Relocation

Victor mengehela napas. "Kalau Sherin di sini, pasti ini tentang kuliahku," ia mengeluh.

Sherin terkekeh. "Hai Victor, aku kemari karena paman memintaku membantunya mengatur keuangan, yah, sekalian memantau kuliahmu."

Victor mengambil jurusan aktuaria dan selama ini Sherin membantu menjadi tutornya untuk menyelesaikan kuliahnya.

Sherin kini beralih pada Theo yang hendak menghampiri Valissa.

"Oh ya, Theo! Kau baik-baik saja?" Sherin bergegas menghampiri Theo, berdiri di hadapannya menghalangi langkahnya yang hendak menghampiri Valissa. "Tak biasanya kau terluka seperti ini," ia menatap Theo khawatir.

"Aku sudah memanggil dokter, istirahatlah di kamarmu," ucap Ash.

Mendengar hal itu, Valissa pun berjalan masuk. Merasa urusannya sudah selesai dan ia harus segera menemui ayahnya.

"Aku akan mengantarmu ke kamarmu," Sherin merangkul lengan Theo dan mengantarkannya ke kamarnya.

[]

Valissa memasuki ruangan ayahnya. Ruangan itu tidak terlalu besar, ada banyak rak berisikan map-map dokumen, laci-laci dan brankas. Sudah lama Valissa tidak masuk ke ruangan ayahnya. Matanya kini menatap salah satu foto yang terpajang di atas meja kerja. Foto Veronica, ibunya, sedang menggendong Victor yang masih bayi dan Valissa yang berdiri di sampingnya dengan senyum lebar.

"Kamu sudah tiba," ucap sebuah suara.

Valissa mengalihkan pandangannya menuju sumber suara. Ayahnya masuk dan duduk di sofa, memberikan gestur agar Valissa ikut duduk.

"Apa kabar, ayah?" Valissa duduk di sofa, tak jauh dari ayahnya.

"Baik," jawab ayahnya. "Bagaimana butikmu?"

"Semuanya berjalan lancar sampai X Company menyerang dua hari lalu," jelas Valissa.

Ayahnya mengangguk. Hening diantara mereka.

"Lisa, ada yang ingin ayah bicarakan," ucap ayahnya, suaranya terdengar serius namun juga ada sedikit keraguan.

Valissa mendengarkan. "Mengenai apa?"

"Bagaimana jika suatu saat, Collin sudah tidak ada lagi... Apa yang akan kamu lakukan?"

Valissa terdiam. "Aku akan membangkitkannya," jawab Valissa, matanya berkilat penuh ketegasan. "Karena bagiku Collin itu bukan hanya sekadar perusahaan, tapi juga keluarga besar yang harus kita lindungi."

Mengingat banyak anggota Collin yang jauh dari pusat ibu kota memiliki hidup sulit dan Collin menjadi salah satu harapan hidup mereka.

"Kalau begitu, ayah ada permintaan."

"Katakan saja," Valissa terdengar siap menyanggupi apapun permintaan ayahnya.

"Tahun depan, saat ulang tahun perusahaan, menikahlah dengan Ash."

[]

Sherin menatap Theo yang kini berkutat di depan layar tabletnya. Bukannya beristirahat, Theo malah sibuk mengolah data.

"Serius deh, apa Valissa tidak memberimu hari libur sehari saja untuk beristirahat?" Sherin berkacak pinggang.

"Bukan begitu, aku harus membantu Victor menemukan informasi yang dia butuhkan,"

Sherin menghela napas, duduk di salah satu kursi. Theo menatapnya sekilas.

"Kenapa kau di ibu kota?" tanya Theo selidik.

"Sudah kubilang 'kan, aku sedang membantu paman dalam mengurus keuangannya," ucap Sherin.

"Tuan Collin akan meminta Ash melakukannya," Theo menolak jawaban Sherin mentah-mentah.

"Huh, dasar. Aku memang tak bisa berbohong padamu, ya?"

Theo menatapnya tajam.

Sherin mengehela napas. "Baiklah, sebenarnya... paman memintaku kemari untuk menemani Lisa."

"Menemani Lisa?" Theo menaikkan sebelah alisnya.

Sherin mengangguk.

"Kenapa? 'Kan sudah ada aku?" ucap Theo datar.

Sherin terdiam sejenak. Lalu, tertawa.

"Bukan, bukan seperti itu, Theo. Lisa butuh teman perempuan!" Sherin tertawa. "Kau sudah dengar rumornya belum?"

Sherin menyunggingkan senyuman, Theo semakin penasaran. "Rumor apa?"

Sherin mendekat ke arah Theo, berbisik padanya. "Paman akan menjodohkan Lisa dengan Ash!"

[]

Valissa mengerutkan dahinya. "Ash?"

