejak lama, jadi Taehyung pikir salah satu rahasianya ini bisa dijelaskan dengan sebuah anggukan mantap.
"Ya, aku akan menikah minggu depan," jawab Taehyung dengan sebuah senyum tipis, yang membuat Jimin sukses menjatuhkan cangkir kertas kopinya.
~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top