Bab 5
Enreal ingin marah pada Armund yang tidak menjelaskan lebih detail bahwa kandang hewan itu adalah kandang dari hewan-hewan kategori monster---MONSTER MENYERAMKAN lebih tepatnya.
Kekacauan lain segera terjadi begitu Enreal melihat bentuk hewan di balik jeruji besi. Kegaduhan itu tentu mengganggu hewan-hewan lain sehingga Enreal langsung lari tunggang langgang meninggalkan sapu lidinya begitu saja.
"Aku mau pulaaaang! Aku mau pulang! Di sini nyeremin banget!" Enreal menjerit-jerit ketakutan.
Armund segera mengejar. Tentu dia tak akan membiarkan temannya terluka meski sekarang tubuh itu tidak berisi jiwa temannya. "Tunggu, Enreal! Jangan berlari terlalu jauh!" Dia berteriak memanggil.
Beruntung Enreal terus menjerit-jerit sehingga Armund bisa cepat menemukan keberadaannya meski sempat tertinggal jauh.
Begitu ditemukan, Enreal terlihat duduk memeluk lutut di sudut ruangan. Tubuhnya gemetar ketakutan dan mulutnya masih melirihkan banyak kalimat.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu takut. Mereka tidak akan menyerang. Yah ... dalam bulan ini aku belum mendengar ada kasus serangan dari para hewan di sini." Armund mencoba menghibur.
"Hewan? HEWAN KATAMU? Itu monster. MON-STER, ARMUND!" jerit Enreal tepat di depan wajah Armund.
Armund yang sudah berjongkok pun langsung terjengkang. Tadinya ingin menenangkan, dia malah berakhir jadi pelampiasan. Gadis di depannya ini tampak terguncang hebat.
"Ini monster peliharaan akademi. Jadi bisa dikatakan sudah dijinakkan. Mulut mereka juga biasa sudah diikat sihir, dan tentu saja tubuh mereka dikekang rantai sihir. Semua aman." Armund memberi penjelasan dengan tenang. Padahal dia sendiri pun aslinya sangat ketakutan.
Ada trauma. Dulu dia pernah dijaili Enreal temannya sampai kepalanya hampir dilahap seekor monster.
"Kau tidak bohong?" tanya Enreal menuntut.
"Tidak," jawab Armund mantap. "Memang kau tadi tidak melihatnya?"
Enreal menggeleng agak malu. Tadi dia langsung kabur begitu melihat mata segede gaban itu. Matanya saja sudah sebesar itu, bagaimana dengan tubuhnya yang lain?
"Memangnya kandang-kandang itu isinya apa saja?" Enreal bangkit berdiri, kedua tangannya sibuk menepuk-nepuk rok yang kotor kena debu. Ugh, tempat ini ternyata memang sangat kotor.
"Banyak. Beberapa di antaranya adalah naga, centaurus, griffin, dan serigala." Armund menyebut nama-nama itu dengan tenang.
Tubuh Enreal langsung bergidik begitu mendengar nama-nama hewan itu. Sudah pasti menyeramkan. Sampai naga saja dipelihara. "Manusia aneh. Kenapa naga dikandangin coba?" Dia menggerutu pada dirinya sendiri.
"Lebih baik kita kembali dan selesaikan pekerjaan. Kita sudah terlalu banyak membuang waktu," kata Armund memberi saran.
Memang benar. Enreal terlalu banyak membuang waktu untuk berdrama. Jadi, mau tak mau sekarang dia harus menahan semua rasa takutnya agar bisa segera keluar dari sini.
"Wah, wah. Ternyata jeritan lebay tadi darimu, ya? Kau tampak menyedihkan, huh. Ke mana semua keberanianmu itu?"
Zean tiba-tiba muncul, dan begitu muncul langsung meledek Enreal. Siapa yang tidak akan marah coba?
Namun, Enreal memilih tak memedulikannya. Tenaganya sudah banyak terbuang, jadi sia-sia saja jika meladeni laki-laki berambut biru itu.
"Kau seperti anak kecil sekarang," sambung Zean, sengaja menghalangi jalan Enreal dengan berjalan mundur tepat di jalur gadis itu. Tentu saja dia tak akan membiarkan gadis itu lepas begitu saja.
Enreal tetap diam, sengaja berkelit untuk menghindar, tetapi Zean dengan cepat tetap berjalan mundur di depannya.
"Minggir!" usir Enreal dingin.