Ayahnya mengangguk. "Ayah akan memindahkan pusat operasional Collin ke luar kota, tempat yang jauh dari gangguan, Ash akan menjadi pemimpin operasi ini, untuk sementara rumah pusat akan hiatus beroperasi dan di saat itu, menikahlah dengannya."

Valissa semakin tidak paham. "Apa hubungannya? Kenapa harus menikah di saat-saat seperti itu?"

Ayahnya menatap lurus, menerawang. "Karena mungkin waktunya takkan sempat jika tidak di saat itu, Lisa."

Kerutan di dahi Valissa berkurang. Ia kini mulai memahami kemana arah pembicaraan.

Rencana ayahnya yang akan memindahkan pusat operasional Collin adalah rencana terakhir dalam upaya mempertahankan Collin. Jelas akan terjadi 'perang besar' antar Collin dengan X Company atau apapun yang berada di balik X Company.

Menikahkan Valissa dengan Ash adalah strategi ayahnya untuk menjamin hidup putrinya. Karena perang besar berarti ayahnya akan menjadi target, Collin akan jatuh jika ayahnya berhasil disingkirkan. Itu sebabnya ayahnya langsung menyiapkan rencana apabila itu terjadi.

[]

Victor menggaruk rambutnya, lalu mengacaknya.

"Kau menemukan sesuatu?" Valissa masuk ke kamar Victor.

"Eh, kak? Sejak kapan kakak masuk?"

"Baru saja,"

Victor menunjukkan layar komputernya. Valissa dapat melihat beberapa tumpukan kertas dan corat-coret di atas mejanya.

"Aku punya teori," ucapnya.

Valissa menutup pintu kamar Victor, lalu mendengarkan dengan seksama.

"X Company digerakkan oleh 3 perusahaan besar," Victor menggerakkan kursor, menampilkan tiga logo perusahaan yang ia tangkap dari logo file-file yang ia temukan. "Tiga perusahaan ini, dulunya berada di bawah Collin, tapi karena sudah mandiri, mereka melepaskan diri, dalam waktu beberapa tahun mereka masih menjalin kerja sama dengan Collin, tapi seiring berjalannya waktu, mereka ingin mengungguli Collin."

"Jadi, target kita adalah tiga perusahaan ini?" Valissa menyimpulkan.

"Jangan terburu-buru kak," Victor memperingatkan Valissa yang terlalu cepat menarik kesimpulan. "Tidak mudah menargetkan tiga perusahaan besar ini, dan sepertinya ayah juga sudah menduga tiga perusahaan ini, hanya saja, kita tidak boleh bertindak gegabah karena di dalam Collin pun, ada mata-mata."

Valissa diam. Berusaha tidak terburu-buru mengambil tindakan.

"Apa Theo tahu?" tanya Valissa.

"Aku belum bilang padanya, tapi kurasa dia akan menyadari hal ini juga," jawab Victor.

"Apa yang harus kulakukan, Victor?" tanya Valissa.

Setiap kali mendengar kakaknya bergantung padanya, Victor merasa ada beban di punggungnya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia senang ketika kakaknya mengakui dan mempercayai kemampuannya.

"Untuk sekarang, kita hanya bisa mempertahankan Collin dari serangan mereka, tidak, lebih tepatnya kita harus memberantas mata-mata di dalam internal kita."

Valissa mengangguk. "Baiklah,"

Victor melihat ekspresi Valissa kini memperlihatkan dirinya sudah menyusun rencana.

"Apa rencana kakak?" tanya Victor.

Valissa melirik ke arah pintu. "Memberantas pengkhianat."

TOK TOK!

Pintu kamar Victor diketuk. Valissa membuka pintu. Theo muncul.

"Lisa?"

"Theo, bagaimana keadaanmu?" tanya Valissa, melirik perut Theo.

Theo berjalan melewati Valissa dengan tatapan sedikit kesal.

"Apa aku terlihat selemah itu di matamu?" balas Theo ketus.

Valissa memiringkan kepalanya, bingung dengan intonasi barusan.

Theo menunjukkan tabletnya pada Victor. "Apa maksudmu tiga perusahaan ini dalang dibalik X Company?"

Victor mengangguk, menjentikkan jarinya. "Sudah kuduga Theo juga pintar, tapi tetap saja lebih pintar aku."

"Ada apa, nih?" ucap sebuah suara. "Aku lebih pintar darimu ya, Victor."

Sherin mengintip dari balik pintu.

"Hei, Sherin aku mau pendapat—" Valissa tiba-tiba memotong kalimat Victor.

"Pembahasan ini cukup sampai di sini," Valissa melirik Victor, memberinya tatapan penuh makna.

Sherin memiringkan kepala, bingung.

Valissa pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.

"Eh, ada apa, sih? Aku juga ingin tahu!" Sherin bergegas menyusul Valissa. "Lisa, tunggu aku! Kau menyembunyikan sesuatu dariku, ya? Hm?"

[]


Author's note:
Menurut kalian, kenapa Theo tiba-tiba kesel sama Lisa? :3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top