Trigger

[Happy reading]

"Apa yang akan kau katakan pada Ash jika dia tahu kau tidak berada di posisimu?" tanya Theo.

Valissa diam, menimbang-nimbang. "Bilang saja aku sedang business trip."

Theo berkacak pinggang. "Kau pikir Ash akan percaya?"

"Urusan itu nanti saja kita pikirkan," jawab Valissa.

Mereka bersiap menuju lokasi yang sudah mereka dapatkan. Lokasi itu memakan waktu dua hari perjalanan menggunakan mobil.

Victor duduk di belakang mobil. "Apa kakak yakin? Aku bisa mengurusnya sendiri, ini pekerjaan mudah."

Valissa, duduk di samping pengemudi, tak begitu menghiraukan ucapan Victor. "Kau selalu mengatakan semua pekerjaan itu mudah."

"Ya, selama aku tertarik pada pekerjaan itu," Victor menjawab.

Theo menginjak gas, mobil melesat pergi meninggalkan butik. Meninggalkan Kayla yang harus menghadapi komplain pelanggan sendirian.

[]

Setelah menempuh perjalanan panjang, bertahan dari rengekan Victor yang setiap beberapa meter ingin muntah, buang air kecil dan besar, lapar dan sebagainya, akhirnya mereka tiba di lokasi tepat waktu.

Tempat itu cukup terpencil, namun rumah yang ada di hadapan mereka cukup mewah layaknya kastil ditengah-tengah kebun jagung yang seluas mata memandang. Rumah itu diberi pagar, ada sistem keamanan di pagarnya dan kamera cctv.

"Bagaimana cara kita masuk ke dalam?" tanya Victor.

"Beres," ucap Theo. Theo melangkah masuk dan membuka pintu pagar dengan enteng.

Victor keheranan.

"Kau sudah matikan sistem keamanan mereka?" tanya Valissa masuk ke lebih dulu.

Theo mengangguk. Theo memang memiliki kemampuan hacking karena ia dulu menyukai peretasan.

Mereka masuk dengan leluasa, membuka pintu yang terkunci dengan smartlock dengan mudah. Saat mereka memasuki rumah itu, ruangan di dalam ditata seperti kantor. Diberi sekat-sekat dan ada beberapa unit komputer, lemari-lemari berisi dokumen dan kardus-kardus bertumpuk berisikan barang-barang.

"Kantor?" gumam Theo.

"Tidak ada orang di sini?" tanya Victor, suaranya sedikit kecewa.

Sementara Valissa masih mengamati sekitar.

Belum genap 20 menit memeriksa bangunan, di luar terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Mereka bertiga bergegas sembunyi.

"Siapa yang datang?" tanya Victor.

"Sepertinya mereka ketrigger saat sistem keamanan mereka tiba-tiba mati dan datang ke sini untuk mengecek," jelas Theo.

"Matikan listriknya, Theo!" perintah Valissa.

Listrik di rumah itu seketika padam.

Beberapa suara langkah kaki terdengar memasuki rumah. Empat orang. Mereka masuk dengan hati-hati dengan senjata tertodong ke depan. Mereka tak bisa melihat apa-apa dan hanya ditemani senter kecil dari senjata mereka.

"Siapa pun kalian, keluarlah sekarang!" ucap salah satu pria dengan suara berat. Mereka terlihat kesulitan saat mencoba menghidupkan kembali listrik karena kendalinya sudah diambil alih oleh sistem milik Theo.

Tak ada jawaban.

Empat pria tersebut terus melangkah maju, memeriksa setiap sudut ruangan.

DUAGH!

Satu pria terjatuh, Victor dengan gesit melumpuhkan mereka dalam gelap.

"KELUAR KAU PENGECUT!" salah satu pria berteriak panik ketika rekan-rekannya diserang dalam kegelapan.

DOR!

Satu tembakan meleset ke sembarang tempat.

Victor melumpuhkan empat pria bersenjata dengan tiang besi yang entah dia ambil dari mana.

TANG!

Victor cukup lihai menggunakan benda-benda di sekitarnya sebagai senjata. Ia menendang senjata lawannya, dalam waktu tidak sampai 3 menit, 4 pria itu tersungkur di lantai. Victor unggul karena ia menyerang dalam gelap dan mengetahui posisi lawannya, sementara lawannya tak tahu posisi Victor kesulitan untuk menyerang.

Valissa mendekati salah satu dari mereka yang masih sadarkan diri, ia berlutut di samping mereka.

"Siapa pemimpin kalian?"

Pria itu tertawa di tengah rasa sakitnya. Suara tawanya menggelegar ke penjuru ruangan. "Hahah! Apakah Collin sudah tiba?"

Mata Valissa membulat.

"Dasar Collin, duri di dalam daging, pengganggu dan perusak, tak lama lagi kalian akan hanya tinggal nama, HAHAHA!"

DOR!

Belum sempat Valissa melepaskan tinjunya ke wajah pria itu, Theo melepaskan pelatuknya. Timah panas itu menembus dahinya.

Rahang Valissa mengeras. Ini lebih rumit dari perkiraanya. Rencananya tidak berjalan dengan lancar karena ia gagal bertemu pemimpin X Company di lokasi ini. Justru Valissa khawatir jika kedatangannya sudah diprediksi oleh musuhnya.

"Kita harus segera pergi dari sini," ucap Theo, ia terdengar cukup tenang setelah menyimpan kembali pistolnya. "Aku sudah menyalin database mereka, kita harus memeriksanya."

Victor mengangguk, ia menarik tangan kakaknya dan bergegas pergi dari tempat itu.