"Seperti ada yang berbicara." Zean berlagak tak melihat keberadaan Enreal.
Armund melirik Enreal, jelas gadis itu sudah terpancing emosi hanya dengan melihat wajahnya yang berubah merah padam. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka terlalu banyak membuang waktu.
"Kau sudah selesai? Kenapa tidak langsung pergi dari sini?" Armund bertanya pada Zean.
"Hanya menemukan mainan yang seru," jawab Zean seraya mengedip singkat pada Enreal. "AKH!"
Tanpa aba-aba, Enreal menendang tulang kering laki-laki berambut biru di depannya, membuatnya langsung membungkus kesakitan karena tulang kering kaki kirinya terasa panas.
"Kau ...."
"Wlekkk!" Enreal menjulurkan lidah, sebelum menarik tangan Armund untuk melarikan diri bersama.
Pada akhirnya, mereka memulai agenda bersih-bersih yang tertunda cukul lama. Dan sialnya, Zean masih tak enyah juga. Laki-laki itu malah berlagak seperti seorang tuan yang memperhatikan pekerjaan budaknya. Siulan dari mulutnya benar-benar menguji kesabaran Enreal. Namun, Enreal sudah bertekad untuk mengabaikan keberadaan laki-laki itu. Anggap saja seonggok debu ukuran jumbo.
"Kau tampak aneh."
Begitu melihat Armund berjalan pergi untuk membuang ember besar tempat sampah kotoran kering yang berhasil mereka kumpulkan, Zean segera melompat ke depan Enreal, pada lantai berbatu yang baru selesai dibereskan gadis itu. Hanya untuk mengganggu.
"Kau ... malam tadi di gudang sekolah sedang apa dengan bocah matahari itu?" tanya Zean lagi. Bocah matahari merujuk pada Armund, sesuai warna rambutnya.
Namun, Enreal lagi-lagi tak menanggapi. Sikap cueknya itu memantik kesabaran Zean. Tanpa kata, Zean berjalan mendekati kandang lalu dengan tenaga penuh, dia memukulkan tongkat cangkul ke jeruji besi.
"Grooooowrrr!" Auman yang dalam dan serak itu menggelegar seketika.
"Aaaaa!"
Kemudian, Enreal menjerit panik sampai melepaskan sapu lidi di tangannya hanya untuk berjongkok memeluk dirinya sendiri.
Tawa Zean membahana melihat gadis itu ketakutan. Gadis itu benar-benar ketakutan sekarang, bahkan mulai meracau dan seperti siap menangis.
Zean berjalan ke arah Enreal, berjongkok di depan gadis itu. "Kau yang ketakutan ini sangat lucu di mataku," katanya di sisa tawa.
"Kau jahat, Cupang!" jerit Enreal tepat di depan wajah Zean.
Oke, dia sudah dua kali meneriaki orang tepat di depan wajahnya.
"Cupang? Apa itu?" tanya Zean berkedip-kedip.
Timbul niat jahat yang secara singkat memberi Enreal sebuah ide.
"Itu monster jelek dan bau yang tubuhnya setingkat gedung! Tapi dia monster bodoh, lemah, dan tidak berguna!" jelas Enreal dalam teriakan ketus.
Zean langsung diam, keningnya mengerut seolah tengah berpikir keras. Mungkin sedang membayangkan bentuk dari "monster" bernama Cupang yang dijelaskan oleh Enreal.
"Menarik. Apa kekuatannya?" tanya Zean.
Gila. Enreal sangat tidak percaya melihat reaksi Zean. Laki-laki itu langsung percaya? Sungguh-sungguh percaya?
"Tidak. Dia tidak memiliki kekuatan apa pun. Dia hanya seonggok kotoran!" jawab Enreal, melengkapi kebohongannya.
Haha. Rasakan! Kupikir kau cerdas. Ternyata tipuan seperti ini membuatmu kelihatan bodoh! batin Enreal puas.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Zean saat melihat Enreal terkikik-kikik pelan.
"Tidak. Sana minggir! Kau mengganggu pekerjaanku, Cupang Biru!" usir Enreal.
Baiklah-baiklah, mulai sekarang dia akan memanggil Zean dengan sebutan 'Cupang Biru'. Tadinya nama itu refleks disebut saat melihat rambut dan warna mata Zean yang serba biru, mengingatkannya pada seekor cupang peliharaan teman dekatnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top