PROLOG
Prolog
^^^
Hawa dingin yang masih bisa membekukan setiap muskuloskeletal, tidak membuat kayuhanku terhenti. Dengan kayuhan pada pedal sepeda yang terasa berat membelah udara fajar Rotterdam, aku terus memfokuskan pandanganku agar segera sampai pada tujuan. Hari ini mungkin tidak akan sedingin hari-hari sebelumnya. Selaras dengan mesin waktu, musim pun harus berganti, meninggalkan gundukan salju yang mulai meleleh terkena cahaya musim semi. Lantas, bagaimana dengan aku? Apa aku pun harus berubah seumpama musim yang selalu datang dan pergi? Apa segala kegundahan hati di musim lalu pun harus kubiaskan bersama cahaya musim semi yang akan segera datang?
Perputaran waktu terus bergerak guna mengiringi roda kehidupan yang tidak akan berhenti selama napas masih berembus. Begitu pula alam yang sudah berganti wajah dari dinginnya salju menuju mentari musim semi yang tampak masih malu-malu. Dan selama itu pula, kami tidak pernah bertemu lagi. Entahlah. Bagai ditelan muramnya bumi di musim dingin, dia tidak pernah lagi memberiku waktu untuk kembali bersua. Yang pasti, perginya selalu bisa membuatku tidak pernah merasa baik-baik saja. Rentetan kejadian yang menghancurkan pandanganku padanya, ternyata sama sekali tidak berperan baik untuk membuatku kemudian membenci dan mudah melupakannya. Apa hatiku memang sudah berpaling, pada dia yang juga tidak seharusnya menjadi tempatku melabuhkan hati?
Kuisi saf wanita yang masih kosong. Tepat saat aku sudah siap dengan mukenaku, iqamah dalam masjid berkumandang, menjadikan isyarat bahwa shalat subuh berjamaah di Essalam Moskee akan dimuai.
Mulanya, shalatku masih bisa kujaga dalam kekhusyukkan. Tapi, saat surah Al-Fatihah dibacakan oleh imam shalat, konsentrasiku seketika menguar. Suara imam kali ini bukan yang biasa memimpin shalat. Meski begitu, suara ini nampak tidak asing juga bagiku. Ttt ... tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa suara imam shalat saat ini terdengar tidak asing pada runguku? Bahkan setelah sekian lama aku tidak pernah mendengarnya lagi?
Tanpa bisa kucegah, setetes air mata menetes, segera aku membatalkan shalatku dan secepatnya mundur dari saf. Kunetralkan sistem kardiovaskuler yang tiba-tiba beroperasi dengan tak wajar. Kutolehkan pada arah pengeras suara di dalam masjid. Kudengarkan dengan seksama lantunan ayat suci yang kembali dilantunkan oleh imam.
"Izaa zul zilatil ardu zil zaalaha."
(Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.)
"Wa akh rajatil ardu athqoolaha."
(Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.)
"Wa qoolal insaanu ma laha."
(Sehingga manusia bertanya, "Apa yang terjadi dengan bumi?")
"Yawmaa izin tuhad dithu akhbaaraha."
(Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya.)
"Bi-anna rabbaka awhaa laha."
(Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya.)
"Yawma iziy yas durun naasu ash tatal liyuraw a'maalahum."
(Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.)
"Famaiy ya'mal mithqala zarratin khai raiy-yarah."
(Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.)
"Wa maiy-y'alam mithqala zarratin sharraiy-yarah."
(Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.)
Surah itu, adalah surah yang selalu dia lantunkan sedari dulu ketika ditunjuk untuk menjadi imam shalat subuh. Jadi ... benarkah semua yang kini bergumul di otakku? Tapi ... bagaimana mungkin?
Menggeleng dengan keras, aku segera menghilangkan segala kemelut rasa yang tiba-tiba datang membawa kenangan masa lalu. Secepatnya aku bergegas, untuk mengambil wudhu kembali. Ya, hanya air wudhu yang kini dapat mengembalikan kewarasanku.
Setelah selesai menunaikan shalat subuh yang tadi sempat tertunda, aku segera menggendong lagi tasku. Melangkah pada pintu keluar. Dengan langkah yang cepat, mulutku terus bergumam, "Tenang Syahlaa, ini semua hanya sebuah kebetulan. Tidak mungkin dia tiba-tiba datang menjadi sebuah kejutan di awal musim seperti ini. Come on! Selama ini kamu sudah sangat pandai mengolah rasa, jadi jangan terjebak lagi pada hal yang sama untuk kedua kalinya! You must go on!"
Aku menghidu udara hingga rongga dadaku berkontraksi, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Senyum coba kuangkat untuk menghiasi wajahku. Hari ini, harus berjalan dengan baik. Terlebih, aku harus ada bimbingan dengan Profesor Harbert tentang penelitianku sebagai tugas akhir.
Tapi, sepertinya hal itu hanya akan menjadi wacana semata, karena kali ini hembusan angin yang membawa gelombang suara kembali membekukanku.
"Raina Syahlaa ..."
Pandangan yang semula menunduk kuangkat, dan terkejut ketika orang yang baru saja menyerukan namaku berada tepat pada satu garis lurus denganku. Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Mentari musim semi bahkan tidak bisa memberikan kehangatan padaku. Tubuhku bagai disusupi sebongkah es yang membuatku hanya bisa berdiri mematung tanpa dapat bergerak. Rasanya, kakiku telah mengakar pada inti bumi, dicengkram oleh semesta agar tidak dapat sejengkalpun berpindah.
Mataku hanya bisa berkedip, kala melihat senyum bak bulan sabit yang terlukis di bibirnya. Segala praduga yang tadi sudah memenuhi pikiranku kini mengungkap bahwa semua itu memang nyata. Wajahnya bahkan berseri, seolah semua pesona mentari ada pada dirinya. Senyum itu, sukses menyalurkan kehangatan pada tubuhku yang semula hanya bisa membeku, dan mengembalikan kembali kemampuan bibirku yang beberapa saat hanya bisa membisu.
"Senang bisa bertemu lagi dengan kamu, Sya."
Senang bertemu denganku lagi? Ttt ... tapi kenapa, dia tiba-tiba datang sebagai kejutan untukku di awal musim seperti ini? Aku tidak tahu harus berkata apa. Sebab dia datang, disaat aku sudah tidak lagi menginginkan kehadirannya ... di sini.
***
Sebagai pemanasan, bagaimana dengan prolognya? Bisa tinggalkan komentar terbaik kalian di sini untuk semangatku? Hihihi.
See you di Bab pertama besok! Senang bisa kembali menghibur kalian.
Ketjup jauh🧡
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top