[]

Theo tak berhenti melirik ke sebelahnya, selama perjalanan pulang, Valissa gelisah. Selama ini ternyata dirinya telah ditargetkan. Bertahun-tahun telah berlalu dan mereka sudah menduga Collin akan datang. Valissa tanpa sadar menggigit kuku-kukunya, berbagai percakapan dan kilas balik masa lalu berkecamuk di benaknya.

"Lisa, tenangkan dirimu," ucap Theo khawatir.

"Apa ayah juga tahu?" Valissa balas bertanya pada Victor.

Victor juga sama khawatirnya. "Entahlah," jawabnya seadanya. "Ayah tak pernah menunjukkan gelagat curiga pada siapa pun."

Setelah memakan waktu cukup lama diperjalanan, mereka memutuskan untuk menginap di salah satu tempat penginapan pinggiran kota. Wajah mereka bertiga terlihat letih.

Mereka memesan dua kamar, satu untuk Valissa, dan satunya lagi untuk Theo dan Victor. Begitu mendapat kunci kamar, mereka langsung ke kamar masing-masing dan beristirahat setelah perjalanan jauh dan masih akan dilanjutkan besoknya.

Waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Samar-samar ia mendengar suara rintihan dari balik dinding tipis kamarnya. Theo terbangun dari tidurnya, ia melirik ke sampingnya, Victor tertidur pulas.

"Victor," Theo mencoba membangunkan Victor. Setelah mengguncang-guncang tubuh bocah itu, Victor terbangun setengah merengek. "Pergilah ke kamar sebelah," ucap Theo.

Victor kini membuka matanya. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"

"Akhir-akhir ini Lisa sering bermimpi buruk. Coba kau cek dia," ucap Theo.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Victor bergegas menuju kamar sebelah. Ia mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka.

"Victor?"

"Kakak belum tidur?" tanya Victor.

"Sudah, tapi aku terbangun, apa aku mengganggu kalian?" Valissa sempat khawatir.

"Nggak kok," Victor menggeleng. "Hanya saja, Theo bilang kakak sering mimpi buruk."

Valissa terdiam.

"Kakak bermimpi buruk?" tanya Victor.

Valissa memberikan jalan, seolah mempersilakan Victor masuk. Mereka berdua kini duduk di tempat tidur, saling bersisian.

"Kenapa kakak tak cerita padaku?" tanya Victor.

Valissa menautkan jemarinya yang kini mulai terasa dingin. "Karena kupikir, ini hanya mimpi belaka."

"Apa tentang ibu?"

Valissa mengangguk.

Victor menunduk, menatap lantai kamar. "Aku kangen ibu," gumamnya lirih.

Valissa menoleh pada adiknya. Usianya masih muda, seharusnya masih dikelilingi anak-anak seusianya. Tapi, karena ayah mendesaknya untuk menyelesaikan pendidikan formalnya lebih cepat, kini masa remaja Victor harus terenggut dan terjebak di situasi rumit ini.

Valissa menggenggam tangan Victor, genggamannya terasa kokoh dan penuh penegasan.

"Victor, kau masih memiliki banyak kesempatan," ucap Valissa. "Jika nanti terjadi sesuatu dan aku tak bisa memberikan keputusan yang tepat, kau jangan ragu melakukan hal yang kau anggap benar."

Victor menatap saudarinya. "Hal yang aku anggap benar?"

Valissa mengangguk. "Aku percaya pada cara berpikir rasionalmu, jadi, kau juga harus percaya pada dirimu sendiri."

Valissa cukup sadar, terkadang dirinya terlalu tersulut emosi sehingga tidak bisa memutuskan pilihan yang tepat, namun Valissa yakin Victor cukup rasional bahkan di saat krisis.

[]

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Baru beberapa kilometer mereka menempuh perjalanan, ponsel Valissa berdering. Ia mengangkatnya. Dari Kayla.

"Halo, Kayla. Apa kau baik-baik saja?" Valissa menanyakan kondisi Kayla terlebih dahulu.

"Halo Nona, saya baik-baik saja... Ada seorang pria benama Daniel yang ingin bertemu dengan Anda."

"Daniel?"

Theo mendengus. "Kita melupakan dia."

"Tenang saja, Daniel tidak akan mengadu," ucap Victor sekalipun ia sendiri ragu dengan ucapannya.

"Katakan padanya dia bisa bertemu denganku nanti malam, aku sedang di luar kota dan akan tiba nanti malam," jawab Valissa.

"Baik Nona."

Sambungan terputus.

Tak lama setelah itu, ponsel Valissa berdering lagi. Kali ini dari Ash.

Victor menelan ludah.

"Val! Kau dimana?" suara Ash terdengar khawatir.

"Aku sedang ada urusan di luar kota, ada apa?"

"Di luar kota? Urusan apa? Aku meminta Daniel menjemputmu, tapi kau tidak ada di tempat," Ash bertanya, seperti mendesak. "Val, ayahmu menyuruhmu ke ibu kota."

Belum sempat Ash mendengar jawaban dari Valissa, ia buru-buru menyampaikan informasi tersebut.

"Apa?"

"Berangkatlah ke ibu kota, malam ini. Ayahmu terlihat sangat khawatir, sepertinya terjadi sesuatu."

Valissa terdiam. "Tidak bisa, aku tidak bisa meninggalkan butik."

"VAL!" Ash tanpa sadar meninggikan suaranya. "Ada sesuatu yang sedang bergerak Val, toko milik Collin di beberapa daerah diserang. Ayahmu mendesakku untuk membawamu kemari,"

"Baiklah." Valissa mengalah.

"Terima kasih, Val," suara Ash terdengar lega. "Berjanjilah Val, kau akan tiba di ibu kota besok dalam keadaan selamat!"

[]

Author's note:

Terima kasih yang sudah baca cerita ini, jangan lupa vote dan komennya, biar aku tahu kamu pernah meninggalkan jejak di sini💕

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top